Suatu Hari, Saya Menulis Surat untuk Takita

Dear Takita, apa kabar? Semoga dirimu sehat dan bahagia di sana bersama keluarga ya?

Takita, sepertinya surat ini akan jauh berbeda dengan surat yang lain. Kakak tidak akan memberi tips menjadi keluarga bahagia atau cara mendidik buah hati. Kakak belum berkeluarga jadi aneh rasanya memberi tahu seseorang tentang hal yang belum pernah kakak coba😀 Tapi kakak punya hobi mengamati orang dan melihat ada banyak teman kakak yang bermasalah dengan dirinya karena ada hal yang hilang dari mereka saat kecil.

Takita pernah dengar kan kalau masa kanak-kanak seseorang yang paling membentuk perilaku seseorang? Ya, manusia itu mirip komputer. Ia memiliki program yang mengendalikan tingkah lakunya hingga membuat sebuah pola yang berulang. Dan, sebagian besar program ini dibentuk pada masa hingga ia berusia enam tahun.

Anak kecil manokwari

Nah, jika demikian, keluargalah yang paling banyak membentuk karakter seorang anak. Karena pada masa-masa awal, seorang anak paling banyak berinteraksi dengan keluarganya. Dengan catatan, ia tidak diasuh oleh asisten rumah tangga atau pengasuh.

Sayangnya, banyak orang tidak sadar ini. Setahu kakak, di Indonesia tidak ada yang namanya sekolah menjadi orangtua. Kebanyakan orangtua tanpa sadar hanya meniru cara orangtuanya membesarkan mereka. Sebagian besar dari mereka tidak tahu bagaimana cara mendidik anak dengan baik. Bukan berarti banyak orangtua jahat ya? Mereka hanya tidak sempat berpikir bahwa ada cara lain yang lebih baik untuk menjadi orangtua. Karena mereka tidak melihat orangtua yang baik di sekelilingnya.

Em, sepertinya surat ini mulai tidak terlalu menyenangkan untuk di baca ya? Kakak kenal dengan orang-orang yang merasa waktu kecilnya tidak dicintai dengan tulus oleh ayah ibunya. Hal tersebut membuat ia bermasalah dengan hubungan dengan orang lain ketika dewasa.

Kakak pernah kenal seorang bos yang besar di keluarga yang mendidik anaknya dengan keras. Si ayah yang orang terpandang di desanya selalu menuntut anak-anaknya bersekolah di sekolah favorit dan punya nilai bagus. Apapun yang anaknya lakukan, ayah tadi jarang memuji. Si anak tumbuh besar menjadi orang yang selalu ingin jadi nomer satu. Untuk menunjukkan pada ayahnya, ia hebat.

anak aceh

Saat dewasa, si anak ini menjadi orang yang mau menang sendiri. Dia menghalalkan segala macam cara supaya terlihat sukses. Ia punya ruang kosong di hatinya. Meskipun kini ia memiliki pekerjaan yang bagus, istri yang cantik, dan anak-anak yang pintar, ia tidak bisa mensyukurinya. Ia juga menjadi orang yang penuntut terhadap bawahan dan orang-orang di sekelilingnya. Sebagus apapun pekerjaan anak buahnya, ia tidak pernah memuji. Apabila anak buahnya membuat salah, ia tidak bisa memaafkan. Kasihan kan orang-orang yang ada di sekelilingnya?

Kakak juga punya banyak teman super nyinyir. Apapun yang orang (atau pemerintah lakukan), selalu saja salah di mata mereka. Kerjaan mereka hanya mengkritik segalanya. Padahal, belum tentu mereka bisa melakukan hal yang lebih baik. Kadang, capek sekali ada di sekitar orang-orang ini. Kakak sendiri sering sakit hati mendengar komentar orang-orang ini. Dalam sehari, ada saja hal yang salah di mata mereka. Dan, orang-orang jenis ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggosipkan orang daripada melakukan hal baik.

Lama kelamaan, Kakak baru sadar kalau orang-orang yang nyinyir umumnya juga punya orangtua nyinyir. Bisa jadi waktu kecil mereka tidak pernah dipuji orangtuanya. Bisa juga semenjak kecil mereka terbiasa melihat orangtuanya saling menyalahkan. Dan setelah besar, mereka juga menjadi orang yang tidak bisa memuji.

Jadi, apakah seseorang yang punya orangtua tidak baik akan menjadi manusia yang tidak utuh? Belum tentu. Meskipun kita belajar dari meniru, kita masih bisa memutus pola yang kita dapat dari orangtua kita. Hal yang berat tapi bukan berarti tidak mungkin. Masa depan kita belum tertulis dan kita bisa mengubahnya menjadi apa yang kita mau.
belajar membaca
Dulu, waktu kecil, orangtua kakak terlalu sibuk. Mereka berfikir kakak bisa bahagia kalau mereka bisa menyekolahkan kakak di sekolah yang baik dan bisa membelikan barang. Kakak sempat merasa diabaikan waktu kecil. Tanpa sadar, dahulu kakak sering beranggapan kakak tidak cukup cantik, pandai, dan menyenangkan untuk disayangi.

Waktu SD, kakak orang yang pemalu dan penakut. Setelah memiliki teman orang-orang baik, kakak belajar menyayangi diri sendiri. Dan belajar menjadi orang yang lebih menyenangkan. Hingga kini, masih ada beberapa kebiasaan buruk orangtua yang kakak miliki. Namun, Kakak mulai menyadarinya dan berusaha mengubah program tadi.

Takita, Kakak dan semua orang di muka bumi ini tidak bisa memilih orangtua. Menyalahkan mereka atas apa yang kita alami saat ini tidak akan menyelesaikan masalah. Saat kita selalu berusaha memperbaiki diri dan berbuat baik pada orang lain, secara otomatis pola tadi akan terhapus.

Sepertinya surat Kakak sudah terlalu panjang. Sampai di sini dulu ya? Tolong sampaikan surat ini untuk ayah dan ibu orang lain. Juga untuk orang-orang yang kelak menjadi ayah dan ibu ya? Supaya jika mereka memiliki pola yang buruk, mereka bisa mengubahnya dan tidak sekadar mengulang pola orangtuanya.

Salam dan semoga hari ini indah

Posting ini diikutkan Program Keluargaku Pendidikanku oleh Takita dan BlogFam

”Lomba

2 thoughts on “Suatu Hari, Saya Menulis Surat untuk Takita

  1. Ping-balik: Drama itu Cukup Ada di Sinetron Saja |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s