Belanja Sampai Mati!

“Orang Indonesia itu kaya-kaya ya? Aku tadi lihat orang belanja ratusan ribu rupiah cuma untuk ember! Kenapa nggak beli di tempat lain saja?” Kalimat tadi keluar dari mulut adik saya yang setahun ini tinggal di Australia. Dia pulang ke Jogja dan datang ke sebuah pusat perbelanjaan mahal. Di sana, ia melihat orang-orang mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk barang remeh seperti kain pel atau baju bayi yang hanya muat dipakai beberapa minggu. Padahal bisa saja mereka berbelanja barang sejenis di tempat lain dengan harga jauh lebih murah.

belanja baju
Adik saya heran. Katanya di Indonesia (terutama Jogja tempat orangtua kami tinggal) gaji penduduknya kecil. Tapi selalu saja ada banyak pembeli barang-barang mahal di pusat perbelanjaan tadi. Dia yang mendapat pemasukan dalam dolar saja masih berhitung sebelum membeli barang.
Saya jadi ingat sebuah desa yang pernah saya datangi di Jambi. Desa tersebut masih saja menjadi sasaran program pengentasan kemiskinan. Padahal, jika dipikir, sebagian penduduk desa tadi punya lahan yang cukup luas. Rata-rata memiliki tanah lebih dari 1,5 hektar dengan tanaman karet, pinang, kopi, atau sawit. Logikanya, pendapatan mereka per tahun lebih dari cukup. Selain itu mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertanam sayur. Supaya mereka tidak perlu membeli sayuran. Bukankah hal tersebut cukup menghemat?

besi putih maluku
Sayang yang saya lihat tidak demikian. Mereka tetap saja merasa kekurangan uang. Seorang teman yang tinggal di tempat tersebut bercerita, penduduk di sana tidak miskin. Mereka hanya terlalu boros. Saat panen, mereka cepat sekali membeli barang. Tukang kredit kendaraan, perhiasan dan peralatan rumah tangga memperparah hal tersebut. Penduduk mudah membeli barang karena ada iming-iming pembayarannya bisa dicicil. Jadi, sebenarnya mereka butuh program pengentasan kemiskinan atau manajemen keuangan?
Sepertinya membedakan antara ingin dan butuh bukan hal yang gampang. Saya pun masih sering gagal menahan diri untuk belanja barang tidak penting. Saya gampang tergoda membeli barang yang akhirnya tidak pernah terpakai. Entah kenapa, saya sering memulai suatu kegiatan dengan membeli barang. Seperti jika saya ingin membuat scrapbook, saya memulainya dengan belanja belasan alat tulis, kertas, dan buku panduan. Padahal, seharusnya saya bisa memakai barang apa saja yang ada di sekitar saya. Belanja barang remeh tersebut tanpa sadar jika dikumpulkan nominalnya menjadi banyak juga. Seharusnya saya bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna.

3 thoughts on “Belanja Sampai Mati!

  1. Sepakat.

    Daerah asal saya juga begitu. Orang2nya demen banget ninggiin rumah (bukan dijadikan bertingkat, tapi memang tinggi jarak antara ubin dengan langit2) yang ga penting banget sebenernya. Tapi adatnya demikian😦

  2. menurutku si masyarakat indonesia masih terlalu tergila-gila dgn yg namanya gengsi mbak, jd mereka lebih bangga menghabiskan uang banyak untuk membeli hal yg sbenarnya bisa jd barang murah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s