Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Film ini satu dari sedikit film yang tidak saya protes begitu keluar dari bioskop. Saya suka cara Benny Setiawan menyutradarai dan menulis skenarionya. Toba Dreams bercerita tentang Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang mengakhiri jabatannya di Angkatan darat. Setelah pensiun, ia harus keluar dari rumah dinas. Karena pendapatannya tidak lagi cukup untuk bertahan di Jakarta, ia mengajak ketiga anaknya pulang ke Toba.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Keinginan tersebut ditentang oleh Ronggur (Vino G Bastian), anak pertamanya. Ia enggan tinggal di kampung. Selain itu, kekasihnya tinggal di Jakarta. Setelah melalui perdebatan panjang, keluarga ini tetap pindah ke Toba. Anak-anak Tebe kesulitan beradaptasi dengan fasilitas yang kurang. Konflik timbul karena Ronggur marah dan mencari-cari masalah. Sampai suatu hari, ia mabuk dan membuat ayahnya murka. Ronggur kemudian kabur dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, kekasihnya ternyata sudah memiliki pria lain. Rongur kemudian tinggal di rumah Tomi, temannya. Keluarga Tomi harus menanggung malu karena sang ayah korupsi. Sambil mencari pekerjaan, ia menjadi supir taksi. Hingga akhirnya, ia terjebak menjadi pengantar narkoba. Ronggur kemudian menjadi kaya raya dan hendak menunjukkan kepada sang ayah jika ia sukses.

Saya menikmati menonton film ini karena alurnya menarik. Pada awal film, penonton kerap tertawa oleh adegan-adegan lucu dan percakapan yang cerdas. Baru pada pertengahan cerita, kelucuan tersebut berkurang karena penonton sudah terlibat dalam drama yang terbangun.

Selain itu, dua tokoh utama film berakting bagus. Mathias Muchus bisa memerankan ayah yang pemarah dan otoriter. Vino G Bastian juga bisa menghidupkan pemuda yang pemberontak, keras kepala, dan angkuh.

Meskipun demikian, film ini tidak luput dari keanehan logika bercerita. Ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Seperti pada saat Tebe sekeluarga pulang ke Toba. Ia berpidato seolah-olah penduduk Toba masyarakat yang udik dan perlu diubah. Begitu datang, penduduk langsung mengikuti anjurannya untuk bekerja bakti. Di dunia nyata, butuh proses lama untuk menyuruh sebuah komunitas berlaku di luar kebiasaannya.

Poster film. Diambil dari google

Poster film. Diambil dari google

Yang kedua, saat pertama kali Coki-anak Rongur makan bersama dengan Tebe dan keluarganya. Coki yang baru berumur lima tahun diminta memimpin doa. Ia yang dididik dengan cara Islam berkata jika caranya berdoa berbeda dengan keluarga Tebe yang Nasrani. Hal yang aneh karena umur anak lima tahun umumnya belum tahu apa itu konsep agama. Akan lebih masuk akal Coki berdoa dengan cara Islam dan anggota keluarga yang lain kaget mendengarnya.

Kalau menurut saya, judul film ini kurang tepat. Sebelum menonton, saya sempat berpikir ceritanya tetang seorang yang lahir di Toba dan berusaha untuk mengejar cita-citanya di tengah keterbatasan. Atau tentang seseorang yang pulang ke Toba untuk membangun daerahnya. Dugaan saya salah. Ceritanya lebih banyak tentang konflik ayah dan anak. Juga pencarian jati diri di kota besar.

Setidaknya saya senang. Di tengah film Indonesia yang menjual cerita hantu, komedi, atau percintaan yang begitu-begitu saja, ada film yang berbeda. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak lagi film Indonesia yang mengangkat tema hubungan antar manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s