Guru Bangsa Tjokroaminoto, Gambar Cantik dengan Cerita Begitulah

Dok. 21cineplex

Dok. 21cineplex

Sejak pertama melihat iklannya, saya dan suami memutuskan harus menonton film ini. Alasannya sederhana: saya suka pengambilan gambarnya yang cantik. Untuk cerita, saya tidak terlalu berharap banyak. Mengangkat kehidupan seorang tokoh besar dalam waktu 160 menit bukan hal mudah. Hal tersebut membutuhkan riset panjang. Juga penulis skenario yang sangat hebat. Untuk bisa menceritakan bagaimana Tjokroaminoto mempengaruhi kaum terjajah untuk mengimpikan kemerdekaan.
Film Tjokroaminoto bertutur tentang seorang pria jawa terdidik. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang menikahi putri Bupati. Ia bisa saja hidup enak dan tutup mata terhadap nasib saudara sebangsanya. Tapi, Tjokro gelisah melihat bangsanya ditindas oleh orang-orang dari negeri sebrang. Ia beranggapan jika pengetahuan bisa memberi bangsa ini harga diri untuk sejajar dengan orang asing. Oleh karena itu, ia memilih bekerja sebagai pemimpin redaksi surat kabar. Dan kemudian bergabung dengan Syarikat Islam.
Untuk penonton yang tidak tahu sejarah seperti saya, film ini tidak memberikan gambaran jelas siapa itu Tjokroaminoto. Juga seberapa penting perannya di pergerakan Indonesia. Ya, di film tadi ada penggambaran ia memimpin majalah. Aktif di kegiatan Serikat Islam. Kata pekerja domestiknya, suka menolong. Tjokro juga suka berdiskusi dengan anak-anak muda. Tapi di logika saya, apakah hal-hal tadi cukup untuk menjelaskan peran penting Tjokroaminoto di pergerakan kemerdekaan?
Saya juga melihat alur film ini lambat. Beberapa penonton mulai asyik dengan gadgetnya di pertengahan film. Kenapa tidak mendramatisir adegan supaya kami tetap fokus? Kenapa justru ada adegan-adegan yang buat saya tidak membawa alur maju. Seperti penari balet di rumah Gubernur Belanda atau Tjokro datang ke pertunjukan musik. Kalau memang iya dulu Tjokroaminoto melakukan hal tersebut, apa gunanya ditampilkan di film? Apakah hal tersebut memperkuat sosok Tjokro sebagai guru bangsa?
Saya juga terganggu dengan kemunculan seorang Stella. Loper koran yang diperankan oleh Chelsea Islan ini digambarkan sebagai seorang peranakan. Ia melarikan diri saat ayah Belandanya hendak membawa pulang ke negri asalnya. Stella tidak merasa dia orang Belanda. Loper koran cantik ini berkali-kali mendatangi Tjokroaminoto. Untuk menanyakan bagaimanakah nanti masa depan Indonesia. Juga menanyakan apakah dirinya bisa menyebut diri sebagai pribumi? Di logika saya, janggal ada seorang loper koran tiba-tiba bertanya kepada orang asing yang sangat sibuk. Apalagi orang ini pria terhormat.
Saya juga heran dengan adegan rakyat berkumpul mengelu-elukan saat Tjokro bergabung dengan Syarikat Islam. Kaum miskin juga mengerumuni rumah Tjokro pada saat istri Tjokro sekarat. Mereka meminta kejelasan tentang masa depan pemerintahan sendiri. Tjokroaminoto dianggap seperti seorang Ratu Adil. Untuk saya, adegan-adegan tadi akan logis jika sebelumnya memperlihatkan dengan kuat apa saja yang sudah Tjokro lakukan untuk bangsa ini.
Kalau disuruh memberi rating. Saya memberi nilai 3 dari 5. Sekali lagi, saya bisa menikmati film sampai akhir karena saya menyukai baju-baju dan make up pemerannya. Juga setting rumah-rumah jaman dulu. Cantik.

2 thoughts on “Guru Bangsa Tjokroaminoto, Gambar Cantik dengan Cerita Begitulah

  1. sependapat dengan penilaian njenengan mbak..
    sangat disayangkan kehadiran pemain seperti stella dan bagong yang niatnya nyambung-nyambungin cerita tapi malah kurang pas.
    belum lagi setting trem di depan oranje hotel yang maju mundur nggak jelas..
    mungkin untuk membangun film yg lebih bagus lagi butuh biaya banyak banget kali ya..

    • Anggarannya 25 M lo. Itu besar untuk ukuran film Indonesia. Dan menurut saya, film bagus itu lebih butuh penulis skenario bagus. Di Indonesia pernah ada film “Demi Ucok”. Anggarannya katanya “cuma” 250 juta. Tapi ceritanya menarik. Sutradaranya bisa menyiasati hal tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s