Berhari Minggu di Candi

Minggu 11 September kemarin Javlec Junior punya acara lagi. Kali ini menggambar bersama di Pelataran Candi Borobudur. Kali ini saya ditemani Apied, Lio, Kurnia, Erik, Niken, dan Rendi yang memang tukang gambar.

Waktu kami datang langsung dikerubuti sama adik-adik. He..he..he.. Mereka tu dah nunggu sejak jam 8 padahal kmrin saya bilang kalau kami akan datang jam 9. Mana pakai molor gara-gara saya meninggalkan sesuatu di rumah. Jadi maluu…

Rencana awalnya, kami mau jalan bareng-bareng ke candi. Berhubung ada penduduk yang nawarin nganter pake pick upnya, ya sudah, adek-adeknya rame-rame naik di belakang. Wuih.. ribut banget! Pada rebutan naik ke belakang bak mau jadi yang berangkat duluan. Malah ada yang pakai nangis segala karena dipikir ditinggal sama teman-temannya.

Kami masuk ke kawasan candi lewat Hotel Manohara. Waktu sampai, kami nyari tempat teduh buat menggambar ramai-ramai. Sebelumnya, adek-adeknya diitung dulu supaya nanti nggak ada yang tercecer😀 Lima puluh anak lebih kan repot klo nanti pada lari entah ke mana. Apalagi waktu itu candi rame banget pengunjungnya.

Akhirnya kami membagi kelompok berdasar umur. Adek-adek yang sekolah di TK menggambar bareng Niken. Temanya menggambar bebas. Di kelompok ini pada main corat-coret. Saat ditanya, mereka bilang yang digambar itu ular, pohon, rumah, batu, bintang, sama ada juga yang ngambar tukang ojek! Imajenatif banget ya? Saya baru tahu kemarin karena di acara sebelumnya, anak-anak TK nggak pernah menggambar. Mereka biasanya memilih bergabung dengan kelompok mendongeng atau melipat kertas.

Beda banget sama teman-temannya yang lebih tua. Di pertemuan-pertemuan sebelumnya, hampir seluruhnya menggambar dua buah gunung yang ada sawahnya. Mungkin karena mereka terbiasa diseragamkan? Lalu tiap kali pelajaran menggambar gurunya selalu ngasih contoh gambar gunung? Saya jadi ingat cita-cita jaman kecil dulu. Dulu, saya pengen jadi mentri pendidikan. Gara-gara ngelihat di sampul buku pelajaran tiap kali ganti mentri pasti ganti kurikulum. Entah kenapa saya beranggapan kalau jadi mentri pendidikan, saya bisa seenaknya menghapus pelajaran-pelajaran yang nggak nyenengin. Yah, dengan demikian saya menyelamatkan banyak anak di Indonesia yang bosan setengah mati dipaksa duduk berjam-jam tiap hari di sekolah.

Kelompok anak kelas 1 sampai 3 SD, ikut Lio menggambar bareng. Pertama-tama, mereka membuat gambar pohon. Setelah itu, mereka bersama-sama menggambar rumah dan halaman dan menggambar biri-biri. Di kelompok ini sempat ada rebutan crayon warna hitam. Awalnya, adik-adik ini beranggapan menggambar garis tepi itu harus dengan warna hitam.

Anak kelas 4 dan 5 karena jumlahnya banyak, dipecah menjadi dua kelompok. Yang pertama ikut Apied. Awalnya mereka menggambar bermacam-macam hewan yang gayanya kartun banget. Bentuknya mirip tokoh-tokoh di desain tshirt yang biasa dibuat Apied. Ntah kenapa lalu gambarnya berubah menjadi tokoh-tokoh di kartun Spongebob. Ada satu adek yang gambarnya beda. Awalnya saya pikir dia ngambar sawah dengan pohon-pohon dengan seekor hewan berwarna oranye. Dengan lugunya saya bertanya: “Itu gambar sapi ya?” Dan, saya merasa bersalah karena menurut pembuatnya, itu gambar serigala.

Kelompok kedua, bergabung dengan Kurnia. Awalnya mereka menjiplak jarinya dan memberi muka dan rambut di masing-masing jari hingga jadi keluarga jari. Setelah itu mereka bersama-sama menggambar sawah yang ada orang-orangan berbaju merah.

Anak-anak kelas lima ke atas menggambar ditemani Erik dan Rendi. Setelah dibagi, mereka langsung lari menggambar di dekat pertunjukan barongsai. Ada yang menggambar barongsay, ada yang menggambar layang-layang, dan ada juga yang menggambar candi.

Sekitar jam 12an, acara selesai. Saatnya mengeluarkan buku-buku untuk dipinjam. Biasanya, adik-adik ini memilih salah satu temannya untuk menjadi petugas perpus. Si petugas ini yang bertugas mencatat buku yang dipinjam dan nanti mengumpulkan buku sebelum kami datang lagi. Berhubung sudah terlalu siang, kali ini kami tidak mengadakan pemilihan. Ada seorang adek berumur 3 tahun berteriak-teriak heboh. “Ini siapa nanti yang bertanggungjawab!”😀

Setelah mereka pulang, kami ramai-ramai makan siang di bawah pohon. Berhubung hari masih terlalu siang untuk balik ke Jogja, kami jalan-jalan dulu keliling candi. Dan seperti biasa isinya penuh dengan sesi foto-foto narsis. Seperti ini😀

Candi Borobudur siang itu panaaassss…. sekali. Berhubung kami hampir mengalami dehidrasi, kami cuma keliling di satu tingkat. Sebelum keluar, kami dibeliin legen (minuman dari nira kelapa) sama Kurnia. Bapak penjualnya ngambil langsung dari pohonnya lo. Dia sampai tiga kali naik turun pohon untuk kami.

Berhubung sudah sore dan capai, kami harus pulang. Makasih temen-temen dah mau jadi relawan. Terimakasih juga untuk Wini, Indra, dan Ice yang dah nyumbang buat beli alat gambar dan sewa mobil.😀

26 thoughts on “Berhari Minggu di Candi

  1. Mbak sama teman-teman bergabung dalam yayasan yang membantu anak-anak ya? Keren banget dan salut banget saya🙂

    Btw, setuju tuh, entah kenapa sistem pendidikan kita kok ya makin ke sini makin ngawur. Saya kalo denger temen2 cerita soal pelajaran sekolah anak kelas 1 SD sekarang, bener-bener bikin geleng-geleng kepala deh, ujiannya sulit2 gitu, padahal jaman saya dulu anak kelas 1 SD baruuu aja mo belajar mengeja.

    Dan saya setuju juga soal gambar pemandangan ituuu. Entah kenapa kok ya kita selalu diajarin gambar pemandangan dengan dua gunung, jalan, dan sawah?? Dan itu keknya seragam di seluruh Indonesia…hihihi

  2. Kayaknya mendingan kita nggak usah tebak2 itu gambar apa.
    Biarin aja anak-anak yg menggambar itu cerita sendiri nanti kalau udah selesai.
    pasti penjelasan mereka tentang gambarnya sendiri penuh kejutan yg menyenangkan.

  3. mba keren banget programnya,..
    anak-anak di indonesia memang perlu ditingkatkan kreativitasnya bukan hanya intelektualitasnya.
    dan program yang mba lakukan keren dah pokoknya,..
    setuju untuk pendidikan kita emang perlu dibenahi.

  4. yg soal buku udah saya RT yaaa (koyoo RT neng timeline ku ki penting, hahaha). Btw, terkait program dan funding, mbok di tulisan ini. atau di tulisan yg lain, mbok yao ada alamat pengiriman paket (utk buku2 atau apapun yg mau di donasikan), nomor rekening juga boleh. ini saran yg terkait pendanaan program. trus liat photo terakhir, ngesoul sih Bpk penjual air nira/ legen-nya tp aku jadi kepikiran untuk mbantu mereka (tau mahasiswa-mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian, idenya bikin katrol untuk memanen hasil sadapan nira/ legen). Teknologinya mirip timba, jadi ada wadah yg bisa dikatrol naik/ turun pakai tambang plastik kecil.
    Terus bergerak, Tetap berkarya.

  5. mba ini kegiatan apa ya?? >> nama program sama penyelenggaranya?

    saya dan teman2 dari SFSC bandung juga suka ngadain kegiatan dgn anak2…
    senang melihat mereka mengembangkan kreativitasnya…

    belum banyak sekolah di Indonesia yang dapat mensupport siswanya untuk meningkatkan daya kreativitasnya..

    • Kegiatannya adalah main2 bareng dengan anak2 di Desa Borobudur. Lembaganya namanya Javlec. Rencana ke depannya, kami pengen bikin perpustakaan di sana. Sebelum ada dapet sponsor, tiap bulan kami ke sana bikin kegiatan menggambar, mendongeng, baca buku bareng. Ntar aku email aja po power point presentasinya? Siapa tahu ada kenalanmu mau nyumbang buku.

  6. hmm.., ok.. ditunggu powerpointnya mba..
    ada teman2 SFSC jogja yang juga mempunyai kegiatan hampir sama dengan mba, mereka berposko di daerah bencana merapi kali adem mba., #siap tau mba berminat buat berkunjung🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s