Yang Ketu7uh

Saya langsung mencatat di agenda saat mendengar Yang Ketu7uh mulai tayang 25 September lalu. Jarang ada film dokumenter bisa diputar di bioskop. Film ini bercerita mengenai masyarakat kelas bawah di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden ke-7. Ada ibu Nita, janda berusia 60 tahun yang menjadi buruh cuci. Sutara, tukang ojek yang tinggal di Jakarta sejak tahun 88. Suparno, pekerja bangunan yang tinggal di gang sempit. Juga Amri Jalalen, seorang petani di daerah Indramayu. Yang Ketu7uh

Cerita ke empat orang ini berselang-seling dengan rekam jejak dua kandidat calon presiden. Mulai dari Jokowi yang tahun 2006 lalu masih menjadi walikota Solo. Ia ikut kerja bakti saat memerintahkan anak buahnya membersihkan kota. Di lain pihak, Prabowo yang berkali-kali mengikuti pemilihan presiden. Tahun demi tahun berlalu hingga tahun 2014, Indonesia kembali merayakan pesta demokrasi. Cuplikan-cuplikan gambar menampilkan para politisi partai melakukan berbagai cara yang kadang norak supaya rakyat memilih mereka. Hingga akhirnya dua kandidat presiden berhadapan. Di debat presiden, Jokowi mempromosikan kartu-kartunya sedangkan Prabowo menyebut-nyebut kebocoran negara.
Dan, setelah Jokowi, sang Presiden Ketu7uh terpilih, lima orang ini sama halnya seperti orang-orang lain di Indonesia. Kembali ke kesibukan sehari-hari. Mencari nafkah. Dan mungkin, mereka terlupakan oleh para politisi yang hanya membutuhkan suara mereka saat pemilu tiba.
Saat menonton film ini, saya miris melihat Suparno yang tinggal di bedeng bersama ratusan kepala keluarga lain. Mereka menempati ruangan berukuran 1,75x 3,8 m. Di ruangan tadi, ia harus berbagi dengan istri dan anak-anaknya untuk melakukan berbagai aktivitas. Mereka terpaksa mandi dan buang air kecil di depan “rumah”. Tanpa menghiraukan orang lalu-lalang karena tidak ada ruangan lagi. Saya jadi bertanya, pernahkah dua capres (dan partai politikdibelakangnya) memikirkan mereka setelah menjabat? Memang kalau mereka memilih, apakah hal tersebut akan merubah nasib mereka?
Di Indramayu sana ada tokoh lain. Amri Jalalen dan tetangga-tetangganya merupakan petani tanpa tanah yang menggarap hutan negara. Mereka berpendapat seharusnya pemerintah memperhatikan kepentingan rakyat. Tanah milik pemerintah itu bukannya disewakan ke perusahaan, tapi digarap oleh penduduk yang butuh pekerjaan.
Saat film usai, saya pribadi melihat ada yang kurang. Film ini tidak terlalu tampak menggambarkan bagaimana rakyat kecil tadi menaruh harapan ke salah satu calon.

 

Di sekitar saya (dan sepertinya di seluruh Indonesia) orang-orang sibuk menjagokan kandidat pilihannya. Tak jarang, perbedaan ini menimbulkan perdebatan. Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya kerap melihat saling menghina karena berbeda pilihan presiden.
Yang saya tidak habis pikir, ada ulama-ulama lokal yang mengharamkan memilih salah satu capres. Mereka menyebarkan kebencian lewat pengajian-pengajian. Ia menakut-nakuti penduduk bahwa salah satu capres akan mempersulit pemeluk agama Islam. Di lingkungan saya, banyak yang memercayai kebohongan ini karena sudah menyimpan sentimen agama. Juga bagaimana seluruh penjuru kota penuh sampah visual akibat baliho caleg dan capres.

Lepas dari kekurangannya, Yang Ketu7uh layak untuk ditontong lima, sepuluh, atau kelak saat ada pemilu lagi. Ia menyimpan pesan bahwa siapapun presidennya, keinginan tokoh-tokoh film ini (dan kita juga) sederhana kok. Kami ingin supaya harga barang terjangkau, biaya pendidikan bisa diakses semua, dan masyarakat miskin pun bisa mendapat sarana kesehatan yang layak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s