Sekeping uang ratusan

Bulan Ramadhan lalu, ada seorang pengemis datang ke toko. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Teman saya memberi sekeping uang seratus rupiah. Pengemis tadi tidak langsung pergi. Ia menunjuk sebotol minuman ringan dan sebatang rokok. Ia kemudian mengeluarkan recehan-recehan lain untuk membayar belanjaannya.

Pengemis tadi berlalu sambil menyedot minumannya. Saya langsung teringat sebuat cerita bahwa kefakiran dekat dengan kekufuran. Bapak tadi masih kuat untuk bekerja dan juga berpuasa, tetapi ia tidak melakukan keduannya. Bisa jadi, ia tidak berpuasa karena ia bukan seorang muslim. Tapi, ia tidak bekerja karena ia tidak bersyukur diberi tubuh yang sehat. Ia lebih memilih untuk menukar harga dirinya dengan recehan.

Ini bukan sepenuhnya salah si pengemis. Pare pemberi recehan juga ikut menyuburkan jumlah peminta-minta ini. Coba hitung, apabila seorang pengemis bisa mendapatkan dua ratus rumah yang memberinya sekeping uang ratusan, ditambah seratus orang di bis umum, dan seratus orang lagi di pinggir jalan atau di perempatan jalan. Jumlah uang yang ia dapat sama dengan lima ratus dikali seratus atau lima puluh ribu rupiah dalam sehari. Yang berarti, satu juta lima ratus ribu rupiah dalam sebulan.

Mungkin tidak setiap hari penghasilannya sebesar itu. tapi pendapatan seorang pengemis bisa mencapai satu juta rupiah setiap bulannya. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah ‘pekerjaan’ tanpa modal. Bukankah si pengemis ini tidak perlu bersekolah untuk mendapatkan ijazah yang dipakai untuk mencari kerja? Ia juga tidak perlu uang untuk membuka usaha. Sedangkan penghasilan yang ia dapat dalam sebulan melebihi pekerjaan tanpa keahlian lain jika dibandingkan dengan pembantu rumah tangga, buruh bangunan, atau kuli-kuli di pasar. Jadi jangan heran, kalau kita sering mendengar berita tentang anak-anak yang diculik untuk dijadikan pengemis.

Saya paling malas memberi uang recehan pada seorang pengemis, apalagi jika ia masih terlihat sehat. Saya lebih suka memberikan uang ke kotak amal yang dikelola badan yang jelas atau panti asuhan yang memang benar-benar ada. Teman saya sering protes. Katanya, ia memberi karena memeng niat bersedekah dan kebetulan ada uang. Jika si peminta-minta tadi tidak layak menerima, itu bukan salah pemberi. Saya balik protes, menurut saya memberi uang recehan langsung sangat tidak mendidik. Seorang pengemis akan merasa mendapat uang dengan mudah sehingga ia juga dengan mudah menghabiskannya. Pengemis tadi akan menggunakan uang pemberian kita untuk berfoya-foya.

Saya jadi teringat seorang anak jalanan yang pernah saya kenal. Ia dan kawan-kawannya tidak pernah berfikir untuk menabung. Apabila mendapat uang, sering uang itu akan habis pada hari yang sama. Tidak jarang uang tadi dipakai untuk membeli cat rambut, paku untuk menghiasi bajunya, rokok, dan lem atau minuman keras untuk mabuk. Saya sering berfikir, apakah mereka tidak ingin menabung untuk membuka suatu usaha?

Teman saya yang mendukung pemberian uang receh pada pengemis, berkata bahwa sedekah bisa dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu-nunggu. Jadi, kalau ada sisa uang di kantong, berikan saja pada pengemis di pinggir jalan. Jika ditunda-tunda kita akan sering ingin menyumbang tapi selalu merasa uang tidak cukup. Saya jadi kaget. Saya teringat kalau selama ini jarang bersedekah. Saya sering menunggu memiliki uang cukup untuk disumbangkan. Sayangnya, saya kadang lupa untuk bersedekah. Atau kadang teringat, tetapi saya lebih memilih untuk menundannya. Kadang saya masih berfikir bahwa pendapatan saya yang tidak tentu apakah cukup untuk menutup pengeluaran saya selama sebulan?

Saya ingin bersedekah. Sedekah yang tidak memberatkan saya, tapi juga tidak membuat malas penerimanya. Kemudian, saya membuat celengan sedekah. Apabila saya berbelanja, dan ada kotak infak, atau sholat di masjid, saya berusaha untuk mengisinya. Meskipun dengan sekeping uang ratusan. Saya juga mengumpulkan recehan-recehan sisa belanja di rumah untuk nantinya disumbangkan. Kebiasaan ini ada bagusnya juga untuk diri saya. Saya jadi lebih berhati-hati dalam membeli barang. Saya akan mengurangi membeli barang karena merknya dan barang yang masuk dalam kategori ingin bukan butuh. Sisa belanja tadi bisa saya sedekahkan.

Saya harap, saya tidak sendirian. Muslim yang lain juga menyisihkan sedikit rejekinya dan mengisi kotak-kotak amal, bukan memberikannya langsung kepada pengemis. Bukankah sedikit dikali banyak orang akan menjadi banyak pula? Semoga, badan-badan amal mampu mengelola uang tadi dan menyalurkannya kepada yang berhak. Si penerima uang tidak sekedar menerima tetapi juga diberi kesadaran untuk mengelola uangnya sehingga ia mandiri. Tidak selamannya mengantungkan diri dari pemberian orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s