Galaumu Membuat Suram Duniaku

“Jodoh itu seperti ikan di lautan. Ada yang nangkap pakai pancing, ada juga yang menjaring. Sayangnya, aku menangkapnya dengan potas (racun). Jadi ikannya mati dan tidak bisa dimakan.” Seorang kenalan, sebut saja Jodi mengucapkan hal tersebut di sela-sela makan siang.

Dia kemudia bercerita (lebih tepat disebut mengeluh :P) tentang kisah cintanya yang gagal beberapa tahun lalu. Jadi, Jodi dulu pernah dekat dengan seorang mahasiswi putri seorang dosen yang berada. Berhubung Jodi tidak lulus kuliah dan pekerjaannya jauh dari menjanjikan, orang tua mahasiswi ini melarang anaknya untuk dekat-dekat dengan Jodi. Sejak saat itu, Jodi jadi minderan saat berhubungan dengan perempuan. Curhat Jodi kemudian berlanjut dengan bisnisnya yang masih jalan di tempat. Pemasukannya yang tidak tetap dan kekhawatirannya apakah nanti bisa menafkahi anak orang. Ia kemudian ragu dan khawatir tidak akan menikah seumur hidup.

Anak Papua

Bukannya bersimpati, saya malah berkomentar sadis. “Kau tu lebay banget. Kalo aku jadi cewek tadi, nggak usah dilarang sama orangtuaku pun aku bakal bilang: Maaf, saya nggak butuh cowok minderan. Kau aja nggak percaya sama dirimu sendiri. Cewek keren kayak aku (kok sempat-sempatnya narsis ya? :D) mana mau menitipkan hidup padamu?”

Saya juga melanjutkan dengan kalimat yang sepertinya semua teman saya hapal, “Di dunia ini ada lebih dari tujuh milyar orang. Banyak yang punya masalah lebih berat daripada kamu. Malu dong mengasihani diri sendiri? Ngeluh tu nggak akan ngubah keadaan. Tu cerita sudah lewat berapa tahun sih? Jangan-jangan kita ketemu tahun depan dan tahun depannya lagi ceritamu masih begitu-begitu aja.”

Ceramah saya tidak berhenti di situ saja. “Aku yakin kalo kau berani bilang, sekarang aku lagi ngerjain A. Tahun depan bisa dapat B dan ada rencana jangka panjang, tu cewek kemungkinan mau nunggu kok. Tapi kalo kau meratap-ratap, gitu. Dia bakal mikir masa depanmu suram banget. Sombong dikit gitu lo.”

Jodi cuma manggut-manggut sambil berkata, “Setidaknya aku nggak menggalau di sosial media. Aku cuma cerita kalo ketemu langsung aja.”

Saya jadi teringat seorang kenalan laki-laki sebut saja Hasan yang sebentar-sebentar menggalau di facebook. Saya hampir meng unfriend dirinya di fb dan meng unfollow di twitter. Malas kan kalau layar jadi seperti tembok ratapan? Sayang, kami masih sering bertemu jadi hal tadi terpaksa saya batalkan. Teman saya yang lain malah berkometar lebih sadis lagi soal galaunya Hasan. “Kayaknya dia tu pengen seluruh dunia tahu kalo dia dianiaya perempuan. Bodoh banget kalau ngarep hal tadi bikin orang simpati. Bukannya itu justru matiin pasaran dia di depan cewek lain? Perempuan yang mau sama dia pasti saking nggak ada orang lainnya.”

Ya. Saya sependapat dengan pernyataan tadi. Jadi para galauer, daripada menghabiskan waktu untuk mengasihani diri sendiri, lakukan susuatu untuk membuat dirimu jadi seseorang yang lebih baik. Percayalah, hal-hal baik, termasuk jodoh yang baik, akan menarik hal baik lainnya. Di dunia ini, ada banyak hal yang lebih penting buat diurus supaya lebih cerah. Jangan dibuat suram dengan keluh-kesah.

3 thoughts on “Galaumu Membuat Suram Duniaku

  1. Ping-balik: Sesekali Bicara Cinta | Selintas Tulis

  2. Ping-balik: Drama itu Cukup Ada di Sinetron Saja |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s