Beberapa bulan ini, saya bakal sering jalan-jalan di hutan-hutan di Pulau Jawa. Kali ini bukan untuk main, tapi buat kerjaan. Ceritanya, saya sedang nyusun buku tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat di Jawa.
Hutan pertama yang saya datangi ada di daerah Ngepohsari, Semanu, Gunungkidul. Berhubung waktu itu sedang ada pelatihan di sana, jadilah saya pergi bersama beberapa teman sekantor. Berhubung waktu itu lagi kehabisan ide muter lagu apa, entah kenapa tiba-tiba kami muter DVDnya Cherrybelle.
Dan, perjalanan diisi dengan ngedengerin info nggak penting banget. Mulai dari bagaimana Cherrybelle terbentuk, apa saja hobi personilnya, trus bagaimana sifat-sifat mereka. Hallooo, kayaknya bumi nggak bakal berhenti deh kalau saya nggak tahu kalau mereka terbentuk tanggal 27 Februari 2011 (tuh kan, mpe apal info nggak banget ini).
Sebenarnya, saya pernah beberapa kali datang ke hutan negara ini. Kalau pas lagi ke sana, kadang disuguhi makanan aneh-aneh. Kaya belalang goreng. Enak sih, cuma dulu pas pertama makan rasanya aneh. Gimana gitu, nelen mahluk yang bentuknya kaya topengnya ksatria baja hitam melotot.
Dulu sih waktu pertama kali lihat lokasi hutannya, saya takjub. Kok ada sih orang yang mau-maunya nanami tanah yang permukaannya batu doang? Apalagi tanah di sana jenisnya lempung yang engga subur. Apa hasilnya sebanding dengan capenya?
Waktu ngobrol-ngobrol dengan petani hutan di sana, cerita mereka seragam. Mereka mau nanami hutan tadi karena nggak punya (mungkin lebih tepat dibilang nggak tahu) alternatif cari nafkah lain.
Dulunya, lahan yang sekarang tertutup oleh pohon jati itu hamparan baru beralang-alang. Petani-petani di sana butuh waktu sekitar dua tahun supaya batu-batu tadi tersusun jadi teras-teras dan ada tanah untuk ditanami. Waktu enam bulan diolah, sebenarnya lahan tadi dah bisa ditanami, cuma hasilnya belum maksimal.
Jadi inget cerita Mbak yang kerja di rumah. Dulu, saya pernah tanya ke Mbak kenapa begitu lulus SMP (malah ada juga yang lulus SD) lalu pada kerja di luar kota. Kebanyakan karena mereka engga punya ketrampilan, biasanya kerja jadi pembantu rumah tangga atau di pabrik. Mereka bilang, kerja di luar, meskipun banyak yang jam kerjanya capek dan digaji rendah, masih lebih mending daripada bertani. Yang tiap hari kepanasan dan harus nyangkul berat. Pantesan, saya sering ketemu orang yang seumuran dengan saya tapi kelihatan jauh lebih tua. Habis, bebannya berat gitu.
Trus kalau tetep tinggal di desa, banyak yang nggak kuat jadi omongan tetangga, karena kelihatan kayak luntang-luntung banget. Dan, tiap kali ada tetangga punya hajat, mereka harus nyumbang. Pendapatan mereka yang engga seberapa dari bertani, habis tiap kali tetangganya nikah, meninggal, atau sunatan. Nggak jarang ada yang sampai ngutang-ngutang segala. Soalnya kalau nggak nyumbang, beritanya bakal nyebar sedesa!
Tiap kali ketemu cerita kaya gini, saya selalu ngerasa beruntung. Saya bisa milih kerjaan apa yang ingin saya lakukan. Engga kaya mereka yang selalu ngerasa: ya, ini memang sudah takdirku. Orangtuaku hidup seperti ini jadi besok paling kerjaanku juga nggak jauh-jauh dari mereka.
Ok, balik ke cerita petani di Ngepohsari. Mereka mau nanami hutan negara karena tanah miliknya terlalu sempit untuk ditanami tanaman pangan. Trus mereka ngerjain tanah di hutan negara dengan sistem yang namanya Hutan kemasyarakatan. Di sini petani dapat hak buat mengelola lahan hutan. Mereka nanemi hutan negara dengan tanaman kayu (kebanyakan jati) dan boleh memanfaatkan sela-sela tanaman jati untuk tanaman palawija. Trus nanti kalau tanaman jatinya dipanen, petani boleh dapat bagian 25%.
Sayangnya, meski petani-petani Hkm sudah punya ijin pengelolaan, mereka masih kesulitan melakukan penjarangan. Jadi ceritanya begini, pohon-pohon jati ini kalau bertambah besar, perlu dikurangi jumlahnya. Supaya nanti pertumbuhannya bisa maksimal. Biasanya yang ditebang pohon yang jelek kayunya. Petani-petani tadi masih harus ngajuin IUPHHK (Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu). Yang rada ribet dokumennya. Bulan Maret 2010, mereka pernah ngajuin ijin ini, tapi ditolak karena kurang dokumen SVLK. Tahun ini, petani di Ngepohsari ngajuin lagi, dan mpe kemarin saya ke sana, belum ada jawaban.








elfarizi
/ April 9, 2012Wiii … jalan-jalan asyik buat nulis buku
Saya juga pernah ditawarin belalang goreng, tapi gak berani coba
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ April 9, 2012Enak lo, coba deh. Pertamanya sih agak nggak tega liatnya.
sonofmountmalang
/ April 9, 2012Wahhhhh! Ada huma. Wah, makan belalang. Enaakkkk!
Bung Iwan
/ April 9, 2012MM….mmm… pengen kritik ya, mbak Lutfi….
Ceritanya kok kurang fokus ya. Kirain membahas desa berbatu. Tapi kok cuma sepertiganya sih? Yg paling mengganggu adalah bagian yg ada Cherrybellnya. Ilangin aja…
Ya mungkin ada alesan juga sih. Saya yg kurang jeli melihatnya. Hihihih…
komentar saya utk penduduk desa berbatu ini adalah: sayang banget birokrasi yg begitu ribet tersebut. Semoga ada yg punya ide jalan keluarnya gimana.
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ April 10, 2012Itulah asyiknya blog, bisa bikin tulisan suka-suka pemiliknya
Tulisan lebih panjang tentang hutannya bisa dilihat di Tapi versi lengkapnya ntar kalau bukunya jadi.
monda
/ April 10, 2012buat buku tapi harus jalan2 juga, pasti bisa menikmati banget ya
para petani itu mestinya ya tak perlu terlalu direpotkan urusan administrasi ya, bisa disederhanakan nggak?
sukses buat bukunya ya, buku ilmiah ya Lutfi?
alamendah
/ April 10, 2012Konsep hutan kemasyarakatan sebenarnya sangat baik untuk menyeimbangkan menyelamatkan kelestarian hutan dan menyelamatkan perekonomian masyarakat sekitar. sayangnya, beberapa oknum pejabat sering kali terlalu ‘kreatif’ dengan berbagai aturannya sendiri yang justru bisa berakibat kontra produktif terhadap program hutan kemasyarakatan tersebut.
Kebetulan tidak sampai 15 km dari tempat tinggal saya juga terdapat hutan negara yang dikelola dengan konsep ini. Bahkan juga terdapat di daerah kars (kapur) yang butuh perjuangan ekstra bagi para penggarapnya.
archer
/ April 11, 2012sayang ya hutan-hutan sekarang semakin berkurang apalagi di pulau jawa hehe
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ April 12, 2012Iya, Pulau Jawa jumlah penghuninya terlalu padat. Jadi ya, hutan terdesak gitu. Apalagi gara-gara tahun 1998-2000 ada penjarahan habis-habisan. Luas hutannya berkurang banyak banget
apepsaprol
/ April 28, 2012widiiihhhh,, makan belalang.. Gmna rasanya tuh..???
Oh iya, salam kenal ya dari saya…
Kalo ada waktu, berkunjunglah ke blog ku yang sederhana. Terimakasih
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ April 30, 2012Ok, biasanya kl pas wiken aku blogwalking kok. Salam kenal juga