Hal Sepele Bernama Menyampah

Saat lewat jalan raya ke arah Gunungkidul, saya dan teman melihat seorang pemulung sedang memungut sampah yang sebagian besar plastik bertebaran di pinggir jalan. Teman saya lalu memaki-maki pembuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak berpikir kalau menambah pekerjaan petugas kebersihan? Saya melihat ke luar jendela, sepertinya semakin banyak tumpukan sampah di pinggir Hutan Bunder. Seingat saya, sebelum tahun 2005, tumpukan sampah tidak sepanjang itu. Volume sampah sebanding dengan kenaikan kunjungan wisatawan ke Gunungkidul.

Sampah di Muncar, BanyuwangiSaya teringat saat mendaki gunung beberapa tahun lalu. Kami tidak yakin dengan jalur yang kami ambil. Saat melihat sisa bungkus makanan di jalan setapak, teman saya bilang kami ada di jalur yang benar. Sampah artinya jalur ini sering dilalui. Aneh bukan? Katanya pendaki gunung itu pecinta alam? Kok (banyak yang) menyampah seenaknya? Bukankah sampah membuat pemandangan tidak enak dilihat?

Apa susahnya membuang sampah di tempat sampah? Alasan yang paling banyak saya dengar adalah: tidak ada tempat sampah. Apakah menyimpan sebentar lalu membuangnya jika menemukan tempat sampah itu susah?
Mungkin membuang sampah pada tempatnya kedengarannya sepele. Tapi hal kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang bisa merugikan. Saya pernah beberapa kali melihat orang dengan entengnya membuang sampah di sungai. Bayangkan jika puluhan orang melakukan hal yang sama tiap hari? Bukankah sungai akan tersumbat dan membuat banjir? Di rumah-rumah panggung saat ke Kalimantan Selatan dan Muncar, saya melihat penduduk tiap hari membuang sampah di bawah rumahnya. Apa penghuni rumah tidak terganggu dengan bau sampah yang membusuk? Apa mereka tidak berpikir kotoran tadi menimbulkan penyakit?

Membuang sampah sembarangan bukan monopoli orang yang tidak berpendidikan. Seorang kenalan bercerita tentang seorang pengajar yang membuang plastik bungkus makanan di jalan. Padahal ibu tadi dosen universitas terkenal yang S3nya di luar negeri. Apa dia tidak berpikir kalau selain mengotori, sampah plastik juga butuh ratusan tahun diurai tanah?

Jangankan sembarangan, dibuang di tempat sampah saja plastik yang menumpuk menimbulkan masih masalah. Plastik butuh ratusan tahun untuk diurai. Selama ini, masih banyak orang yang belanja di supermarket dan boros kantong plastik. Rata-rata, kantong plastik tadi langsung dibuang begitu sampai di rumah. Seringkali, kantong plastik hanya dipakai untuk membungkus satu barang kecil. Bisakah teman-teman mulai mengurangi sampah dari membawa kantong sendiri? Kalau pun terpaksa menggunakan kantong plastik, simpan dan gunakan berkali-kali. Dan kembali lagi ke membuang sampah pada tempatnya. Sepertinya itu kebiasaan yang perlu ditanamkan sejak kecil.

10 thoughts on “Hal Sepele Bernama Menyampah

  1. pengaruh lingkungan sepertinya sangat berperan. mungkin kalau orang yang suka buang sampah kemudian tinggal beberapa lama di daerah atau negara lain yang disiplin menjaga kebersiahnnya tinggi… bakalan jadi ikut2an nggak buang sampah sembaranganšŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s