Tentang Menulis

Hore, dapat kuliah gratisan lagi. Kali ini temanya tentang media dan penulisan. Bayangkan, belajar dari jurnalis-jurnalis senior seperti Farid Gaban, Dandy Laksono, Maria Hartiningsih, dan lain-lain. Kerennya lagi, lokasi pelatihan tadi di Kampus Cifor, Bogor yang letaknya di tengah-tengah hutan hujan tropis. Jadi, kita belajar membelakangi kaca-kaca besar dengan pemandangan pohon-pohon raksasa.

9 peserta dari Sumatra sampai Papua datang atas undangan Kemitraan. Awalnya, kuliah tadi berisi tentang hal-hal seputar teknis menulis. Saat menulis, kita harus berpikir mengenai apa yang ingin kita sampaikan? Bagaimana cara supaya tulisan menarik untuk dibaca? Apa isu penting dari tulisan? Apakah bahasa yang dipergunakan sederhana? Bisakah pembaca paham? Lalu, supaya pembaca menerima informasi dengan baik, tulisan harus fokus. Jangan tergoda untuk bercerita hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan inti persoalan yang ingin kita sampaikan.

Sebelum menerbitkan sebuah tulisan, penting untuk melakukan editing. Sebelum tulisan dimuat di media apapun, penulis harus mengecek apakah info yang ia sampaikan bisa ditangkap. Ia perlu memperbaiki tulisan supaya lebih komunikatif. Tulisan sebaiknya melalui proses cek fakta supaya bisa dipertanggung-jawabkan. Selain itu, penulis harus tega menghilangkan kata dan kalimat yang tidak penting. Ia juga tidak boleh lupa untuk memperbaiki tanda baca. Banyak salah ketik akan menyiksa pembaca. Bisa jadi mereka malas membaca tulisan yang berantakan.

Saya hanya tertawa saat Mas Dandy bilang sebelum kami belajar tentang jurnalistik, lebih baik kami belajar tentang tata bahasa. Banyak dari kami yang tata bahasanya kacau. Satu kalimat idealnya punya satu ide. Kalimat yang beranak pinak membingungkan pembaca. Parahnya, beberapa teman sering tidak memperhatikan hal ini. Tidak hanya satu dua orang yang membuat kalimat dengan lebih dari 30 kata. Selain mengaburkan info, kalimat panjang bertingkat juga membuat capai pembaca.

Satu hal yang saya pelajari adalah: hindari kata sifat itu karena sifatnya subyektif. Mahal menurut seorang buruh berbeda dengan mahal menurut seorang pengusaha. Untuk mengganti kata cantik, lebih baik deskripsikan seperti apa warna kulitnya, bentuk wajahnya, dan lain-lain.

Hari terakhir, ada sesi peninjauan tulisan oleh Maria Hartiningsih. Saat mengomentari tulisan kami, beliau banyak cerita tentang orang-orang pinggiran. Intinya, saat ini orang-orang Indonesia itu dibuat bodoh supaya bisa ditipu sama orang-orang pemerintah. Atau menjadi konsumen perusahaan multinasional. Ibu Maria juga bercerita kalau menulis itu tentang panggilan jiwa. Orang hanya perlu lebih peka untuk melihat dan menuliskan apa yang membuatnya terpesona atau marah. Lead dan hal-hal teknis itu urusan belakangan.

Awalnya, saya tidak berharap banyak menguasai suatu hal hanya dari sebuah pelatihan. 5 hari terlalu singkat untuk bisa menulis dengan baik dan membuat kampanye. Tapi saya dapat banyak cerita saat ngobrol bebas. Mas Farid cerita tentang betapa Indonesia kaya dengan ekspedisi Zamrud Khatulistiwanya. Mas Dandy yang mengajak orang-orang di Aceh memberitakan hal-hal yang lewat di media massa lewat portal Acehkita. Banyak deh kalau diceritakan satu-satu. Bertemu tukang dongeng senior tadi jadi mengingatkan saya kembali kalau saat ini masih separuh-separuh saat mengerjakan sesuatu. Banyak hal yang saya tidak tahu tentang negeri tempat saya tinggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s