Buku untuk Teman di Desa Bonto Tapalang

Minggu lalu, saya jalan-jalan ke hutan desa di daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tempat ini keren. Gunung Lompo Batang dan jurang-jurang tertutup pepohonan hijau menjadi pemandangan desa-desa di sana. Di beberapa tempat, laut biru terlihat di kejauhan. Kiri dan kanan jalan penuh dengan kebun-kebun kopi penduduk. Saya suka mengamati rumah-rumah penduduk. Sebagian besar rumah panggung dari kayu.

Rumah panggung sulawesi selatan

Adam, teman saya, mengajak singgah ke Madrasah Aliyah (sekolah Islam setingkat SMA) di Desa Bonto Tapalang. Kami bertemu dengan Ahmad, salah seorang guru di sana. Kata Ahmad, madrasah tersebut baru buka tahun 2011. Seminggu sekali, Ahmad mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Di luar itu, ia dan Eka—istrinya mengajak murid-muridnya berdiskusi di asrama yang letaknya di sebelah rumah mereka. Eka yang masih kuliah di UNM, mengajar Geografi di sekolah yang sama.

Ahmad bercerita kalau ia lulusan S1 pertama di desanya. Awalnya, ia mengambil Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan lulus tahun 2007. Ia sempat mengajar di SD kemudian melanjutkan kuliah di Janeponto. Setelah menikahi putri pemilik yayasan yang menaungi sekolah Islam setingkat SD, SMP, dan SMA, ia mengajar kembali. Selain mengajar, Ahmad bertani. Ia menanam kopi, cengkeh, dan cabai. Ia memilih untuk mengajar di desanya karena guru-guru di sana tidak punya semangat mengajar. Selain itu, mereka hanya mengajarkan apa yang ada di buku teks saja.

Waktu datang ke sana, saya sempat ditodong untuk mengajak murid-murid di sana ngobrol tentang pentingnya buku. Akhirnya saya memilih untuk bercerita. Biasanya, saya membacakan buku, atau bercerita sambil menunjukkan slide berisi foto-foto pendukung cerita. Karena tidak ada persiapan, saya menggambar peta di papan tulis. Ceritanya dimulai dari waktu kecil, saya sering mendengar kalau Indonesia itu negeri yang sangat kaya. Terdiri lebih dari 17.000 ribu pulau dan ratusan bahasa serta suku bangsa. Saya dulu suka menonton film anak 1000 pulau. Juga membaca buku-buku tentang adat istiadat dan keindahan alam Indonesia. Dan bermimpi bisa datang ke tempat-tempat tadi.

Dan hal tersebut terwujud setelah bekerja. Saya mulai bisa melihat tempat-tempat yang awalnya hanya saya dengar ceritanya saja. Mulai dari snorkling di Pulau Weh dan melihat nol kilometer Indonesia. Mengunjungi perkebunan dan hutan di Sumatra. Naik kereta api di kota-kota di Jawa. Mencoba rakit bambu di Kalimantan. Datang ke Lombok hanya karena penasaran dengan cacing yang keluar setahun sekali dan enak dimakan. Terpesona saat bisa datang ke Papua dan bertemu penduduk lokalnya yang warna kulit dan rambutnya berbeda.
Murid-murid di sana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali mereka bingung karena tidak tahu apa yang saya ceritakan. Bayangkan, murid-murid SMA tadi tidak tahu apa itu terumbu karang. Padahal, tempat tinggal mereka hanya beberapa jam dari Pulau Selayar yang orang dari jauh datang hanya untuk menyelam. Saya juga harus mendeskripsikan apa itu kereta api, karena mereka tidak punya bayangan kalau ada benda besar dari besi yang bisa dinaiki ratusan orang. Saya juga sempat bingung waktu menjelaskan Jogja, tempat asal saya, ada di mana.

Saya agak tidak yakin waktu bilang sebelum bisa pergi ke tempat lain, bacalah buku supaya tahu ada apa di luar sana. Jarang ada orang keluar masuk desa ini. Mertua Ahmad berkata kalau saya orang Jogja pertama yang datang ke sana. Bisa jadi. Kalau tidak kenal teman-teman di LSM Balang, saya juga tidak mungkin sampai sana. Hal itu juga yang menyebabkan di Bonto Tapalang susah untuk mendapatkan buku. Perpustakaan desa tidak jelas kapan buka. Untuk membeli buku, toko buku terdekat ada di Makassar yang jaraknya ratusan kilometer. Sepertinya, orangtua mereka juga enggan membelikan buku di luar buku pelajaran.

Sekolah desa hutanAhmad, istri, dan mertuanya akan membuka perpustakaan di asrama sekolah. Supaya murid-murid di sana bisa membaca buku di luar buku pelajaran. Adam dan teman-temannya di LSM balang, juga sedang membantu mereka mengumpulkan buku. Teman-teman ada yang tertarik membantu? Bisa hubungi Adam di a.kurniawan@balanginstitut.org . Di beberapa desa hutan lain di Indonesia, beberapa teman saya juga sedang membangun perpustakaan. Kalau teman-teman punya buku yang bisa disumbangkan untuk mereka, silahkan hubungi saya. Terimakasih sebelumnya.

One thought on “Buku untuk Teman di Desa Bonto Tapalang

  1. Ping-balik: Indonesia dalam buku “Ring of Fire” |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s