Akhir Pekan di Festival TIK, Bandung

Hari Jumat, sejak jam satu siang, saya dan Kang Kombor sudah duduk manis di warung angkringan di pinggir jalan. Kami nungguin bus relawan TIK yang datang dari Surabaya buat nanti berangkat bareng-bareng ke Bandung untuk datang ke http://fest.relawan-tik.org/. Ternyataa… AC bus mati di daerah Karanganyar. Jadi bus baru sampai Jogja jam lima lebih banyak!

Di dalam, sudah ada 28 blogger dan pegiat TIK. Jadi mirip kayak reunian karena sebagian pernah ketemuan di Kopdar Blogger Nusantara tahun lalu. Bus kemudian jalan dan berhenti beberapa kali untuk menjemput teman lain di Jawa Tengah.

Biasanya, Jogja-Bandung itu butuh waktu sekitar 9 jam lewat jalan darat. Berhubung bus ini sebentar-sebentar berhenti buat mampir ke pom bensin (toilet maksudnya), kami baru sampai Bandung sekitar jam 8 pagi. Waktu turun, saya langsung wawancarai Pak Novi yang jadi koordinator bus. Mukanya lusuh, kelihatan melas kalao direkam buat video diary saya😀 Mas Novi cerita kalau teman-teman yang dari Jawa Timur pada janjian di Terminal Bugurasih jam 5. Sebelum setengah enam mereka berangkat. Dan, baru sampai Bandung 27 jam kemudian.
Habis itu kami jalan kaki ke wismanya Politeknik Telkom buat mandi dan naruh barang. Dan, tempat ini baru jadi saudara-saudara. Sebelum masuk ke kamar, kami dibekali ciduk, ember karena kamar mandinya sama sekali belum pernah dipakai. Trus kita juga dikasih poster bekas yang ternyata gunanya buat nutup jendela kamar mandi karena belum ada gordennya.

Habis sarapan, kami trus pergi ke aula lantai 3 buat upacara pembukaan. Di sana dah rame banget. Sepertinya ada lebih dari 300an orang ada. Saya dan beberapa teman yang datang telat sampe ga kebagian tempat duduk.

Di festival tadi, ada banyak banget seminar. Temanya berkisar tentang peran TIK dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembicaranya datang dari berbagai orang yang hidupnya dipermudah oleh TIK. Mulai dari orang-orang yang berbisnis makai internet dan sosial media, fotografer, animator, artis, sampai aktivis. Pokoknya banyak deh.

Waktu lihat daftar acara, saya sampai bingung mau milih yang mana. Banyak yang seru dan jadwalnya di jam yang sama. Berhubung saya memiliki kapasitas otak yang terbatas untuk menerima info, jadi saya memutuskan untuk mengikuti dua seminar tiap hari. Sisa waktunya, saya pakai buat nongkrong-nongkrong dengan kenalan lama dan kenalan baru yang datang dari hampir seluruh Indonesia.

Jadi begini ceritanya, berhubung dalam festival TIK ini ada munas, dari tiap propinsi ada satu perwakilan relawan yang dibiayai. Tapi ternyata banyak juga yang datang pakai biaya sendiri. Keren lo, saya ketemu dengan rombongan dari bangka (belitung) yang jumlahnya mpe 15 orang. Pokonya hore deh tambah kenalan.

Seminar pertama yang saya ikuti judulnya “Perkembangan TIK dan dampaknya bagi masyarakat.” Di sana ada Aswin Sasongko (Dirjen Aptika Keminfo), Wisit Atipayakoom (nama orang Thailand susah ya? Dari International Telecomunication Union) dan Itoc Tochija (walikota Cimahi). Isinya kira-kira pegini: pemakai internet di Indonesia tu besar. Pemakaian internet menyebabkan informasi cepat menyebar dan hal tadi punya dampak baik dan buruk. Ada semacam “kewajiban” bagi pemakai yang lebih tahu untuk mengedukasi orang lain supaya internet lebih banyak manfaatnya.

Habis itu saya ikut seminarnya Pak Onno tentang open BTS. Bahasa gampangnya gini deh: ada pemancar hp yang bisa dibikin sendiri dengan dana murah (jika dibandingkan dengan BTS operator yang harganya 3M maksudnya). Nah, BTS ini memungkinkan hape GSM menelepon tanpa operator seluler. Jadi, gratisan gitu. Acaranya rame, banyak peserta yang penasaran dan tanya-tanya. Pak Onno sendiri orangnya asyik. Dia cerita kalau saat ini masih tetap ngembangin open BTS. Sebelum makai software yang sekarang, dia berkali-kali gagal makai beberapa jenis software. Pak Onno juga pesen di tiap penelitian itu pasti bakal banyak salahnya. Tapi, seorang peneliti harus nyatet kegagalannya supaya bisa ngehasilin produk yang lebih baik.

Hari kedua saya ikut seminar judulnya Itpreneur. Pembicara pertama Bob Merdeka yang beberbagi cerita tentang gimana dulu mulai jualan maicih yang sekarang jadi trademark keripik pedas itu lewat twitter. Awalnya dia cuma punya 100 follower lo. Ada banyak orang yang ngelihat dia sekarang masih muda (umurnya masih 26) dan sukses dengan bisnisnya karena beruntung aja. Kata si Bob engga lo, dia cerita kalau dah mulai usaha sejak umurnya 19 tahun. Dia sempat berkali-kali gagal waktu jualan bermacam-macam produk. Trus ada Blontakpoer yang jualan teh yang promosinya terbantu oleh media sosial. Sekarang, tehnya bisa dijual di Kopitiam dan ekspor.
Ada lagi presentasi Pak Joddy Hernady, EGMnya PT Telkom. Dia cerita tentang berbagai aktivitas PT Telkom di dunia teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Telkom sekarang mengalokasikan sekian persen keuntungannya untuk mendanai industri kreatif. Mereka punya beberapa penghargaan dan fellowship untuk orang-orang yang bergerak di dunia digital. Jadi pengen daftar Indigo fellowship. Itu semacam beasiswa yang nyari ide-ide di dunia digital buat dikembangkan dan kalau layak nanti akan didanai.

Lalu yang terakhir pembicaranya Pak Nukman Luthfi dari Tangan di Atas. Dia dulunya marketingnya detik. Bapak ini cerita kalau dulu susah cari modal untuk perusahaan digital. Dulu, jarang ada perusahaan kecil karena butuh modal besar. Bapak ini ngajakin kita supaya jangan jadi sekedar pemakai internet. Ada banyak pengusaha yang masih muda dan bisa kaya karena memanfaatkan internet. Mulailah memakai internet untuk jadi sumber inspirasi bisnis sampai ke pamasaran.

Setelah itu saya ikut seminar lain. Temanya masih tentang bagaimana memanfaatkan TIK untuk berbisnis. Pembicara pertamanya Eddy Aji Poerwanto. Dia pemilik beberapa usaha yang pemasarannya lewat internet. Sekarang juga kerja sebagai konsultan IT. Bapak ini cerita tentang cara nyari peluang usaha dengan bantuan google dan cara supaya web kita dipercaya sama calon pembeli kalau asli. Trus ada muhammad Yasin yang jualan jasa aqiqah. Dia cerita bagaimana mengoptimasi web supaya muncul di halaman pertama google. Yupz, orang kan sekarang kalau nyari sesuatu pakai google.

Berhubung asyik dan banyak kenalan baru, nggak kerasa, tiba-tiba dah penutupan. Habis magrib kami pulang pakai bus lagi. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol kapan bisa ketemuan lagi.

Ps: semua foto di atas dari kamera Wahyu Alam karena saya blum sempat mindah data.

21 thoughts on “Akhir Pekan di Festival TIK, Bandung

  1. kita belum foto bareng ya mbak? halah # abaikan :))
    sayangnya saya tidak bisa mengikuti acara blogger nusantara th lalu. smg tahun ini ada rejeki buat dateng. amin
    halah mbahas apa to dafh? :))

  2. WOW… Seru banget acaranya!😀
    Kapan nih bisa ikutan acara kayak gini…
    Harusnya kemarin aku jadi gantinya Mbak Widha ya😀 (tapi pas hari itu aq ada acara di Surabaya jg sih)

  3. WOW… Seru banget acaranya!😀
    Kapan nih bisa ikutan acara kayak gini
    Harusnya kemarin aku jadi gantinya Mbak Widha ya😀 (tapi pas hari itu aq ada acara di Surabaya jg sih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s