Curhat Pak Tani

“Petani itu pekerjaan mulia. Mereka menyediakan pangan untuk semua orang di dunia. Tapi kok nasibnya tidak baik ya? Sengsara dan miskin. Saya sendiri mau mengaku petani rasanya kok malu. Tidak sebangga kalau punya pekerjaan lain,” tutur Sumadi, seorang petani hutan yang tinggal di daerah Panggang, Gunungkidul.

Pak Sumadi, dan hampir seluruh penduduk Desa Girisuko hidup dari bertani. Wilayah mereka, tanahnya subur. Kata Pak Sumadi, tanaman apapun bisa tumbuh dengan baik. Sayang, air hanya ada di musim penghujan. Saat musim kemarau, jangankan untuk bertani, untuk konsumsi sehari-hari pun, mereka harus membeli. Ada program bantuan air dari pemerintah dan pihak swasta. Tapi itu tidak cukup, masing-masing keluarga petani berjumlah empat orang, tiap musim kemarau harus membeli empat hingga delapan tangki air dengan harga sekitar 125 hingga 180 ribu rupiah.

Karena petani-petani di Girisuko dan sekitarnya hanya bisa bercocok tanam saat musim penghujan, mereka panen di waktu yang sama. Akibatnya, harga produk pertanian jatuh. Saya sempat bertanya kepada Pak sumadi, pernahkah mereka mencoba mencari sumber air? Bukankah jika mereka bisa bercocok tanam sepanjang tahun harga komuditas pertanian lebih stabil?

Kata Pak Sumadi, air yang ada di kawasan Panggang langsung masuk ke sungai-sungai bawah tanah. Yang dalamnya bisa sampai ratusan meter. Sejauh ini, belum pernah ada yang mencoba mengambil air tersebut. Mungkin, kalaupun bisa, biaya yang dikeluarkan akan sangat mahal, tidak terjangkau oleh petani-petani yang pendapatan per bulannya kurang dari satu juta rupiah.

Dulu, saat Habibie menjadi presiden, pernah ada pembangunan saluran air dari PDAM. Pralon tadi sudah sampai ke desa. Sayangnya, air hanya keluar saat pemasangan pralon selesai. Hingga kini, saluran air tersebut tidak pernah digunakan.

Beberapa tetangga Pak Sumadi kemudian bergabung. Kami ngobrol tentang banyak hal mulai dari tingkat pendidikan, akses jalan, akses informasi, hingga petani yang lebih memilih membeli bibit dari pabrik. Inti dari obrolan tadi, mereka memang turun-temurun miskin. Saya jadi teringat cerita tentang banyaknya program penanggulangan kemiskinan yang tidak berhasil mengurangi angka kemiskinan. Rata-rata program tadi hanya melihat kemiskinan dari satu sisi. Satu tindakan, dianggap bisa mengurangi kemiskinan. Kalau dianalogikan, seperti penderita kanker yang makan obat penghilang nyeri. Hal tersebut tidak menyembuhkan kankernya.

Selama ini saya juga sering mendengar, petani miskin karena sempitnya lahan yang dimiliki. Apakah masalah kemiskinan selesai begitu mereka diberi hak untuk memiliki atau mengelola lahan yang lebih luas? Sepertinya tidak. Saya teringat tahun 2012 lalu saat membuat film dokumenter di Desa Sambeng, Boyolali. Setelah masyarakat mendapat hak kelola hutan, masing-masing petani bisa memanfaatkan ¼ hektar lahan untuk bertani. Beberapa pengurus bahkan mendapat lahan hingga satu hektar. Apakah mereka kemudian sejahtera? Tidak juga. Petani-petani di Sambeng menanami lahannya dengan jagung, ketela, dan kacang yang harga jualnya rendah. Mereka tidak berani menanam komoditas lain yang harga jualnya lebih tinggi karena takut gagal. Juga tidak mengolah hasil panen tersebut untuk mendapat harga jual yang lebih tinggi.

Pendapatan mereka memang meningkat, mereka juga bisa menghemat pengeluaran dengan memasak sayuran dari kebun. Itu artinya mengurangi uang belanja. Tapi bagaimana dengan biaya sekolah yang harus dikeluarkan untuk anaknya? Belum lagi biaya kesehatan yang semakin mahal? Petani-petani di Sambeng menyelesaikan masalah tersebut dengan mencari tambahan penghasilan. Mereka menggarap lahan Perhutani di tempat lain. Yang ditanam tetap saja jagung, ketela, dan kacang.

Saya jadi teringat dulu sewaktu masih mengelola perpustakaan keliling. Saya dan beberapa teman pernah mengajak anak-anak petani di sebuah desa untuk menggambar dan bercerita tentang cita-citanya. Guru adalah cita-cita paling banyak disebut. Kenapa? Di desa tersebut guru profesi yang terhormat. Pegawai negeri yang punya pendapatan bulanan dan ada jaminan pensiun. Banyak orangtua yang berpesan kepada anaknya, sekolah yang pintar dan setinggi mungkin. Supaya bisa mendapat pekerjaan yang baik. Jangan seperti orangtuamu yang “hanya” petani. Lah, kalau sudah tidak ada orang lagi yang mau jadi petani, nanti bagaimana kita makan? Mau impor terus-terusan?

Saya percaya kalau, nasib seseorang berubah saat ia merubah cara berpikirnya. Hal tersebut butuh proses bertahun-tahun. Ada banyak hal yang mempengaruhi cara berpikir seseorang? Lalu ini tugas siapa? Pemerintah? Bukankah seharusnya kita punya tanggung jawab sosial untuk membantu orang lain? Saya jadi kembali bertanya ke diri saya sendiri. Apa ya yang sudah pernah saya lakukan untuk mereka ya?

One thought on “Curhat Pak Tani

  1. Pekerjaan yang sebenarnya prospeknya besar, hanya saja kurangnya perhatian dari pihak terkait bikin pekerjaan ini seperti ga prospek sama sekali. Kalopun mau perhatian, cuma buat demplot dan “panen raya” doang. Habis itu, blas… tak terdengar…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s