Jebakan Batman di Pusat Perbelanjaan

Sumber foto: everystockphoto

Sumber foto: everystockphoto

Bulan pertama pindah rumah, saya dan suami punya kebiasaan baru: belanja. Dalam seminggu, kami bisa dua sampai tiga kali ke pusat perbelanjaan. Karena rumah yang kami tempati awalnya masih kosong, kami seperti punya alasan untuk mengisinya. Apalagi rumah kami hanya 500 meter dari sebuah supermarket. Kami sering sore-sore jalan kaki ke sana untuk berbelanja.

Dulu, saya bukan tipe yang suka ke mall atau pusat perbelanjaan besar. Sebagai penganut ekonomi kerakyatan, saya lebih memilih berbelanja ke toko kecil atau perajinnya langsung. Setidaknya saya membantu mereka untuk menafkahi keluarganya. Tapi, karena kami harus belanja barang dalam jenis beragam, hipermart menawarkan lebih banyak pilihan. Kami tidak perlu pergi ke beberapa toko jika butuh berbagai macam barang.

Sayangnya, kami sering khilaf. Saat pulang, kami bisa saja membawa pot bunga, gelas, atau kabinet yang tidak kami butuhkan. Kami sering tidak sadar jika supermarket besar ditata supaya pengunjungnya nyaman. Saat mengelilinginya, kita sering memasukkan barang tidak penting ke keranjang belanja. Kereta dorong yang muat lebih banyak barang dan meringankan bawaan memperparah hal tersebut.

Saya sering lupa kalau supermarket sengaja menata barang agar kita membeli lebih banyak dari yang kita butuh. Mereka tahu kalau sesuatu yang terlihat mencolok perhatian mata akan cenderung membuat kita membelinya. Karena itu meja kasir penuh permen dan barang kecil yang sering kita ambil tanpa pikir panjang. Hal tersebut membuat saya mulai membawa daftar belanjaan. Jumlah barang tidak penting yang saya beli mulai berkurang.

Dulu, saya tidak pernah mengecek harga saat membayar di kasir. Saya mulai melakukannya setelah sadar ada barang-barang yang harganya lebih mahal daripada dugaan kami. Waktu itu, saya iseng mengecek struk belanja barang yang kami beli dalam sebulan. Untuk sekadar tahu pemborosan apa yang sudah kami lakukan.

Saya baru sadar kalau kami berkali-kali membeli barang yang harganya lebih mahal dari merk lain. Ada coklat bubuk dengan harga lebih dari 60 ribu. Padahal barang sejenis rata-rata harganya dibawah dua puluh ribu. Ada garam sehat seharga 54 ribu. Padahal, garam biasanya hanya beberapa ribu rupiah. Minuman ringan seharga 80 ribu. Tempat garam dengan harga hampir seratus ribu rupiah. Dan masih banyak lagi. Seingat saya, kami tidak pernah melihat angka tersebut di rak. Sejak saat itu saya mulai memerhatikan harga saat kasir menjumlah belanjaan. Saya kemudian menemui harga barang di rak berbeda dengan di kasir.

Gara-gara tiap minggu main ke sebuah hipermart, kami jadi hobi melihat harga barang. Tiap minggu, pasti ada barang yang didiskon. Kelihatannya sih jadi lebih murah dan menggoda orang untuk membeli. Padahal kalau mau membandingkan, di pasar kami melihat barang yang sama dengan harga lebih murah. Mana ada orang jualan yang ingin rugi? Saya juga mulai menunda membeli suatu barang kalau sekadar ingin. Siapa tahu di tempat lain ada barang dengan harga lebih murah atau pilihan model lebih bagus.

3 thoughts on “Jebakan Batman di Pusat Perbelanjaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s