Sekolah itu (seharusnya) Mengajar Berpikir Kritis

Andi, kenalan yang tinggal di Jambi, bercerita kalau ia sedang mengumpulkan bahan tentang sekolah alam. Ia membuka sekolah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Ia merasa bahwa lingkungan tempat Suku Anak Dalam tinggal kaya sumber daya alam. Sayang mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hal tersebut. Ia tertarik untuk membuat sekolah yang mengajak muridnya memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah formal.

Mendongeng untuk anak
Saya jadi teringat tiap kali berkunjung ke luar Jawa atau daerah yang jauh dari kota. Saya miris melihat buku pelajaran yang dibuat Pulau Jawa digunakan oleh sekolah-sekolah dari Aceh sampai Papua. Bisa jadi, si pembuat tidak tahu latar belakang calon pengguna bukunya yang beraneka ragam. Bayangkan seorang anak di pedalaman Maluku diajar cara menabung di bank. Padahal, orangtua dan tetangganya hidup dari berburu dan meramu. Orang-orang disekelilingnya tidak akrab dengan konsep uang. Bisa jadi mereka malah belum pernah melihat wujud bank karena lokasi terdekatnya ratusan kilo. Padahal mereka tidak pernah keluar dari kampung. Atau seorang anak di pelosok Papua yang harus menghafal fungsi internet. Padahal belum tentu ada komputer di wilayahnya. Dan, masih banyak lagi cerita seputar sekolah yang memisahkan muridnya dengan lingkungan.
Menurut saya, seharusnya sekolah bukan tempat menyeragamkan seorang murid. Sekolah yang baik mengajak muridnya berpikir kritis. Membuat anak-anak didiknya beranggapan jika belajar itu menyenangkan. Sehingga mereka rajin mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking. Yang entah apa gunanya untuk hidup. Kelak, saat tumbuh dewasa, murid-murid yang terbiasa berpikir kritis akan menjadi orang yang gemar bertanya. Mereka juga cenderung akan melakukan sesuatu jika merasa ada yang salah dengan lingkungannya. Tentunya, sekolah seperti ini butuh guru yang memang cinta mengajar dan ingin berbagi. Bukan sekadar guru yang memilih pekerjaan tadi semata untuk mencari nafkah. Berhubung guru ini harus cerdas, sekolah wajib menyuplai mereka dengan berbagai macam buku.

foto by Valens Riyadi

foto by Valens Riyadi

Sekolah yang keren idealnya lengkap dengan perpustakaan. Ada berbagai macam buku di sana. Mulai dari buku-buku cerita dengan gambar menarik hingga ensiklopedi yang berisi ilmu pengetahuan. Guru mengajak murid-muridnya menyukai buku dan banyak membaca. Tidak harus dimulai dengan buku-buku yang berat. Membiasakan membaca bisa dimulai dengan bacaan-bacaan ringan atau komik. Lama-lama, seseorang yang terbiasa membaca buku akan mengembangkan jenis bacaannya. Kelak, ia akan membaca berbagai jenis buku.
Sayangnya, di Indonesia, sekolah semacam itu belum bisa berkembang. Sekolah-sekolah formal masih harus mengikuti kurikulum yang telah ditentukan dari pusat. Yang belum memberikan ruang untuk keanekaragaman. Saya lebih setuju dengan pendapat jika sekolah dan guru pertama seorang anak itu keluarganya. Sekolah formal bukan tempat menitipkan anak untuk dididik. Untuk menciptakan keluarga-keluarga yang bisa menjadi guru, kita perlu membiasakan diri untuk terus belajar. Banyak membaca buku, rajin datang ke diskusi, pergi ke museum, dan menonton film-film bagus. Mari, berusaha lebih pintar supaya kita bisa menjadi sekolah untuk (calon) anak kita. Lebih baik lagi kalau kita bisa membagi kepandaian itu dengan lingkungan.

Give Away Sekolah Impian

http://”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s