Lost in Bali

Kata Bali untuk sebagian besar orang identik dengan pantai dan liburan, tapi tidak untuk pengalaman saya kemarin. Gara-gara Merpati yang suka ingkar janji dan dengan sepihak membatalkan penerbangan ke Maumere, saya dan seorang rekan saya terpaksa bermalam di Bali. Kami sampai di Bali sekitar pukul sepuluh lebih malam. Kami waktu itu sudah mencoba memesan hotel saat masih di Jogja. Tapi, travel agent yang teman saya hubungi mengatakan hari itu hotel-hotel yang ada di jaringan mereka sudah penuh.

Saya dengan pedenya mengusulkan lebih baik kita pergi saja dan nanti kita bisa mencari hotel di sana. Biasanya, di Jogja saat seramai apapun, kalau hanya semalam pasti ada hotel di Sosrowijayan atau Prawirotaman yang kosong. Saat sampai, kami minta diantar sopir taksi ke Jalan Poppies Lane II. Kami kemudian berjalan kaki menyusuri jalan tadi. Malam itu, Poppie Lane sangat ramai. Banyak turis asing hilir mudik atau nongkrong di cafe-cafe yang tersebar di kiri dan kanan jalan. Kami kemudian mulai bertanya ke hotel dan penginapan yang ada disepanjang apakah ada kamar kosong. Dan ternyata, penginapan-penginapan tadi penuh. Hanya ada satu penginapan yang masih memiliki kamar, tapi harganya mahal. Sekitar jam 12 malam, setelah mengalami kaki pegal berjalan dan punggung sakit karena menggendong ransel, kami menyerah.

Kami memutuskan untuk naik taksi dan meminta sopirnya untuk mencarikan hotel. Sopir taksi kemudian mengantar kami berputar-putar di wilayah Kuta. Ia yang turun dan bolak-balik menanyakan adakah kamar kosong ke beberapa penginapan. Kami, yang sangat kelelahan setengah tertidur di taksi. Akhirnya mobil sampai di sebuah hotel dengan inisial D (nggak nyebut merk, nanti bisa dituduh pencemaran nama baik). Awalnya, kami tidak yakin kalau masih ada kamar karena parkir hotel tadi penuh sekali. Ada beberapa bus pariwisata terparkir di depannya. Belum lagi ditambah belasan mobil pribadi. Kami mendapat sebuah kamar dengan harga sewa 175 ribu per malam. Karena terlalu capai dan malas berputar-putar, akhirnya kami ambil kamar tadi. Sebelum pergi, sopir taksi tadi meminta ongkos 70 ribu rupiah. Awalnya, saya enggan membayar sebanyak itu karena harga yang tercantum di argo hanya 36 ribu rupiah.

Hotel tadi sangat mengenaskan. Tangga ke lantai dua sangat curam dan keramiknya banyak yang lepas. Para penghuni kamarnya lebih mengibakan lagi. Banyak yang tidur sambil menggelar tikar di lantai! Kamar yang saya tempati pun sebelas dua belas hancurnya. Temboknya bergelombang-gelombang tidak rata. Kamar mandinya bocor dan kuncinya sulit dibuka. Sepertinya di hari biasa harga sewanya jauh dibawah 175 ribu. Saya tidak bisa tidur semalaman karena ruangan itu panas sekali. Jangankan AC, kipas pun tidak ada. Saya baru hampir bisa tidur menjelang jam empat pagi. Sialnya, saat saya hampir memejamkan mata, ada seorang bapak-bapak menggedor pintu sambil berteriak: ”Subuh! Subuh!” Sepertinya, ia guru dari rombongan SMA yang menginap di hotel tadi dan berpikir kamar saya bagian dari rombongannya.

19 thoughts on “Lost in Bali

  1. Ini kesempatan berinvestasi di sana untuk mbangun hotel yg lebih bagus buat saingan di sebelahnya tapi sebelumnya enak di uji nyali dulu. ya sengsara kadang tidak membawa nikmat

    • Dah terlalu banyak hotel di Bali. Itu pas lagi apes aja. Mending cari pulau kecil yang belum banyak saingan, trus bikin paket2 wisata sekalian. Thx dah mampir ke blogku.

    • Makanya aku mulai sering2 nulis tentang tempat-tempat yang aku datangi supaya orang2 yang bisa tahu ada banyak tempat menarik di Indonesia. Thx dah mampir.

    • Kmrin seh punya ide nulis tentang media yang malah bikin orang panik. Cuma pas wiken kmrin lagi banyak mondar-mandir dan belum punya waktu untuk nulis.

    • Ntar klo punya waktu untuk nulis mo tak upload cerita floresnya. Tadinya seh pengen buat satu tulisan tiap weekend, cuma kemarin blum sempat aja.

  2. ta pikir ini cerita indah di bali he3x ternyata bener2x lost yep, yg bikin penasaran initial D ntu apa ya he3x biar ga kejebak di lubang yg sama ntar kalo ke Bali n taxinya jebakan batman juga ya, menyedihkan

  3. Transit yang memprihatinkan he he he …
    Btw, saya juga pernah sekali transit di Bali, ketika pulang dari Soe-TTS, tapi pengalaman kami tidak se-‘pahit’ apa yang Lutfi terima. Barangkali Lutfi sudah terlalu sering mendapatkan keberuntungan, sehingga moment sekilas di Bali tersebut disuguhkan Tuhan dengan cita rasa yang berbeda. Untung saja tidak berhari-hari he he he …
    Tuhan selalu baik pada kita semua, ketika ada ketidaknyamanan, cuman sebentar saja!

  4. Aduh cucian deh dirimu… Haha. Tapi memang iya, Bali bukan sebuah tempat yang ramah kalau kita belum dapat penginapan, apalagi kalau di musim liburan. Kendaraan mahal, hotel mahal, – Yah, rasanya segalanya mahal. Bali sudah jadi kota metropolitan, kehilangan ciri khas budayanya. Cuma tempat orang hura-hura. (By the way, mungkin si sopir taksi ndongkrak tagihannya karena disuruh nyari hotel melulu… Haha. Duh, tapi dua kali lipat lumayan juga…)

    Kupikir tadinya kamu nangkring di airport aja jadinya. Ternyata menginap juga… Tapi kalau begini jadinya, kutebak kamu berharap mending molor di airport aja. Haha.😀 *wink*

    Dengan berapa orang kamu melakukan perjalanan ini? Bagaimana di Maumere? (Wah, kalau kamu sudah bilang dan akunya yang kurang perhatian, sorry deh… Atau mungkin perjalananmu di Maumere ada di cerita lain? Hmm. Musti ngaduk-ngaduk nih kotak permen supaya dapet harta karunnya…)

    Rey

  5. Hotel tadi sangat mengenaskan. Tangga ke lantai dua sangat curam dan keramiknya banyak yang lepas. Para penghuni kamarnya lebih mengibakan lagi. Banyak yang tidur sambil menggelar tikar di lantai! Kamar yang saya tempati pun sebelas dua belas hancurnya. Temboknya bergelombang-gelombang tidak rata. Kamar mandinya bocor dan kuncinya sulit dibuka.
    -> ngerii dahh bwakaaka… tapi seru juga sihh… asal gak berdua aja kalo ngalami gini, tapi rame2 jadi isa sengsara dan tertawa bersama..😀

    • Salam kenal juga. Ada juga yang belum lutfi tulis. gara-gara ngejar merpati ini, kami terpaksa ngganti penerbangan ke balinya. berhubung pas peak season, kami cuma dapat tiket bussines class garuda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s