Jangan Sia-siakan Waktu untuk (menjadi) Orang Jahat

Saya masih duduk di kursi pesawat saat penumpang lain berebutan berdiri. Saya terbiasa menunggu sampai sebagian besar penumpang turun karena malas berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang ibu berusia sekitar 50 an tahun membanting ransel saya. Entah apa yang ia teriakkan tapi sepertinya ia kesal karena buru-buru ingin keluar. Apesnya, tas saya menghalangi bawaannya. Penumpang lain kaget dan memandang ibu tadi. Seorang bapak memperingatkan si ibu. Katanya: Hati-hati membanting barang, ibu tadi bisa dituntut jika kena orang.

Pesawat

Awalnya, saya ingin meminta nomer hp ibu tadi. Untuk berjaga-jaga jika laptop dalam tas rusak. Tapi saya mengurungkan niat saya. Orang dengan emosi labil percuma diajak bicara. Kalau pun ada apa-apa dengan laptop saya, dia juga tidak bisa mengganti datanya. Sepertinya, ibu tadi sudah memiliki banyak masalah. Kalau dilihat dari cara berpakaiannya yang tidak nyambung, ia bukan dari kalangan berada. Bisa jadi, ia terlalu capai dengan banyak tagihan atau masalah keluarga. Sepertinya dia tidak berpikir saat bertindak. Ia masih beruntung, jika orang lain yang ada di posisi saya, pasti akan ada adu mulut bahkan berbuntut panjang.
Apakah itu artinya orang-orang yang ada di golongan ekonomi ke bawah lebih rawan stres? Tidak juga. Mungkin teman-teman pernah memiliki bos tempramental. Yang hobi berteriak pada bawahannya. Atau suka menunjukkan kalau ia berkuasa. Atau jangan-jangan, teman-teman juga memperlakukan orang dengan buruk? Ya, mungkin mereka lebih bisa mendapat keinginannya lebih cepat. Tapi apa ia tidak berpikir. Sampai kapan posisinya ada di atas orang lain? Dan jika ia memperlakukan orang dengan buruk,  bukankah  ada banyak orang berharap ia jatuh? Apa yang terjadi nanti kalau dulu orang-orang yang dia tindas membalas?

Konon sebagian besar perilaku kita terbentuk sebelum kita berumur 6 tahun. Saat kita masih kecil, mental kita juga tumbuh. Kita menyerap perlakuan orang-orang yang ada di sekitar kita dan tanpa sadar melakukan hal yang sama. Orang dengan perilaku buruk cenderung memiliki orangtua dengan kelakuan sama. Coba perhatikan orang-orang yang hobi mengkritik orang lain. Biasanya ia tumbuh di lingkungan yang jarang memuji. Lalu orang-orang yang tempramental cenderung punya orangtua yang hobi menuntut anaknya untuk berprestasi.

Tapi, perilaku juga bisa berubah seiring hal-hal yang kita alami. Saya sedang berusaha untuk berbuat baiklah supaya dunia akan membalas dengan perbuatan baik. Bukankah membuat senang orang lain itu meringankan beban mereka? Semoga, kelak ada orang-orang lain yang juga meringankan hari kita. Bukankah hidup itu seperti lingkaran? Saat kita memperlakukan seseorang dengan buruk, orang tersebut kemungkinan juga berlaku buruk ke orang lain. Bisa jadi nanti korban dari perilaku buruk itu membalas ke kita. Hidup ini sulit, sebaiknya kita jangan menambah beban orang lain. Kita akan mendapat apa yang kita lakukan. Bukan berarti kita berbuat baik karena ingin orang lain membalas kebaikan kita. Itu artinya berdagang.

3 thoughts on “Jangan Sia-siakan Waktu untuk (menjadi) Orang Jahat

  1. Semoga saja, jika perilaku kita buruk, kita mampu mengubahnya dengan sesadar-sadarnya. Semoga juga jika kita baik, kita bisa memahami orang lain, menularkan sifat baik kepada orang, sesadar-sadarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s