Membayar Cicilan Hidup Sekarang

Seorang kenalan lama, sebut saja Bagas, datang ke kantor. Karena sudah tidak bertemu sekitar empat atau lima tahun, kami ngobrol panjang lebar. Tiba-tiba saya teringat, terakhir bertemu, Bagas sedang menyelesaikan skripsi. Setahu saya, skripsi tersebut dulu tertunda sekitar dua tahunan. Saya kemudian bertanya apakah ia jadi menyelesaikan kuliah atau tidak.

Bagas menjawab bahwa skripsinya terhenti di tengah jalan. Berhubung ia sudah terlalu lama tidak lulus, ia mendaftar lagi sebagai mahasiswa baru untuk menyelesaikan studinya. Kuliah yang hanya tinggal skripsi tadi ia abaikan. Ia memilih untuk mencari pekerjaan dahulu. Ia baru akan menyelesaikan studinya jika mendapatkan tawaran pekerjaan yang membutuhkan gelar.

Saya bertanya, kenapa ia tidak menyelesaikan kuliahnya dahulu? Pekerjaan-pekerjaan yang ia inginkan, adalah pekerjaan formal yang biasanya mensyaratkan pendidikan minimal S1. Bagas berkata, ia malas mengeluarkan uang dan waktu untuk mengerjakan hal yang belum pasti terpakai (baca: dapat duit). Saya kemudian teringat, ada banyak orang yang baru mau bersusah payah mengerjakan sesuatu saat mendapat imbalan yang jelas.

Hal yang aneh. Bukannya hidup itu seperti menabung? Kita melakukan sesuatu sedikit demi sedikit dan baru kelihatan hasilnya setelah hal tadi rutin dilakukan selama bertahun-tahun. Hidup itu tidak seperti membeli barang secara kredit. Dimana kita mendapat mobil di muka dan baru membayar cicilannya nanti.

Sayangnya, tidak hanya Bagas yang menunda menabung hidupnya. Banyak orang di sekeliling saya enggan melakukan sesuatu saat tidak mendapat bayaran langsung. Kebanyakan orang cenderung menghitung berapa bayaran tunai yang akan mereka peroleh saat melakukan sesuatu. Jangankan orang lain, saya yang secara sadar tahu bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan dibayar kelak saja masih suka menunda banyak hal.

Salah satu contoh sederhana, mengelola blog. Sejak dahulu, saya tahu kalau blog bisa menjadi portofolio. Yang nanti akan mengundang orang untuk menggunakan keahlian saya. Tapi hal tersebut menuntut blog yang diurus secara teratur. Sayangnya, sejak tahun 2008, blog ini lebih banyak terbengkalai. Niat untuk memposting minimal satu bulan pun sering terlewat. Padahal, untuk menulis sekitar 300 sampai 600 kata saya hanya butuh waktu satu jam. Terlalu sibuk? Sepertinya tidak.

Baru akhir-akhir ini saya mulai rajin posting karena membuat target 110 postingan sepanjang 2014. Awalnya, hal tersebut terasa sangat berat. Ada saja alasan untuk tidak menulis. Sulit ternyata melawan rasa malas. Dasar manusia!

One thought on “Membayar Cicilan Hidup Sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s