Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia

Sabtu, 7 Juni lalu Goodreads Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Ada sekitar 50an penggemar buku dari beberapa kota ikut jadi tim hore di acara bertajuk “Jelajah Semarang dalam kenangan”. Sekitar jam delapan, trotoar di depan Balaikota Semarang sudah ramai oleh mahluk-mahluk berisik. Yang dari Semarang memakai kaus warna kuning ngejreng. Ada juga pemilik kaus pink dan ungu. Lalu, para anggota senior Goodreads Indonesia dengan kaos warna merah yang tidak kalah mencolok saat foto bareng. Sebenarnya, Goodreads Jogja juga punya kaos. Tapi saya tidak memakainya karena sudah jadi baju tidur😀 Sambil menunggu yang lain datang, kami makan coklat yang dibawa oleh Ibutio dari Bandung. Enak lo pudingnya. Apalagi gratisan.

Rombongan kemudian berangkat ke kelenteng Tay Kak Sie dengan dua mobil dan satu bus. Waktu kami sampai di Gang Lombok, Pecinan, Mas Pra mulai cerita tentang sejarah kelenteng tadi. Sepertinya kami cuma mendengarkan kalau bangunan tadi dibangun tahun 1746. Setelahnya kami terlalu sibuk menyebar untuk foto-foto.

Kelenteng Tay Kak Sie SemarangIya, warna merah menyala yang mendominasi kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik untuk difoto atau sebagai latar foto narsis😛 Di kawasan pecinan sebenarnya ada puluhan kelenteng. Tapi kelenteng Tay Kak Sie yang paling banyak didatangi orang karena letaknya strategis dan punya paling banyak dewa. Kelenteng yang awalnya didirikan untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih ini memiliki 33 dewa.
Beberapa teman tidak tega saat melihat puluhan burung kecil dalam kurungan di depan pintu kelenteng. Kami melepas beberapa ekor karena kasihan. Cukup dengan membayar 1.500 rupian per ekor. Penganut Kong Hu chu percaya kalau melepaskan burung yang dikurung itu akan mendatangkan karma baik. Beberapa bahkan bilang kalau hal tersebut bisa dilakukan sambil mengucapkan permohonan.

Meskipun katanya acara jalan-jalan, kami naik bus lagi ke tujuan kedua. Lokasinya di Gg Cilik yang masih kawasan pecinan juga. Kiri kanan jalan yang kami lalui masih banyak rumah dua lantai yang dibangun sekitar tahun 1700 an. Dulu, orang-orang Tionghoa di Semarang dipindahkan ke daerah ini setelah ada pembrontakan Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Kami pergi ke tempat pembuat rumah arwah. Itu rumah-rumahan yang terbuat dari kertas. Yang nanti dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya almarhum memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Waktu kami ke sana, ada beberapa pekerja sedang memasang kertas di kerangka bambu. Di salah satu rumah yang sudah jadi ada pembantu. Waktu saya iseng mengintip dapurnya, ada panci dan alat penggorengan kecil dari plastik di dalamnya. Pembuat rumah arwah bilang harga satu setnya sekitar satu juta.

rumah arwahRencananya, teman-teman Semarang mau mengajak kami ke pabrik nisan dan kecap yang ada di dekat Gg cilik. Sayang, kami tidak bisa masuk ke sana. Akhirnya kami pergi ke Rumah Kopi. Dahulu tempat ini disebut kebon karang karang karang karena halamannya penuh dengan karang. Kita ditemani oleh Ibu Inge yang dulu lahir dan besar di rumah ini. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini miliki Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang.

Ibu Inge bercerita kalau opanya Tan Tiong Ie pendiri perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi meski tidak sebanyak dahulu.
Kami masuk ke dalam rumah dan terpesona melihat furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Saya naksir sama Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar.

Rumah Kopi SemarangRombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Sri Gunting yang ada di samping Gereja Blenduk. Setelah makan siang bersama, ada kuis berhadiah buku. Berhubung buku dari sponsor lebih banyak daripada jumlah peserta, semua kebagian. Tetap saja berebut menebak karena ingin lebih dahulu memilih buku. Lalu ada hadiah buku-buku tambahan dari sumbangan perorangan. Kejamnya, pertanyaannya seputar kapan kopdar Goodread di Jakarta. Lah, kita yang di daerah atau baru gabung kan ahistoris. Tapi lumayan pulang bisa bawa buku-buku gratisan termasuk Semarang citybooks yang ada di goodybag.

 

2 thoughts on “Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s