Cara Mudah Mencari Uang

Beberapa hari lalu, saya dan seorang teman sedang sarapan di kawasan Pasar Minggu. Seorang pengamen berbaju rapi datang dan mulai menyanyikan Use Somebody milik Kings of Leon. Tidak seperti pengamen lain yang sebelumnya bergantian singgah, ia benar-benar menyanyi untuk orang-orang yang sarapan di warung tenda.

Selesai satu lagu, mas-mas yang umurnya sekitar awal dua puluh tahun ini kemudian menyanyikan lagu Januari milik Glenn. Beberapa pengunjung mengulurkan uang ribuan ke dalam topinya. Termasuk saya dan teman saya. Selama kami makan, ada beberapa pengamen lewat, tapi kami hanya memberikan uang ke pengamen ini. Kami menikmati nyanyiannya dan ia layak untuk dibayar. Sepertinya, beberapa pengunjung lain juga berpikiran sama. Uang yang mereka berikan lebih banyak daripada recehan yang mereka berikan ke pengamen-pengamen sebelumnya.
Sebelumnya, ada dua orang waria mengamen. Mereka tidak benar-benar menyanyi. Hanya sesekali mulutnya menirukan lagu yang mereka putar dari tape sambil menari. Beberapa pengunjung memberikan uang sekadarnya. Sepertinya pengunjung terganggu dan ingin mereka cepat-cepat pergi.

Masih di Pasar Minggu, kami melihat seorang ibu membawa balita penderita hidrocephalus (penyakit yang menyebabkan kepala membesar akibat berisi cairan). Bayi kurus tersebut diletakkan di pinggir jalan. Banyak pejalan kaki yang menaruh rasa iba dan menaruh uang di samping bayi tersebut. Saya hanya bisa menatap ibu tadi sambil mengutuk. Tega sekali dia memanfaatkan penyakit seorang anak untuk meminta-minta. Saya bukan ahli kesehatan, tapi setidaknya seorang anak yang sakit seharusnya beristirahat di tempat yang nyaman. Bukan berjemur di luar ruangan dan penuh orang lalu-lalang lewat.

Pulang dari Pasar Minggu, saya menghubungi seorang teman yang bekerja di dinas sosial. Mungkin, kantornya mengambil tindakan pada ibu tadi. Kata teman saya, si ibu tadi memang sengaja menggunakan anaknya untuk mengemis. Dalam sehari, ia bisa mendapat uang lebih dari satu juta rupiah. Jumlah yang belum tentu ia dapat jika bekerja dengan jujur. Sayang, dinas sosial Jogja tidak bisa berbuat banyak karena ibu tadi warga Klaten.

Saya kemudian membandingkan ketiga orang tadi. Terlepas dari berapa banyak uang yang mereka hasilkan, saya lebih menyukai gaya si pengamen. Ia mendapat uang karena orang-orang merasa terhibur dengan perbuatannya. Si waria, mungkin ia mengamen karena tidak banyak pilihan pekerjaan untuknya. Sedikit orang yang mau mempekerjakan waria. Sedang si ibu, bisa jadi dalam sehari penghasilannya paling banyak. Tapi sampai kapan ia akan menipu orang-orang? Apakah memanfaatkan belas kasihan untuk mendapat uang itu hal yang baik untuk dilakukan?

Konon katanya, pada dasarnya manusia adalah mahluk yang serakah. Dia akan mencari pembenaran untuk memperoleh sebanyak mungkin keuntungan. Seperti kejadian yang saya temui kemarin. Ayah saya lupa memperpanjang sebuah surat. Seorang oknum berseragam yang mengetahui hal ini berusaha mencari kesempatan. Ia berkata ayah harus ke pengadilan. Saat melihat agama yang tercantum di tanda pengenal ayah, ia mengatakan akan membantu sesama muslim. Dengan syarat, ayah membayar sejumlah uang. Oknum tadi secara tersirat menyatakan kalau ayah pergi ke pengadilan, jumlah yang dibayar lebih banyak juga menghabiskan waktu.

Saya memintanya menunjukkan aturan yang menunjukkan kesalahan ayah saya. Oknum berseragam tadi memperlihatkan sebuah pasal di buku undang-undang. Saya merasa aneh karena pasal tersebut hanya menyatakan denda yang harus dibayar jika tidak memiliki surat. Sedangkan ayah saya hanya terlambat memperpanjang suratnya.
Saya menelfon seorang teman yang lebih tahu tentang hukum. Kata teman, oknum tadi hanya berusaha meminta uang. Teman saya menambahkan, surat yang terlambat diperpanjang urusannya dengan lembaga lain. Oknum berseragam tadi hanya bisa menindak seseorang yang tidak memiliki surat tersebut.

Saya mulai kesal karena oknum tadi mulai membawa-bawa nama Tuhan. Bapak tadi sadar nggak sih kalau digaji dengan uang pajak? Bukannya kalau dia punya agama seharusnya tidak berusaha memeras masyarakat? Saya menyatakan lebih baik ke pengadilan saja. Jelas uangnya dibayar ke negara. Saya tidak keberatan mengurusnya. Oknum tadi mulai marah dan mengancam untuk menyita mobil ayah. Saya tidak terima kemudian memoto oknum tadi. Saya bilang, saya tidak tahu hukum dan saya perlu bertanya ke orang yang paham. Saya mulai merekam dan mengatakan saya butuh bukti untuk ditunjukkan ke orang lain. Kalau memang benar ayah saya salah, apakah prosedurnya seperti yang ia lakukan. Oknum tadi mulai marah-marah. Mengatakan saya kurang ajar karena mengambil gambarnya tanpa ijin. Akhirnya ia melepaskan ayah saya tanpa berhasil mendapat uang sepeserpun.

2 thoughts on “Cara Mudah Mencari Uang

  1. hehe,itu keadaan negeri ini skg mbak untuk mendapatkan uang mereka rela melakukan apa saja,,Dan hal seperti itu sudah banyak terjadi,untung mbak masih bisa berdebat n tahu aturanx,Sempat tidak tahu maka uang ayah mbak bisa hangus hehe..Hal2 tersebut banyak juga terjadi di kampung2 mbak,dimana masyrakatx tidak tahu apa2 menjadi korban pemerasan dari oknum sperti yg mbak certakan di atas tadi hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s