Indonesia dalam buku “Ring of Fire”

Membaca Ring of Fire yang ditulis Lawrance dan Lorne Blair lagi-lagi membuat saya iri. Sepertinya, buku-buku bagus tentang Indonesia yang saya temui kebanyakan disusun oleh orang asing. Salah satunya, buku ini. Jurnal tersebut merupakan rangkuman dari 9 perjalanan di Indonesia yang mereka lakukan selama sepuluh tahun. Awalnya, Blair bersaudara memulai perjalanan untuk memfilmkan burung cendrawasih kuning besar.
Tahun 1971 Indonesia merupakan kepulauan yang tidak begitu terdengar di Barat. Keduanya ingin memfilmkan suku-suku yang jarang melakukan kontak dengan orang luar. Dulu, para pembuat peta jarang menampilkan kepulauan ini secara utuh.

Snorkling di Maluku
Kedua bersaudara tersebut memulai perjalanannya di Sulawesi Selatan. Saat menunggu kapal pinisi yang berlayar ke Aru, mereka singgah di Toraja. Blair bersaudara mengikuti pemakaman mahal seorang raja. Mereka sempat memfilmkan emas dan harta karun yang ikut dikubur di tau-tau bersama raja-raja terdahulu.
Blair bersaudara butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan pinisi ke Aru. Jarang ada yang pergi ke sana sembari membawa banyak muatan. Keduanya akhirnya menemukan seorang saudagar Tionghoa yang setuju mengirim barang dagangan ke Aru. Akhirnya, mereka berlayar selama 9 bulan bersama 16 pelaut Bugis yang sebagian besar belum pernah ke Aru. Di tengah perjalanan dengan jaraknya 4000 kilometer, mereka hampir dirampok oleh awak kapalnya sendiri.
Sebelum melakukan perjalan tersebut, Blair bersaudara membaca perjalanan Alfred Russel Wallace di kepulauan rempah-rempah. Sepertinya mereka kagum pada Wallace hingga berkali-kali mengutip bukunya. Salah satu hal yang mendorong keduanya nekad berlayar dengan pinisi karena mereka penasaran dengan kehebatan para pelaut bugis. Pelaut bugis di masa lampau terkenal karena membuat perahu-perahu besar hanya dengan senjata parang.
Cerita kemudian beralih ke ekpedisi Lorne Blair di Asmat. Ia penasaran tentang nasib Michael Rockefeller yang hilang di pada tahun 1961. Putra mantan wakil presiden Amerika tersebut sampai kini tidak jelas jenasahnya di mana. Michael pergi ke Papua dalam rangka mengumpulkan tiang-tiang ukir yang dipakai suku Asmat. Ia kemudian menghilang di sungai. Lorne menemukan beberapa cerita kalau Michael dibunuh. Ia menjadi pengganti nyawa penduduk lokal yang terbunuh oleh orang kulit putih.
Selama proses pembuatan film dokumenternya, Lorne berkali-kali berpikir akan dibunuh tuan rumahnya. Tapi ia juga menikmati hidup di dunia yang berbeda dengan tempat asalnya. Ia bahkan telanjang bulat untuk berbaur dengan penduduk asli. Tiap hari Lorne makan sagu, ikan, kerang, biawak, babi hutan, ulat, dan marsupialia pohon yang langka. Ia bahkan mengikuti upacara aneh karena diangkat anak oleh seorang penduduk lokal.
Ekspedisi selanjutnya berpindah ke Pulau Komodo. Lawrence beberapa kali mengunjungi pulau tempat kadal raksasa tersebut bersama Kapal Lindblad Explorer. Ekspedisi tersebut merupakan kapal mewah dengan laboratorium dan perpustakaan. Didalamnya penuh makanan dan anggur terbaik. Berbagai ahli dipekerjakan untuk memenuhi keingintahuan para bangsawan atau pengusaha kaya yang menjadi penumpangnya. Semenjak banyak turis ingin melihat komodo di habitat asalnya, hewan tersebut berubah. Komodo yang tadinya mahluk pemburu soliter menjadi mahluk pemalas. Mereka kemudian hidup bergerombol sembari menunggu makanan yang akan diantarkan oleh para penonton.
Petualangan kemudian berlanjut di Pulau Sumba. Di sana Blair bersaudara mengejar tarian perang dan penguburan raja. Perjalanan kemudian berpindah saat keduanya menjelajahi Kalimantan untuk menemukan Suku Punan yang masih hidup mengembara. Mereka ditemani oleh Suku Punan yang sudah menetap dan mencari nafkah dari berdagang cula badak. Saat itu Kalimantan merupakan pulau yang blum terjelajahi bagian tengahnya. Banyak yang tidak tahu ada apa di sana.
Saya menyukai buku tersebut meski keduanya beranggapan Indonesia adalah negeri dunia ketiga yang liar. Blair bersaudara memiliki romantisme jika di pedalaman Indonesia waktu berhenti berputar. Tanpa sadar mereka berkali-kali menyatakan jika Indonesia adalah negeri penuh dukun dan penyihir. Suku-suku pengayau dengan ritual berdarah-darah masih ada di sini. Saya masih belum melihat tentang keseharian orang-orang biasa yang mereka temui.
Satu hal yang saya setujui dari mereka: Indonesia sangat minim dalam dokumentasi terutama film. Sampai saat ini. Bisa bantu saya untuk mulai mendokumentasikan Indonesia? Klik like di link ini supaya saya bisa keliling Sumba. Rencananya, saya ingin membuat video diary tentang perjalanan tersebut dan orang-orang biasa yang saya temui. Nanti, tulisan perjalanannya juga bisa dilihat blog perjalanan saya kotak permen.
Hingga selesai membaca buku tadi, saya masih iri dengan mereka yang bisa menjelajahi negeri tempat saya lahir dan besar ini. Beberapa tempat yang didatangi kedua bersaudara tadi juga pernah saya datangi. Sayang, saya hanya memiliki waktu dan dana yang terbatas untuk setiap kunjungan. Setidaknya semakin banyak saya mengunjungi pelosok Indonesia, ada banyak hal yang saya pelajari. Saya semakin tahu kalau negeri ini kaya alam dan budayanya. Sayang banyak manusianya yang tidak mau bersusah payah untuk mengelola kekayaan tadi. Lebih menyedihkan lagi, ada banyak orang pintar yang saya temui memilih untuk memperkaya dirinya sendiri. Juga banyak perusahaan yang mengeruk kekayaan tanpa memikirkan masyarakat dan lingkungan.

4 thoughts on “Indonesia dalam buku “Ring of Fire”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s