Cantik vs sandal hak tinggi

Konon katanya, perempuan lebih dituntut untuk menjadi cantik. Kadang, mereka kemudian suka menyakiti dirinya untuk disebut cantik. Salah satunya saat memilih alas kaki. Untuk saya pribadi, hal pertama yang saya pertimbangkan saat membeli alas kaki adalah kenyamanan saat dipakai. Tak heran jika seluruh sandal dan sepatu saya berhak rata. Tapi saya pernah sekali terpaksa membeli sepatu berhak tinggi karena “diharuskan tampil cantik” tadi. Ceritanya begini, waktu itu saya mendapat undangan untuk hadir di sebuah acara resmi yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi. Penyelenggara mengatakan mereka menyiapkan kebaya, aksesoris, dan perias wajah. Mereka juga berpesan supaya saya memakai sepatu hak tinggi dengan warna netral.

Saya sempat kaget waktu mendengar kata: “Wajib memakai sepatu hak tinggi”. Aduh nggak kebayang deh jalan dengan sepatu yang nggak nyaman ini. Seumur hidup, saya baru satu kali memakai sepatu hak tinggi. Itu pun sudah lima tahun sebelumnya pada pesta pernikahan salah seorang sepupu saya.

Awalnya saya sempat protes dan membayangankan kalau kaki saya akan lecet. Juga tidak nyaman karena tidak bisa dipakai lari-lari. Karena saya tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, saya mencoba memakainya sebelum acara untuk pergi makan malam. Saya tidak mau nanti mempermalukan diriku dengan terjatuh. Selama acara makan malam tadi, saya tersiksa karena memakai sandal milik adik yang tinggi haknya 7 senti! Sangat tidak menyenangkan karena saya harus berjalan pelan-pelan. Kaki saya juga pegal karena harus berjinjit! Sepanjang makan malam, saya mengutuk mahluk kejam yang menciptakan benda tadi.

Menurut saya, memakai sepatu hak tinggi itu konyol. Untuk apa sih rela menyakiti diri sendiri? Setahu saya, manusia awalnya menciptakan sepatu untuk melindungi kakinya. Karena manusia punya telapak kaki yang datar, seharusnya kakinya juga dilindungi oleh sepatu datar. Bukan sepatu hak tinggi yang lekuknya tidak sesuai dengan tulang kaki. Lama-kelamaan, pemakaian sepatu hak tinggi akan menyebabkan sakit punggung dan tulang kaki bengkok.

Seminggu sebelum acara dimulai, saya sakit. Kaki saya bengkak dan dokter tidak mengijinkan saya memakai sepatu hak tinggi. Masalah belum selesai karena tiga hari sebelum acara, saya baru teringat kalau tidak memiliki sandal “resmi” bisa dipakai ke sebuah pesta. Saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sandal. Ternyata….  90% sandal pesta yang ada di pusat perbelanjaan tersebut punya hak! Karena tidak menemukan barang yang saya cari, saya pergi ke toko sepatu lain. Malangnya, di toko sepatu lain juga sama. Sandal-sandal pesta yang ada juga berhak minimal lima senti. Saya keluar masuk lebih dari enam toko hingga akhirnya menemukan sebuah sandal pesta yang meskipun ada haknya, masih cukup nyaman untuk dipakai.

Yang lebih menyebalkan lagi, harga rata-rata sandal tadi diatas 200 ribu! Menurut saya, sayang sekali kalau harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sandal sekali pakai. Itu baru satu sepatu. Tiba-tiba saya teringat ada banyak perempuan yang ingin dibilang modis memiliki berbuah-buah sepatu. Mereka selalu menyesuaikan sepatunya dengan warna dan model bajunya. Kenapa? Karena mereka terbiasa dijejali jika perempuan terlihat lebih cantik dengan sepatu hak tinggi. Majalah dan televisi yang mereka konsumsi tiap hari juga menyarankan jika masing-masing bentuk sepatu itu hanya pantas jika dipadukan dengan jenis baju tertentu. Jadi, seorang perempuan harus memiliki berjenis-jenis sepatu. Tanpa mereka sadar kalau mereka hanya menguntungkan produsen sepatu.

Pada waktu acara di stasiun TV tadi, lagi-lagi saya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Harus memakai make-up. Bayangkan, tiga jam sebelum acara dimulai, saya harus duduk manis di depan kaca. Saya terpaksa pasrah saat seorang penata rias mencoret-coret muka saya. Entah apa saja yang ia sapukan di wajah. Yang pasti sebelum memakai bedak, ia mengoleskan beberapa lapis cairan berwarna coklat dan kuning. Kelopak mata saya juga berkali-kali disapu dengan beberapa warna. Selain itu si penata rias ini juga menggariskan pensil alis di mata. Rasanya perih sekali. Ia juga menambahkan cairan lengket maskara yang membuat mata berat. Saya cuma bisa menolak saat perias ini menawarkan untuk memakai bulu mata palsu.

Yang paling menyebalkan. Semua pria yang ada di tempat tersebut tidak ada yang memakai make-up. Hanya perempuan yang diharuskan memakai make-up. Konon katanya, make-up ini membuat seorang perempuan terlihat lebih cantik. Nggak adil kan? Kenapa hanya perempuan yang harus terlihat cantik? Bukankah itu membuat dia seperti barang?

Kenapa itu menjadi hal yang sepertinya harus? Selama ini saya tidak pernah memakai make-up. Saya merasa hidup saya baik-baik saja tanpa make-up. Saya selalu beranggapan bahwa saya tidak perlu mengikuti para model atau artis supaya dipuji cantik. Saya sudah merasa sudah cantik tanpa harus menutupi wajah dengan barang kimia yang entah apa saja penyusunnya (Sombong itu perlu daripada minder :P). Siapa tahu produsen kosmetik tadi memasukkan hal aneh yang bisa merusak kulit saya kelak.

Ps: foto diambil dari butikmewah.com

33 thoughts on “Cantik vs sandal hak tinggi

  1. Aku juga gak suka pake sepatu hak dan make up, buat apa sih menyakiti diri sendiri ampe lecet trus jalan tertatih2, kalo cowok itu suka kita, dia akan suka kita apa adanya, tanpa make up, tanpa kudu pake hak tinggi😉

    Jadi diri sendiri aja dehhh😀

  2. yah..memang benar ada pepatah beauty is pain.
    yaah mungkin konsekuensi masuk tivi seperti itu. Mereka punya standar untuk bagaimana ‘layak tayang’ untuk perempuan.
    mungkin akan berbeda jika penyelenggaranya adalah stasiun radio toh? berarti yang dibagusin adalah suaranya, hehehe

    nggak usah iri sama pria. karena pria memang susah untuk diupgrade. bersyukurlah karena perempuan kelebihannya adalah kecantikannya..

    hmm apalagi yaa….kalau masalah sepatu tinggi tadi, kalau untuk stasiun tivi harusnya kan nggak disorot sampai sepatu.bisa dong ditolak pakai sepatu hak tinggi..dengan alasan kaki sedang sakit atau apalah,

    hhehee

    • Thx dah mampir. Btw: itu nggak cuma buat di TV lo. Keknya dimana2 deh cewek tu klo lecek dikit, punya jerawat, ato belum mandi tu aib. Kadang aku sering bengong liat cewek-cewek yang rela mukany ditusuk-tusuk, pake laser, dll berjam-jam cuma karena pengen punya kulit cantik.

  3. hahaha..aku dama sekali ga punya hak tinggi!..ga bisa makenya..buat kondangan cuman pake sendal batik ceper kayak teklek..:D sepatunya flat semua, memang bener2 sepatu buat jalan.. aku ga kebayang aja kalo make sendal high heel, mesti nyiapin counterpain berapa banyak tuh..:D

    Yah..just be yourself..aman dan terkenda;i itu yang utama..:D

  4. dulu aku juga gak suka, tapi suka ngeliat orang dandan..sekarang sih mulai suka sedikit😀
    be your self aja, kalo gak suka jangan dipaksa suka🙂
    boleh tukeran link kak?

    • Aku nggak pernah maksa make sepatu hak tinggi, tapi klo kmrin tu terpaksa karena yang ngundang bilang “wajib”. BTW: blog kamu apa?

    • Banyak lo perempuan yang rela ngeluarin jutaan rupiah cuma buat sepasang sepatu. Nggak inget klo ada banyak orang yang nggak beruntung dan duit segitu bisa dipakai buat makan berbulan2

  5. waaah..mb Lutfi. saya ini trmasuk golongan orang2 yg cinta high heels..!! ^_^
    ga tau knp dan mulai kpn suka pake, tp semakin bertambah umur semakin suka pake.
    Aku merasa nyaman aja pake high heels, bikin aku lebih percaya diri. tp ya liat tempat jg mau ke acara apa..
    klo misalnya ke acara resmi,seperti nikahan ato cm jln2 ke mall dan bahkan ke kampus,aku lbh suka pake high heels.
    klo mslah hrga itu relatif mbak,bt apa jg beli spatu mahal2 klo ga nyaman dipake.
    trakhir, aku punya solusi bt mslah mb Lutfi kesulitan cari spatu untuk acara tv. mb Lutfi kan bs pake wedges (hak tebal), bt aku itu nyaman bgt. bahkan buat org yg sama skali blm prnah pake high heels, contohnya ya mb Lutfi sndiri.
    yaa..ini sdikit opini aku ttg tulisan mb Lutfi.
    Tdk ada maksud apa2, hanya share aja kok. ^_^

  6. Dan memang, keren itu menurut saya ( mungkin juga anda ) adalah kenyamanan. Ringan bisa terbang bebas kayak burung. Salam kenaaal🙂 Great life!! Have a wild day!

  7. Salam kenal mbak, saya jg sebenernya org yg paling males dandan n pake yg aneh2. Sampai tahun terakhir kuliah, sepatu yg saya punya cuma sepatu kets dgn berbagai macam model hehehe.. Tp apa daya, setelah bekerja dan menikah akhirnya saya harus meninggalkan sepatu2 kesayangan saya untuk beralih ke ‘barang menyiksa’ yg bernama high heels😦

  8. kira-kira udah ketemu gak sih orangnya yang mengharuskan dan membuat peraturan bahwa wanita harus selalu tampil cantik dengan menghalalkan segala cara sampai rela menyakiti diri sendiri? hehe…
    rasanya sih yang membuat peraturan itu adalah si wanita yang bersangkutan itu sendiri. karena dia gak pede sama dirinya sendiri.
    See the amazing side of yourself.

    • Yup, tapi dia menjadi seperti itu karena “dituntut” oleh lingkungannya. Coba klo majalah dan tv tiap hari tidak menyiarkan cantik adalah …., aku rasa perempuan nggak akan terlalu harus begini dan harus begitu. Makasih kunjungannya.

  9. saya salah satu pengguna sepatu atau sandal hak tinggi. tapi, kalau aktivitas saya nggak banyak. kalau banyak? nggak kuat ini kaki.

    harus selang-seling sich menggunakannya dengan hak trepes. hmm, seingat saya, sepatu hak tinggi tidak membuat wanita jadi cantik kok. kalau nggak sesuai dengan bajunya, jadi nggak cantik lagi.😉

  10. saya juga tidak suka sepatu hak tinggi. satu-satunya momen yang membuat saya terpaksa memakai sepatu model begitu adalah saat wisuda.. selebihnya saya tidak mau mau lagi..😀

    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s