Kesenangan semu bernama nyinyir

Seorang teman mengirim pesan jika ada rekannya yang nyinyir gara-gara dia melepas jilbab. Ia kemudian bercerita kalau rekan tadi mengatakan kalau teman saya tadi munafik, cari perhatian, dan nggak punya pegangan. Saya hanya membalas enteng: Biarin saja, memang dia siapa punya hak untuk menghakimi orang? Saya menyarankan ke teman tadi untuk membalas: Mbak, pakai jilbab atau engga, itu pilihan pribadi. Daripada mbak capek-capek ngurusin saya,mending waktunya dipakai buat cari pahala aja deh.

Teman saya kemudian bertanya, apakah saya pernah menjadi korban kenyinyiran seseorang? Saya jadi ingat seorang rekan kerja lama. Sebelum bekerja di tempat kerja sekarang, saya pernah sekantor dengan mahluk super nyinyir. Sebut saja Bunga. Kalimat favoritnya saat mengomentari orang adalah “Nek aku (Kalau aku)” yang dilanjutkan dengan ucapan bahwa orang tadi seharusnya tidak melakukan suatu hal. Sepertinya, di dunia ini tidak ada orang yang melakukan hal benar di mata Bunga.

Saya beberapa kali tidak sengaja mendengarnya berkomentar miring. Mulai dari tulisan saya jelek lah, saya nggak becus kerja, dan banyak hal nggak enak lain. Saya sempat sakit hati sekali hingga memutuskan untuk keluar. Meski kini saya bersyukur, kalau tidak ada Bunga, bisa jadi saya masih bekerja di tempat yang tidak memungkinkan saya untuk berkembang. Mungkin, saya masih terpaksa berangkat ke kantor pagi-pagi dan pulang sore untuk mengerjakan hal yang saya tidak suka. Lucunya, setelah saya keluar, saya beberapa kali bertemu alumni tempat kerja tadi. Dan, bukan cuma satu dua orang yang berkomentar, Bunga memang nyinyir setengah mati.

Saya dan teman saya kemudian ngobrol tentang orang-orang yang terbentuk untuk sinis sejak lahir. Sebaik apapun orang, pasti ada saja yang salah di mata orang ini. Menurut kami, kami justru harus kasihan pada mereka. Bukankah itu pertanda mereka tidak bahagia dengan hidupnya dan perlu membuat orang lain terlihat jelek? Kami kemudian memutuskan, cara paling baik untuk membalas orang nyinyir adalah dengan menyibukkan diri untuk mengerjakan hal-hal keren. Bukankah jika kita bisa bahagia, orang tadi bertambah sirik? Dan saat kita sibuk, pasti kami nggak punya waktu untuk mengurusi hal nggak penting, seperti omongan miring.

Tapi, apakah mengambil angin lalu orang-orang yang lebih tahu cara menjalani hidup itu hal mudah? Tidak, apalagi jika orang tadi kerabat atau rekan kerja yang mau tidak mau ada di lingkaran dekat kita. Sampai hari ini, saya masih malas bertemu dengan seorang kerabat. Dalam setahun, saya berkali-kali memiliki kerjaan di kota tempat dia tinggal. Saya berusaha mampir atau menemui beberapa kerabat atau teman, kecuali dia. Sejak saya lulus, kerabat satu ini selalu menyuruh saya untuk mendaftar menjadi pegawai negeri. Saya berkali-kali berkata kalau saya tidak tertarik melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus hanya sekadar untuk dapat gaji dan pensiun. Lebih menyebalkan lagi, dia saking (sepertinya) nggak punya kerjaan beberapa kali menelfon ibu saya dan menyuruh saya untuk mendaftar jadi pegawai negri.

Ada banyak hal yang saya tidak ingin ceritakan di sini. Waktu tahun-tahun awal saya lulus kuliah, si kerabat ini sempat membuat hidup saya tidak mudah. Ibu saya yang mendengarkan kata-katanya, berkali-kali mendesak saya untuk bekerja sebagai pegawai negeri. Dan kerabat saya ini ternyata melakukan hal yang sama ke banyak orang. Dia merasa cara hidup yang ia jalani adalah cara paling benar di dunia. Dan ia berhak mengatur hidup orang lain.

Saat menulis ini, saya tiba-tiba teringat. Sesekali, saya masih merasa lebih tahu daripada orang lain cara menjalani hidupnya. Kadang, saya juga menggunakan kata “seharusnya”. Orang-orang dekat saya juga tahu, saya kadang nyinyir saat berbicara mengenai aturan atau budaya yang tidak jelas yang entah kenapa harus dilakukan. Sepertinya, sok tahu adalah sifat dasar manusia. Semoga saja saya dan para pembaca tulisan ini mulai mengurangi berkomentar ke hidup orang lain. Tapi bukan berarti mengomentari hidup orang lain selalu buruk. Saya masih merasa, tiap orang butuh teman yang tidak selalu sependapat dengan dirinya. Untuk mengingatkan jika ia melakukan kesalahan.

8 thoughts on “Kesenangan semu bernama nyinyir

  1. “Menurut kami, kami justru harus kasihan pada mereka. Bukankah itu pertanda mereka tidak bahagia dengan hidupnya dan perlu membuat orang lain terlihat jelek?”
    Setuju! Saya juga ada teman yang begitu, menggunakan mulutnya untuk berkomentar buruk tentang orang lain….

  2. Hmm, jadi ingat obrolan kita sambil makan siang di Beringharjo, Mbak.
    Saya juga suka heran, kenapa ada saja orang yang nyinyirnya keterlaluan.
    Kasih sekadar saran sih boleh, tapi kalau terlalu … orang lain bakal sebel.

  3. Ping-balik: Agama Penyebar Kebencian |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s