Dongeng Tentang Hutan Indonesia

Di web Greenpeace Indonesia, saya membaca tulisan lama tentang Indonesia yang pernah tercatat sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di Guinness World Records. Tahun 2000 hingga 2005, laju deforestasi Indonesia berkisar pada angka 1,8 juta hektar/ tahun. Angka tadi menyebabkan banyak hutan alam musnah. Setengah dari sisanya masih terancam keberadaannya antara lain oleh penebangan komersil, kebakaran hutan, dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit.

Saya jadi teringat waktu ke Flores dengan rute dari Maumere ke Labuhan Bajo. Sebelumnya, saya pernah beranggapan seluruh Flores kering kerontang. Ternyata saya salah! Kami melewati gunung-gunung hijau. Bahkan, teman saya yang aktivis lingkungan di Austaria berkali-kali takjub dan bilang tempat ini keren.

Kota Bajawa di Flores

Kota Bajawa di Flores

Sayangnya, di daerah Manggarai, hutan cantik tadi berlubang-lubang akibat tambang. Karena ingin tahu kondisi masyarakat di sekitar tambang, saya mengikuti Pater lokal ke desa untuk sosialisasi tolak tambang. Kami berangkat malam-malam ke pertemuan warga. Di sana, Pater sempat berdebat dengan beberapa warga. Salah satunya, seorang bapak yang barusan pulang merantau. Dia bilang, desanya nggak maju-maju dan penduduknya semiskin saat dia pergi merantau. Menurutnya, kalau ada tambang mangan, orang-orang akan dapat pekerjaan. Perusahaan juga akan membangun jalan untuk penduduk desa.

Flores, Manggarai

Gereja desa di Manggarai

Saya sempat gondok banget. Enak aja dia bikin seolah-olah perusahan tambang itu pahlawan. Beberapa penduduk desa, termasuk tetua yang mabuk termakan ucapannya. Saya lalu cerita tentang liburan saya ke Bangka beberapa waktu sebelumnya. Di sana, dua teman saya membuat film dokumenter tentang tambang. Ada banyak lubang-lubang besar bekas tambang di mana-mana. Apakah penduduk lokal bisa kaya dari tambang? Tidak. Yang diuntungkan dari tambang cuma pemilik modal. Penduduk lokal memang mendapat upah dan pekerjaan. Tapi resikonya tinggi. Banyak yang meninggal kerena kecelakaan. Setelah timah di suatu tempat habis ditambang, si pemilik modal pergi. Mana mau mereka mengeluarkan uang untuk mengembalikan lubang-lubang tadi.

Pagi harinya, Pater Simon mengisi kebaktian minggu di Gereja dekat calon tambang. Pater yang berceramah tentang bahaya tambang menyuruh saya bergabung. Saya sempat bengong waktu Pater meminta saya maju ke mimbar. Saya tidak menyangka bakal ditodong “memberi pencerahan”😀 Selain ini kali pertama saya ke gereja, saya nggak pede karena belum mandi. Di depan mimbar, saya bingung dilihatin sekitar 70an orang asing. Akhirnya saya bilang kira-kira seperti ini: “Hai, saya Lutfi, dari Jogja. Kemarin, dalam perjalanan kemari saya lewat hutan-hutan. Hutan tadi cantik, beda banget dengan hutan-hutan di Jawa. Di tempat kami, sebagian besar hutan isinya tanaman sejenis. Banyak yang gundul malah. Sayang saja kalau hutan tadi harus ditebangi karena mau ditambang. Buat nanam pohon sampai besar saja butuh puluhan tahun. Apalagi sampai nanti jadi ekosistem lengkap dengan hewan didalamnya. Saya tidak tahu berapa uang yang dibutuhkan untuk mengembalikan hutan ini seperti semula.”

Selamatkan Harimau

Ya, saat hutan rusak, ada binatang yang terancam punah. Greenpeace memilih harimau sumatra sebagai maskot protect paradise karena sekarang jumlahnya tinggal 400an ekor. Bisa jadi, kalau hutan rusak, mereka akan menyusul harimau jawa yang punah duluan. Waktu ke Aceh, saya dan beberapa teman sedih melihat sisa hutan dibakar. Sayang banget, padahal hutan tadi sepertinya dulu keren. Selama di Aceh, kami lewat banyak hutan lain yang masih bagus. Kami sering mampir ke hutan untuk menghirup udara segar atau iseng bermain. Semoga saja tidak menyusul hutan yang dibakar tadi. Kata penduduk sekitar, hutan yang dibakar tadi akan diubah menjadi perkebunan sawit. Dulu, saat hutannya masih bagus, katanya sering ada harimau lewat di jalan setapak tengah hutan. Entah sekarang mereka ada di mana.

Hutan rusak di Aceh Barat

Cerita tadi hanya segelintir dari dongeng sedih hutan. Ada jauh lebih banyak cerita lain yang infonya hanya diketahui di lingkup kecil. Data Departemen Kehutanan tahun 2012 menyebutkan jika 136.173.847,98 hektar lahan (60%) dari luas Indonesia adalah hutan negara. Dari keseluruhan lahan yang berada di bawah Dephut tersebut, 33.915.418 hektar ijin pengelolaannya dikuasai oleh 535 perusahaan. Wilayah tersebut rawan kasus kejahatan kehutanan di sana. Lalu, bagaimana cara kita ikut ambil bagian dalam menghentikan kerusakan hutan? Sesuatu yang mungkin menurut kita nun jauh di sana. Ada banyak cara kok. Salah satunya dengan menyampaikan berita tentang hutan. Saat suatu isu dibicarakan banyak orang, para pengambil kebijakan akan lebih berhati-hati untuk memutuskan sesuatu. Karena mereka merasa diawasi. Kita juga bisa mulai mencari daftar produk yang dihasilkan dari perusakan hutan. Jika ada banyak orang mengurangi pemakaian produk tadi, produsennya pasti akan berusaha lebih ramah bumi.

11 thoughts on “Dongeng Tentang Hutan Indonesia

  1. Sebagian besar jarak berpikir kita sebagai manusia kadang memang pendek. Ya….kita butuh uang, tetapi mestinya gak gitu2 amat…….sampai kemudian semua membalik menjadi melawan kita dari sebelumnya diciptakan Tuhan untuk menopang kehidupan manusia……..tapi kita juga mesti percaya…..akan selalu ada orang2 baik yang mencoba menyelematkannya….smoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s