Cerita Kopi Ulubelu

Kami hore-hore bisa sampai ke Sekretariat Bersama Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan selamat. Untuk sebagian rombongan yang pertama kali ke hutan di PegununganUlu Belu, Tanggamus, Lampung, perjalanan sebelumnya terlalu mengerikan. Kami butuh waktu lebih dari dua jam hanya untuk menempuh perjalanan 9 kilometer. Jalan setapak yang kami kadang hanya berupa parit yang lebarnya kurang dari satu meter. Di boncengan tukang ojek, saya hanya bisa berdoa semoga kaki saya tidak terbentur batu. Atau tidak terjatuh di jurang yang ada di kanan jalan. Gunung, hutan, dan kebun kopi di kiri dan kanan kami sebenarnya indah, tapi saya terlalu panik untuk menikmatinya. Berkali-kali, wartawan dan rombongan tamu memilih untuk turun dari boncengan dan berjalan kaki. Meski para tukang ojek berkata “Percaya saja sama kami” para penumpang kadang masih jalan kaki.

Sesampainya di lokasi, saya langsung membersihkan badan. Tangan dan kaki saya penuh dengan memar dan baret gara-gara terpeleset.  Tiba-tiba saya sangat bersyukur. Bagi saya, perjalanan ini hanya permainan. Beda dengan ratusan petani hutan yang mengelola 499,63 hektar hutan lindung di Pegunungan Ulubelu, Tanggamus. Mereka sehari-harinya harus melalui jalan tersebut (bahkan lebih jauh lagi) untuk mencari nafkah.

Pak Amin, ketua kelompok Sumber Rejeki membuka dengan ucapan selamat datang. Ia kemudian bercerita tentang Gapoktan Sumber Rejeki yang berdiri tahun 1999. Tahun 2007, kelompok tani  yang beranggota 365 orang ini mendapat ijin pengelolaan selama 35 tahun yang bisa diperpanjang.

Sebelum ada ijin, anggota kelompok mengelola hutan dengan asal-asalan. Mereka enggan menginvestasikan waktu dan uangnya karena tidak yakin bisa memperoleh hasilnya. Sebelum mendapat ijin pengelolaan sementara tahun 2000, para petani hutan tersebut harus kucing-kucingan dengan aparatur negara. Mereka kerapkali diusir dengan kekerasan. Di sisi lain, hutan tidak terawat dan banyak ditumbuhi alang-alang yang mudah terbakar.

Semenjak ada program HKm, kesejahteraan petani hutan meningkat. Satu hektar lahan kira-kira bisa menghasilkan antara satu hingga satu setengah ton kopi. Komoditas yang dipanen antara bulan Maret hingga Agustus tersebut dijual dengan harga 16.000 hingga 23.000 per kilogram. “Salah satu pertanda kami sejahtera itu terlihat dari kemampuan para petani menyekolahkan anak. Dulu, sebelum ada ijin, kami ragu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Jangan-jangan nanti tanaman yang kita urus tahun depan sudah tidak bisa dipanen. Bagaimana kalau anak terlanjur sekolah, apa bisa bayar biayanya? Sekarang, banyak yang menyekolahkan anak sampai kuliah. Beda dengan dulu yang mau beli beras saja kesulitan,” tutur seorang petani hutan yang menemui kami.

Di tengah-tengah petani yang bercerita peningkatan pendapatan setelah mereka mengelola hutan, seorang peserta dari Kesatuan Pengelola Hutan Lindung “protes”. Menurutnya, petani salah karena menjadikan hutan lindung sebagai perkebunan kopi. Ia berpendapat petani harus ikut aturan dimana dalam satu hektar lahan harus ada 400 batang tanaman kayu. Sepertinya ada yang aneh! Setahu saya, tugas KPHL itu merencanakan hingga menjalankan pengelolaan hutan. Bukankah seharusnya mereka melakukan susuatu supaya kondisi hutan membaik? Pernah petugas yang protes tadi membantu para petani yang buta hukum dan mungkin miskin akses informasi? Petani-petani tadi taunya cuma menanam dan memanen pohon kopi untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kalau nggak dikasih contoh (juga bibit), jangan berharap banyak deh.

Kalau mengutip kata Irfan Bachtiar, konsultan kehutanan,  fungsi hutan lindung itu sebagai penyangga tata air dan kesuburan tanah. Selama kopi atau tanaman lain yang ada masih bisa mengikat air, itu tidak jadi masalah. Menurut Swari Utami Dewi, kopi jauh lebih baik daripada hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Lalu, pemberian hak kelola hutan pada masyarakat itu mengurangi konflik atas tanah.

Ok, tanaman monokultur memang tidak baik untuk kesuburan tanah. Kalau mengikuti pasal 33, pemerintah (di sini Departemen Kehutanan) wajib membantu petani-petani bagaimana cara mengelola lahan dengan baik. Termasuk didalamnya memberikan bantuan bibit tanaman keras.
Saya lebih salut dengan upaya pihak swasta mitra para petani HKm Sumber Rejeki. Salah satunya PT Ulubelu Cofco Abadi. Perusahaan exportir kopi milik pasangan suami istri Rinaldi Hartono dan Elmira Tjahja. Sehari setelah melihat Pegunungan Ulu Belu, saya mampir ke warung kopi mereka. Saya bertemu dengan Bu Elmira yang menceritakan awal mula usaha mereka. Tahun 2009, mereka yang tadinya tinggal di Amerika pulang untuk mengurus orangtuanya. Mereka kemudian mulai berbisnis kopi pada tahun 2010.

Keduanya merupakan keturunan pedagang kopi dari Talang Padang. Bedanya, kakek nenek keduanya sekadar pengumpul kopi yang kemudian menjualnya. Sejak keduanya memutuskan untuk serius di bidang perkopian, mereka berusaha untuk mendapat sertifikat 4C (Common Code for Coffee Community) supaya kopinya diakui secara internasional. Untuk itu, kopi mereka harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran kopi-nya. Salah satu alasan mereka tertarik berbisnis kopi adalah rasa miris karena kopi Lampung yang robusta tidak dianggap di percaturan kopi internasional yang memuja kopi jenis arabika. Selain itu, kopi Indonesia dianggap bermutu buruk. Karenanya harga kopi dari Indonesia lebih rendah dari kopi dari negara lain. Dan lebih menyedihkan lagi, perdagangan kopi di Lampung dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Suami-istri ini menerapkan prinsip kewirausahaan sosial dalam berbisnis. Untuk mengajarkan kepada petani cara menanam kopi yang baik, mereka bermitra dengan Universitas Lampung. Perusahaan ini mulai tahun 2012 mulai melakukan penanaman kayu keras seperti medang, suriah, cempaka, mimbri, durian, mangga, pala, hingga pete di hutan yang dikelola petani mitranya. Mereka percaya jika pola penanaman monokultur ke depannya akan merusak kualitas dan kuantitas kopi.

Baru tahun lalu perusahaan Ulu Belu mengemas kopi untuk dijual dalam bentuk bubuk. Sebelum mengemas produk tersebut, mereka mencari cara supaya kopi bisa tahan lama tanpa memasukkan pengawet kimia ke dalamnya.  Saya sempat bertanya, perdagangan kopi yang mereka lakukan butuh investasi waktu dan uang bertahun-tahun. Bisa dibilang, mereka awalnya tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berlanjut. Saya suka dengan jawaban, ibu Elmira, si pemiliknya ” Kalau kita ingin berbuat baik, sejahat-jahatnya orang masih ada Tuhan yang jaga.”

Waktu Bu Elmira bercerita tentang produknya yang hanya berisi kopi murni tanpa bahan kimia atau gula, saya jadi ingat pertanyan teman yang berasal dari Australia beberapa tahun lalu. Ia heran kenapa Indonesia yang negara penghasil kopi nomer empat dunia, penduduknya mengkonsumsi kopi instan. Begini saudara-saudara, kopi adalah komoditas mahal. Kopi-kopi dengan mutu bagus tidak beredar luas di pasaran karena mahal. Kebanyakan kopi lokal sudah dicampur dengan jagung, beras, atau, mentega. Belum lagi perusahaan lokal tidak memiliki distribusi dan modal yang bagus.

Oh iya, ini video yang saya ambil waktu ke Pegunungan Ulu Belu untuk gambaran seperti apa medannya.

15 thoughts on “Cerita Kopi Ulubelu

  1. Ping-balik: Agama Penyebar Kebencian |

  2. Rata-rata begitu jalan ke kebun-kebun kopi di beberapa wilaha di Tanggamus, Lampung Barap, pesawaran dan Lampung Utara. Makanya, modal petani itu besar dan hasilnya dikit. mereka nggak kaya-kaya jadinya, hhhh…

    • petani masih dibodohin oleh para pelaku usaha, tidak adanya pembinaan dari exportir dan vendor, apalagi kopi yang ada di areal HKm, bener-bener nelongso, kopiinya di export tanpa da imbal balik dan benefit bagi petani tolong ..dong tolong berikan kami harapan.

  3. Ping-balik: Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia |

  4. Ping-balik: Bertualang dan Tuliskan Ceritamu |

  5. Saya sebagai putera asli ulubelu bangga dg cerpen yg saya baca ini saya pikir tidak ada yg perduli dg kopi robusta,
    Saya pribadi sangat senang mendengar ulasan yg saya baca ini saya sebagai petani kopi di ulubelu dan tingal di ulubelu senang sekali mendengar kabar gembira ini mari bersama maju bersama dg kopi robusta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s