Para Penjual Surga

Minggu lalu, linimassa di twitter saya penuh dengan cemooh terhadap sedekah berbayar. Banyak pemilik akun twitter mengutuk Ahmad Ghazali yang menjual doa. Ceritanya begini, orang ini pergi ke Mekah. Dan dia meminta imbalan minimal seratus ribu untuk tiap doa yang ia bacakan di sana. Ramailah akun-akun twitter lain menghujat orang ini. Intinya, siapa sih orang berani-beraninya memperdagangkan doa. Memangnya ada garansi kalau didoakan Ahmad Ghazali, pasti terkabul?

Saya heran, kenapa orang-orang kemudian heboh. Bukankah tiap hari di mana-mana ada penjual surga? Bisa jadi para pencela Ahmad Ghazali juga pernah membeli surga dalam bentuk lain. Bukankah sering ditemui orang-orang yang berdiri di samping mesin ATM sambil meminta sumbangan untuk anak yatim. Atau banner-banner pembangunan masjid dengan iming-iming penyumbang mendapat kapling di surga.

Di Indonesia, saya sering melihat orang berlomba-lomba saat membangun masjid. Yang pernah saya lihat, lomba ini terlihat jelas di Kalimantan Selatan, Dieng, dan Madura. Di Banjarmasin hampir sepertinya tiap ruas jalan ada masjid besar. Sedangkan di Madura, di tengah-tengah perkampungan miskin tidak jarang masjid megah. Dieng juga tidak jauh beda. Ada masjid-masjid dengan biaya pembangunan milyaran yang letaknya terlalu berdekatan. Kenapa tidak cukup membangun satu mesjid saja dan sisa uangnya bisa dipakai untuk hal lain? Seperti memberi pekerjaan ke tetangga yang tidak mampu. Menyekolahkan anak yatim. Atau mendidik banyak orang yang masih bodoh?

Jualan surga yang sering saya temui adalah para jemaah haji. Beberapa waktu yang lalu, saya membaca ada 2,2 juta calon jemaah haji menunggu antrian berangkat ke Mekah. Karena adanya pembatasan kuota, mereka harus menunggu bertahun-tahun untuk berangkat. Untuk mendapat kursi, seorang calon haji harus membayar antara 20 sampai 25 juta rupiah. Uang tadi dibayarkan melalui bank yang biasanya memberi bunga tiap seseorang menyimpan uang. Adakah yang tahu, bunga tersebut mengalir ke mana? Setahu saya, alasan utama seseorang naik haji karena percaya ia akan masuk surga jika sudah melaksanakannya.

Hal yang agak ironis karena kebanyakan orang yang saya kenal sudah memiliki predikat haji atau sudah membeli kursi untuk naik haji, kelakuan sehari-harinya tidak mencerminkan perilaku islami. Kayaknya sih haji, tapi masih korupsi. Sepertinya sih shalat lima waktu tiap hari, tapi lebih banyak waktunya habis untuk nyinyirin orang lain tiap hari.

Mungkin saya terlalu menyederhanakan agama. Meminjam tafsiran Ahmad Tohani yang ada di buku “Orang-orang Proyek”. Tohari menyatakan jika Nabi diutus oleh Tuhan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tugas seorang nabi mengajarkan supaya manusia jadi mahluk yang baik. Sahadat, shalat, zakat, dan naik haji itu sekadar cara.

Sayangnya, orang-orang kebanyakan melakukan syariat ini tanpa paham kenapa mereka disuruh. Ada banyak orang yang mengikuti aturan-aturan tadi untuk mendapat surga. Mungkin, karena mereka merasa hidup di dunia ini bukan hal yang menyenangkan. Lalu mereka berandai-andai ada hidup yang lebih kekal kemudian hari.
Banyak juga yang kemudian tidak memperhitungkan akal sehat. Saya beberapa kali mendengar tentang sebuah kelompok agama yang meminta pengikutnya untuk membayar upeti. Mereka mengklaim hanya kelompok tersebut yang bisa masuk surga. Padahal bisa jadi duit tadi dipakai untuk membayar biaya hidup sehari-hari si pimpinan.

3 thoughts on “Para Penjual Surga

  1. Itulah karaker manusia mbak ingin dikenal dan di puji,karena setidak kalau iya naik haji maka akan terkenal dan status sosialnya naik dengan embel2 H.di depan namanya.

  2. Ping-balik: Agama Penyebar Kebencian |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s