Saya punya daftar Resolusi 2012 yang panjang. Ada satu yang sebenarnya keinginan lama yang dulu sempat saya takut untuk penuhi. Bikin sanggar belajar di Desa Borobudur. Ya, sebuah ruang publik yang lengkap dengan perpustakaan, dan internet tempat penduduk di Desa Borobudur bisa tahu tentang dunia luar.
Cerita ini dimulai sekitar tahun 2002 lalu. Waktu itu, saya sempat tinggal di dekat Candi Borobudur. Dulu, saya dan teman-teman sering bikin les sore untuk anak-anak SD di sore hari. Sesekali, kami jalan-jalan ke candi, sawah, atau bukit bareng anak-anak kecil di sana sambil bacain buku-buku cerita untuk mereka. Entah kenapa, saya suka kawasan di seputaran Candi Borobudur. Saya berharap suatu saat bisa bikin sekolah informal di sana.
Tapi hidup terus berjalan. Saya harus nglanjutin kuliah, kerja, sibuk ngejar beasiswa, dan mulai melupakan mimpi tadi. Selain itu, dulu sempat berpikir kalau harus punya banyak uang kalau ingin mimpi tadi terwujud. Dan, sepertinya hal tadi jauh dari jangkauan saya.
Sekitar tahun 2009, saat punya waktu luang, saya jadi relawan di beberapa sanggar belajar. Lama-lama saya teringat mimpi yang dulu belum pernah terwujud. Keinginan tadi semakin kuat waktu nonton acara Waisak tahun 2010. Saya, bareng Top x dan Lio waktu itu salah baca jadwal perayaan Waisak. Karena kebingungan, kami berputar-putar Desa Borobudur untuk nyari info tentang perayaannya. Kami sempat berheni sebentar untuk melihat-lihat sawah-sawah yang dikelilingi perbukitan. Dan, saya jadi mulai membayangkan, sepertinya menyenangkan punya sekolah di sini.

Saya kemudian mulai menghubungi kenalan-kenalan yang pernah punya aktivitas di seputaran Borobudur untuk mencari informasi. Ada beberapa tidak membalas pertanyaan saya. Mungkin mereka terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk meladeni saya. Akhirnya saya bertemu dengan Pak Kun, dosen sebuah PTS di Jogja, yang pernah menjadi fasilitator sebuah kegiatan di Borobudur. Dari Pak Kun, saya mendengar cerita tentang ironi di Desa Borobudur. Dia bilang tentang Candi Borobudur yang dikunjungi 2,5 juta turis tiap tahunnya tapi masyarakat di sekitarnya miskin. Mereka yang rata-rata hidup sebagai petani, kebanyakan tidak mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Malah, tiap tahun ada saja penduduk yang kehilangan tanah sumber mata pencaharian mereka karena banyak pendatang yang tertarik untuk membelinya.
Waktu saya cerita tentang Desa Borobudur tadi ke kantor, rekan-rekan saya mendukung supaya ada kegiatan di sana dengan nama Javlec Junior. Karena, kami belum mendapat donatur, programnya bisa dimulai dari membuat perpustakaan keliling untuk anak yang tidak memakan banyak biaya.
Berhubung saya butuh banyak teman untuk menjalankan perpustakaan tadi, saya mengajak teman-teman dari Komunitas Canting yang memang punya kegiatan sejenis di tempat lain. Ajakan saya untuk mengadakan perpustakaan keliling untuk anak di Desa Borobudur ternyata juga disambut baik oleh Anta dari Perpustakaan Guru Bangsa. Ia yang menjadi perantara kami untuk meminjam mobil perpustakaan keliling. Berhubung buku-buku perpustakaan keliling tadi kebanyakan bukan buku untuk anak, kami juga meminjam buku dari perpustakaan anak Yayasan SATUNAMA.
Kegiatan perpustakaan keliling kemudian berjalan dengan bantuan dari banyak teman. Ada yang menyumbang waktu untuk jadi relawan, ada juga yang memberikan donasi berupa buku dan uang untuk operasional perpustakaan.
http://telkomspeedy.com”
http://telkomspeedy.com
Lama-kelamaan, banyak penduduk di Desa Borobudur menyambut baik perpustakaan ini. Mulai muncul ide untuk mengubahnya menjadi perpustakaan permanen supaya lebih banyak warga yang bisa mengakses buku, dan ada lebih banyak kegiatan. Kami mulai sering ngobrol tentang kemungkinan mengubah supaya perpustakaannya bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak kalangan.
Masalah terbesar di Desa Borobudur adalah warganya kebanyakan petani miskin. Rata-rata kepemilikan lahan mereka sekitar seribu meter persegi. Apabila tanah tadi ditanami palawija seperti ketela, cabai, dan pepaya, pendapatannya belum cukup layak untuk menafkahi sebuah keluarga yang berisi empat atau lima orang.
Masalah tadi, akan terpecahkan jika penduduk memiliki banyak informasi tentang alternatif mata pencahariaan. Mereka mungkin bisa memanfaatkan peluang dari pariwisata jika mendapat banyak info tentang dunia di luar Desa Borobudur. Dan, kami percaya jika menyediakan sebuah sanggar belajar yang berisi buku, internet, dan berbagai kegiatan pelatihan seputar peluang usaha merupakan jawaban dari masalah tadi. Tahun 2012 ini, kami sedang mengupayakan supaya hal tadi terwujud.

Teman-teman bisa membantu kami mempercepat berdirinya sanggar belajar ini. Saat ini, warga Dusun Maitan menyediakan sebuah bangunan untuk diubah menjadi sanggar belajar. Teman-teman bisa membantu mulai dari menyumbang buku anak atau buku pengetahuan umum dan ketrampilan (seperti kesehatan, memasak, dan menjahit). Atau jadi relawan saat ada kegiatan belajar dan bermain. Hubungi saya di email Lrwahyudyanti[at]yahoo.com untuk info lebih lanjut.







Miftahur
/ Januari 8, 2012Mulia sekali Resolusinya Mbak
Memang Ironi melihat kenyataan di Negeri ini…
Namun semua harus diperjuangkan!
Semoga suatu saat aku bisa punya andil dalam kegiatan kemanusiaan semacam ini…
Sukses terus Mbak!
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 9, 2012Amiiinnnn… Makasih doanya. Yuk ikutan bantuin ngumpulin buku?
tatawarna
/ Januari 9, 2012thanks…
atik
/ Januari 9, 2012fi, telat submit ya? logo lomba blog telkomspeedynya jadi ga muncul..
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 9, 2012Telat? Kan deadlinenya tanggal 8? Aku posting kmrin. Jadi pas tu.
kombor
/ Januari 9, 2012Sebuah resolusi yang luar biasa. Semoga bisa segera diwujudkan perpustakaan permanennya. Saya juga sudah lama ingin membuat sebuah perpustakaan untuk warga. Mudah-mudahan saya juga bisa segera menyusul.
Waktu kecil dulu sampai umur lima tahun saya tinggal di Sabrang Rowo. Memang kehidupan warga sekitar Candi Borobudur tidak segemerlap candinya yang terkenal sampai mancanegara.
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 10, 2012Mulai aja Mas, entah kenapa, biasanya bakal ada banyak jalan yang nggak keduga kok. Dulu, aku butuh waktu lama banget buat mulai. Setelah jalan, ternyata nggak sesusah yang dibayangin kok
Joko Sutarto
/ Januari 10, 2012Resolusinya mulia, Mbak. Semoga segera terwujud cita-cita mulianya.
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 14, 2012Aminnn…
Rendi
/ Januari 11, 2012mantap, lekdis……. salut!
tatawarna
/ Januari 12, 2012seep
rahmanu
/ Januari 12, 2012saya juga ikut jadi relawan di Komunitas Anak Ceria (anakceria.mynguan.com) mbak..
ikut berpartisipasi untuk mempersiapkan masa depan anak-anak bangsa memang seru
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 14, 2012Yukkk… Aku seh percaya klo perlu lebih banyak kegiatan pendidikan di Indonesia
Dhenok Habibie
/ Januari 12, 2012dhe juga pernah punya mimpi yang sama mbak, pengen punya taman baca untuk anak2 disini.. resolusi luar biasa mbak, semoga sukses yaaaa.. kapan2 kalo dhe ke borobudur, pasti akan menyempatkan diri melihat perpusatakaan mbak secara lebih dekat..
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 14, 2012Sekarang sih perpustakaannya masih perpustakaan keliling yang nggak tiap hari ada. Moga aja tahun ini dah ada bangunan permanennya.
21inchs
/ Januari 12, 2012Berhati mulia.
loewyi
/ Januari 12, 2012subahanallah…. mulianya mbak….
jadi pengen mampir kesana meskipun hanya sejenak.
semoga cepat terealisasi yach mbak…. insyaallah kalo ada waktu ke jogja saya coba mampir kesana.
walank ergea
/ Januari 12, 2012Setiap tindakan dengan niat yang tulus akan menemukan kemudahan. Semoga bisa saling menguatkan dan menyemangati. Saya jadi kepikiran untuk menyumbang buku neh kalo boleh. Nanti kita bicarakan ya mekanismenya. Siapa tahu buku cerita anak yang saya punya bermakna untuk mutiara Borobudur di Magelanag sana? Sukses dengan kontes telkomspeedy ya, semoga menjadi pemenang….Salam dari Bogor!
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 14, 2012Boleehhh… dengan senang hati diterima. Mau bantuin ngumpulin buku juga boleh. Salam dari Jogja
nug
/ Januari 14, 2012hemm…. skali2 pengen juga ikutan kegiatan semacam ini
Lutfi Retno Wahyudyanti
/ Januari 16, 2012Ayoo… ntar takabari deh kl mo ke sana
loewyi
/ Januari 19, 2012mampir lagi mbak….
salam.