Buku-buku dalam hidupku

Jika ditanya buku apa saja yang memengaruhi hidupku, aku akan berkata: “Banyak sekali…” Sejak kecil aku akrab dengan tulisan Enid Blyton, dan HC Andersen. Waktu luangku semasa SD dan SMP kuhabiskan dengan membaca komik dan buku terjemahan. Judul-judul seperti Asterix, Tin-tin, Doraemon, Lima Sekawan, Trio Dektektif, dan Pippi si Kaus Kaki Panjang selalu menghiasi rak bukuku. Petualangan-petualangan yang dialami tokoh-tokoh buku tadi membuatku ingin mendatangi banyak tempat. Buku-buku tadi juga yang tanpa sadar mempengaruhiku untuk menyukai kegiatan luar ruangan seperti rafting, mendaki gunung, dan fotografi. Buku-buku tadi juga yang menyebabkan aku ingin menularkan bahwa membaca itu menyenangkan dengan cara membuat perpustakaan dan sanggar belajar.

Jika si penanya masih tetap menginginkan aku menyebut judul buku yang paling berpengaruh dalam hidupku, mungkin aku akan menyebut beberapa buku. Ada The Alchemist tulisan Paulo Coelho, Misteri Soliter karangan Jostein Gaarder, Panggil Aku Kartini Saja buah karya Pramudya Ananta Toer, kumpulan tulisan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Mengikat Makna karya Hernowo, dan Para Priyayi milik Umar Kayam. Dan yang tidak boleh dilupakan: Al’Qur’an. Ups, masih banyak ya?

Sekarang kita bahas satu per satu kenapa aku menyebut sederet buku tadi berpengaruh dalam hidupku. Kita mulai dari Al-Qur’an. Buku ini adalah buku yang paling sering aku baca. Seharusnya, sebagai seorang muslim aku membaca (dan juga mengamalkan) buku suci ini tiap hari. Buku ini membuatku ingin menyebarkan hal-hal baik sebagai pertangungjawaban hidupku kelak.

Lalu ada The Alchemist—buku fiksi paling kusam di rak bukuku. Buku yang sering aku baca ulang ini bercerita mengenai seorang gembala di Andalusia yang bertualang ke Mesir untuk mengejar mimpinya. Sepanjang perjalanan, ia mengalami banyak hambatan. Ia hampir menyerah beberapa kali saat kehilangan seluruh hartanya dan nyaris kehilangan nyawanya. Tapi ia masih tetap bertahan untuk mencari harta karun dalam mimpinya. Buku ini aku baca saat sedang sedih atau tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Kisah Santiago membuatku meyakini jika hal buruk yang terjadi saat ini akan segera berlalu.

The Alchemist dan juga Misteri Soliter dan Para Priyayi membuatku menulis sebuah novel. Ceritanya tentang seorang mahasiswi antropologi yang melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa sendirian. Novelku bercerita tentang pencarian jati diri. Pesan moral dari novelku adalah kau akan mengerti mengenai peranmu di dunia ini saat kau memahami lingkungan disekitarmu. Dulu, aku pernah membaca kalau Umar Kayam menulis Para Priyayi karena ia tidak terima dengan cara antropolog barat menggambarkan dunia priyayi Jawa. Nah, ia membalasnya dengan menulis sebuah novel antropologi. Sama seperti aku. Awalnya, aku ingin menulis tentang kondisi masyarakat di Pulau Jawa. Tapi, karena saat ini aku bukan siapa-siapa yang cukup kompeten untuk menulis mengenai hal itu, aku memilih untuk menulis sebuah fiksi. Selain itu, buku fiksi bisa menjangkau pembaca dengan berbagai latar belakang.

Meski fiksi, aku menulis novel ini dengan mengumpulkan data dari banyak buku, melihat langsung, dan wawancara. Novel yang aku tulis sejak akhir 2005 ini sampai sekarang masih kuanggap belum selesai. Latarnya masih belum cukup kuat untuk menggambarkan kondisi sosial di Pulau Jawa. Aku ingin suatu saat nanti pembacaku akan percaya dan tahu: inilah masyarakat Jawa. Aku ingin mereka tergerak untuk melakukan sesuatu terhadap ancaman kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, pendidikan yang tidak terjangkau oleh keluarga miskin. Minimal pembacaku tahu jika ada banyak orang yang kekurangan dan berempati dengan cara hidup sederhana.

Aku menikmati perjalanan dan petualangan yang aku alami saat mengumpulkan data untuk novelku. Mulai dari berkenalan dengan orang-orang Baduy, mendaki Gunung Salak, berkeliling kelenteng-kelenteng di Semarang, berlibur ke Bromo, hingga nongkrong di cafe mahal dan melihat kehidupan malam di Jakarta. Dengan mendatangi banyak tempat dan bertemu banyak orang, aku semakin merasa beruntung bisa memilih apa yang aku kerjakan. Aku ingin pembaca novelku juga merasakan hal yang sama kelak.

Buku lain yang mempengaruhi hidupku adalah Panggil Aku Kartini Saja dan Habis Gelap Terbitlah Terang. Kedua buku ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Kartini. Ia banyak mengajukan pemikiran kritis mengenai kondisi perempuan di negerinya sebelum umurnya genap dua puluh tahun. Melalui surat-suratnya, ia menyampaikan harapannya untuk Indonesia di masa depan. Yang istimewa, Kartini hanya mengenyam sekolah hingga bangku SD. Setelah itu ia dipingit dan hanya mengetahui dunia luar dari membaca majalah.

Kisah Kartini menyebabkan aku berani mencoba hal yang biasanya diidentikkan dengan dunia laki-laki. Mulai dari menjadi satu-satunya perempuan panitia sebuah festival kesenian, berpameran bersama sekelompok pelukis padahal aku belum pernah melukis di atas kanvas, keluar-masuk hutan karena bekerja untuk sebuah jaringan LSM kehutanan, dan yang terakhir menyutradarai pembuatan film dokumenter. Aku ingin mematahkan anggapan orang-orang di sekitarku jika seorang perempuan tidak perlu terlalu pintar.

Buku terakhir yang mempengaruhi hidupku adalah Mengikat Makna dari Hernowo. Buku ini membuatku ingin menjadi penulis. Ya, aku merasa kalau aku hanya bercerita mengenai pengalamanku, suatu saat aku sendiri akan lupa. Bukankah sesuatu yang tertulis itu lebih diingat? Dan bacaan yang selama ini aku lakukan akan menguap jika aku tidak mengimbanginya dengan membuat tulisan. Buku ini juga yang membuatku mulai menulis buku harian. Aku juga mulai menulis serius supaya semakin banyak orang tahu pemikiranku.

4 thoughts on “Buku-buku dalam hidupku

  1. Adik kutubuku ku yts,
    Tingkatkan terus hobi membacamu ya. Perempuan, apalagi dalam era seperti ini, tidak bisa tidak harus banyak membaca. Dan jangan pernah lelah untuk berbagi dengan sesama. Meskipun banyak membaca dan melanglangbuana, namun jangan lupakan hal kesehatan dirimu.
    Jadilah sang Alchemist sejati, yang selalu melakukan pencarian hingga selalu menemukan apa yang dia cari.

  2. Benar sekali Lutfi tanpa kita sadari, buku-buku yang berlalu dan terekam dalam ingatan otak kita menjadi bagian tersendiri dalam pencitraan diri kita, dengan membaca buku yang bermanfaat meningkatkan kualitas diri dan cara berpikir kita, saya jadi teringat kisah lalu disaat belum mampu untuk membeli buku bacaan, yang dapat saya lakukan hanya berhayal dalam mimpi bila didalam mimpi tersebut saya membeli buku yang sangat ingin saya baca… ternyata berhasil saya bisa membaca buku walau dalam mimpi… walau ternyata isinya berbeda dari versi cetaknya he..he..he.. tapi saya menikmatinya… jangan pernah berhenti untuk membaca… “membaca yang terbaik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s