Bertualang dan Tuliskan Ceritamu

travelblogger25 Oktober lalu, saya dan Firsta (admin discoveryourindonesia) menjadi narasumber tentang travel dan blogging di Jagongan Media Rakyat. Sebelum acara, beberapa panitia berkomentar acaranya bakal didatangi banyak orang. Kami hanya tertawa. Undangan yang menyebar di media sosial kadang susah diprediksi. Dari sekian orang yang ikut membagikan flyer kami posting di dunia maya, belum tentu mereka datang.
Acaranya mulai jam tiga lebih. Firsta presentasi lebih dahulu. Awalnya, ada 20-an orang hadir. Lama kelamaan, peserta bertambah hingga ruangan penuh. Firsta mulai bercerita tentang blognya yang berusia satu tahun. Ia membuat discoveryourIndonesia setelah berjalan-jalan di luar negeri. Orang yang ia temui banyak yang bertanya: di mana itu Indonesia? Sebelah mananya Bali? Karena blognya bertujuan memperkenalkan Indonesia ke wisatawan asing, Firsta menulis dalam Bahasa Inggris.
Firsta kemudian bercerita tentang perjalanannya ke Myanmar. Mulai dari gambaran umum Myanmar, cara mengurus visa, sampai lokasi favoritnya di sana. Presentasinya berlanjut dengan tips merawat blog. Mulai dari menemukan konten yang menarik hingga mendapatkan pembaca lewat google dan media sosial. Untuk sebuah blog yang baru berusia satu tahun lebih, menurut saya, discoveryourindonesia dikelola dengan baik. Mungkin karena latar belakang Firsta marketing, ia mengerti pentingnya branding dan konsistensi. Sepertinya, ia mempraktekkan hal itu dalam mengelola blog.

Snorkling di Maluku
Setelah itu, gantian saya bercerita tentang kegiatan jalan-jalan dan menulis saya. Awalnya saya membuat blog sekadar untuk berlatih menulis. Lama kelamaan, saya ingin punya domain sendiri. Blog www.kotakpermen.com berisi jurnal perjalanan saya di sana. Meskipun demikian, saya masih sering menulis catatan perjalanan di blog gratisan. Karena saya punya komitmen untuk selalu memperbaharui tulisan di blog lama.
Saya kemudian bercerita tentang beberapa yang pernah saya datangi di Indonesia. Cerita dari Aceh sampai Papua tadi punya benang merah: Indonesia itu kaya tapi punya banyak cerita sedih. Kalau di Sumatra, saya mengambil contoh di tiga tempat. Salah satunya Lampung. Setelah berkunjung ke Perusahaan Ulu Belu, saya baru tahu kalau Indonesia itu produsen kopi nomer 4 dunia. Ironisnya, kita lebih banyak mengonsumsi kopi instan yang banyak campuran zat kimia dan gulanya. Di Lampung juga, saya bertemu dengan sekelompok petani kopi. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin untuk mengelola hutan yang kini mereka jadikan perkebunan kopi. Cerita saya kemudian berpindah ke pulau-pulau lain. Kebanyakan ceritanya tentang tempat yang punya sumber daya alam melimpah tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Setelah mengunjungi banyak tempat, saya merasa menulis saja tidak cukup. Saya ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang pernah saya datangi. Karena saya tertarik dengan pendidikan, saya dan beberapa teman kemudian membuat program bernama berbagibuku. Program yang webnya sedang dalam proses pembuatan ini, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas. Terutama untuk komunitas yang jauh dari kota atau memiliki program mendidik anak tidak mampu. Silahkan hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com jika ingin tahu lebih lanjut.
Saya ingin mengajak orang membaca buku karena sekolah, apalagi di luar Jawa, sangat tidak mengajarkan bagaimana cara hidup. Tahun lalu, waktu pergi ke Maluku, saya melihat anak SD yang diajar cara menabung di bank. Padahal, bisa jadi anak-anak tadi tidak pernah ke bank yang letaknya ratusan kilo dari desanya. Apa yang mau ditabung? Orangtua mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Mereka hanya menjual hasilnya jika berlebih. Sistem barter masih berlaku di sana. Aneh saja memaksa mereka menghafal fungsi bank.
Saya kemudian sedikit bercerita tentang bagaimana cara memperbaiki menulis. Menurut saya, menulis itu proses. Seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk punya tulisan yang menarik. Orang yang terbiasa menulis pun belum tentu punya tulisan yang enak dibaca. Mereka harus rajin membaca supaya bisa membedakan kalimat yang menarik dan tidak.
Saat sesi tanya jawab, kami mendapat banyak pertanyaan seputar perjalanan dan menulis. Saya melihat beberapa peserta menuliskan jawaban-jawaban kami. Senang rasanya melihat ada yang datang jauh-jauh di tengah cuaca panas. Mereka masih mendengarkan cerita kami hingga acara berakhir. Bahkan, saya masih menjawab pertanyaan beberapa orang di luar acara diskusi. Obrolannya beragam. Ada yang bertanya, apakah tidak berbahaya bagi seorang perempuan pergi jauh? Bagaimanakah cara memilih sudut pandang cerita yang menarik? Sampai bagaimana cara mendokumentasikan perjalanan. Sepertinya para peserta ingin melihat lebih banyak tempat. Tapi, beberapa masih takut berkunjung ke tempat asing. Ada juga yang beranggapan jalan-jalan itu mahal. Jalan-jalan itu menyenangkan, kita akan melihat ada banyak hal yang tidak kita dapat melalui media massa atau sekolah. Jadi, kapan kau akan jalan-jalan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s