Drama itu Cukup Ada di Sinetron Saja

Saya selalu berusaha sibuk atau keluar kota saat seorang kenalan, sebut saja Bunga ingin bertemu. Bukannya sombong, lama-kelamaan saya bosan mendengarkan tragedi hidupnya. Mulai dari punya pacar playboy tapi dia terlanjur cinta mati, ibu yang hobi mencela apapun tindakannya, juga teman-temannya yang menikam dari belakang. Untuk mendukung ceritanya, tidak jarang Bunga menangis tersedu-sedu. Kalau sedang baik hati, saya jadi pendengar yang baik. Kalau sedang kumat sinisnya, saya hanya berkomentar: “Kamu ke psikolog saja deh”. Ditambah dengan ceramah standar: “Hei, di dunia ini ada lebih dari 7 milyar orang. Banyak yang anggota tubuhnya tidak lengkap atau dibuang orangtuanya tapi tidak secengeng kamu.”

Dan, orang yang saya kenal hobi mengasihani diri sendiri bukan hanya Bunga. Hampir tiap minggu ada kenalan atau teman yang tahu-tahu mengirim pesan tentang kisah sedihnya. Mulai dari aku sakit lo, tadi tidak sempat makan karena terlalu keras bekerja, sampai seorang istri yang masih belum bisa melupakan mantan suami padahal ia sudah menikah lagi. Apa hubungannya dengan saya?

Kata teman saya, ada orang-orang punya kecenderungan menjadi drama queen. Ia kemudian bercerita tentang seseorang yang pernah membuat heboh teman sekantor gara-gara pura-pura buta. Si mbak ini juga pernah beberapa kali meminta teman-temannya datang ke acara ganti agama hanya untuk mendapat perhatian.
Kalau mengutip dari Physyc Central, penyakit ini namanya hisrionic personality. Definisinya begini:
Histrionic personality disorder is characterized by a long-standing pattern of attention seeking behavior and extreme emotionality. Someone with histrionic personality disorder wants to be the center of attention in any group of people, and feel uncomfortable when they are not. While often lively, interesting and sometimes dramatic, they have difficulty when people aren’t focused exclusively on them.
Itu histeria kelas berat yang sudah masuk dalam kategori sakit jiwa. Ada juga histeria ringan yang sering kita temui di sekitar kita. Bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Pengidap histeria ini sering menampilkan dirinya sebagai “korban” atau “ratu”. Entah kenapa, pelakunya lebih banyak perempuan. Mungkin karena perempuan cenderung makhluk sosial yang butuh pengakuan dari orang lain? Balik ke ratu atau raja drama, bukankah tiap hari media sosial kita penuh tukang sampah yang berkeluh kesah. Orang-orang ingin mengabarkan pada dunia kalau dirinya orang paling malang sedunia. Atau orang-orang yang memiliki pencitraan ini lo saya, mahluk keren karena melakukan ini dan itu.
Waktu makan malam dengan teman, kami menganalisis (ini bahasa keren dari merumpi) tentang beberapa kenalan kami yang hobi menjadi pusat perhatian. Ada yang suka menelfon atau meminta pertolongan lawan jenisnya tanpa alasan jelas. Dan, entah kenapa, orang-orang yang kami absen ini populer di komunitasnya atau di dunia maya. Mereka punya kegiatan sosial dan sering mendapat pujian karena hal tadi. Beberapa bahkan pernah mendapat penghargaan untuk aktivitas sosialnya. Yang kalau dilihat lebih dekat, kegiatan sosialnya tidak sehebat koar-koarnya di dunia maya. Saya tidak tahu mereka sadar atau tidak, orang-orang ini suka memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga suka menyenang-nyenangkan orang lain dengan harapan mendapat perhatian.

Kasihan ya Indonesia. Pantas Indonesia tidak maju-maju. Pada sibuk mendapat nama supaya kelihatan keren dan menjadi pusat perhatian. Biasanya, drama queen atau king ini hanya mau membantu saat ia diuntungkan. Ia juga hanya mau mendengar hal-hal yang berkaitan dengan dirinya atau kelompoknya.

Anak Papua

Ada banyak teori mengenai kenapa seseorang punya kepribadian histeria. Kepribadian ini tidak disebabkan oleh hal tunggal. Kemungkinan paling besar perilaku tersebut efek dari perlakuan orangtua atau lingkungan terdekat pada usia belia. Iya, karena kepribadian seseorang terbentuk pada masana kanak-kanaknya. Cara seseorang memperlakukan orang lain merupakan proyeksi dari kekurangan yang ia dapat waktu kecil.
Saya kemudian bercerita ke teman, kalau saya tidak menyukai orang-orang yang kami bicarakan tadi. Mungkin, karena saya terbiasa menjadi satu-satunya perempuan atau menjadi yang paling muda di sebuah komunitas atau organisasi. Sepertinya, saya merasa tersaingi saat ada orang lain menjadi pusat perhatian. Mungkin, saya juga punya bakat histeria.

Rokok itu Candu

Saya cuma tertawa saat Khayat, teman saya, menaruh sebuah pengumuman berwarna hijau di depan saya. Tulisan papan tadi “Boleh merokok” Sepertinya, berdebat dengan seorang perokok adalah salah satu hal yang sia-sia. Rokok sama halnya seperti agama, seperti candu. Orang akan mencari pembenaran untuk terus mengonsumsinya.

Anti rokok
Mungkin, seseorang baru berhenti merokok setelah ada keluarganya menjadi korban atau dokternya memberi ultimatum harus berhenti. Sama seperti ayah dan kakek saya. Ayah baru berhenti merokok setelah asap rokoknya merusak paru-paru saya. Untuk itu, saya harus menjalani perawatan selama setahun. Secara tidak langsung, rokok menyumbang ke buruknya kondisi kesehatan saya saat ini. Konsumsi obat yang berlebihan waktu kecil pernah membuat sistim kekebalan berbalik menyerang tubuh saya. Kakek (Dari pihak ayah) dahulu juga perokok berat. Dia berhenti gara-gara sakit dua puluh tahun lalu. Dan, saat beberapa waktu lalu berkali-kali masuk rumah sakit karena batuk parah, dokternya bilang itu akibat rokoknya dulu. Kakek saya dari pihak ibu juga berhenti merokok setelah terbaring di rumah sakit.

Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa orang-orang mau mengorbankan diri untuk mengonsumsi rokok. Pembelaan paling sering saya dengar adalah kasihan buruh pabrik rokok dan petani tembakau kalau tidak ada yang membeli rokok. Pembelaan yang aneh. Kapan sih buruh pabrik rokok kaya? Bukannya mereka harus bekerja berjam-jam, melakukan suatu hal berulang-ulang tiap hari hanya untuk upah tidak terlalu banyak di atas UMR? Saya tidak yakin mereka bisa menabung atau punya uang pensiun. Bagaimana nanti kalau mereka sudah tidak bekerja? Mereka akan lebih miskin karena sudah terlanjur tidak punya keahlian lain.

Petani tembakau? Tempat bermain saya di sebuah kaki gunung hampir seluruh penduduknya menanam tembakau saat musim kemarau. Petani enggan (juga tidak cukup akses informasi) mencari komoditas lain yang tidak butuh banyak air. Selain itu sudah ada perusahaan rokok yang memberi bibit, pinjaman modal, dan membeli panennya. Apakah mereka kaya? Tidak juga. Masih banyak penduduk desa yang bekerja sebagai buruh migran di negeri orang karena alasan ekonomi. Dan ironisnya, setelah pengeluaran untuk makan dan biaya sekolah, tebak apa pengeluaran bulanan terbesar keluarga petani? Rokok. Yang dikonsumsi rokok yang membeli tembakau mereka.
Kalau memang benar-benar kasihan, kenapa uang yang dipakai untuk membeli rokok tidak ditabung saja lalu diberikan ke petani tembakau supaya mereka punya modal untuk membuka usaha lain? Alasan lain saya tidak tertarik untuk merokok karena saya tidak setuju dengan penjajahan diatas muka bumi. Kecanduan termasuk didalamnya. Apalagi dengan mengonsumsi rokok secara terus-menerus, seseorang memperkaya para pemilik pabrik dan industri rokok.

 

Negeri Dangdut Indonesia

Akhir-akhir ini saya mulai teracuni oleh lagu-lagu dangdut koplo. Ceritanya, tiap kali pergi beramai-ramai dengan teman kantor ke Gunungkidul, mobil penuh dengan lagu seperti Oplosan, Di Reject, Pokoke Goyang, sampai Capek Deh. Saya yang pilih-pilih lagu, biasanya menolak mendengarkan lagu cengeng. Saya percaya perilaku seseorang dibentuk oleh apa yang ia lihat, baca, dan dengar sehari-hari. Nah, berhubung lagu dangdut koplo itu kebanyakan cengeng dan hobi mengasihani diri sendiri, saya tidak pernah menaruh satu pun di playlist saya.

Berhubung tiap minggu lebih dari dua jam saya berulang-ulang lagu yang itu-itu saja, lama kelamaan saya mulai hafal liriknya. Kata bos saya sih, lirik tadi cerminan masyarakat kelas bawah. Hal-hal seperti diduakan, kesepian karena si suami atau istri harus mencari nafkah di luar kota kemudian diselingkuhi, merupakan hal-hal yang lumrah terjadi. Pendengarnya merasa lagu-lagu seperti tadi merupakan cerminan hidupnya.

Ya, di desa-desa Pulau Jawa cerita tadi jamak terjadi. Karena desa tidak memberikan banyak lapangan pekerjaan, penduduk usia kerja harus bekerja di kota-kota terdekat. Tapi kenapa sebagian besar liriknya mengasihani diri sendiri? Kenapa tidak menceritakan betapa seseorang bekerja keras demi keluarga atau karena ia ingin anaknya punya hidup yang lebih baik? Atau, mengasihani diri sendiri mungkin mental sebagian besar masyarakat Indonesia?

Dangdut koploSaya pernah sekali menonton pertunjukan dangdut. Itu pun tidak sengaja. Awalnya, saya dan sepupu saya berniat berenang di sebuah mata air. Kami tidak tahu kalau di sana sedang ada pertunjukkan dangdut. Berhubung kami sudah terlanjur menempuh perjalanan lebih dari 3 jam kami cuek saja berenang di tengah ratusan orang yang sedang bergoyang. Beberapa sambil minum. Di panggung, ada beberapa orang penyanyi bergantian menyanyi. Dandanannya 11-12. Baju sangat ketat dan minim dengan warna norak dan make-up tebal. Kata bos saya lagi, untuk masyarakat kelas bawah, datang ke pertunjukan merupakan obat untuk beban hidupnya. Setidaknya, sejenak mereka lupa kalau punya hutang atau entah besok makan apa.

Setelah menjadi pengamat lirik lagu, saya tertarik dengan lirik “Oplosan”. Dibanding yang lain isinya mendidik. Tentang anjuran untuk berhenti membuang uang untuk mengonsumsi minuman keras. Bukannya kalau ingin menyampaikan sesuatu harus menggunakan cara yang menghibur supaya bisa diterima masyakakat? Sepertinya saya harus mulai mengenali selera masyarakat. Dan saya mulai dengan mulai menikmati lagu dangdut. Baiklah, besok waktu karokean, lagu Roar- Katy Pery akan berubah menjadi di rejectnya Jenita Janet.

Saya Butuh Dokter Bukan Sales Obat

Saya mulai paranoid waktu penglihatan saya kabur selama beberapa hari. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah klinik mata. Di ruang tunggu, saya hampir pulang karena antriannya panjang. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas bertanya dokter mana yang saya pilih. Berhubung benci mengantri, saya mengambil dokter dengan antrian pasien “hanya” 20 orang. Dokter jaga lain pasiennya ada yang sampai 70-an orang.

Saya mulai panik saat melihat pasien-pasien dengan mata diperban keluar-masuk ruang periksa. Bagi saya, mata organ yang sangat berharga. Hampir semua hobi dan pekerjaan yang saya lakukan menggunakan mata. Bagaimana kalau nanti ada apa-apa dengan mata saya?

Di ruang tunggu saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda. Ia bertanya mata saya kenapa. Dan, ceritanya membuat saya bertambah panik. Sejak setahun lalu, matanya terkena virus. Awalnya, pandangannya hanya kabur dan semakin lama semakin tidak jelas. Katanya, sekarang sudah membaik setelah tiap bulan ia berobat. Ia juga bilang, ada tetangganya yang matanya kena virus dan kabur permanen. Saya cuma diam dan shock. Bagaimana kalau nanti saya benar-benar tidak bisa melihat?

Setelah lebih dari tiga jam menunggu bonus hampir kelaparan, nama saya dipanggil juga. Seorang suster mengecek mata kiri dan kanan saya. Dan, saya disuruh menunggu lagi. Tidak terlalu lama, nama saya dipanggil lagi untuk menemui seorang dokter. Saya berjumpa dengan seorang dokter. Dia bertanya apa keluhan saya. Setelah melihat-lihat kedua mata saya, dokter tadi dengan santainya bilang itu hanya mata kering. Bu dokter kemudian menuliskan resep. Ia baru berkata kalau di mata saya ada luka akibat terkena debu yang menyebabkan air di mata saya tidak merata. Kalimat tadi muncul setelah saya tanya. Total ngobrol kami hanya lima menit.

Di kasir, saya harus mengeluarkan 130 ribu rupiah. Coba tebak, isi resepnya apa? Obat tetes mata dan copy resep. Si apoteker berkata kalau kopi resep tadi bisa dipakai saat membeli tetes mata lain. Saya kan bingung. Saya tidak mendapat info sampai kapan saya boleh membeli dan memakai obat tetes mata yang sama? Bukannya obat tetes mata tidak boleh dipakai terus-menerus? Saya juga tidak tahu bagaimana cara mencegah supaya mata saya kering selain dengan menggunakan obat tetes mata.
Ini entah ke berapa kalinya saya kesal dengan dokter. Bukan sekali dua kali, saya bertemu dokter yang memperlakukan pasiennya tidak manusiawi. Maksudnya, kami ke dokter karena kami ingin tahu apa yang salah dengan badan kami. Sepertinya saya berharap terlalu banyak karena sebagian (besar) dokter yang saya temui sekadar menganggap pasiennya sebagai lahan pencari uang. Saat membuat resep, beberapa yang saya temui tidak memberi tahu apa efek samping dari obat. Mereka juga tidak memberi tahu saya jika ada pilihan obat lain dengan komposisi sama dengan harga lebih murah.

Apa bedanya dengan sales obat? Saya ingin dokter yang punya filosofi seperti dr. Tan Shot Yen. Di bukunya “Saya Ingin Sehat dan Sembuh” ia berkata kalau tugas dokter itu bukan mengobati. Tapi ia menjaga supaya pasien tidak sakit dengan cara mengajarkan cara hidup yang sehat.

 

Hari Minggu di Rumah Hebat Indonesia

Minggu kemarin saya pergi ke Solo untuk acara Rumah Hebat Indonesia (RHI). RHI itu semacam komunitas yang berlokasi di daerah Banjarsari, Surakarta. Sejak tahun 2013 lalu, sekumpulan mahasiswa UNS memanfaatkan bangunan yang awalnya kantor Autism Care Indonesia untuk sejumlah kegiatan anak. Ada sekitar 50an relawan yang sebagian besar mahasiswa UNS bergabung di komunitas ini. Tiap sore, mereka bergantian menemani anak-anak SD sampai SMP di sekitar rumah RHI untuk belajar dan punya karya. Kegiatannya mulai dari les pelajaran, Bahasa Inggris, sampai kelas kreatif seperti perkusi, teater, dan melukis. Keren banget.

Rumah Hebat Indonesia

Hari minggu lalu RHI kedatangan tamu dari BEM Unnes dan BEM UNS. Di sela-sela kunjungan tadi, mereka mengadakan sesi berbagi rutin yang namanya Mengejar Inspirasi. Kali ini, ada 3 pembicara yang bercerita tentang kegiatan sosialnya. Saya kebagian menutup acara berbagi tadi. Jujur saja, saya sempat bingung juga mau cerita apa. Ya, saya memang punya banyak kegiatan. Tapi bisa dibilang, dibanding teman-teman di RHI saya nggak terlalu konsisten.

Jadi, saya mulai dengan pengakuan dosa. Saya suka dengan kegiatan seperti mengajak anak-anak membaca. Saya percaya kalau kebiasaan membaca itu harus ditanamkan sejak kecil. Dulu, saya pernah melakukan perpustakaan keliling di beberapa lokasi. Juga membacakan buku buat anak-anak di  sebuah tempat penitipan anak. Berhubung kegiatan-kegiatan tadi membutuhkan banyak konsistensi dan energi. Akhirnya berhenti di tengah jalan.
Aslinya, saya ingin punya sekolah alam. Saya suka banget bikin film dokumenter. Saya ingin di sekolah saya nanti ada film-film buatan saya tentang cara hidup orang-orang di Indonesia. Tapi, saya tidak tahu kapan bisa punya uang, waktu luang, atau cukup pintar untuk mewujudkan hal tadi. Daripada menunggu, lebih baik saya melakukan sesuatu yang saya bisa dulu. Salah satunya lewat menulis di blog.

Saya menulis karena saya peduli. Banyak orang di sekeliling saya terlalu sibuk membayar tagihan. Kadang mereka lupa hal yang mereka lakukan merugikan orang lain. Terlalu banyak orang bependapat seharusnya pemerintah ini dan itu. Sampai kapan kita akan menunggu pemerintah memperbaiki segalanya? Bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu? Tiap orang punya cara masing-masing. Kita hanya perlu lebih banyak menggunakan otak dan peduli.

Agama Penyebar Kebencian

Pagi-pagi saya hanya mengelus dada sewaktu membaca pesan dari sepupu saya. Isinya begini:
“Ya Allah, Islam punah di Jayapura :( Marilah kita berdoa bersama-sama agar kita semua selalu dalam limpahan rahmat dan hidayatnya…..”

Pesan tersebut masih panjang. Intinya Pemda Manokwari (yang bikin sepertinya buta peta karena dia bilang Jayapura) menetapkan Manokwari sebagai Kota Injil. Akibatnya ada pelarangan jilbab, adzan, juga pembangunan masjid. selanjutnya, ajakan itu meminta supaya pesan tadi disebarkan ke sebanyak mungkin muslim. Ini bukan sekali dua kali, para sepupu saya mengirimkan pesan sejenis. Intinya, umat agama lain (nasrani) memusuhi Islam. Kita harus bela agama kita.
Saya kemudian bertanya, apakah sepupu saya pernah baca draf perdanya secara utuh? Setelah sepupu saya bilang belum, saya berkata jangan asal meneruskan pesan. Dulu di Ambon orang bunuh-bunuhan gara-gara ada gosip kalau masjid dibakar. Masjid Ambon

Kadang saya sering sedih dan malu. Islam agama yang mengajarkan kebaikan dikotori oleh umatnya yang menyebar kebencian. Sebenarnya bukan hanya Islam. Saya juga kenal beberapa teman nasrani yang status atau tweet di media sosialnya penuh dengan cerita tentang orang-orang Islam yang membenci penganut lain.

Lalu, apakah manusia yang tidak menganut agama formal bukan penyebar kebencian? Belum tentu. Saya kenal banyak orang yang membenci dengan agama karena mereka beranggapan agama itu penyebab banyak orang berperang. Berkali-kali saya katakan, bukan agama yang membuat orang berlaku buruk ke penganut agama lain, tapi ego manusia. Mereka mendapat pembenaran jika agamanya (dengan demikian dirinya)yang paling baik. Orang-orang sombonglah yang berlaku demikian. Pembenci agama juga sama sombongnya karena ia beranggapan dirinya lebih baik daripada umat beragama.

Saya lebih salut dengan orang-orang yang menolong orang lain tanpa memandang apa agama mereka. Orang-orang yang berusaha membuat lingkungannya menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali karena percaya Tuhan memerintahkan tiap manusia untuk berbuat kebaikan. Dan hal baik tidak diajarkan dengan kebencian. Seseorang yang terlalu sibuk untuk membenci tidak akan punya waktu untuk melakukan kebaikan.

Lagi-lagi saya terlalu menyederhanakan agama. Sebagai seorang muslim, saya percaya Islam menyuruh umatnya untuk lebih cerdas. Ayat Al-Quran yang turun pertama kali berbunyi: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Meminjam tafsiran dari Harun Yahya, ayat ini memerintahkan manusia untuk banyak belajar. Membaca alam dan isinya. Tugas manusia menjadi pemimpin di muka bumi. Ia harus cerdas dan memahami hukum alam supaya tindakannya membuat bumi menjadi tempat yang lebih nyaman dihuni.

Musuh Islam itu bukan penganut agama lain. Musuh Islam itu kebodohan dan kemiskinan (akibat kebodohan). Seringkali saya melihat orang-orang di sekitar saya punya agama tapi tidak punya Tuhan. Membaca syahadat, salat lima waktu, dan selalu bercita-cita untuk naik haji tapi suka berbohong, mengambil sesuatu yang bukan haknya, paling parah: bodoh. Sudahkah kau beragama dengan baik? Maksudnya, apa yang kau lakukan untuk orang lain dan bumi? Mungkin tidak sempat karena terlalu sibuk menghakimi orang lain.

Cerita Kopi Ulubelu

Kami hore-hore bisa sampai ke Sekretariat Bersama Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan selamat. Untuk sebagian rombongan yang pertama kali ke hutan di PegununganUlu Belu, Tanggamus, Lampung, perjalanan sebelumnya terlalu mengerikan. Kami butuh waktu lebih dari dua jam hanya untuk menempuh perjalanan 9 kilometer. Jalan setapak yang kami kadang hanya berupa parit yang lebarnya kurang dari satu meter. Di boncengan tukang ojek, saya hanya bisa berdoa semoga kaki saya tidak terbentur batu. Atau tidak terjatuh di jurang yang ada di kanan jalan. Gunung, hutan, dan kebun kopi di kiri dan kanan kami sebenarnya indah, tapi saya terlalu panik untuk menikmatinya. Berkali-kali, wartawan dan rombongan tamu memilih untuk turun dari boncengan dan berjalan kaki. Meski para tukang ojek berkata “Percaya saja sama kami” para penumpang kadang masih jalan kaki.

Sesampainya di lokasi, saya langsung membersihkan badan. Tangan dan kaki saya penuh dengan memar dan baret gara-gara terpeleset.  Tiba-tiba saya sangat bersyukur. Bagi saya, perjalanan ini hanya permainan. Beda dengan ratusan petani hutan yang mengelola 499,63 hektar hutan lindung di Pegunungan Ulubelu, Tanggamus. Mereka sehari-harinya harus melalui jalan tersebut (bahkan lebih jauh lagi) untuk mencari nafkah.

Pak Amin, ketua kelompok Sumber Rejeki membuka dengan ucapan selamat datang. Ia kemudian bercerita tentang Gapoktan Sumber Rejeki yang berdiri tahun 1999. Tahun 2007, kelompok tani  yang beranggota 365 orang ini mendapat ijin pengelolaan selama 35 tahun yang bisa diperpanjang.

Sebelum ada ijin, anggota kelompok mengelola hutan dengan asal-asalan. Mereka enggan menginvestasikan waktu dan uangnya karena tidak yakin bisa memperoleh hasilnya. Sebelum mendapat ijin pengelolaan sementara tahun 2000, para petani hutan tersebut harus kucing-kucingan dengan aparatur negara. Mereka kerapkali diusir dengan kekerasan. Di sisi lain, hutan tidak terawat dan banyak ditumbuhi alang-alang yang mudah terbakar.

Semenjak ada program HKm, kesejahteraan petani hutan meningkat. Satu hektar lahan kira-kira bisa menghasilkan antara satu hingga satu setengah ton kopi. Komoditas yang dipanen antara bulan Maret hingga Agustus tersebut dijual dengan harga 16.000 hingga 23.000 per kilogram. “Salah satu pertanda kami sejahtera itu terlihat dari kemampuan para petani menyekolahkan anak. Dulu, sebelum ada ijin, kami ragu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Jangan-jangan nanti tanaman yang kita urus tahun depan sudah tidak bisa dipanen. Bagaimana kalau anak terlanjur sekolah, apa bisa bayar biayanya? Sekarang, banyak yang menyekolahkan anak sampai kuliah. Beda dengan dulu yang mau beli beras saja kesulitan,” tutur seorang petani hutan yang menemui kami.

Di tengah-tengah petani yang bercerita peningkatan pendapatan setelah mereka mengelola hutan, seorang peserta dari Kesatuan Pengelola Hutan Lindung “protes”. Menurutnya, petani salah karena menjadikan hutan lindung sebagai perkebunan kopi. Ia berpendapat petani harus ikut aturan dimana dalam satu hektar lahan harus ada 400 batang tanaman kayu. Sepertinya ada yang aneh! Setahu saya, tugas KPHL itu merencanakan hingga menjalankan pengelolaan hutan. Bukankah seharusnya mereka melakukan susuatu supaya kondisi hutan membaik? Pernah petugas yang protes tadi membantu para petani yang buta hukum dan mungkin miskin akses informasi? Petani-petani tadi taunya cuma menanam dan memanen pohon kopi untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kalau nggak dikasih contoh (juga bibit), jangan berharap banyak deh.

Kalau mengutip kata Irfan Bachtiar, konsultan kehutanan,  fungsi hutan lindung itu sebagai penyangga tata air dan kesuburan tanah. Selama kopi atau tanaman lain yang ada masih bisa mengikat air, itu tidak jadi masalah. Menurut Swari Utami Dewi, kopi jauh lebih baik daripada hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Lalu, pemberian hak kelola hutan pada masyarakat itu mengurangi konflik atas tanah.

Ok, tanaman monokultur memang tidak baik untuk kesuburan tanah. Kalau mengikuti pasal 33, pemerintah (di sini Departemen Kehutanan) wajib membantu petani-petani bagaimana cara mengelola lahan dengan baik. Termasuk didalamnya memberikan bantuan bibit tanaman keras.
Saya lebih salut dengan upaya pihak swasta mitra para petani HKm Sumber Rejeki. Salah satunya PT Ulubelu Cofco Abadi. Perusahaan exportir kopi milik pasangan suami istri Rinaldi Hartono dan Elmira Tjahja. Sehari setelah melihat Pegunungan Ulu Belu, saya mampir ke warung kopi mereka. Saya bertemu dengan Bu Elmira yang menceritakan awal mula usaha mereka. Tahun 2009, mereka yang tadinya tinggal di Amerika pulang untuk mengurus orangtuanya. Mereka kemudian mulai berbisnis kopi pada tahun 2010.

Keduanya merupakan keturunan pedagang kopi dari Talang Padang. Bedanya, kakek nenek keduanya sekadar pengumpul kopi yang kemudian menjualnya. Sejak keduanya memutuskan untuk serius di bidang perkopian, mereka berusaha untuk mendapat sertifikat 4C (Common Code for Coffee Community) supaya kopinya diakui secara internasional. Untuk itu, kopi mereka harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran kopi-nya. Salah satu alasan mereka tertarik berbisnis kopi adalah rasa miris karena kopi Lampung yang robusta tidak dianggap di percaturan kopi internasional yang memuja kopi jenis arabika. Selain itu, kopi Indonesia dianggap bermutu buruk. Karenanya harga kopi dari Indonesia lebih rendah dari kopi dari negara lain. Dan lebih menyedihkan lagi, perdagangan kopi di Lampung dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Suami-istri ini menerapkan prinsip kewirausahaan sosial dalam berbisnis. Untuk mengajarkan kepada petani cara menanam kopi yang baik, mereka bermitra dengan Universitas Lampung. Perusahaan ini mulai tahun 2012 mulai melakukan penanaman kayu keras seperti medang, suriah, cempaka, mimbri, durian, mangga, pala, hingga pete di hutan yang dikelola petani mitranya. Mereka percaya jika pola penanaman monokultur ke depannya akan merusak kualitas dan kuantitas kopi.

Baru tahun lalu perusahaan Ulu Belu mengemas kopi untuk dijual dalam bentuk bubuk. Sebelum mengemas produk tersebut, mereka mencari cara supaya kopi bisa tahan lama tanpa memasukkan pengawet kimia ke dalamnya.  Saya sempat bertanya, perdagangan kopi yang mereka lakukan butuh investasi waktu dan uang bertahun-tahun. Bisa dibilang, mereka awalnya tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berlanjut. Saya suka dengan jawaban, ibu Elmira, si pemiliknya ” Kalau kita ingin berbuat baik, sejahat-jahatnya orang masih ada Tuhan yang jaga.”

Waktu Bu Elmira bercerita tentang produknya yang hanya berisi kopi murni tanpa bahan kimia atau gula, saya jadi ingat pertanyan teman yang berasal dari Australia beberapa tahun lalu. Ia heran kenapa Indonesia yang negara penghasil kopi nomer empat dunia, penduduknya mengkonsumsi kopi instan. Begini saudara-saudara, kopi adalah komoditas mahal. Kopi-kopi dengan mutu bagus tidak beredar luas di pasaran karena mahal. Kebanyakan kopi lokal sudah dicampur dengan jagung, beras, atau, mentega. Belum lagi perusahaan lokal tidak memiliki distribusi dan modal yang bagus.

Oh iya, ini video yang saya ambil waktu ke Pegunungan Ulu Belu untuk gambaran seperti apa medannya.