Right to Copy or Copy Right?

Beberapa hari lalu, berbagai media massa memuat berita pernyataan pengunduran diri Anggito Abimanyu sebagai staf pengajar di UGM. Hal tersebut berkaitan dengan dengan opininya di sebuah media nasional yang dituduh menjiplak karya orang lain. Banyak orang, termasuk saya menyayangkan penjiplakan tersebut. Tapi kemudian saya berpikir, kenapa saya mempersoalkan hak cipta? Toh sehari-harinya saya dan semua orang yang menyalahkan Anggito Abimanyu terbiasa dengan barang-barang hasil jiplakan.   Bukankah di Indonesia (hampir) semua laptop atau komputer pasti ada sistem operasi, lagu, atau film bajakan? Sandal atau sepatu yang beredar di pasaran juga hasil meniru merk-merk terkenal? Bukankah memakai barang bajakan sama saja mengijinkan pelanggaran hak cipta?

Lihat dan modifikasi

Secara pribadi, saya tidak setuju dengan hak cipta. Setahu saya, itu usaha dari para pemilik modal untuk melindungi (baca: memperkaya) dirinya. Saat ada pemilik hak cipta, orang harus membayar saat menggunakan barangnya. Sebagai seorang penganut Tuhan adalah pemilik segala sesuatu. Aneh saja kalau ada orang yang memperkaya diri sendiri dari hasil memodifikasi ide-ide yang ada sebelumnya.

Bukankah saat menciptakan sesuatu, seseorang pasti punya referensi dari hal yang sudah ada sebelumnya? Kita pakai contoh saja tulisan. Saat saya atau orang lain menulis, ia mengumpulkan ide-ide orang lain yang sebelumnya pernah ia baca, dengar, atau lihat. Jika saya meniru banyak kalimat dari orang lain, sebisa mungkin saya mencantumkan sumber. Sayangnya, ingatan saya terbatas. Saat saya membuat tulisan, bisa jadi idenya berasal dari sumber yang saya baca, lihat, atau dengar puluhan tahun lalu. Atau gabungan dari beberapa ide. Dan saya lupa mana yang saya kutip.

Sebagai seorang muslim, saya percaya kalau ilmu termasuk amal jariah. Ibadah yang tidak akan putus pahalanya meski pemberinya meninggal. Jadi, kalau misalnya ada tulisan, foto, atau film saya dipakai orang lain, saya seharusnya senang. Saya punya sesuatu yang berguna.  Kalau untuk masalah rejeki, bukankah itu sudah ada yang mengatur? Saat tahu karya saya dibajak, saya akan berusaha membuat karya yang lebih baik lagi.

Saya beberapa kali menemukan seorang blogger berteriak-teriak di media sosial gara-gara tulisan atau fotonya dikutip orang lain. Meminjam kata Ken Terate, teman saya yang penulis, menaruh sesuatu di dunia maya itu artinya mengijinkan publik mengonsumsinya. Wajar saja kalau nanti ada yang menjiplaknya. Bukankah itu sudah menjadi barang publik? Kalau tidak mau ditiru, ya simpan saja di laptop.

Gara-gara menulis ini, saya jadi penasaran dan membaca tulisan Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan yang katanya dijiplak Anggito Abimayu. Terlalu mirip sekali. Sepertinya sudah tidak etis saat tidak menyebutkan sumber.

Iklan