Suatu akhir pekan di Kopdar Blogger Nusantara

Kamis malam kemarin, ruang tunggu Terminal Bus Giwangan dipenuhi celotehan anggotanya Komunitas Blogger Jogja (KBJ). Kami, bertigadelapan mau pergi ke Siduarjo untuk ketemuan dengan blogger lain dari seluruh Indonesia. Konon, akan ada seribu blogger dari Aceh sampai Papua datang. Penasaran nggak sih? Gara-gara pengen datang bareng-bareng ke Siduarjo juga, antar anggota KBJ lebih sering ngobrol via twitter dan facebook (namanya juga aktivis dunia maya) juga ketemuan langsung.

Sepanjang perjalanan, ada satu topik yang nggak habis-habisnya dibahas: jaket seragam baru komunitas. Temen-temen pada komplain tentang jaket warna hitam yang belum lama jadi. Mulai dari lengan yang panjangnya ngga proporsional lah, saku yang entah ke mana, trus yang paling lucu: tagline yang salah ketik. Kalimat yang seharusnya “Blogger Berhati Nyaman” bisa berubah jadi “Blogger Berarti Nyaman” 😀

Kami sampai sekitar jam 4 pagi di Terminal Purbaya, Surabaya. Gara-gara bingung nyari tempat buat nunggu dijemput panitia, kami mondar-mandir d terminal kaya anak ilang. Ada beberapa sopir yang nuduh kita tu rombongan mau demo. Sok teu banget.

Waktu sampai di penginapan, saya langsung bengong. Kami harus nginep rame-rame Gedung Olahraga! Saya benar-benar kaget karena asumsi saya, kami akan menginap di hotel. Saya cuma bisa terharu aja waktu lihat ratusan lampit warna-warni berjajar rapi di seluruh bagian. Ini mah kamp pengungsian. Tapi penginapan seperti ini ada keuntungannya juga. Tiap peserta bisa lebih mudah berinteraksi dengan peserta lain karena nggak ada sekat kamar. Kami jadi lebih cepat akrab dan gampang membaur dengan teman baru dari lokasi lain.

Waktu sampai di ruang khusus perempuan, saya kenalan dengan beberapa blogger dari Maros, Palangkaraya, dan Banjarmasin yang lebih dulu dateng. Tadinya seh saya mau lanjut tidur. Tapi nggak bisa gara-gara bantal dan kasurnya dari kain yang panas banget. Entah kenapa saya kali ini nggak bawa sarung pantai atau alas buat duduk seperti biasanya. Trus, atap GOR yang dari logam tu nahan panas. Berasa kaya tidur di dapur yang sanitasinya jelek deh!

Sebelum berangkat ke Sun City Convention Hall, saya diajak kenalan keliling sambil kenalan dengan blogger-blogger lain. Langsung deh saya bagi-bagi kartu nama. Kalau kebetulan yang blogger dari Sulawesi Selatan atau Kalimantan Selatan, saya pasti bilang: saya ada rencana ke sana dalam waktu dekat ini. Ntar ketemuan ya?

Abis itu, saya jalan bareng Lilis bareng sama rombongannya Blogger Bojonegoro ke Sun City Convention Hall. Jaraknya sih cuma sekitar 200 meter dari penginapan, tapi, panasnya itu loh! Nggak nguatin banget. Saya dan Lilis sampai ikutan rombongan Blogger Bojonegoro make banner mereka buat payungan. Takut tambah item. He..he..he. Trus, saya masih aja tetep nyebar-nyebar kartu nama. Tiap kali ada yang nanya tshirt atau pin gambar blogger cewek dengan alamat blog saya lucu, saya cepet-cepet bilang email aja klo mo pesen. Ternyata, saya sales yang menyamar jadi blogger 😀

Sesi seminar selama dua hari penuh dengan banyak pembicara yang cerita tentang pengalamannya bersinggungan dengan dunia digital. Pembicara pertama, namanya Ivan Hudy dari blibli.com. Dia banyak cerita tentang hubungan saling mempengaruhi di dunia digital. Salah satunya tentang beberapa produk-produk multinasional yang sengaja milih blogger-blogger untuk mempengaruhi orang lain supaya memakai produk mereka. Pembicara kedua namanya Willys Wee. Pendirinya Penn Olson, sebuah perusahaan yang kerjaannya mereviu produk-produk teknologi di kawasan Cina dan seputar Asia. Dia masih muda loh. Kayaknya seh umurnya masih 25-an. Orangnya sederhana banget. Bajunya cuma tshirt dan celana jeans biasa. Sepatu kanvas yang dia pake aja dah bulukan. Dulunya, kayaknya tu sepatu warnanya putih. Kalimat terakhir tadi info ga penting ya?
Pembicara ketiga namanya Yansen Kamto. Dia cerita tentang peluang dunia digital. Orangnya lucu. Aku suka kalimat yang dia bilang berkali-kali baik di presentasi ataupun di sela-sela jawab pertanyaan. Kurang lebih begini: saat ini ada banyak berita buruk tentang Indonesia yang bersliweran tiap hari di berbagai media. Dia ngajakin kita-kita buat bikin konten yang baik tentang Indonesia. Yuk! Setuju banget. Hei, kita kan lahir, besar, dan cari nafkah di negeri ini. Harusnya, kita nglakuin sesuatu sebagai ucapan terimakasih. Bukannya nambahin dengan berita buruk!

Ada beberapa hal mirip yang diucapkan sama ketiga pembicara tadi. Mereka bilang tentang pentingnya menetapkan tujuan pembaca (pembicara dari google di hari ke dua juga ngungkapin hal yang sama). Trus yang namanya konten tulisan itu penting banget. Lalu, seorang blogger supaya dikenali harus punya ciri yang ngebedain dia dengan blogger lain. Yang nggak kalah penting, banyak-banyaklah menyebarkan blog tadi. Juga, pandai-pandailah membaca tren dengan tidak melupakan spesialisasimu.

Klo di hari kedua, ada presentasi dari Mbak Silly, penggagasnya Blood4life. Dia cerita tentang usahanya ngumpulin orang-orang lewat dunia maya buat bareng-bareng jadi donor. Kelebihan dunia maya adalah bisa nyebarin info lebih cepat. Merinding deh waktu lihat iklan sebuah browser tentang cerita seseorang yang punya darah O – yang langka mau transfusi padahal dia cuma punya waktu dalam hitungan jam. Dia tertolong berkat internet. Mbak Silly ini berkali-kali bilang, kalau mau berbuat baik, jalani aja mulai dari hal kecil. Ntar lama-lama ke otentikan dirimu akan menarik banyak orang (juga alam semesta) buat bantuin. Trus nanti bakal ada jalan buat sampai ke tujuan.

Lalu masih ada beberapa presentasi dari blogger lokal tentang pengalaman mereka memanfaatkan dunia digital. Salah satunya, Mas Yosi dan Suswono dari Suara Komunitas. Itu semacam jaringan online yang dikelola sama banyak orang. Isinya tentang cerita-cerita dari orang-orang yang tinggal di daerah yang kesulitan dapat akses ke banyak hal seperti informasi dan infrastruktur.

Saya tertarik banget pas denger presentasi tentang programnya East Ventures. Mereka nyari ide-ide tentang bisnis di dunia digital untuk dibiayai klo nanti lolos masa inkubasi. Mauu…

Salah satu sesi yang banyak peminatnya, presentasinya Vimoaj Vijeyakumaar dari Google. Buat orang Indonesia namanya susah ya dieja? Om ini cerita tentang alat-alat nya google yang bisa ngebantu seorang blogger supaya dibaca lebih banyak orang. Dia juga cerita tentang tips-tips cara narik pengunjung supaya berlama-lama di blog dan web optimizer untuk memperbaiki web supaya tampilannya menarik lebih banyak pengunjung. Cek deh buat presentasi lengkapnya. Kayaknya sesi buat tanya jawab waktunya kurang ne. Ada banyak peserta yang ga dapat kesempatan. Saya yang gaptek aja berusaha nangkep logika presentasi tadi buat nanti minta diajarin sama temen lain.

Malam hari pertama dan kedua, di barak pengungsian ada mimbar bebas. Entah kenapa, gara-gara ‘ditipu’ Mas Suryaden, saya bisa jadi MC. Saya sih seneng-seneng aja karena jadi lebih punya banyak kesempatan buat ngobrol dengan peserta dari daerah lain. Hari pertama ini mimbar bebas isinya perkenalan. Terserah, komunitas mana mau cerita tentang kegiatannya. Awalnya, cuma Pak Arsyad dari Kalimantan Selatan yang dengan suka rela maju buat baca puisi. Kakek yang umurnya enampuluh sekian tahun ini ngaku klo punya sekitar enam puluh blog. Awalnya, waktu saya minta supaya peserta maju tampil, saya sempat dicuekin. Tapi, setelah ada beberapa orang maju curhat colongan ada banyak yang antri buat numpang eksis. Sayangnya, karena sesi seminar yang padat banget, banyak blogger yang ngerasa capai dan milih untuk tidur duluan.

Selain itu, ada games dari XL. Juga Mbak Rika dari Idblognetworks yang cerita tentang Indonesia yang punya pengaruh kuat di dunia maya karena jumlah penduduk dan pengguna internet yang besar. Dia juga bilang kalau banyak perusahaan besar yang mulai menggeser anggaran kampanyenya dari media konvensional ke media digital. Tahun depan malah perusahaan-perusahaan bakal mengalokasikan 40% belanja iklannya di dunia digital. Itu peluang bukan? Klo kita (blogger maksudnya) mau ikut ambil bagian untuk dapat penghasilan dari hal tadi, kita harus punya konten unik yang beda dengan orang lain.
Di mimbar bebas kedua, perwakilan komunitas cerita tentang agenda kedepannya. Banyak blogger yang pengen acara Kopdar Blogger Nusantara ini nggak berhenti di sini aja. Muncul permintaan mulai dari bikin semacam milis sampai minta no kontak semua peserta supaya kita masih tetap berhubungan selepas Kopdar Blogger Nusantara selesai. Trus ada Mas Doni dari internet sehat dan Mas Banyumurti dari Relawan TIK cerita tentang pentingnya menyampaikan hal-hal positif lewat internet dan membuat supaya internet bisa diakses banyak orang.

Nggak kerasa ya sudah hari terakhir. Ada sesi di mana panitia Blogger Nusantara tentang kronologis kebentuknya Kopdar Blogger Nusantara. Mulai dari ada obrolan tentang mimpi buat ngumpulin blogger-blogger tanpa ada kepentingan politik. Juga cerita klo awalnya sempat mikir ini hampir nggak mungkin. Selain butuh dana besar banget, butuh alas an yang kuat untuk narik seribu blogger dari seluruh Indonesia buat datang. Trus ada sesi buat milih perwakilan blogger buat ngerumusin Kopdar Blogger Nusantara 2012. Sebelum acara berakhir, ada pembacaan sumpah blogger. Merinding oi… Apalagi waktu denger lagu pengiring yang dipakai. Lagu Tanah Air ciptannya Ibu Soed. Jadi pengen nangis, inget ni lagu yang ada di playlist saya waktu nulis ulang Para Pemuja Matahari.

Waktunya pulang, kami berkemas-kemas dan blogwalking. Kali ini yang didatengi bukan blog orang lain di dunia maya, tapi bloggernya langsung. Sambil janjian buat tetep kontak-kontakan. Saya dadah-dadah terus sama blogger-bloger di Kalsel sambil ngucapin sampai ketemu dua minggu lagi. Saya bakal blogwalking ke sana. Dan, saya juga merencanakan datang ke tempat blogger-blogger lain.

Sampai ketemu lagi di Kopdar Blogger Nusantara 2012. Semoga, karena dipersiapkan jauh hari, acara tahun depan bisa punya agenda yang kuat. Kebayang nggak sih kalau ada seribu blogger kompakan melakukan sesuatu? Pengaruhnya pasti bisa sampai ke banyak orang karena masing-masing blogger pasti berhubungan dengan orang lain lewat berbagai social media.

BTW: karena saya nggak bawa kamera, foto2 ini ngoi punya orang. Makasih Jeanot dan Hanif.

Iklan

Liburan Bersama Para Kutu Buku

Sabtu kemarin, saya terpaksa mandi pagi lagi. Kali ini gara-gara mau pergi ke Semarang buat kumpul bareng teman-teman Goodreades dari Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Dari Jogja, saya berangkat dengan mobil sewaan bareng Daniel, Iyut (plus Petra putrinya), Natty, Kurnia, dan Mas Kus yang nyetir mobil.

Kemarin, rencananya kita mau citiwalk mulai jam 9 pagi di Kota Lama. Tapi, rutenya diubah. Kami janjian buat ketemuan di Kelenteng Sam Po Kong. Rombongan dari Jogja jadi yang pertama datang. Kami rada kecewa waktu sampai di sini. Untuk masuk ke kelentengnya, pengunjung harus bayar dua kali. Yang pertama, untuk masuk pelataran kelenteng. Klo yang itu sih masih bisa ditoleransi,tiap pengunjung cuma kena Rp 3.000. Trus setelah masuk halaman, ada loket lagi. Pengunjung harus bayar Rp 20.000 kalau mau ke kelentengnya. Males banget ga? Apalagi dulu kan gratis.

Akhirnya kami duduk-duduk di salah satu gazebo. Sambil bantuin Petra ngabisin camilan bekalnya. Rombongan dari kota lain trus nyusul satu-satu. Nggak ada satu pun dari kami yang masuk ke kelenteng. Kami cuma foto-foto narsis sambil berjemur di lapangan.

Abis itu, kami ditraktir sama Mas Tono makan siang di Restoran Semarang. Sebagai gantinya, kami rame-rame nyanyiin lagu selamat ulangtahun. Restoran yang dikelola sama sejarahwan Jongkie Tio ini nawarin menu peranakan yang jadul. Trus mereka punya interior yang unik. Saya suka bagian dinding yang penuh dengan foto-foto tempo dulu dan artikel-artikel koran tentang resto ini. Restoran ini saya masukan jadi salah satu lokasi di novel Para Pemuja Matahari lo.

Habis makan, kami pergi ke taman KB. Di sana, kami gelar tiker dan mulai tukeran cerita tentang kegiatan-kegiatan Komunitas Goodreads Indonesia. Sebelum ajang tukeran cerita, kami maksa Mas Tono sebagai wakil dari tuan rumah buat ngasih kata sambutan. Ternyata dia cuma bilang: Selamat Datang. Udah, gitu aja. Nggak pake basa-basi, kata-kata mutiara, atau apalah. Dia sendiri ngaku klo itu kata sambutan yang singkat, pendek, jelas dan jelek.

Habis itu, kami kenalan pakai games ngapalin nama. Aturannya begini: Saya mulai dari menyebutkan nama, makanan dan buku favorit. Nah, teman di kiri saya sebelum menyebutkan makanan dan buku favoritnya, harus mengulang perkenalan saya. Hal tadi dilakukan berulang-ulang, jadi orang yang ada di sebelah kiri harus menghapal nama banyak orang. Acara berlanjut dengan bagi-bagi doorprize, yang seperti biasa didominasi oleh buku. Kalo pengen dapet doorprize, kami harus nebak waktu seseorang cerita tentang sinopsis sebuah buku. Orang yang dapet doorprize gantian ngasih sinopsis yang harus ditebak orang lain. Seperti biasa, habis itu kami foto-foto.

Beberapa teman dari Semarang harus pulang karena pada punya acara lain. Rombongan kemudian dibagi jadi dua. Teman-teman dari kota lain pergi ke karoke, dan rombongan dari Jogja pergi dulu ke Books! Yeah, sejak dari Jogja kami dah ribut-ribut pengen ke sini.

Books penuh dengan buku (ya iyalah, namanya juga toko buku :P) impor. Ada banyak buku keren di sini yang harganya murah karena bekas. Pokoknya bikin ngiler deh. Apalagi kebanyakan kondisinya masih bagus. Cuma… buku-buku di sini penataannya rada ga keorganisir. Kami harus mantengin satu per satu rak buku. Baca satu per satu judul buku sebelum nentuin mana yang pengen dibeli. Pokoknya lain kali harus balik ke sini lagi buat berburu buku.

Sekitar jam 5, kami nyusul ke Nav buat karokean. Daniel langsung duduk deket mic buat nunggu giliran nyanyi. Kalau Kurnia langsung mojok dan nyari posisi buat tidur. Ruangan tempat karoke yang adem memang nyaman setelah berpanas-panas di luar. Kmrin seh janjiannya tema karokean kali ini adalah lagu-lagu dari grup vocal. Berhubungan pada kehabisan ide, akhirnya lagu yang dipilih nggak ada temanya.

Jam tujuh, kami pulang supaya nggak terlalu malam sampai Jogja. Rencananya kami mau makan di jalan. Di jalan kami nggak nemu tempat makan yang kayaknya enak. Kami sampai di daerah Magelang sekitar setengah sepuluhan malem dan warung-warung makan dah pada tutup. Akhirnya kami makan di warung Lamongan di pinggir jalan. Saking lapernya, kepala tu dah mulai berkunang-kunang. Pas mulai makan, menunya berasa enak banget. Nggak tau itu beneran enak atau gara-gara perut kami minta diisi ya?

Susur Pantai Seruni

Gunungkidul punya banyak pantai yang masih alami. Salah satunya Pantai Seruni. Beberapa waktu lalu, saya sampai ke tempat ini karena “kecelakaan”. Waktu itu, saya mendapat ajakan kemping di pantai dari teman-teman Komunitas Canting. Berhubung lama tidak ke pantai, saya langsung mengiyakan tawaran tadi tanpa bertanya di mana lokasinya.

Jumat pukul 3 sore, kami berdelapan sampai di Pantai Sundak. Ternyata, di sini kami hanya akan menitipkan kendaraan kemudian berjalan kaki menyusur pantai selama dua jam ke Pantai Seruni. Saya cuma bengong. Awalnya saya berpikir kami akan kemping santai tanpa capai di pinggir pantai. Bayangan saya, kami hanya akan tidur-tidur ayam sambil menunggu matahari terbenam dan waktu makan. Mulailah kami berjalan menyusuri tepian pantai. Sebentar-sebentarkami harus berhenti karena ombak sore itu cukup tinggi. Saya agak kesulitan berjalan karena sandal yang saya pakai adalah sandal yang lebih cocok untuk dipakai jalan-jalan di kota! Berhubung sandal centil tadi terlalu licin, akhirnya saya memilih untuk bertelanjang kaki. Saat berjalan di batu atau pasir, hal tadi tidak menjadi masalah. Tapi tiap kali saya harus berjalan di atas karang tajam, kaki saya terasa sakit.

Sebenarnya, pemandangan di sebelah kiri saya cantik. Kami berkali-kali melalui pantai kecil berpasir putih dan sepi yang dikelilingi karang-karang tinggi menjulang. Cuma, saya tidak terlalu memperhatikan hal tadi. Selain capai, saya terlalu sibuk berpikir bahwa saya baru saja sembuh. Dan dokter menyuruh saya banyak beristirahat sampai akhir bulan.  Berhubung saya berjalan terlalu lambat, di tengah perjalanan, Azis berbaik hati meminjamkan sandalnya dan membawakan tas saya. Tapi tetep saja saya ditemani Yula, tertinggal jauh dibanding teman-teman yang lain.

Dua jam kemudian, akhirnya kami sampai juga. Beberapa teman langsung berteriak-teriak kegirangan. Pantai Seruni memiliki dua jenis pasir. Bagian atasnya tertutup oleh pasir putih berbutir besar. Di bagian bawah, pasirnya berwarna hitam kelam. Di beberapa bagian, pasir-pasir hitam ini terlihat di permukaan. Warnanya berkilauan cantik tiap kali terkena sinar bulan atau matahari. Pantai ini jarang didatangi orang karena akses ke sana sulit. Ia dikelilingi karang dan bukit dan jauh dari permukiman penduduk. Selama kami berada di sana, hanya ada pencari kerang atau ikan yang lewat. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari sebelah.

Salah satu alasan teman-teman memilih kemping di Pantai Seruni karena di sini ada air bersih. Di ujung pantai ada karang tinggi dengan peralon putih panjang. Peralon tadi bocor di beberapa bagian dan membuat banyak tetesan air. Beberapa cukup besar dan bisa dipakai untuk mengambil persediaan air bersih, menggosok gigi, dan mandi. Hal menyenangkan lain dari pantai ini adalah: di malam hari ada banyak kunang-kunang di sini.

Kami lalu mendirikan tenda di dekat gubuk pencari ikan. Saat dibuka, kami gembira karena mendapat tenda pinjaman yang masih baru. Tapi ternyata… tenda tadi agak ribet untuk dipasang. Ada terlalu banyak tali dan kait. Bayangkan, butuh waktu sekitar satu jam ditambah kehilangan 4 buah patok untuk bisa membuat tenda tadi berdiri. Catatan penting! Lain kali kalau meminjam tenda sekalian bawa pemiliknya supaya tidak pusing memasangnya.

Malamnya, Ika mendapat tugas memasak. Dia sempat ragu, karena sepertinya trangia yang kami bawa terlalu kecil untuk memasak nasi sesuai dengan ukuran perut kami berdelapan. Kami kemudian makan malam sambil membuat api unggun. Api yang kami buat lebih banyak matinya dan lebih banyak asap daripada apinya! Satu box kartu yang dibawa Aziz untuk main poker terpaksa kami korbankan untuk menyalakan api. Setelah makan, kami menyanyi dengan diiringi gitar Paman Dori. Entah kenapa, tiba-tiba kami melupakan banyak lagu. Kami lebih banyak berteriak-teriak pada bagian reff dan diam di bagian lainnya.

Jam 6 pagi, Yula, Ika, Izzah, dan Rina bermain air di pojokan pantai. Hendra memilih untuk jongkok di atas karang sambil memandangi laut. Sepertinya ia sedang mencari ide untuk membuat video yang bisa mengalahkan popularitas Briptu Norman.

Liburan di pantai ternyata membuat perut cepat lapar. Sekitar jam tujuh, kami masak mie dan makan roti. Setelah mengisi perut, semua teman bermain air. Berhubung niat saya ke pantai hanya ingin bermalas-malasan. Saya memilih tidur-tiduran di dagau milik pencari kerang. Tempatnya menyenangkan: sejuk dan suara ombak masih terdengar dari sini.

Teman-teman yang capai kemudian ikut-ikutan tidur siang sambil menunggu air surut supaya bisa menyusuri pantai. Ternyata air tidak surut sampai siang. Seorang pencari udang datang dan bercerita kalau saat ini ombak sedang tinggi-tingginya. Ia menyarankan supaya kami mengambil jalan darat, kemudian naik ojek ke Pantai Sundak karena air tidak akan surut sampai besok.

Beberapa teman tidak yakin dengan kata “dekat” versi bapak tersebut. Mereka juga takut tersasar karena belum pernah lewat jalan tadi. Akhirnya kami tetap pulang lewat pantai. Setelah berkemas, kami berangkat sekitar pukul setengah empat. Ombak sore itu lebih tinggi daripada kemarin saat kami berangkat. Kami lebih sering berhenti sambil menunggu ombak lewat. Baju saya basah kuyup terkena ombak. Bahkan, saya hampir terseret ombak. Berhubung saya benar-benar capai, akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek waktu sampai di pantai terakhir. Saya sampai duluan di Pantai Sundak dan memesan minum juga menyempatkan mandi sembari menunggu yang lain.

Don’t judge the food by it queue

Di jalan menuju kantor saya, ada warung sate kambing yang ramai sekali. Tiap kali berangkat ke kerja, saya selalu melihat parkiran di depannya penuh sampai ke jalan raya. Saking larisnya, warung itu selalu tutup sebelum jam makan siang.

Suatu hari, saya berangkat ke kantor terlalu pagi (masih jam 8 kurang maksudnya :P). Karena penasaran, saya iseng mampir sarapan di warung sate tersebut.  Saya memesan gule dengan asumsi lebih cepat disajikan daripada sate. Setelah menunggu lama, akhirnya gulai kambing yang saya pesan datang juga. Saya menghabiskan menu tadi dengan agak kecewa. Rasanya tidak sesuai dengan panjang antreannya. Sampai di kantor, saya memulai survei kecil pada teman-teman yang pernah mencoba makan di warung tersebut. Tidak ada satupun yang menyebut kalau masakan di sana enak. Aneh bukan?

Itu bukan kali pertama saya “tertipu” oleh antrean rumah makan. Dulu saya pernah penasaran dengan gudeg di sebuah gang. Saya dan teman saya datang ke warung gudeg tersebut sekitar pukul sebelas malam.  Kami batal makan karena malas melihat antreannya. Pembelinya selain memenuhi gang juga memanjang hingga puluhan meter di jalan raya. Beberapa hari kemudian, saya dan teman lain sengaja datang ke sana pukul delapan malam. Kami pikir, jika datang lebih awal, antreannya masih sedikit. Ternyata, waktu kami datang warungnya malah belum buka. Hanya ada seorang bapak dan ibu yang sedang menyiapkan api dan peralatan makan. Kami pergi ke rumah makan lain untuk makan malam sambil menunggu warung gudeg tadi buka. Saat kami kembali ke tempat tadi sekitar pukul sembilan, antreannya sudah panjang sekali. Karena tidak yakin akan sabar mengantre, kami memilih untuk pulang.

Akhirnya, kami kesampaian makan di sana beberapa hari kemudian. Kami bersama dua orang teman. Kebetulan malam itu hujan baru saja turun. Orang jadi malas datang ke warung lesehan.  Selain becek, atap terpal bongkar pasang warung tidak bisa melindungi pembelinya dari tetesan air hujan. Selain kami, malam itu hanya ada beberapa pembeli. Sehabis makan, saya dan dua orang teman sempat berdiskusi mengenai rasa dan panjangnya antrean saat hari biasa. Kami bertiga memberi rating dua dari empat bintang untuk gudeg itu. Rasanya standar sekali. Ada banyak gudeg lain di Jogja yang jauh lebih enak. Hanya satu orang teman yang berkata  gudeg tadi enak. Sayangnya, teman yang satu ini tidak valid sebagai juri lomba memasak. Ia hanya mengenal dua kategori makanan: enak dan enak sekali. Untuknya, besarnya porsi makanan lebih penting daripada rasanya.

Saya juga pernah penasaran sekali dengan gudeg ceker di depan SMA 1 Solo. Seorang teman yang hobi berwisata kuliner sering bercerita tentang betapa enaknya gudeg tadi. Kalau sedang kurang kerjaan, ia pergi ke Solo malam-malam hanya untuk makan gudeg! Katanya lagi, gudeg tadi hanya buka jam 12 malam dan selalu habis sebelum pukul empat pagi. Gimana nggak ngiler coba? Kebetulan, saya sedang ada acara di Solo. Saya mengajak beberapa teman untuk membuktikan cerita tentang gudeg tadi. Kami sengaja bergadang dan pergi ke tempat tadi waktu tengah malam. Ternyata, warung tadi baru buka sekitar jam satu. Kami lalu menunggu warung tadi buka sambil nongkrong di angkringan depan kampus UNY.

Kami kemudian kembali untuk makan gudek. Rasanya memang enak, tapi saya tidak akan mau lagi bergadang hanya untuk sekadar makan gudeg. Sebelum pulang, saya sempat manyun, di banner warug gudeg tadi ada tulisan: ia punya cabang di jalan dekat hotel. Dan cabang tadi buka jam 7 malam! Males banget nggak seh? Padahal besok kami harus bangun pagi untuk pulang!

Meskipun sering tertipu dengan antrean makanan. Saya tidak pernah kapok iseng berhenti di warung makan yang parkirannya penuh. Entahlah, sepertinya rumah makan yang ramai selalu menggoda untuk dicoba. Beberapa hari yang lalu misalnya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berhenti di sebuah warung bakmi jawa hanya karena melihat kursinya penuh pengunjung. Saya lupa, bakmi jawa bukan makanan yang tepat dipesan saat kelaparan. Saya hampir terharu saat seorang pelayan mengantarkan bakmi pesanan saya. Bayangkan! Lebih dari satu jam saya menunggu. Bakmi jawa tadi enak. Rasa telur dan bumbunya sangat menyatu di kuahnya. Tapi yaa… nyiksa nunggunya itu loo.

 

Kemping oii…

Awalnya, kami bertiga membayangkan akan kemping di pantai berpasir putih yang sepi pengunjung. Sepertinya menyenangkan, seharian tidur-tiduran sambil membaca buku di pinggir pantai. Kalau cuaca cerah, mungkin kami bisa melihat matahari terbit atau tenggelam yang cantik. Setelah bertanya-tanya pada beberapa teman, kami memilih Pantai Wediombo di Gunungkidul.

Pantai Wediombo di pagi hari

Kami berangkat dari Kota Solo sekitar jam 12 siang. Karena berpikir akan menghabiskan banyak waktu kalau menggunakan kereta, kami memilih naik bus. Entah kenapa, bus yang kami naiki sebentar-sebentar berhenti. Angkutan tadi juga berputar-putar di jalan tikus hingga kami baru sampai Jogja sekitar jam 3 sore. Setelah mampir di supermarket untuk belanja bahan makanan, kami naik bus dari Jalan Wonosari.

Sepertinya, kernet bus berpikir kami turis dari jauh saat melihat tenda dan ransel-ransel kami. Ia meminta masing-masing dari kami membayar sepuluh ribu rupiah. Kernet tadi sempat marah saat saya dan teman saya protes karena penumpang lain tidak membayar segitu.

Bus sampai di Terminal Wonosari sekitar pukul lima lebih. Sudah tidak ada lagi bus lain yang menuju Jepitu. Begitu turun dari bus, beberapa sopir angkot sewaan dan tukang ojek mengerumuni kami. Sopir-sopir tersebut memaksa mengantar kami dengan ongkos dua ratus ribu sampai pantai. Ada satu yang gayanya mirip preman mengutit kami sambil menurunkan harga sewa. Nggak ramah banget pokoknya.

Kami hampir memutuskan untuk mencari penginapan dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum besok pagi. Untung saja ada teman yang ibunya tinggal tak jauh dari sana menawarkan sopir untuk mengantar. Saat tahu kami ada yang mengantar, sopir angkot yang ngotot mengantar kami tadi berteriak kesal. Saat menunggu diantar, beberapa tukang ojek bertanya darimana asal kami. Mereka tidak percaya saat saya berkata saya orang Jogja. Setelah saya menggunakan Bahasa Kromo Alus, seorang tukang ojek ngotot berkata bahwa dua orang teman saya pasti orang Vietnam atau Filipina.

Ternyata, Pantai Wediombo tidak sesepi yang kami bayangkankan. Ada banyak rombongan kemping di sana. Kami lupa kalau tiap malam tahun baru, gunung dan pantai pasti penuh dengan rombongan kemping. Pantai juga ramai dengan warung penjual makanan. Ya ampun, tahu begitu kami tidak perlu membawa air minum berat-berat dari kota. Kami memilih untuk menggelar tenda di sebuah warung yang tidak dipakai berjualan untuk menghindari air pasang.

Sebelum makan malam, kami berjalan-jalan di pantai sambil menyalakan kembang api. Saat kembali ke tenda untuk tidur, datang serombongan orang lagi. Mereka membuat api unggun sambil menyanyi di dekat tenda kami. Kami tidak terlalu memedulikan mereka karena ngantuk.

Pagi harinya, pantai ramai oleh rombongan mahasiswa. Batal deh mandi pagi di laut. Kami kemudian memilih untuk sarapan. Tiba-tiba, pemilik warung datang. Kami terburu-buru makan lalu cepat-cepat membereskan tenda dan peralatan masak.

Kami memasang tenda dan menggelar matras di bawah pohon mahoni besar. Mulai pukul sepuluh, ada banyak rombongan dan keluarga datang. Kami bertiga terlihat seperti orang aneh yang kemping ditengah-tengah sekitar 300an orang. Rombongan lain sudah memberesi tendanya dan pulang.

Setelah jam 12 siang, air mulai pasang. Lagi-lagi kami memindahkan tenda. Sore harinya, pasang semakin tinggi dan kami memindahkan tenda lagi.

Pantai mulai sepi setelah pukul lima. Rombongan kami bertambah menjadi sembilan orang saat Jhon dan kawan-kawannya bergabung. Kami beramai-ramai menggelar matras di pinggir pantai sambil membuat api unggun.

Pagi harinya, pantai terlihat lebih menyenangkan karena hanya ada beberapa orang di sana. Senangnya bisa menyusuri pantai yang bersih dari ujung ke ujung tanpa memakai alas kaki. Kami bersembilan kemudian ramai-ramai sarapan dengan menu mie dan kepiting buruan tadi malam.

Setelah kenyang, kami bermain ombak. Seru, karena ombak di pantai ini kencang sekali. Beberapa orang bahkan mencoba surfing menggunakan matras. Permainan berganti menjadi lomba menangkap trangia saat peralatan masak yang hendak dicuci Manying terbawa ombak. Puas bermain air, kami bermain pasir.

Makan rame-rame. Ada yang pakai sumpit, sendok pinjaman, botol minum, dan ranting pohon.

Sekitar pukul sepuluh, pantai mulai ramai. Ada banyak rombongan bus dari luar kota datang dan kami memutuskan untuk pulang.

Terumbu Karang, Rusa, Banteng, dan Merak Liar di Baluran

 

Beberapa waktu lalu, saya bersama tiga orang teman ingin melihat penyu bertelur di Taman Nasional Meru Betiri. Sayang, medan menuju tempat tadi sulit untuk dicapai pada bulan Desember sehingga kami mengganti tujuan. Kami memilih untuk pergi ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi, Jawa Timur.

Karena ingin menghemat biaya (baca: pelit), kami berangkat dengan Kereta Api ekonomi Sri Tanjung. Kereta ini berangkat pukul 07.30 dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.  Kereta mulai menjadi tidak nyaman selepas pukul 11 siang. Panas dan gerah sekali karena ada terlalu banyak orang berdesakan dalam kereta. Saya sampai berteriak kegirangan saat ada tukang es krim lewat!

Lama-kelamaan, kami mulai mati gaya dan bingung mau ngapain. Kebayang nggak sih, duduk di bangku keras selama 15 jam sambil sesekali disikut orang lewat? Atau kami yang kurang kreatif saja tidak punya ide untuk menghabiskan waktu? Padahal kalau saja kami mau mengamen, waktu 15 jam itu lebih dari cukup untuk balik modal (FYI: harga tiket Jogja-Banyuwangi cuma 35 ribu). Toh banyak pengamen di kereta yang suaranya ancur berat. Saya saja sempat berpikir mau memberi uang selama mereka tidak menyanyi.

Kereta mulai sepi sehabis Stasiun Jember. Saat, memasuki Banyuwangi, beberapa penumpang yang tersisa disuruh pindah ke gerbong paling depan dan petugas mulai mematikan lampu. Kami merasa beruntung karena kebetulan naik di gerbong yang masih baru. Karena gerbong lain yang kami lewati baunya pesing sekali. Masa bayar 35 ribu buat perjalanan sejauh itu mau berharap banyak!

Kereta sampai di stasiun terakhir sekitar jam 11 lebih. Kami  kemudian berjalan kaki menuju penginapan yang tidak jauh dari sana. Menurut petugas kereta, di losmen ini kamar ber-AC dengan kamar mandi dalam sewanya cuma 60 ribu. Awalnya, kami sempat berpikir akan mendapat kamar yang bersih dan nyaman dengan asumsi ada banyak penginapan murah di Jawa Timur. Ternyata, kami salah besar. Kamar kami sempit sekali. Memang sih ada kamar mandi dalam dan AC. Tapi pintunya rusak dan AC-nya jika dinyalakan justru menyebar debu ke seluruh ruangan.

Pagi sehabis sarapan, kami menyewa angkot menuju Baluran. Di pintu masuk, kami ditawari penginapan di Bekol dengan harga mulai 35 ribu per orang atau di Pantai Bama dengan harga 300 ribu per cottage. Karena ingin melihat matahari terbit dan berenang pagi-pagi, kami memilih untuk menginap terlebih dahulu di pinggir pantai.

Saat melintasi hutan menuju Pantai Bama, kami sempat berhenti berkali-kali dan turun dari angkot sambil berteriak-teriak kegirangan gara-gara melihat ayam hutan. Sepertinya ini efek dari perjalanan lama yang membosankan, segala sesuatunya kemudian terlihat lebih indah.  Termasuk ayam hutan yang aslinya tidak jauh berbeda dengan ayam kampung biasa.

Waktu kami sampai di penginapan Bama, penjaganyanya berkata kalau mereka tidak menyediakan makan. Biasanya, tamu yang menginap menelpon dulu beberapa hari sebelumnya. Untung saja penjaganya mau berbaik hati memasak untuk kami selama kami menginap di Baluran. Mereka bahkan mencarikan kerang, ikan, dan cumi-cumi sebagai lauk.

Kami memesan perahu untuk melihat terumbu karang selepas makan siang. Karena tidak sabar melihat pantai dengan ombak tenang, kami berenang-renang di depan cottage duluan.  Sayang, di sana banyak sampah sisa air minum kemasan. Siang harinya kami naik perahu untuk melihat tempat penanaman terumbu karang yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai. Kebanyakan terdiri dari karang-karang keras. Ada beberapa yang berwarna kuning, biru, dan merah. Meski jumlahnya tidak banyak, di sini ada berbagai macam ikan warna-warni. Mungkin karena terlalu capai dan kurang tidur, saya sempat memberi makan ikan-ikan dengan mutahan makan siang saya.

Sore harinya, pantai mulai sepi. Hanya ada kami berempat! Mungkin karena ini bukan musim liburan, jarang ada orang berkunjung. Tapi kami senang karena merasa seperti punya pantai pribadi. Kami hanya harus berhati-hati dengan gerombolan monyet nakal yang suka mencuri makanan.

Keesokan harinya, kami bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Sayangnya, langit terlalu berawan sehingga hanya terlihat warna merah di atas cakrawala. Laut surut jauh sekali sehingga kami tidak bisa berenang pagi-pagi. Saat asyik berjalan-jalan di pinggir pantai sambil melihat monyet mencari ikan, dari jauh kami melihat puluhan titik-titik di sisi lain pantai. Kami lalu berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang saat mengetahui titik tadi puluhan ekor rusa. Saat kami bisa sedikit dekat, rusa-rusa ini berlari membentuk barisan menuju hutan. Kami berjalan pulang pelan-pelan karena batu dan karang-karang mati yang tadinya tidak kami hiraukan sekarang terasa menyakitkan.

Sebelumnya, kami berencana untuk menyusuri hutan dengan ditemani pemandu. Sayang, hujan deras tadi malam membuat jalan setapak penuh lumpur dan susah untuk dilewati. Akhirnya kami berjalan kaki sejauh tiga kilo ke Savana Bekol. Ada banyak jenis burung hinggap di pepohonan sepanjang perjalanan. Kami berkali-kali melihat kingfisher dan hornbill. Sampai di penginapan, setelah makan siang kami tertidur  karena kecapaian.

Sore harinya kami berjalan-jalan ke savana. Berhubung kecil kemungkinan untuk melihat kerbau atau banteng di musim hujan, kami memilih untuk mengejar-ngejar merak. Mereka seringkali bersembunyi di gerombolan tanaman akasia yang memenuhi tepian savana. Kami sempat masuk ke sela-sela tanaman berduri ini supaya bisa melihat merak, ayam hutan, atau kupu-kupu dari dekat. Lengan dan kaki kami berkali-kali tergores duri akasia. Tanaman ini berasal dari Afrika. Pada tahun 70an, tanaman ini didatangkan untuk mencegah Savana Bekol yang sering terbakar tiap musim kemarau. Sayangnya, sekarang pohon ini justru menguasai savana dan pihak taman nasional mengeluarkan banyak biaya untuk memangkasnya tiap tahun.

Menjelang magrib, kami duduk di tepi jalan setapak dekat lokasi yang menurut petugas ada sarang meraknya. Masih penasaran untuk melihat burung cantik ini dari dekat. Malangnya, nyamuk di sana ganas-ganas. Berhubung saya punya kadar kolesterol tinggi, nyamuk menyukai darah saya dan saya tidak betah berlama-lama di sana. Saya harus cukup puas mendengar nyanyian parau merak dari jauh saat matahari mulai terbenam.

Hari terakhir. Sehabis mandi pagi, saya berjalan-jalan ke savana karena petugas berkata ada seekor kerbau melintas. Saya ingin mengambil fotonya dari dekat. Tapi niat tersebut batal saat saya ingat kalau ada dua kemungkinan seekor binatang terpisah dari kawanannya. Ia sedang hamil atau mantan pemimpin yang dibuang dari kawanannya yang biasanya lebih buas. Berhubung kerbau tadi tidak kelihatan berperut buncit, saya pun batal mendekat.

Sopir angkot menjemput kami. Ia kemudian mengantar kami ke ATM karena kami kehabisan uang gara-gara tidak memasukkan uang makan saat menghitung perkiraan biaya. Akhirnya kami pulang naik bus PATAS supaya bisa tidur.

Lost in Bali

Kata Bali untuk sebagian besar orang identik dengan pantai dan liburan, tapi tidak untuk pengalaman saya kemarin. Gara-gara Merpati yang suka ingkar janji dan dengan sepihak membatalkan penerbangan ke Maumere, saya dan seorang rekan saya terpaksa bermalam di Bali. Kami sampai di Bali sekitar pukul sepuluh lebih malam. Kami waktu itu sudah mencoba memesan hotel saat masih di Jogja. Tapi, travel agent yang teman saya hubungi mengatakan hari itu hotel-hotel yang ada di jaringan mereka sudah penuh.

Saya dengan pedenya mengusulkan lebih baik kita pergi saja dan nanti kita bisa mencari hotel di sana. Biasanya, di Jogja saat seramai apapun, kalau hanya semalam pasti ada hotel di Sosrowijayan atau Prawirotaman yang kosong. Saat sampai, kami minta diantar sopir taksi ke Jalan Poppies Lane II. Kami kemudian berjalan kaki menyusuri jalan tadi. Malam itu, Poppie Lane sangat ramai. Banyak turis asing hilir mudik atau nongkrong di cafe-cafe yang tersebar di kiri dan kanan jalan. Kami kemudian mulai bertanya ke hotel dan penginapan yang ada disepanjang apakah ada kamar kosong. Dan ternyata, penginapan-penginapan tadi penuh. Hanya ada satu penginapan yang masih memiliki kamar, tapi harganya mahal. Sekitar jam 12 malam, setelah mengalami kaki pegal berjalan dan punggung sakit karena menggendong ransel, kami menyerah.

Kami memutuskan untuk naik taksi dan meminta sopirnya untuk mencarikan hotel. Sopir taksi kemudian mengantar kami berputar-putar di wilayah Kuta. Ia yang turun dan bolak-balik menanyakan adakah kamar kosong ke beberapa penginapan. Kami, yang sangat kelelahan setengah tertidur di taksi. Akhirnya mobil sampai di sebuah hotel dengan inisial D (nggak nyebut merk, nanti bisa dituduh pencemaran nama baik). Awalnya, kami tidak yakin kalau masih ada kamar karena parkir hotel tadi penuh sekali. Ada beberapa bus pariwisata terparkir di depannya. Belum lagi ditambah belasan mobil pribadi. Kami mendapat sebuah kamar dengan harga sewa 175 ribu per malam. Karena terlalu capai dan malas berputar-putar, akhirnya kami ambil kamar tadi. Sebelum pergi, sopir taksi tadi meminta ongkos 70 ribu rupiah. Awalnya, saya enggan membayar sebanyak itu karena harga yang tercantum di argo hanya 36 ribu rupiah.

Hotel tadi sangat mengenaskan. Tangga ke lantai dua sangat curam dan keramiknya banyak yang lepas. Para penghuni kamarnya lebih mengibakan lagi. Banyak yang tidur sambil menggelar tikar di lantai! Kamar yang saya tempati pun sebelas dua belas hancurnya. Temboknya bergelombang-gelombang tidak rata. Kamar mandinya bocor dan kuncinya sulit dibuka. Sepertinya di hari biasa harga sewanya jauh dibawah 175 ribu. Saya tidak bisa tidur semalaman karena ruangan itu panas sekali. Jangankan AC, kipas pun tidak ada. Saya baru hampir bisa tidur menjelang jam empat pagi. Sialnya, saat saya hampir memejamkan mata, ada seorang bapak-bapak menggedor pintu sambil berteriak: ”Subuh! Subuh!” Sepertinya, ia guru dari rombongan SMA yang menginap di hotel tadi dan berpikir kamar saya bagian dari rombongannya.