Suatu Hari di Museum UGM

Yang merusak keadaan Indonesia adalah manusia-manusia ber-ego kera: banyak bicara, pandai menganjurkan, tapi maunya mengambil terus. Serakah. Dengan orang-orang semacam itu, cita-cita masyarakat adil makmur, masyarakat sosial Indonesia, tidak mungkin akan dapat dicapai.

Orang harus mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, tetapi janganlah melekatkan diri pada buah hasil karya-karyanya itu. Karena hidup ini, sebetulnya adalah jalan kembali menuju kepada Yang Maha Besar.

Saya terdiam waktu membaca kalimat Prof. Dr. Sardjito tadi. Kutipan itu sekarang terpasang di salah satu ruangan dalam Museum UGM. Kamar tersebut juga berisi meja dan radio tua yang dahulu mengisi ruang kerja dokter yang menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada.

Saya beruntung berkeliling Museum dipandu oleh Widodo Usman, teman yang saya kenal di pembekalan Duta Museum DIY. Ia seperti ensiklopedi berjalan mengenai orang-orang yang pernah membesarkan UGM. Dari cerita Pak Wid, saya baru tahu kalau Prof. Sardjito hingga akhir hayatnya tidak memiliki rumah pribadi. Sarjana Indonesia yang meraih gelar doktor di Amerika tersebut memilih untuk menyumbangkan uangnya bagi dunia pendidikan.

Kutipan Sejarah
Pak Wid mengantar kami berkeliling bangunan yang beralamat di Bulaksumur blok D6 dan D7 tersebut. Museum UGM menceritakan perjalanan sejarah universitas terbesar di Indonesia. Di rumah pertama ada banner bertuliskan tanggal-tanggal penting bagi UGM. Di sini juga terdapat dokumentasi mengenai makna filosofis dari lambang dan bangunan yang ada di lingkungan universitas yang berdiri sejak 19 Desember 59.  Selain itu, rumah ini juga berisi peninggalan sejumlah tokoh nasional. Beberapa ruangan museum didedikasikan untuk Prof Natonagoro, Prof. Dr. Herman Johanes, Sri Sultan HB IX, dan beberapa nama lain yang pernah berjasa bagi UGM.
Bangunan kedua berisi sejumlah penemuan atau sumbangan UGM bagi Indonesia. Salah satunya dokumentasi mengenai Fakultas Kehutanan UGM yang menghutankan bukit gersang Wanagama di Gunungkidul. Tempat ini juga menyimpan benda-beda seperti Penciptaan alat seperti roket, varietas padi yang bisa ditanam di tempat kurang air, berbagai alat ukur, hingga cara pembuatan sutra.

Pencipta roket pertama Indonesia
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah kedua. Bangunan ini pernah disinggahi tokoh-tokoh terkenal. Salah satunya Presiden Amerika, Barack Obama. Paman tiri pria keturunan Kenya tersebut seorang dosen di UGM. Sewaktu liburan panjang, Barack kecil beserta keluarganya beberapa kali menghabiskan waktu di Yogyakarta. Selain kisah Barack, dinding rumah tersebut bertuliskan tertimoni mengenai ibunya, Stanley Ann Dunham. Sepertinya, orang-orang mengenal Ann sebagai perempuan cerdas yang baik hati.

Saat membaca tulisan tadi, saya langsung berkomentar ke beberapa teman pria. “Besok kalau memilih istri, carilah perempuan cerdas. Karena 70% kepandaian seorang anakmu menurun dari ibunya.” Ya, saya percaya dia seorang perempuan hebat karena bisa mendidik seorang anak dari keluarga broken home bisa menjadi seorang presiden.

Sebenarnya, masih banyak cerita mengenai benda-benda yang pernah dihasilkan oleh akademisi UGM. Sayang, waktu kami terbatas. Sepertinya masih banyak cerita tentang UGM yang belum kami dengar.

Iklan

Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Belajar itu Menyenangkan di Sekolah Alam Anak Sholeh

Kadang saya berpikir jika sekolah itu tempat anak-anak dihukum. Mereka dipaksa berjam-jam duduk manis dan dijejali berbagai macam hal yang entah apa gunanya. Tapi, bayangan tersebut tidak saya temui di Sekolah Alam Anak Sholeh di Tarumajaya, Bekasi. Hal pertama yang membuat saya tertarik, murid-murid di sekolah ini tidak memakai seragam. Anak-anak bebas menggunakan baju yang mereka sukai. Saya bahkan melihat sebagian murid mengenakan sandal ke sekolah. Sesuatu yang mungkin tidak sopan bagi sekolah lain.

Sekolah alam 1

Sekolah yang sudah 8 tahun berdiri ini terletak di bantaran sungai Alam, Bekasi. Sekarang, ada 120 murid yang belajar di sana. Rata-rata orang tua murid berlatar belakang sama: pekerja serabutan. Mereka mencari nafkah sebagai pemulung, kuli bangunan, dan buruh cuci. Saya sempat ngobrol dengan Ngapilah, seorang ibu beranak delapan. Tiga orang anaknya pernah dan sedang bersekolah di sini. Ia ingin anaknya pintar dan kelak punya hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Karena Sekolah Alam tidak memungut biaya, Ngapilah bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Sampai saat ini, Sekolah Alam hanya memiliki dua ruang kelas untuk 8 kelas SD dan TK. Mereka menyekat ruangan kelas. Sebagian murid bahkan belajar di teras. Hal tersebut menjadi salah satu sebab ijin operasional sekolah alam belum turun. Mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah. Untuk itu, tiap kali ujian, sekolah tadi masih menginduk di MI At Takwa.

Awalnya, sekolah alam mirip sanggar belajar. Lokasinya berpindah-pindah sesuai pinjaman ruang yang mereka dapat.  Mereka baru menetap setelah mendapat bantuan gedung dari program PNPM. Untuk biaya operasional termasuk membayar 9 orang guru, sekolah mendapat bantuan dari para donatur.

sekolah alam 2Pertengahan Agustus lalu, saya datang ke sekolah tadi untuk mendongeng sembari mengajak murid SDnya membaca buku. Di tengah-tengah kegiatan tadi, saya ngobrol dengan beberapa murid. Kata mereka, sekolah itu menyenangkan. Mereka merasa sayang jika membolos karena guru-guru dan teman-temannya baik.

Bisa jadi hal tersebut didukung oleh sistem pembelajaran yang tidak terlalu berat. Kata Pak Agustian, seorang pengelola sekolah, berkata mereka tidak memaksa muridnya menghapal banyak hal. Sekolah Alam mengajak murid-muridnya belajar matematika, fisika, kimia, dan seni dengan menyenangkan. Pelajaran-pelajaran tersebut lebih banyak menggunakan praktek dalam penyampaiannya. Salah satunya, belajar tentang pencahayaan dan jarak melalui kamera lubang jarum.

Sekolah ini tidak mengejar Ujian Nasional sebagai standar pintar atau tidaknya murid. Tapi, mereka masih mengajarkan hal-hal di sekolah umum karena masih menggunakan UN sebagai syarat kelulusan. Seorang relawan bernama Erza dengan bangga bercerita kalau ujian kelulusan kemarin, nilai rata-rata anak lebih tinggi dari sekolah induk.

Sepertinya, ada banyak hal yang ingin saya ketahui tentang cara belajar dan pengelolaan sekolah ini. Mungkin, akan lebih bermanfaat jika saya kembali ke sana sambil membawa lebih banyak buku-buku lain. Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan dan murid-muridnya antusias dengan buku. Ada yang mau membantu saya mendapatkan buku lagi?

Foto: dok Sekolah Alam

Perpustakaan di tengah-tengah Lapangan Denggung

Minggu lalu, saya, Bayu dan Atri nongkrong setengah hari di Lapangan Denggung, Sleman, Yogyakarta. Kami menggelar perpustakaan keliling. Biasanya, tiap minggu ada Mas Adi dan Mbak Heny dari Taman Bacaan Mata Aksara yang membuka perpustakaan keliling di lapangan ini. Kami cuma jadi tim hore yang sekadar meramaikan. Berhubung beberapa minggu berturut-turut keduanya ada acara lain, perpustakaannya sempat absen.

Karena merasa sayang kalau kegiatan perpustakaan keliling absen terlalu lama, kami menawarkan diri menggantikan. Minggu sekitar jam delapan, kami bertiga sudah sampai di Mata Aksara. Awalnya, kami ingin membawa motor perpustakaannya. Berhubung Bayu sempat menabrak tong sampah saat mencoba mengendarainya, kami memutuskan tidak membawa motor ini.

Motor Perpustakaan Keliling
Saat pertama kami menggelar karpet dan buku-buku, pengunjung masih enggan berkunjung. Kami sempat disangka tukang jualan buku. Untuk mengisi waktu, kami membuat kopi. Kami memang sengaja membawa kopor untuk merebus air. Kebetulan saya hobi membeli kopi-kopi lokal saat pergi ke luar kota. Lama-lama, banyak anak kecil datang untuk membaca buku ditemani orangtuanya. Karpet yang kami bawa mirip seperti penitipan anak.
Kegiatan ini ada tiap minggu pagi dari sekitar pukul 9 sampai selepas Dhuhur. Silahkan kalau mau datang ke Lapangan Denggung untuk membaca-baca buku. Tempatnya teduh dan menyenangkan untuk duduk-duduk. Biasanya, kalau motor perpustakaan bisa dibawa, ada ratusan buku yang bisa dibaca. Mulai dari komik, novel, buku tentang berkebun, sampai kesehatan ada di sini. Mbak Heny dan Mas Adi juga sering membawakan buku yang dipesan pembaca. Buku-buku tadi merupakan koleksi Taman Bacaan Mata Aksara yang jumlahnya sekitar 4000 buku. Biasanya kalau ada motor perpustakaan, anak-anak juga bisa bermain atau menggambar dan mewarnai. Semuanya tidak dipungut biaya.

Perpustakaan Keliling di Lapangan Denggung, SlemanSupaya kegiatan ini tetap berlangsung tiap minggu, adakah yang tertarik menjadi relawan? Bergantian menunggui buku-buku ini tiap minggu pagi? Bisa juga nanti kita mulai mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan mengajak orang lain untuk lebih menyukai membaca. Seperti diskusi misalnya? Silahkan datang langsung tiap minggu pagi atau hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com dan Mbak Heny di henywardaturrohmah[at]yahoo.com

Buku untuk Teman di Desa Bonto Tapalang

Minggu lalu, saya jalan-jalan ke hutan desa di daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tempat ini keren. Gunung Lompo Batang dan jurang-jurang tertutup pepohonan hijau menjadi pemandangan desa-desa di sana. Di beberapa tempat, laut biru terlihat di kejauhan. Kiri dan kanan jalan penuh dengan kebun-kebun kopi penduduk. Saya suka mengamati rumah-rumah penduduk. Sebagian besar rumah panggung dari kayu.

Rumah panggung sulawesi selatan

Adam, teman saya, mengajak singgah ke Madrasah Aliyah (sekolah Islam setingkat SMA) di Desa Bonto Tapalang. Kami bertemu dengan Ahmad, salah seorang guru di sana. Kata Ahmad, madrasah tersebut baru buka tahun 2011. Seminggu sekali, Ahmad mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Di luar itu, ia dan Eka—istrinya mengajak murid-muridnya berdiskusi di asrama yang letaknya di sebelah rumah mereka. Eka yang masih kuliah di UNM, mengajar Geografi di sekolah yang sama.

Ahmad bercerita kalau ia lulusan S1 pertama di desanya. Awalnya, ia mengambil Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan lulus tahun 2007. Ia sempat mengajar di SD kemudian melanjutkan kuliah di Janeponto. Setelah menikahi putri pemilik yayasan yang menaungi sekolah Islam setingkat SD, SMP, dan SMA, ia mengajar kembali. Selain mengajar, Ahmad bertani. Ia menanam kopi, cengkeh, dan cabai. Ia memilih untuk mengajar di desanya karena guru-guru di sana tidak punya semangat mengajar. Selain itu, mereka hanya mengajarkan apa yang ada di buku teks saja.

Waktu datang ke sana, saya sempat ditodong untuk mengajak murid-murid di sana ngobrol tentang pentingnya buku. Akhirnya saya memilih untuk bercerita. Biasanya, saya membacakan buku, atau bercerita sambil menunjukkan slide berisi foto-foto pendukung cerita. Karena tidak ada persiapan, saya menggambar peta di papan tulis. Ceritanya dimulai dari waktu kecil, saya sering mendengar kalau Indonesia itu negeri yang sangat kaya. Terdiri lebih dari 17.000 ribu pulau dan ratusan bahasa serta suku bangsa. Saya dulu suka menonton film anak 1000 pulau. Juga membaca buku-buku tentang adat istiadat dan keindahan alam Indonesia. Dan bermimpi bisa datang ke tempat-tempat tadi.

Dan hal tersebut terwujud setelah bekerja. Saya mulai bisa melihat tempat-tempat yang awalnya hanya saya dengar ceritanya saja. Mulai dari snorkling di Pulau Weh dan melihat nol kilometer Indonesia. Mengunjungi perkebunan dan hutan di Sumatra. Naik kereta api di kota-kota di Jawa. Mencoba rakit bambu di Kalimantan. Datang ke Lombok hanya karena penasaran dengan cacing yang keluar setahun sekali dan enak dimakan. Terpesona saat bisa datang ke Papua dan bertemu penduduk lokalnya yang warna kulit dan rambutnya berbeda.
Murid-murid di sana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali mereka bingung karena tidak tahu apa yang saya ceritakan. Bayangkan, murid-murid SMA tadi tidak tahu apa itu terumbu karang. Padahal, tempat tinggal mereka hanya beberapa jam dari Pulau Selayar yang orang dari jauh datang hanya untuk menyelam. Saya juga harus mendeskripsikan apa itu kereta api, karena mereka tidak punya bayangan kalau ada benda besar dari besi yang bisa dinaiki ratusan orang. Saya juga sempat bingung waktu menjelaskan Jogja, tempat asal saya, ada di mana.

Saya agak tidak yakin waktu bilang sebelum bisa pergi ke tempat lain, bacalah buku supaya tahu ada apa di luar sana. Jarang ada orang keluar masuk desa ini. Mertua Ahmad berkata kalau saya orang Jogja pertama yang datang ke sana. Bisa jadi. Kalau tidak kenal teman-teman di LSM Balang, saya juga tidak mungkin sampai sana. Hal itu juga yang menyebabkan di Bonto Tapalang susah untuk mendapatkan buku. Perpustakaan desa tidak jelas kapan buka. Untuk membeli buku, toko buku terdekat ada di Makassar yang jaraknya ratusan kilometer. Sepertinya, orangtua mereka juga enggan membelikan buku di luar buku pelajaran.

Sekolah desa hutanAhmad, istri, dan mertuanya akan membuka perpustakaan di asrama sekolah. Supaya murid-murid di sana bisa membaca buku di luar buku pelajaran. Adam dan teman-temannya di LSM balang, juga sedang membantu mereka mengumpulkan buku. Teman-teman ada yang tertarik membantu? Bisa hubungi Adam di a.kurniawan@balanginstitut.org . Di beberapa desa hutan lain di Indonesia, beberapa teman saya juga sedang membangun perpustakaan. Kalau teman-teman punya buku yang bisa disumbangkan untuk mereka, silahkan hubungi saya. Terimakasih sebelumnya.

Baca Buku, Yuk! Karena Sekolah Saja Tidak Cukup

Hari minggu lalu, Goodreads Jogja dan 1001 buku mengadakan ngobrol bareng mengenai dunia pendidikan dan budaya membaca. Acara tersebut menjadi bagian dari Booklover Festivalnya Radio buku. Ceritanya, ide obrolan ini dimulai dari keprihatinan teman-teman dengan dunia pendidikan (formal) di Indonesia. Selama ini, pendidikan cenderung dipersempit menjadi sekolah. Orangtua menitipkan anak-anaknya ke sekolah dan berpikir bahwa mendidik itu tugas sekolah. Padahal, seharusnya orangtua yang diberi amanah untuk mendidik anak. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking.

diskusi buku di radio buku

Ada 4 pembicara yang memulai diskusi. Mas Anto yang bekerja di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, Mas Adi yang menjadi Komite Sekolah TK dan SD Model, Mbak Tata yang praktisi anak dan Pendidikan, lalu Mas Ganjar yang relawan literasi di 1001 buku. Mas Anto bercerita pengalamannya waktu berbicara di depan guru dan kepala sekolah RSBI. Dia iseng bertanya kapan mereka terakhir baca buku di luar buku umum. Jawabannya: waktu kuliah. Kebayang ga, menurut dinas pendidikan, guru yang ada di RSBI itu guru bagus. Buku itu salah satu cara mendapat pengetahuan. Kalo yang bagus saja tidak menganggap buku penting, guru-guru dengan level dibawahnya seperti apa?

Obrolan kemudian berlanjut ke ironi kurikulum 2013. Kurikulum yang bagus tadi tidak diimbangi oleh guru-guru sekolah yang siap untuk mengajarkan hal tersebut. Memperbaiki kurikulum tanpa menyiapkan guru itu seperti punya mobil bagus dengan sopir tidak terampil. Guru-guru di sekolah formal, rata-rata terbiasa mengajar satu arah. Guru berbicara dan murid mendengar. Banyak yang menjadi guru karena menganggapnya pekerjaan bukan panggilan jiwa.

Sekolah memperlakukan anak-anak yang unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda dianggap sebagai barang kodian. Mereka disamaratakan kemampuannya dan dipaksa untuk menguasai hal yang sama. Selain itu, sekolah juga menjadi menara gading. Mereka membuat murid tidak mengenali lingkungan sekitarnya karena hal yang diajarkan tidak membumi.

Sedangkan untuk membudayakan membaca di sekolah, sekolah-sekolah umum memiliki perpustakaan dengan koleksi buku membosankan. Perpustakaan bahkan menjadi tempat penyimpanan buku paket. Yang dikeluarkan tiap tahun ajaran baru. Kalaupun ada dana Bantuan Operasional Sekolah, pihak sekolah cenderung dipakai untuk membangun fisik daripada membeli buku. Bukankah guru dan kepala sekolahnya sendiri tidak peduli dengan buku?

Sebagai bagian dari mendidik, di beberapa tempat muncul gerakan-gerakan literasi. Muncul orang-orang dan komunitas yang menyediakan bacaan dan mengajak lingkungan sekitar untuk membaca. Berhubung membaca itu sebuah kebiasaan, sebaiknya ia ditanamkan sejak dini. Sayang, masih sedikit buku anak yang bagus dan punya muatan lokal.

Obrolan yang berjalan 3 jam tadi tidak menawarkan solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan. Terlalu banyak masalah dan mungkin saat ini buang-buang energi kalau mau merubah sistem pendidikan. Setidaknya, kalau kita tahu pendidikan formal di Indonesia bermasalah, kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Mendidik itu tugas pertama orangtua dan keluarga itu sekolah pertama. Kalau pun nanti akan menitipkan anak ke sekolah, orangtua dan keluarganya harus tahu bahwa sekolah saja tidak cukup. Salah satu cara supaya menjadi pendidik yang baik, orang harus punya banyak referensi untuk mengajar. Buku merupakan salah satu sumber untuk mengisi pengetahuan para pendidik dan calon pendidik.

Tentang Menulis

Hore, dapat kuliah gratisan lagi. Kali ini temanya tentang media dan penulisan. Bayangkan, belajar dari jurnalis-jurnalis senior seperti Farid Gaban, Dandy Laksono, Maria Hartiningsih, dan lain-lain. Kerennya lagi, lokasi pelatihan tadi di Kampus Cifor, Bogor yang letaknya di tengah-tengah hutan hujan tropis. Jadi, kita belajar membelakangi kaca-kaca besar dengan pemandangan pohon-pohon raksasa.

9 peserta dari Sumatra sampai Papua datang atas undangan Kemitraan. Awalnya, kuliah tadi berisi tentang hal-hal seputar teknis menulis. Saat menulis, kita harus berpikir mengenai apa yang ingin kita sampaikan? Bagaimana cara supaya tulisan menarik untuk dibaca? Apa isu penting dari tulisan? Apakah bahasa yang dipergunakan sederhana? Bisakah pembaca paham? Lalu, supaya pembaca menerima informasi dengan baik, tulisan harus fokus. Jangan tergoda untuk bercerita hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan inti persoalan yang ingin kita sampaikan.

Sebelum menerbitkan sebuah tulisan, penting untuk melakukan editing. Sebelum tulisan dimuat di media apapun, penulis harus mengecek apakah info yang ia sampaikan bisa ditangkap. Ia perlu memperbaiki tulisan supaya lebih komunikatif. Tulisan sebaiknya melalui proses cek fakta supaya bisa dipertanggung-jawabkan. Selain itu, penulis harus tega menghilangkan kata dan kalimat yang tidak penting. Ia juga tidak boleh lupa untuk memperbaiki tanda baca. Banyak salah ketik akan menyiksa pembaca. Bisa jadi mereka malas membaca tulisan yang berantakan.

Saya hanya tertawa saat Mas Dandy bilang sebelum kami belajar tentang jurnalistik, lebih baik kami belajar tentang tata bahasa. Banyak dari kami yang tata bahasanya kacau. Satu kalimat idealnya punya satu ide. Kalimat yang beranak pinak membingungkan pembaca. Parahnya, beberapa teman sering tidak memperhatikan hal ini. Tidak hanya satu dua orang yang membuat kalimat dengan lebih dari 30 kata. Selain mengaburkan info, kalimat panjang bertingkat juga membuat capai pembaca.

Satu hal yang saya pelajari adalah: hindari kata sifat itu karena sifatnya subyektif. Mahal menurut seorang buruh berbeda dengan mahal menurut seorang pengusaha. Untuk mengganti kata cantik, lebih baik deskripsikan seperti apa warna kulitnya, bentuk wajahnya, dan lain-lain.

Hari terakhir, ada sesi peninjauan tulisan oleh Maria Hartiningsih. Saat mengomentari tulisan kami, beliau banyak cerita tentang orang-orang pinggiran. Intinya, saat ini orang-orang Indonesia itu dibuat bodoh supaya bisa ditipu sama orang-orang pemerintah. Atau menjadi konsumen perusahaan multinasional. Ibu Maria juga bercerita kalau menulis itu tentang panggilan jiwa. Orang hanya perlu lebih peka untuk melihat dan menuliskan apa yang membuatnya terpesona atau marah. Lead dan hal-hal teknis itu urusan belakangan.

Awalnya, saya tidak berharap banyak menguasai suatu hal hanya dari sebuah pelatihan. 5 hari terlalu singkat untuk bisa menulis dengan baik dan membuat kampanye. Tapi saya dapat banyak cerita saat ngobrol bebas. Mas Farid cerita tentang betapa Indonesia kaya dengan ekspedisi Zamrud Khatulistiwanya. Mas Dandy yang mengajak orang-orang di Aceh memberitakan hal-hal yang lewat di media massa lewat portal Acehkita. Banyak deh kalau diceritakan satu-satu. Bertemu tukang dongeng senior tadi jadi mengingatkan saya kembali kalau saat ini masih separuh-separuh saat mengerjakan sesuatu. Banyak hal yang saya tidak tahu tentang negeri tempat saya tinggal.