Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Belajar itu Menyenangkan di Sekolah Alam Anak Sholeh

Kadang saya berpikir jika sekolah itu tempat anak-anak dihukum. Mereka dipaksa berjam-jam duduk manis dan dijejali berbagai macam hal yang entah apa gunanya. Tapi, bayangan tersebut tidak saya temui di Sekolah Alam Anak Sholeh di Tarumajaya, Bekasi. Hal pertama yang membuat saya tertarik, murid-murid di sekolah ini tidak memakai seragam. Anak-anak bebas menggunakan baju yang mereka sukai. Saya bahkan melihat sebagian murid mengenakan sandal ke sekolah. Sesuatu yang mungkin tidak sopan bagi sekolah lain.

Sekolah alam 1

Sekolah yang sudah 8 tahun berdiri ini terletak di bantaran sungai Alam, Bekasi. Sekarang, ada 120 murid yang belajar di sana. Rata-rata orang tua murid berlatar belakang sama: pekerja serabutan. Mereka mencari nafkah sebagai pemulung, kuli bangunan, dan buruh cuci. Saya sempat ngobrol dengan Ngapilah, seorang ibu beranak delapan. Tiga orang anaknya pernah dan sedang bersekolah di sini. Ia ingin anaknya pintar dan kelak punya hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Karena Sekolah Alam tidak memungut biaya, Ngapilah bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Sampai saat ini, Sekolah Alam hanya memiliki dua ruang kelas untuk 8 kelas SD dan TK. Mereka menyekat ruangan kelas. Sebagian murid bahkan belajar di teras. Hal tersebut menjadi salah satu sebab ijin operasional sekolah alam belum turun. Mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah. Untuk itu, tiap kali ujian, sekolah tadi masih menginduk di MI At Takwa.

Awalnya, sekolah alam mirip sanggar belajar. Lokasinya berpindah-pindah sesuai pinjaman ruang yang mereka dapat.  Mereka baru menetap setelah mendapat bantuan gedung dari program PNPM. Untuk biaya operasional termasuk membayar 9 orang guru, sekolah mendapat bantuan dari para donatur.

sekolah alam 2Pertengahan Agustus lalu, saya datang ke sekolah tadi untuk mendongeng sembari mengajak murid SDnya membaca buku. Di tengah-tengah kegiatan tadi, saya ngobrol dengan beberapa murid. Kata mereka, sekolah itu menyenangkan. Mereka merasa sayang jika membolos karena guru-guru dan teman-temannya baik.

Bisa jadi hal tersebut didukung oleh sistem pembelajaran yang tidak terlalu berat. Kata Pak Agustian, seorang pengelola sekolah, berkata mereka tidak memaksa muridnya menghapal banyak hal. Sekolah Alam mengajak murid-muridnya belajar matematika, fisika, kimia, dan seni dengan menyenangkan. Pelajaran-pelajaran tersebut lebih banyak menggunakan praktek dalam penyampaiannya. Salah satunya, belajar tentang pencahayaan dan jarak melalui kamera lubang jarum.

Sekolah ini tidak mengejar Ujian Nasional sebagai standar pintar atau tidaknya murid. Tapi, mereka masih mengajarkan hal-hal di sekolah umum karena masih menggunakan UN sebagai syarat kelulusan. Seorang relawan bernama Erza dengan bangga bercerita kalau ujian kelulusan kemarin, nilai rata-rata anak lebih tinggi dari sekolah induk.

Sepertinya, ada banyak hal yang ingin saya ketahui tentang cara belajar dan pengelolaan sekolah ini. Mungkin, akan lebih bermanfaat jika saya kembali ke sana sambil membawa lebih banyak buku-buku lain. Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan dan murid-muridnya antusias dengan buku. Ada yang mau membantu saya mendapatkan buku lagi?

Foto: dok Sekolah Alam

Ibadah di Pusat Perbelanjaan

Tiap bulan puasa, ada hal yang pasti: harga sembako naik. Artinya, bulan ini orang lebih banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari. Orang-orang di sekitar saya tiap bulan puasa cenderung lebih banyak memasak.  Ada tambahan makanan seperti es buah atau makanan manis saat berbuka. Selain itu mereka juga mengonsumsi lebih banyak daging. Aneh, bukankah katanya puasa itu meminta untuk menahan hawa nafsu? Iya, selama siang (sebagian besar umat Islam) menahan lapar dan kadang marah. Tapi setelah berbuka kemudian menjadi kesempatan untuk berpesta. Kenapa? Apa karena bulan puasa hanya satu bulan dalam setahun?

Belanja bajuDi bulan ini juga, pusat perbelanjaan lebih banyak dikunjungi orang. Perhatikan saja penuhnya tempat parkir dan antrian memanjang di kasir. Apalagi mendekati lebaran. Berbagai pusat perbelanjaan meminta masyarakat untuk membuang uangnya. Mereka menawarkan berbagai diskon. Yang diserbu masyarakat dengan pikiran kapan lagi bisa punya barang bagus. Padahal, mana ada toko yang mau rugi? Tetap saja mereka masih untung.

Justru pembelanja yang rugi karena membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Entah kenapa, ada semacam keharusan untuk membeli baju baru saat lebaran. Untung saya beberapa tahun terakhir ini tidak latah berbelanja. Saya sedang berusaha untuk membedakan antara butuh dan ingin.Tapi tetap saja saya tidak bisa menghindar dari menyuguhkan terlalu banyak makanan saat hari raya. Beberapa kerabat membelikan makanan ringan yang selalu tidak pernah habis hingga beberapa bulan setelah lebaran.

Hari raya merupakan saat bertemu keluarga dan kerabat jauh. Ironisnya, saat itu menjadi ajang menunjukkan harta milik. Pernahkah anda memperhatikan, saat bulan puasa, toko emas lebih ramai? Ada yang memakai perhiasan saat lebaran dan menjualnya kembali setelah usai. Apakah ini kemenangan? Bahkan ada pula yang membeli mobil baru untuk lebaran.

Yuk mulai kurangi hal yang tidak perlu. Bumi tidak bertambah luas. Barang-barang yang tidak terpakai dan sisa tadi akan menjadi sampah. Kita berbuat baik pada bumi saat hanya mengambil secukupnya saja.

Para Pengumpul Recehan

Seorang Bapak usianya mungkin sekitar 40 tahun berdiri di gerbang rumah. Waktu saya datangi, Bapak tadi bercerita, adiknya yang kelas empat SD butuh uang untuk membeli buku dan seragam. Ia meminta uang seiklasnya. Saya diam sebentar. Awalnya, saya yang sedang beres-beres sempat berpikir untuk memintanya mengepel rumah. Sekalian memintanya untuk membereskan rumput di taman dan merapikan tumpukan barang bekas di garasi. Saya bisa membayarnya untuk itu.

Tapi saya membatalkan niat tadi saat tidak nyaman melihat wajahnya. Saya merasa ia bukan orang yang ramah. Waktu saya meminta maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaannya, orang ini kemudian marah dan pergi tanpa pamit. Saya kemudian merasa beruntung batal memintanya membereskan rumah. Saya tidak tahu apakah orang tadi menipu atau tidak. Kalaupun benar ia butuh uang, kenapa ia merasa layak meminta uang ke orang asing? Bukankah masih banyak orang yang lebih membutuhkan uang dan ada masih mau bekerja untuk itu.

Saya jadi ingat dua minggu lalu saat naik angkot di Jakarta. Dua orang pemuda mungkin umurnya 20-an tahun tiba-tiba masuk dan duduk di dekat pintu. Salah seorang wajah dan tubuhnya penuh tato. Seluruh penumpang menatapnya dengan pandangan risih. Kami berusaha untuk menjauh darinya. Ia kemudian berbicara dengan nada penuh ancaman. Katanya, mereka butuh uang untuk makan. Secara halus, ia menyatakan lebih baik sisihkan sedikit uang kalian daripada nanti ada sesuatu dengan barang berharga yang kalian pegang. Beberapa penumpang merasa tidak nyaman kemudian buru-buru mengeluarkan uang.

pedagang pasar

Kecuali saya dan seorang teman. Kami tidak suka memberi uang orang yang tidak bekerja. Bukan masalah jumlahnya, memberi uang kepada peminta-minta akan membuat mereka nyaman di jalanan. Mereka akan terus-menerus melakukan hal tadi karena tidak perlu bersusah payah bekerja. Penghasilan seorang pengemis dalam sebulan bisa lebih dari lulusan S1. Lebih baik berikan uang kepada lembaga amal supaya dikumpulkan dengan uang orang lain. Yang mungkin bisa memberi pekerjaan seseorang.

Sekarang, saya mulai meniru kebiasaan seorang teman. Namanya Ali. Ia punya kebiasaan memberi uang lebih saat membeli sesuatu atau naik taksi. Pedagang dan penjual jasa kecil ini sudah bekerja. Mereka layak untuk mendapat uang karena punya harga diri untuk tidak meminta-minta. Kata Ali, mumpung kita masih bisa memberi. Bisa jadi, suatu saat nanti kita butuh pertolongan orang. Semoga saja saat semakin banyak kita berbuat baik, nanti ada yang membalas.

 

Kadang, Niat Baik Saja Tidak Cukup

Seorang kenalan, kita sebut saja Fajar, mengirim pesan kalau ia akan datang ke Jogja. Fajar meminta nomer teman lain yang pernah menawarkan buku hibah. Kata Fajar, ia sudah berjanji pada pengunjung kecil perpustakaannya akan ada buku baru.

Sebelumnya, saya terkesan dengan kegiatan Fajar. Ia membuka perpustakaan dan mengadakan kegiatan seperti menari dan mendongeng untuk anak di sebuah desa. Saya berusaha membantu dengan memberi info tentang sebuah hibah buku. Tapi caranya meminta tolong tidak lagi membuat saya bersimpati. Ia membuat kesan seolah-olah orang lain harus membantunya. Ia tidak memikirkan bahwa si pemberi hibah sedang berlibur. Buku-buku tersebut ada di kantor. Butuh waktu untuk menyiapkan.

Fajar juga tidak berpikir ada puluhan taman bacaan lain yang menginginkan buku tersebut. Perpustakaan lain lebih dahulu mengirimkan permohonan. Banyak yang lokasi perpustakaannya lebih terpencil. Bisa jadi mereka lebih kesulitan mengakses buku.

Saya jadi teringat niat baik yang pernah dilakukan beberapa teman. Kadang, niat tersebut tidak diikuti oleh cara yang baik. Terlalu sering orang berpikir mengenai tujuan yang ingin mereka capai tanpa memikirkan efeknya untuk orang lain. Tidak hanya satu atau dua kali si pelaku niat baik ini memanipulasi orang lain. Mereka membuat orang lain merasa bersalah jika tidak bergabung.

Saya juga pernah melakukan hal yang sama. Beberapa tahun lalu, saya ingin membuat perpustakaan di sebuah desa. Saya mengeluarkan banyak energi dan waktu untuk mengumpulkan buku dan membuat kegiatan. Niat saya baik, saya ingin membuat anak-anak di desa tadi menyukai buku. Desa mereka jauh dari kota. Buku bagi orangtua mereka yang petani merupakan barang mahal. Jika ada perpustakaan, harapan saya, anak-anak di sana bisa membaca buku dengan mudah.

perpustakaan dan buku

Sayangnya saya lupa jika buku itu benda mati .Kalau tidak dibarengi dengan komitmen untuk datang secara rutin sembari mengadakan kegiatan bermain, percuma. Buku-buku tadi kemudian menumpuk di rak buku seorang tokoh desa. Tidak ada penduduk lokal yang punya waktu luang untuk mengajak penduduk lain melakukan kegiatan membaca.

Bukan hanya saya. Orang-orang di sekitar saya sering melakukan hal yang mereka pikir baik. Tanpa berpikir dari sudut pandang orang yang mendapat bantuan. Atau orang-orang lain yang mereka mintai tolong untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Kadang saya bertanya, apakah benar saya dan mereka tulus? Ataukah kami hanya ingin terlihat baik? Entahlah.
Sekarang saya memilih untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Hal yang bisa saya jaga komitmennya untuk melakukan hal tadi secara terus menerus. Seperti menulis di blog, membantu taman bacaan teman yang sudah berjalan. Sambil menunggu nanti ada hal besar yang bisa saya kerjakan. Semoga lebih cepat.

 

Lembaga (yang katanya Sakti) Bernama Media Massa

“Ketika Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif tidak bisa diharapkan, media menjadi tempat bersuara rakyat,” tutur seorang pemimpin redaksi sebuah redaksi media massa. Ucapan heroik tersebut menjadi kata sambutannya kepada beberapa pengunjung kantornya. Benarkah?

Media

Redaktur pelaksana koran tersebut bercerita jika suatu hal akan menjadi berita apabila aktual. Dan tebak, apa yang dimaksud dengan aktual? Isu yang menjadi perbincangan banyak orang. Standarnya berdasar jumlah koran yang laku. Bagaimanapun juga, media massa hidup dari iklan. Semakin banyak pembaca yang ia miliki akan berdampak pada banyaknya pemasang iklan.

Intinya media menyerahkan standar aktual atau tidaknya kepada pasar. Bukankah hal tersebut akan membuat media cenderung untuk memuat isu-isu yang bombastis? Perceraian Farhat Abbas, warna baju Julia Perez, atau Ibu negara yang marah di Instragram, apakah itu penting? Ya, berita-berita tersebut menarik untuk dibaca. Seseorang tidak perlu berpikir keras untuk mencerna info tersebut. Tapi apa gunanya? Beranikah pemilik media mengeluarkan berita-berita yang membuat cerdas dengan taruhan medianya tidak terlalu laku?

Kita ambil contoh satu kasus yang saat ini sedang ramai. Tentang pelecehan seksual yang dialami sebuah murid sekolah internasional. Media massa, memberitakan hal tersebut berulang-ulang. Ada yang bercerita tentang kronologis kejadian sampai konflik antara orangtua korban melawan sekolah. Tetapi, adakah yang memberitakannya dengan cara yang memberi pengetahuan kepada pembacanya? Seperti bagaimana si pelaku bisa menjadi penjahat? Apakah cara untuk mencegah supaya tidak ada lagi pelaku yang lain berkeliaran?

Sayangnya, sebuah berita kadang dianggap bisa dipertanggungjawabkan saat dimuat oleh media massa. Kadang, masyarakat tidak berpikir ada mesin ekonomi di balik itu semua. Ada pemodal atau politisi yang menjadi penyumbang atau pemilik media. Mereka berkepentingan supaya kita membeli produknya atau memilih mereka.
Sesuatu yang dianggap berita juga belum tentu benar. Dalam sehari, sebagian besar wartawan harian memiliki tenggat untuk menulis tiga berita. Bayangkan, apa sempat mereka mengecek datanya? Bisa saja mereka menulis tanpa konfirmasi ulang. Bukankah mereka menjadi seperti robot? Sempatkan para pekerja media beristirahat dan berpikir mengapa mereka melakukan hal tersebut? Adakah idealisme untuk memberitakan yang baik atau mengejar bonus saat beritanya dimuat? Belum lagi jurnalis juga manusia. Mereka punya banyak masalah pribadi seperti membayar tagihan, anaknya sakit, dan lain-lain. Sempatkah mereka untuk berpikir jauh tentang hal-hal yang mereka tulis?

Saya pribadi, sekarang berhati-hati saat menerima sebuah info. Sejak dahulu saya jarang menonton televisi. Lama-lama saya juga mengurangi membaca koran. Sepertinya hidup saya baik-baik saja tanpa harus mengonsumsi kedua hal tadi setiap hari. Saya tidak mau terus menerus berpikir banyak hal buruk terjadi di dunia ini tanpa melakukan sesuatu.  Di sisi lain, saya masih percaya diantara industri media tadi masih ada wartawan baik yang bekerja karena mereka ingin berbagi ilmu atau informasi. Sebagai pembaca dan penonton, kita harus pintar memilih mana yang akan kita konsumsi.

Pahlawan Dengan Tanda Jasa

Waktu membalik-balik sebuah majalah, saya melewatkan artikel tentang seorang pahlawan. Biasanya, saya menyukai cerita tentang orang-orang yang rela mendonasikan waktu dan uangnya untuk menyelamatkan dunia. Tapi tidak untuk tokoh satu ini. Beberapa kali saya sempat membaca atau menonton koran dan tv memuji habis ia sebagai seorang inspirator. Tapi orang-orang yang pernah bekerja dengannya menyatakan sosok tadi tidak setulus itu. Ada banyak sisi gelap tokoh tersebut yang belum ditampilkan oleh media.

Dulu, sewaktu masih naif (sekarang agak tidak terlalu), saya percaya ada orang-orang yang rela menyumbangkan hidupnya untuk orang lain. Awalnya, saya selalu terpesona saat membaca atau menonton cerita tentang orang-orang berbuat baik tanpa pamrih. Bahkan, saya sempat punya mimpi untuk mengumpulkan cerita tentang para pahlawan ini supaya orang lain meniru mereka.

Setelah bertemu dengan banyak orang dan mulai belajar tentang sistem ekonomi, saya mulai melihat bahwa ada banyak alasan orang melakukan sesuatu. Satu demi satu pahlawan yang pernah saya temui ternyata tidak selurus yang saya dengar sebelumnya. Pahlawan juga manusia. Mereka harus membayar tagihan tiap bulan dan butuh pengakuan (baca: pujian) dari orang lain.

Saya pernah menonton film tentang seorang penyelamat lingkungan. Versi filmnya, bertahun-tahun, Bapak A mengajak tetangga dan kerabatnya untuk membuat hutan supaya desanya selamat dari bencana alam. Karena penasaran dan kagum, saya berusaha menemui Bapak A. Saya tidak sempat bertemu langsung dengannya. Penduduk desa yang saya temui bercerita kalau si A tidak sehebat bayangan saya. Konon, tokoh tadi awalnya melakukan penanaman pohon karena dibayar sebuah LSM. Penduduk desa yang lain membantunya karena ada iming-iming jika mereka membangun hutan akan ada bantuan dari pemerintah atau pihak luar.

Cerita serupa berkali-kali saya temui. Ada seorang seniman yang kata media melestarikan peninggalan leluhur. Setelah bertemu langsung dan ngobrol berjam-jam, saya baru sadar ia melakukan hal tersebut lebih karena mencari nafkah. Lain waktu, saya mendengar tentang seseorang yang mendapat penghargaan karena berhasil memberdayakan penduduk desanya. Saat menjadi pembicara di berbagai seminar, ia selalu menggembor-gemborkan tentang pemberdayaan masyarakat. Ironisnya, di desanya hanya segelintir orang yang terlibat. Penduduk desa lain tidak tahu apa yang ia lakukan.

Menggambar bersama

Media massa sering kali dianggap sebagai sumber yang dapat dipercaya. Padahal, bisa jadi wartawannya terjebak ingin membuat cerita yang heroik. Ia perlu mendramatisir ceritanya supaya dimuat oleh media massa. Ia harus bersaing dengan wartawan lain karena ruangan di media terbatas.

Lalu, apakah orang yang benar-benar baik itu tidak ada? Tidak juga. Bertemu dengan banyak orang membuat saya belajar kalau manusia itu tidak hitam dan putih. Tiap orang baik memiliki sisi buruk, begitu juga sebaliknya. Sampai sekarang saya masih membaca buku biografi. Tapi tidak mempercayai seluruh isi beritanya begitu saja. Setidaknya saya masih mendapat cerita, dibalik kesuksesan atau nama besar seseorang, selalu ada banyak kerja keras.