Tempat Belajar Bernama Lembaga Permasyarakatan

Suatu hari saya ngobrol dengan Ica, seorang konselor di Lembaga permasyarakatan. Ia bercerita tentang seorang anak umur 14 tahun yang sudah tiga kali masuk penjara karena mencuri.

Sebut saja anak tadi Jono, pertama kali ditangkap karena mencuri sepada. Setelah lepas dari penjara, tak lama kemudian ia mencuri sepeda lagi. Saat dipenjara lagi, ia mendapat pengurangan hukuman karena selama dipenjara ia dianggap berkelakuan baik.

Minggu lalu Jono masuk penjara lagi. Kali ini ia tertangkap saat mencuri sepeda motor. Kira-kira seperti ini percakapan mereka:

Ica : Kenapa mencuri lagi?

Jono : Saya butuh uang untuk menikah.

Ica : Dulu kamu mencuri sepeda, sekarang sepeda motor, jangan-jangan besok lama-lama kamu mencuri kereta api.

Jono : Nggak bu, nggak kuat.

Ica : Kalau pesawat?

Jono : Nggak bu, nggak bisa.

Percakapan tadi dijawab Jono dengan serius. Jono mencuri motor karena ia mampu mencurinya. Jika Jono sudah bisa mengendarai mobil, ia akan mengambil mobil. Ica bercerita jika napi-napi di LP takut saat pertama kali masuk ke LP. Saat mereka sudah tahu kondisi LP, dan bisa bertahan untuk tinggal di sana, mereka akan mengulang kembali perbuatannya.

Manusia enggan melakukan sesuatu karena rasa takut. Saat ia bisa menghadapi rasa takutnya, ia akan melakukan suatu tindakan. Sama halnya dengan para napi ini, saat mereka sudah mengetahui medan, mereka merasa lebih nyaman saat berbuat kejahatan karena mereka sudah tahu resiko yang akan mereka tempuh.

Keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah turut berperan di sini. Saat napi yang baru sekali dipenjara bertemu dengan napi lain yang lebih senior ia akan memiliki pembelaan jika hal yang ia lakukan belum seberapa. Masih bannyak yang lebih buruk. Lingkungan dengan orang-orang yang pernah berbutat kejahatan semakin membentuknya menjadi penjahat. Jono yang dulu hanya mencuri sepeda bertemu dengan senior yang lebih. Ia belajar tentang trik-trik melakukan kejahatan yang lebih tinggi. Saat ia pernah masuk penjara dan tahu bahwa hukuman itu tidak terlalu menakutkan, ia berani mengambil resiko masuk penjara saat melakukan suatu kejahatan.

Seperti ini kah fungsi penjara? Semakin membuat orang tidak jera? Malah mencetak penjahat-penjahat baru yang lebih lihai.

 

3 thoughts on “Tempat Belajar Bernama Lembaga Permasyarakatan

  1. Aku pernah bergaul dengan mereka yang pernah merasakan di penjara.

    Kesimpulannya kurang lebih sama dengan tulisan ini. Masih belum terlihat peran penjara sebagai LP, masih kental sebagai sekolah untuk “naik tingkat”.

    Semoga kita diberi pimpinan yang baik di tahun 2009 nanti dan bisa membawa Endonesia menjadi lebih baik.
    Amin.

    Salam

  2. Konon Tommy yang dipenjara, ia bisa dengan gampangnya terbang naik helikopter pribadi ke pulau pribadinya. Kalau itu benar. Nusakambangan jadi kayak transit buat piknik saja.

    Wah non Lut, seneng banget nih lihat kamu sudah punya blog. Ternyata banyak hal menarik dari tulisan-tulisanmu, penuh aneka rasa, seperti rasa dalam sekotak permen. Begitukah alasannya kaupilih nama buat blogmu ini?🙂
    Kalau dinamai ‘kotak coklat’ ntar seperti pepatah di film forestgum yang sangat terkenal itu ya, ‘Hidup adalah sekotak coklat’

    Hehehe, nampaknya ndak perlu tak ‘training lagi buat teknis ngeblog, udah keren gini kok.

    Ayoh terus nge-blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s