Mengingat Sejarah dari Film Sukarno

Beberapa waktu lalu saya nonton Film Sukarno. Untung saja sebelumnya saya tidak memiliki ekspektasi tinggi. Jadi saat filmnya (menurut saya) “hanya” begitu-begitu saja, saya tidak kecewa. Sejak awal film, daripada memerhatikan ceritanya, saya justru lebih tertarik melihat latar belakang film Sukarno. Saya suka suasana desa yang dipakai sebagai latar, arsitektur rumah-rumahnya, sampai ke meja kursi kayu yang mengisi interior rumah. Asli, salah fokus😀

Untuk filmnya sendiri, (lagi-lagi menurut saya) kurang bisa menggambarkan seseorang bapak bangsa dan perjuangan bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak mengangap film Sukarno jelek. Setidaknya, dari angka sepuluh, saya masih memberi nilai 7. Jika dibandingkan dengan buku pelajaran membosankan jaman sekolah dulu yang hanya menggambarkan tahun, film ini lebih menarik.

Film Sukarno diawali dengan lahirnya seorang bayi laki-laki di tahun 1912. Awalnya, Sukarno memiliki nama Kusno. Berhubung sejak kecil ia sakit-sakitan, orangtuanya mengganti namanya dengan Karno. Harapannya, ia seperti Adipati Karno yang memiliki sifat ksatria.

Karno sejak masa remajanya punya dendam pribadi terhadap orang-orang Belanda. Ia kesal karena pendatang dari negeri sebrang ini memperbudak saudara setanah airnya. Pribumi menjadi pembantu yang harus menunduk dan lebih rendah daripada mereka. Sayang, bagian-bagian tengah hingga akhir film tidak terlalu banyak adegan yang memperlihatkan nasionalisme Sukarno. Beberapa kali, tokoh lain di cerita dalam percakapan mereka menyebutkan Sukarno tokoh yang sangat mencintai rakyatnya. Tapi, saya tidak terlalu mendapatkan gambaran tadi di filmnya. Menurut saya, cerita tentang seorang bapak bangsa seharusnya lebih dramatis dan berdarah-darah.

Cerita cinta yang menjadi bumbu supaya sosok Sukarno kelihatan lebih manusiawi malah menambil porsi cukup banyak. Bagaimana dia berkenalan dengan Fatmawati yang awalnya murid dan teman anak tirinya. Mulai berkirim-kiriman surat hingga kecemburuan Inggit yang akhirnya meminta untuk diceraikan.

Salah satu bagian yang menarik, waktu seorang kiai menolak saat dipaksa menghormat bendera Jepang. Kalau tidak salah ia mengucapkan sesuatu yang intinya, menolak menyembah bendera. Tidak boleh ada yang disembah selain Tuhan. Kiai ini akhirnya dibunuh. Saya tidak tahu apa cerita tadi benar-benar ada. Tapi keren ya? Mati karena punya harga diri dan menolak untuk tunduk pada sebuah benda (manusia lain).

Bandingkan dengan jaman sekarang. Secara hukum, Indonesia saat ini sudah merdeka. Tapi apakah kita benar-benar lepas dari penguasaan bangsa asing atau perusahaan besar? Teman-teman sadar tidak, saat ini, kita masih tergantung oleh perusahaan-perusahaan besar. Sebagian besar kekayaan negri ini hanya dikuasai segelintir orang. Dan, tanpa sadar, kita memperkaya mereka dengan membeli produk yang dihasilkan banyak perusahaan besar. Pernah cek, barang yang teman-teman konsumsi darimana asalnya? Air kemasan dan peralatan mandi yang teman-teman gunakan tiap hari diproduksi oleh siapa? Atau, teman-teman bahkan menganggap memiliki benda elektronik dan mobil merk tertentu produk negara lain bagian dari gaya hidup? Bukankah itu penjajahan dalam bentuk lain?

Seusai menonton Film Sukarno, saya masih penasaran dengan Inggit Garnasih. Akting Maudy Koesnaedi yang apik membuat saya penasaran dengan sosok istri kedua Soekarno ini. Ia bisa menghidupkan tokoh Inggit sebagai perempuan cerdas yang punya pendirian. Di buku sejarah saya dulu, nama ini tidak pernah disebutkan. Hanya ada nama Fatmawati sebagai penjahit bendera merah putih yang dipakai sebagai bendera yang dikibarkan saat upacara proklamasi kemerdekaan. Seperti apa ya beliau dahulu dan bagaimana perannya dalam membentuk karakter Sukarno hingga menjadi seorang bapak bangsa?

5 thoughts on “Mengingat Sejarah dari Film Sukarno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s