#RayakanIndonesiamu dan Sebarkan Berita Baik.

Andri Rizki Putra

Kondisi berbangsa dan bernegara di Indonesia kini dalam keadaan memprihatinkan. Masyarakat begitu mudah menyebar berita yang tidak jelas kebenarannya di media sosial. Untuk mengingatkan kita akan pentingnya menyikapi hal tersebut, Penerbit Mizan mengadakan acara bertema “Rayakan Indonesiamu: Ribuan Pulau Kebaikan”. Diskusi yang berlangsung pada tanggal 10 Juni 2015 lalu merupakan pembuka dari peringatan 32 tahun Penerbit Mizan. Dalam acara tersebut, beberapa tokoh yang telah menyebar kebaikan di Indonesia hadir untuk berbagi cerita.

Ada Andry Rizki Putra yang mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Di usianya yang belum genap 25 tahun, ia sudah mendirikan 3 buah sekolah. Lembaga yang berdiri tahun 2012 tersebut telah meluluskan lebih dari 200-an murid. Latar belakang murid tersebut kebanyakan yang dari masyarakat kalangan bawah. Ada pedagang asongan, sopir angkot, hingga asisten rumah tangga.

Kepedulian Rizki pada dunia pendidikan berawal pada tahun 2006. Saat mengerjakan UN untuk kelulusan SMPnya, ia melihat beberapa rekan sekolahnya mencontek. Ironisnya, kecurangan tadi didukung oleh para guru. Guru-gurunya ingin supaya nilai ujian murid tinggi untuk mempertahankan status favorit sekolah. Trauma dengan sistem pendidikan formal, ia memutuskan berhenti sekolah formal setelah beberapa bulan duduk di bangku SMA. Menurutnya, sistem pendidikan yang berlaku saat ini hanya mengejar nilai dan mengabaikan hal penting seperti kejujuran. Ia memutuskan untuk belajar otodidak dan mengikuti kejar paket C. Hal tersebut kemudian menginsipari dirinya untuk membuat sekolahnya sendiri selepas lulus dari Fakultas Hukum UI.

Rayakan Indonesia Penerbit Mizan

Hadir juga Shafiq Pontoh yang aktif di Indonesia berkibar, Ayah Asi, dan Indonesia Berkebun. Ia mengajak kita untuk berkampanye menahan jempol. Kita harus berhari-hati sebelum memutuskan untuk menyebar sesuatu di media sosial. Shafiq mengingatkan kita untuk menyebar info hanya dari akun yang bisa dipercaya. Abaikan saja akun anonim. Mereka dibayar mahal untuk mempengaruhi masyarakat demi kepentingan golongan tertentu. Lebih baik kita memposting kegiatan-kegiatan positif yang kita lakukan untuk mengimbangi banyaknya berita negatif di media sosial.

Shafiq bercerita bahwa kadang pengambil kebijakan justru tidak bijak dalam menyikapi konten negatif. Dulu, konten pornografi jarang menduduki top pencarian tertinggi di Indonesia. Sejak seorang mentri menggembar-gemborkan blokir situs porno. Orang-orang justru penasaran dan mencari tahu. Hal tersebut menaikkan jumlah pengunjung situs porno.

Senada dengan Shafiq, Haidar Baqir juga memprihatinkan hal tersebut. Ia khawatir dengan begitu gampangnya masyarakat meneruskan berita yang belum tentu benar. Ia miris melihat orang-orang yang mengkritik suatu hal tetapi justru membuat orang lain tahu mengenai hal tersebut. Menurut Haidar, orang-orang yang ingin merusak Indonesia ini jumahnya sedikit. Tapi kita justru membuatnya besar dengan membantu menyebarkan berita tersebut.

Ceo Mizan ini juga menceritakan programnya yang bernama Islam Cinta. Isinya buku-buku dan film yang menceritakan toleransi. Haidar berkata jika Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku dan bangsa. Kenapa kita berusaha menyeragamkannya? Perselisihan itu timbul bukan karena perbedaan. Ia muncul karena tidak adanya komunikasi.

Diskusi tersebut masih menampilkan beberapa tokoh lain yang banyak berkarya. Obrolan tersebut ditutup oleh penampilan Pidi Baiq, Imam Besar The Panas Dalam. Ia membuat hadirin tertawa dengan celotehannya seputar perjalanan Negara Panas Dalam. Disela-sela ceritanya, ia berkomentar tentang mengapa kita selalu mempermasalahkan perbedaan? Ia juga mengatakan bahwa nasionalisme itu tidak berhenti di batas Negara. Kita merupakan bagian dari dunia. Islam adalah “Rahkmatan lil Alamin” bukan “Rahmatan lil Indonesia”. Pidi menutup sesinya dengan wejangan: “Berkaryalah supaya kamu bisa mengangkat derajat ibumu. Supaya ia merasa bangga pernah melahirkanmu. Berkaryalah supaya anakmu bangga dengan siapa orangtuanya. Karena meresa tidak hanya sekadar butuh materi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s