Mimpi-mimpi Arietta

Sudah setengah jam Arietta duduk di depan laptop mungilnya. Ia bingung. Guru Bahasa Indonesianya memberikan tugas mengarang dengan tema “Siapa aku? Dan apa yang akan aku lakukan di masa yang akan datang.” Hanya ada satu paragraf pendek terketik di monitor.

Namaku Arietta Tambunan. Bulan Januari nanti, aku berusia 17 tahun. Setelah lulus SMA nanti, aku ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada. Aku ingin mengambil jurusan kedokteran supaya nanti bisa menjadi dokter. Kenapa? Karena ayahku seorang dokter dan direktur sebuah rumah sakit. Ayah ingin aku dan kakakku meneruskan profesinya. Saat ini kakak bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI dan sedang menyelesaikan skripsinya.

Cuma segini? Pendek dan jelek banget. Protes Arietta dalam hati. Bu Indri pasti mikir lamaa…. banget untuk ngasih nilai ke karangan ini. Kayaknya, nilai lima saja sangat, sangat, sangat, belum layak. Aduhhh… kenapa sih harus ada tugas mengarang.

Arietta kemudian memasukkan lagu-lagu baru ke play list Musicmatch-nya. Dalam hati ia bertanya: Apa benar aku ingin menjadi dokter? Sepertinya itu keinginan orangtuaku.

Arietta melamun. Ia ingat Ayahnya yang dokter dan direktur sebuah rumah sakit bersalin. Ayah sangat ingin semua anaknya meneruskan pekerjaannya. Oh iya, aku bisa menambah cerita tentang awal keinginanku menjadi dokter.

Ayahku seorang dokter. Ia juga direktur rumah sakit di daerah Tebet. Waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku pergi ke rumah sakitnya. Di sana aku menemani Ayah membaca-baca berkas pasiennya. Aku juga sering berkeliling. Melihat-lihat banyak hal. Mulai dari ibu-ibu hamil yang diantar suaminya sampai ibu-ibu yang didorong dengan tempat tidur beroda ke ruang operasi.

Arietta membaca ulang rangkaian kata yang ia hasilkan. Paragraf ini kelihatan aneh! Kayaknya nggak terlalu nyambung. Bagian mana ya yang harus diubah? Aduuhhh… Arietta mengeluh dalam hati. Ia jarang sekali menulis, nyaris tidak pernah malah. Sekarang ia kebingungan saat harus menulis.

Arietta kemudian teringat kata-kata Bu Indri. Ibu ini selain mengajar Bahasa Indonesia juga menulis. Tulisannya bermacam-macam dan tersebar di banyak koran, majalah, dan jurnal. Kebanyakan tentang kebudayaan, pendidikan, hingga cerpen. Bu Indri selalu berkata, jika ingin menulis, tulis apa saja yang ada dikepalamu. Jangan berfikir tulisan itu jelek. Tulis saja. Curahkan semuannya. Nanti setelah selesai, baru baca ulang tulisan tadi dan perbaiki. Kepandaian mengarang itu tidak sekali jadi. Orang harus banyak berlatih untuk menjadi ahli.

Arietta kembali ke karangannya. Ia membuat karangan baru.

Namaku Arietta Tambunan. Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama orangtua dan kakak laki-lakiku di sebuah perumahan mewah di Permata Hijau. Aku dan kakakku sangat beruntung karena memiliki seorang Ayah yang bekerja sebagai dokter sekaligus direktur sebuah rumah sakit bersalin.

Rumah sakit bersalin milik Ayah sangat ramai dikunjungi orang sehingga Ayah mendapat banyak uang. Ayah ingin suatu hari nanti, kakak dan aku menggantikannya. Saat ini, kakaku bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI. Ayah juga ingin dua tahun lagi aku memilih jurusan Kedokteran Umum.

Awalnya, aku tidak keberatan. Sepertinya menjadi dokter pekerjaan yang sangat bergengsi di mata masyarakat. Dan aku rasa, aku cukup mampu untuk masuk di jurusan Kedokteran. Aku masuk di kelas aksel dan nilaiku selalu masuk lima besar.

Tapi, kadang aku sering ragu. Apa benar aku ingin menjadi dokter? Waktu aku kecil, aku sering diajak Ayah ke kantornya. Aku selalu kagum melihat Ayah. Ia terlihat lebih keren dengan jubah putihnya. Perawat, asisten dokter, dan semua orang di rumah sakit selalu tampak hormat dan segan jika ayah lewat.

Arietta membaca karangannya, tiba-tiba tangannya ingin mengganti beberapa kalimat yang kelihatan janggal. Bahasanya juga aneh. Tapi ia teringat nasihat Bu Indri. “Tulis apa saja yang ada di otakmu. Mengedit itu bagian terakhir jika tulisan sudah jadi. Jika sebentar-sebentar kamu menganti kalimat karena rasanya ada yang aneh, akan memakan waktu. Kamu bisa lupa apa yang ada di benakmu.”

Tapi kadang aku ingin menjadi seorang arkeolog. Ya. Aku ingin menjadi peneliti yang menggali-gali peninggalan masa lampau. Keinginan ini akibat aku menonton film Indiana Jones. Awalnya, waktu SMP, aku membaca komik Yu Asagiri. Ceritanya tentang petualangan seorang anak perempuan Jepang di pelosok Amerika Latin. Ia memiliki medali bergambar naga yang konon merupakan kunci dari harta karun Suku Indian Maya. Aku sangat terpesona dengan komik itu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi tokoh utama dalam komik tadi. Di belakang komiknya, Yu Asagiri berkata kalau ia terinspirasi dari film Indiana Jones.

Aku kemudian menyewa semua VCD Indiana Jones. Keren Sekali. Ceritanya tentang Indiana Jones, seorang dosen arkeologi tampan yang berkeliling banyak tempat. Mulai dari Mesir, pedalaman India, hingga Benua Asia untuk mengumpulkan benda-benda dari masa lampau. Aku ingin sekali seperti Indy. Bertualang ke banyak tempat terpencil yang indah.

Selama bertahun-tahun, keinginan itu terpendam. Hingga akhirnya aku sadar. Pekerjaan menjadi arkeolog tidak seperti komik dan film yang aku baca atau tonton. Kebanyakan arkeolog menghabiskan waktunya dengan penelitian di perpustakaan. Dan, aku akan sangat tidak menyukainya. Aku benci membaca.

Arietta membaca kembali tulisannya. Tangannya gatal ingin mengganti beberapa kata. Terutama pada bagian peralihan antara keinginannya untuk menjadi dokter berpindah pada arkeolog. Tapi niat itu diurungkannya. Ingat. Tulis. Tulis. Tulis. Karangan ini lebih bagus daripada karangan pertama.

Aku kemudian kembali lagi ke dunia nyata. Aku akan menjadi dokter.

Tapi, akhir-akhir ini aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku benar-benar ingin menjadi dokter? Sepertinya aku takut dan akan pingsan saat melihat darah. Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri. Apa alasanku ingin menjadi dokter? Karena pekerjaan itu bergengsi? Entahlah. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong orang banyak. Menjadi dokter mungkin membantu banyak orang. Tapi jika aku menjadi dokter, aku pasti bekerja di rumah sakit Ayah. Itu berarti, orang harus membayar mahal untuk aku tolong.

Tiba-tiba saja aku berfikir ingin menjadi penulis. Aku ingin seperti Seno Gumira Aji Dharma yang bercerita tentang orang-orang yang tertindas. Atau seperti Pram yang berkisah tentang mimpi dan harapan Kartini yang membuatku ingin menjadi seseorang yang bisa berguna bagi banyak orang. Aku ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Aku ingin suatu saat nanti, saat membaca tulisanku, orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang baik.

Aku ingin menjadi pengarang gara-gara terpesona setelah membaca “The Alchemist-nya Paulo Coelho. Buku itu bercerita tentang seorang anak gembala yang mengejar mimpinya untuk mendapatkan harta karun di dekat Piramid. Untuk mengejar mimpinya, Santiago—nama gembala tadi—harus melewati gurun, bertemu perampok. Santiago juga berkali-kali nyaris patah semangat. Tapi ia selalu teringat mimpinya dan berusaha mengejar kembali mimpinya. Ada satu kalimat yang sangat berkesan untukku, kalimat yang diucapkan seorang Raja Tua kepada Santiago, “Jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya.”

Arietta tersenyum. Ia mulai mendapatkan ide untuk tulisannya. Saat ini ia merasa sangat bersemangat dan ingin mengetik secepat mungkin. Ia tidak peduli dengan terlalu banyak kata yang ia ulang. Pokoknya menulis.

Sebelum membaca buku ini, aku sangat tidak suka membaca. Aku hanya mau membaca komik atau cerpen yang ada di majalah remaja langganan. Aku membaca The Alchemist karena terpaksa. Bu Indri—guru Bahasa Indonesiaku—memberi tugas meresensi novel. Kupilih novel tadi secara acak dari rak di toko buku. Aku benar-benar tidak tahu novel apa yang layak diresensi. The Alchemist kuambil karena melihat tulisan “Best Seller, Diterjemahkan dalam 23 bahasa,” dan ada banyak pujian tentang buku tersebut. Biasanya, buku-buku best seller itu menyenangkan untuk dibaca.

Kubaca buku itu berkali-kali. Aku juga mulai membaca novel-novel lain. Pengarang favoritku: Sidney Seldon. Aku selalu berharap bisa berkeliling ke kota-kota besar di dunia seperti tokoh utama dalam novel-novel tersebut. Bertemu dengan orang-orang pandai dan licik dan mengalami petualangan menegangkan bersama musuh terselubung. Aku suka cara Sidney bertutur. Cara ia menggambarkan pekerjaan tokoh utama dan suasana tempat membuatku merasa cerita itu nyata.

Aku juga menyukai novel-novel Jostein Gaarder. Terutama yang berjudul Mistery Soliter. Ada banyak novel yang menurutku bagus. Seperti: Animal Farm-nya George Orwel, Les Mirables dan Maximum City-nya Victor Hugo, Gadis Pantai karangan Pram, Ca Bau Kan milik Remy Silado, sampai Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kadang, aku sampai menangis terbawa oleh cerita para pengarang tadi. Aku begitu terpesona dengan cara pengarang tadi bercerita.

Aku ingin seperti mereka—pengarang-pengarang tadi. Bukunya dibaca banyak orang di seluruh dunia dan bisa membuat pembacanya terinspirasi. Sayang, aku belum berani untuk mulai menulis. Aku terlalu takut salah dan tulisanku jelek. Padahal, segala sesuatu pasti dimulai tidak langsung sempurna. Sama seperti waktu kita belajar berjalan. Kita pasti jatuh berkali-kali sebelum bisa berjalan. Aku akan menulis dan menulis. Mulai hari ini aku akan mencoba memulainya. Setelah menyelaesaikan tugas ini, aku akan berlatih menulis. Mulai dari menulis hal-hal yang aku alami tiap hari. Hingga suatu saat nanti, aku cukup berani untuk mengirimkan tulisanku ke majalah.

Arietta tersenyum. Ia membaca sejenak tulisannya. Belum bagus. Tapi tidak apa-apa. Arietta kemudian teringat kalau ia memiliki buku Quantum Writing. Ia bertekad untuk membaca buku itu untuk medapat ide mengedit tulisan ini. Ia juga bertekad untuk belajar EYD. Sepertinya, ada banyak salah pemakaian tanda baca ditulisannya. Ya. Aku ingin menjadi pengarang. Untuk itu aku harus mulai menulis.

4 thoughts on “Mimpi-mimpi Arietta

  1. Harusnya judulnya “mimpi-mimpi Lutfi”, lalu ada tambahan : “Namaku Lutfi, dan aku pingin mencium kepala plontosnya Om Paolo Coelho yang telah mengarang Alchemist dan membuka mataku tentang bahwa semua orang punya legenda mimpinya masing-masing”.

  2. good….:)

    keliatan bgt ini mimpi2 mba Lutfi hehehee..
    ayo mba,,wujudkan mimpimu itu jd sebuah buku😀

    salam dr sesama pecinta buku ^.^

    PS. ditunggu cerita dr Candi Ijo heheee

    • Iyaa… Novelnya dah jadi kok. Isinya tentang jalan-jalan (tetep). Awal tahun nanti aku akan berusaha nyari penerbit. Sering-sering mampir ke Blog ini ya? Rencananya mau aku update tiap minggu. Makasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s