Belajar Menyenangkan di Sekolah Alam Anak Sholeh

Kadang saya berpikir jika sekolah itu tempat anak-anak dihukum. Mereka dipaksa berjam-jam duduk manis dan dijejali berbagai macam hal yang entah apa gunanya. Tapi, bayangan tersebut tidak saya temui di Sekolah Alam Anak Sholeh di Tarumajaya, Bekasi. Hal pertama yang membuat saya tertarik, murid-murid di sekolah ini tidak memakai seragam. Mereka bebas menggunakan baju yang menurut mereka nyaman. Saya bahkan melihat anak-anak bersekolah dengan sandal sebagai alas kaki. Sesuatu yang tidak sopan bagi sekolah biasa.

Sekolah yang sudah 8 tahun berdiri ini terletak di bantaran sungai Alam, Bekasi. Sekarang, ada 120 murid yang belajar di sana. Rata-rata orang tua murid berlatar belakang sama: pekerja serabutan. Mereka mencari nafkah sebagai pemulung, kuli bangunan, dan buruh cuci. Saya sempat ngobrol dengan Ngapilah, seorang ibu beranak delapan. Tiga orang anaknya pernah dan sedang bersekolah di sini. Ia menginginkan anaknya pintar dan kelak punya hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Di sekolah yang tidak memungut biaya ini, ia punya harapan hal tersebut bisa terwujud.

Sampai saat ini, Sekolah Alam hanya memiliki dua ruang kelas untuk 8 kelas SD dan TK. Mereka menyekat ruangan kelas dan sebagian murid belajar di teras. Hal tersebut menjadi salah satu sebab ijin operasional sekolah alam belum turun. Mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah. Untuk itu, tiap kali ujian, sekolah tadi masih menginduk di MI At Takwa.

Awalnya, sekolah alam mirip sanggar belajar yang lokasinya berpindah. Mereka menggunakan rumah-rumah donatur untuk belajar. Hingga akhirnya mendapat gedung bantuan dari program PNPM. Saat ini, sekolah alam mengandalkan donasi untuk biaya membayar 9 orang guru.
Saya datang ke sekolah tadi untuk mendongeng dan mengajak anak-anak SD di sana membaca buku. Di tengah-tengah kegiatan tadi, saya ngobrol dengan beberapa murid. Mereka bercerita kalau mereka merasa sayang jika membolos. Kata mereka, guru-guru di sana menyenangkan dan teman-temannya baik.

Pak Agustian, seorang pengelola sekolah, berkata kalau sekolah ini tidak memaksa muridnya dengan kurikulum yang terlalu berat. Mereka mengajak murid-muridnya belajar matematika, fisika, kimia, dan seni dengan menyenangkan. Pelajaran-pelajaran tersebut lebih banyak menggunakan praktek dalam penyampaiannya. Salah satunya, belajar tentang pencahayaan dan jarak melalui kamera lubang jarum.

Sekolah ini tidak mengejar Ujian Nasional sebagai standar pintar atau tidaknya murid. Tapi, mereka masih mengajarkan hal-hal di sekolah umum karena masih menggunakan UN sebagai syarat kelulusan. Seorang relawan bernama Erza dengan bangga bercerita kalau ujian kelulusan kemarin, nilai rata-rata anak lebih tinggi dari sekolah induk.

Saya masih ingin datang ke sekolah tadi untuk tahu lebih jauh tentang cara belajar dan pengelolaan sekolah. Sepertinya, akan lebih bermanfaat jika saya kembali ke sana sambil membawa lebih banyak buku-buku lain. Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan dan murid-muridnya antusias dengan buku. Ada yang mau membantu saya mendapatkan buku lagi?

Ibadah di Pusat Perbelanjaan

Tiap bulan puasa, ada hal yang pasti: harga sembako naik. Artinya, bulan ini orang lebih banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari. Orang-orang di sekitar saya tiap bulan puasa cenderung lebih banyak memasak.  Ada tambahan makanan seperti es buah atau makanan manis saat berbuka. Selain itu mereka juga mengonsumsi lebih banyak daging. Aneh, bukankah katanya puasa itu meminta untuk menahan hawa nafsu? Iya, selama siang (sebagian besar umat Islam) menahan lapar dan kadang marah. Tapi setelah berbuka kemudian menjadi kesempatan untuk berpesta. Kenapa? Apa karena bulan puasa hanya satu bulan dalam setahun?

Belanja bajuDi bulan ini juga, pusat perbelanjaan lebih banyak dikunjungi orang. Perhatikan saja penuhnya tempat parkir dan antrian memanjang di kasir. Apalagi mendekati lebaran. Berbagai pusat perbelanjaan meminta masyarakat untuk membuang uangnya. Mereka menawarkan berbagai diskon. Yang diserbu masyarakat dengan pikiran kapan lagi bisa punya barang bagus. Padahal, mana ada toko yang mau rugi? Tetap saja mereka masih untung.

Justru pembelanja yang rugi karena membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Entah kenapa, ada semacam keharusan untuk membeli baju baru saat lebaran. Untung saya beberapa tahun terakhir ini tidak latah berbelanja. Saya sedang berusaha untuk membedakan antara butuh dan ingin.Tapi tetap saja saya tidak bisa menghindar dari menyuguhkan terlalu banyak makanan saat hari raya. Beberapa kerabat membelikan makanan ringan yang selalu tidak pernah habis hingga beberapa bulan setelah lebaran.

Hari raya merupakan saat bertemu keluarga dan kerabat jauh. Ironisnya, saat itu menjadi ajang menunjukkan harta milik. Pernahkah anda memperhatikan, saat bulan puasa, toko emas lebih ramai? Ada yang memakai perhiasan saat lebaran dan menjualnya kembali setelah usai. Apakah ini kemenangan? Bahkan ada pula yang membeli mobil baru untuk lebaran.

Yuk mulai kurangi hal yang tidak perlu. Bumi tidak bertambah luas. Barang-barang yang tidak terpakai dan sisa tadi akan menjadi sampah. Kita berbuat baik pada bumi saat hanya mengambil secukupnya saja.

Indonesia dalam buku “Ring of Fire”

Membaca Ring of Fire yang ditulis Lawrance dan Lorne Blair lagi-lagi membuat saya iri. Sepertinya, buku-buku bagus tentang Indonesia yang saya temui kebanyakan disusun oleh orang asing. Salah satunya, buku ini. Jurnal tersebut merupakan rangkuman dari 9 perjalanan di Indonesia yang mereka lakukan selama sepuluh tahun. Awalnya, Blair bersaudara memulai perjalanan untuk memfilmkan burung cendrawasih kuning besar.
Tahun 1971 Indonesia merupakan kepulauan yang tidak begitu terdengar di Barat. Keduanya ingin memfilmkan suku-suku yang jarang melakukan kontak dengan orang luar. Dulu, para pembuat peta jarang menampilkan kepulauan ini secara utuh.

Snorkling di Maluku
Kedua bersaudara tersebut memulai perjalanannya di Sulawesi Selatan. Saat menunggu kapal pinisi yang berlayar ke Aru, mereka singgah di Toraja. Blair bersaudara mengikuti pemakaman mahal seorang raja. Mereka sempat memfilmkan emas dan harta karun yang ikut dikubur di tau-tau bersama raja-raja terdahulu.
Blair bersaudara butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan pinisi ke Aru. Jarang ada yang pergi ke sana sembari membawa banyak muatan. Keduanya akhirnya menemukan seorang saudagar Tionghoa yang setuju mengirim barang dagangan ke Aru. Akhirnya, mereka berlayar selama 9 bulan bersama 16 pelaut Bugis yang sebagian besar belum pernah ke Aru. Di tengah perjalanan dengan jaraknya 4000 kilometer, mereka hampir dirampok oleh awak kapalnya sendiri.
Sebelum melakukan perjalan tersebut, Blair bersaudara membaca perjalanan Alfred Russel Wallace di kepulauan rempah-rempah. Sepertinya mereka kagum pada Wallace hingga berkali-kali mengutip bukunya. Salah satu hal yang mendorong keduanya nekad berlayar dengan pinisi karena mereka penasaran dengan kehebatan para pelaut bugis. Pelaut bugis di masa lampau terkenal karena membuat perahu-perahu besar hanya dengan senjata parang.
Cerita kemudian beralih ke ekpedisi Lorne Blair di Asmat. Ia penasaran tentang nasib Michael Rockefeller yang hilang di pada tahun 1961. Putra mantan wakil presiden Amerika tersebut sampai kini tidak jelas jenasahnya di mana. Michael pergi ke Papua dalam rangka mengumpulkan tiang-tiang ukir yang dipakai suku Asmat. Ia kemudian menghilang di sungai. Lorne menemukan beberapa cerita kalau Michael dibunuh. Ia menjadi pengganti nyawa penduduk lokal yang terbunuh oleh orang kulit putih.
Selama proses pembuatan film dokumenternya, Lorne berkali-kali berpikir akan dibunuh tuan rumahnya. Tapi ia juga menikmati hidup di dunia yang berbeda dengan tempat asalnya. Ia bahkan telanjang bulat untuk berbaur dengan penduduk asli. Tiap hari Lorne makan sagu, ikan, kerang, biawak, babi hutan, ulat, dan marsupialia pohon yang langka. Ia bahkan mengikuti upacara aneh karena diangkat anak oleh seorang penduduk lokal.
Ekspedisi selanjutnya berpindah ke Pulau Komodo. Lawrence beberapa kali mengunjungi pulau tempat kadal raksasa tersebut bersama Kapal Lindblad Explorer. Ekspedisi tersebut merupakan kapal mewah dengan laboratorium dan perpustakaan. Didalamnya penuh makanan dan anggur terbaik. Berbagai ahli dipekerjakan untuk memenuhi keingintahuan para bangsawan atau pengusaha kaya yang menjadi penumpangnya. Semenjak banyak turis ingin melihat komodo di habitat asalnya, hewan tersebut berubah. Komodo yang tadinya mahluk pemburu soliter menjadi mahluk pemalas. Mereka kemudian hidup bergerombol sembari menunggu makanan yang akan diantarkan oleh para penonton.
Petualangan kemudian berlanjut di Pulau Sumba. Di sana Blair bersaudara mengejar tarian perang dan penguburan raja. Perjalanan kemudian berpindah saat keduanya menjelajahi Kalimantan untuk menemukan Suku Punan yang masih hidup mengembara. Mereka ditemani oleh Suku Punan yang sudah menetap dan mencari nafkah dari berdagang cula badak. Saat itu Kalimantan merupakan pulau yang blum terjelajahi bagian tengahnya. Banyak yang tidak tahu ada apa di sana.
Saya menyukai buku tersebut meski keduanya beranggapan Indonesia adalah negeri dunia ketiga yang liar. Blair bersaudara memiliki romantisme jika di pedalaman Indonesia waktu berhenti berputar. Tanpa sadar mereka berkali-kali menyatakan jika Indonesia adalah negeri penuh dukun dan penyihir. Suku-suku pengayau dengan ritual berdarah-darah masih ada di sini. Saya masih belum melihat tentang keseharian orang-orang biasa yang mereka temui.
Satu hal yang saya setujui dari mereka: Indonesia sangat minim dalam dokumentasi terutama film. Sampai saat ini. Bisa bantu saya untuk mulai mendokumentasikan Indonesia? Klik like di link ini supaya saya bisa keliling Sumba. Rencananya, saya ingin membuat video diary tentang perjalanan tersebut dan orang-orang biasa yang saya temui. Nanti, tulisan perjalanannya juga bisa dilihat blog perjalanan saya kotak permen.
Hingga selesai membaca buku tadi, saya masih iri dengan mereka yang bisa menjelajahi negeri tempat saya lahir dan besar ini. Beberapa tempat yang didatangi kedua bersaudara tadi juga pernah saya datangi. Sayang, saya hanya memiliki waktu dan dana yang terbatas untuk setiap kunjungan. Setidaknya semakin banyak saya mengunjungi pelosok Indonesia, ada banyak hal yang saya pelajari. Saya semakin tahu kalau negeri ini kaya alam dan budayanya. Sayang banyak manusianya yang tidak mau bersusah payah untuk mengelola kekayaan tadi. Lebih menyedihkan lagi, ada banyak orang pintar yang saya temui memilih untuk memperkaya dirinya sendiri. Juga banyak perusahaan yang mengeruk kekayaan tanpa memikirkan masyarakat dan lingkungan.

Hal Sepele Bernama Menyampah

Saat lewat jalan raya ke arah Gunungkidul, saya dan teman melihat seorang pemulung sedang memungut sampah yang sebagian besar plastik bertebaran di pinggir jalan. Teman saya lalu memaki-maki pembuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak berpikir kalau menambah pekerjaan petugas kebersihan? Saya melihat ke luar jendela, sepertinya semakin banyak tumpukan sampah di pinggir Hutan Bunder. Seingat saya, sebelum tahun 2005, tumpukan sampah tidak sepanjang itu. Volume sampah sebanding dengan kenaikan kunjungan wisatawan ke Gunungkidul.

Sampah di Muncar, BanyuwangiSaya teringat saat mendaki gunung beberapa tahun lalu. Kami tidak yakin dengan jalur yang kami ambil. Saat melihat sisa bungkus makanan di jalan setapak, teman saya bilang kami ada di jalur yang benar. Sampah artinya jalur ini sering dilalui. Aneh bukan? Katanya pendaki gunung itu pecinta alam? Kok (banyak yang) menyampah seenaknya? Bukankah sampah membuat pemandangan tidak enak dilihat?

Apa susahnya membuang sampah di tempat sampah? Alasan yang paling banyak saya dengar adalah: tidak ada tempat sampah. Apakah menyimpan sebentar lalu membuangnya jika menemukan tempat sampah itu susah?
Mungkin membuang sampah pada tempatnya kedengarannya sepele. Tapi hal kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang bisa merugikan. Saya pernah beberapa kali melihat orang dengan entengnya membuang sampah di sungai. Bayangkan jika puluhan orang melakukan hal yang sama tiap hari? Bukankah sungai akan tersumbat dan membuat banjir? Di rumah-rumah panggung saat ke Kalimantan Selatan dan Muncar, saya melihat penduduk tiap hari membuang sampah di bawah rumahnya. Apa penghuni rumah tidak terganggu dengan bau sampah yang membusuk? Apa mereka tidak berpikir kotoran tadi menimbulkan penyakit?

Membuang sampah sembarangan bukan monopoli orang yang tidak berpendidikan. Seorang kenalan bercerita tentang seorang pengajar yang membuang plastik bungkus makanan di jalan. Padahal ibu tadi dosen universitas terkenal yang S3nya di luar negeri. Apa dia tidak berpikir kalau selain mengotori, sampah plastik juga butuh ratusan tahun diurai tanah?

Jangankan sembarangan, dibuang di tempat sampah saja plastik yang menumpuk menimbulkan masih masalah. Plastik butuh ratusan tahun untuk diurai. Selama ini, masih banyak orang yang belanja di supermarket dan boros kantong plastik. Rata-rata, kantong plastik tadi langsung dibuang begitu sampai di rumah. Seringkali, kantong plastik hanya dipakai untuk membungkus satu barang kecil. Bisakah teman-teman mulai mengurangi sampah dari membawa kantong sendiri? Kalau pun terpaksa menggunakan kantong plastik, simpan dan gunakan berkali-kali. Dan kembali lagi ke membuang sampah pada tempatnya. Sepertinya itu kebiasaan yang perlu ditanamkan sejak kecil.

Bisnis Separuh Hati

Suatu malam, saya diajak Diar–teman saya–untuk makan nasi kepal. Iseng saja kami bertanya ke penjualnya, jumlah kepal nasi yang bisa dia jual dalam sehari. Tebak berapa? 200 kepal. Kami kemudian menghitung keuntungan bersih yang ia dapat. Harga per kepal nasi tadi 3.500. Setelah dikurangi perkiraan biaya sewa tempat, bayar pegawai, dan bahan, pemiliknya tiap bulan bisa untung lebih dari 10 juta. Itu belum termasuk laba dari penjualan produk lain seperti kripik dan produk lain. Angka yang sangat besar untuk sebuah gerobak makan yang berjualan di emperan toko. Saya dan Diar langsung berpandang-pandangan. Angka tadi lebih dari pendapatan kami per bulan.

pedagang pasar
Mungkin kami hanya melihat manisnya keuntungan yang didapat pemilik gerobak tadi. Kami tidak sempat bertanya bagaimana dulu dia berdarah-darah memulai bisnisnya. Bisa jadi awalnya dia harus puluhan kali mencoba untuk mengemas produknya. Juga berkali-kali menciptakan susunan bumbu yang tepat. Mungkin awalnya ia sempat dicibir karena tidak menggunakan gelar sarjananya untuk bekerja. Tidak semua orang bisa melalui hal tersebut. Saya kenal banyak orang yang pernah mencoba hal serupa tapi mereka memilih berhenti.
Diar kemudian mengingat-ingat keinginannya berbisnis sejak dulu. Dulu ia pernah bermimpi punya tower bernama Diar Tower juga membuat perusahaan dengan nama IndoDiar. Seingat saya sejak SMA, dia berkali-kali ganti barang dagangan. Pernah dulu ia tertarik berjualan cabai. Dengan sepupu dan temannya, mereka menyewa lahan. Belum ada setahun mereka berhenti karena harga cabai jatuh.

Saya pun tidak jauh beda. Waktu SD saya pernah menjual es dan menyewakan buku. Waktu SMP pernah berjualan kartu nama. Semua tetangga dan teman saya tawari. Sampai beberapa teman punya kartu nama dengan jenis sama karena saya bujuk untuk memesan. Sepertinya semakin dewasa, saya malas mencoba mulai berdagang. Pernah sekali. Itu karena terpaksa. Dulu saya pernah menghadiahi diri saya sebuah novel. Untuk mencetak ribuan eksemplar, saya harus mencicil 3 juta per bulan. Berhubung saya tidak mau membayar cicilan tadi dari gaji bulanan. Mau tak mau saya harus menjual buku-buku tadi.

Akhir-akhir ini saya kembali berpikir untuk berbisnis. Semakin banyak bertemu dengan orang, saya mulai berpikir salah satu cara untuk menolong orang adalah dengan memberinya pekerjaan. Saat seseorang bekerja pada kita, akan lebih mudah untuk mengajarnya melakukan sesuatu. Sepertinya, saya harus mulai secara serius memulai bisnis sekarang juga.

 

Perpustakaan di tengah-tengah Lapangan Denggung

Minggu lalu, saya, Bayu dan Atri nongkrong setengah hari di Lapangan Denggung, Sleman, Yogyakarta. Kami menggelar perpustakaan keliling. Biasanya, tiap minggu ada Mas Adi dan Mbak Heny dari Taman Bacaan Mata Aksara yang membuka perpustakaan keliling di lapangan ini. Kami cuma jadi tim hore yang sekadar meramaikan. Berhubung beberapa minggu berturut-turut keduanya ada acara lain, perpustakaannya sempat absen.

Karena merasa sayang kalau kegiatan perpustakaan keliling absen terlalu lama, kami menawarkan diri menggantikan. Minggu sekitar jam delapan, kami bertiga sudah sampai di Mata Aksara. Awalnya, kami ingin membawa motor perpustakaannya. Berhubung Bayu sempat menabrak tong sampah saat mencoba mengendarainya, kami memutuskan tidak membawa motor ini.

Motor Perpustakaan Keliling
Saat pertama kami menggelar karpet dan buku-buku, pengunjung masih enggan berkunjung. Kami sempat disangka tukang jualan buku. Untuk mengisi waktu, kami membuat kopi. Kami memang sengaja membawa kopor untuk merebus air. Kebetulan saya hobi membeli kopi-kopi lokal saat pergi ke luar kota. Lama-lama, banyak anak kecil datang untuk membaca buku ditemani orangtuanya. Karpet yang kami bawa mirip seperti penitipan anak.
Kegiatan ini ada tiap minggu pagi dari sekitar pukul 9 sampai selepas Dhuhur. Silahkan kalau mau datang ke Lapangan Denggung untuk membaca-baca buku. Tempatnya teduh dan menyenangkan untuk duduk-duduk. Biasanya, kalau motor perpustakaan bisa dibawa, ada ratusan buku yang bisa dibaca. Mulai dari komik, novel, buku tentang berkebun, sampai kesehatan ada di sini. Mbak Heny dan Mas Adi juga sering membawakan buku yang dipesan pembaca. Buku-buku tadi merupakan koleksi Taman Bacaan Mata Aksara yang jumlahnya sekitar 4000 buku. Biasanya kalau ada motor perpustakaan, anak-anak juga bisa bermain atau menggambar dan mewarnai. Semuanya tidak dipungut biaya.

Perpustakaan Keliling di Lapangan Denggung, SlemanSupaya kegiatan ini tetap berlangsung tiap minggu, adakah yang tertarik menjadi relawan? Bergantian menunggui buku-buku ini tiap minggu pagi? Bisa juga nanti kita mulai mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan mengajak orang lain untuk lebih menyukai membaca. Seperti diskusi misalnya? Silahkan datang langsung tiap minggu pagi atau hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com dan Mbak Heny di henywardaturrohmah[at]yahoo.com

Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia

Sabtu, 7 Juni lalu Goodreads Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Ada sekitar 50an penggemar buku dari beberapa kota ikut jadi tim hore di acara bertajuk “Jelajah Semarang dalam kenangan”. Sekitar jam delapan, trotoar di depan Balaikota Semarang sudah ramai oleh mahluk-mahluk berisik. Yang dari Semarang memakai kaus warna kuning ngejreng. Ada juga pemilik kaus pink dan ungu. Lalu, para anggota senior Goodreads Indonesia dengan kaos warna merah yang tidak kalah mencolok saat foto bareng. Sebenarnya, Goodreads Jogja juga punya kaos. Tapi saya tidak memakainya karena sudah jadi baju tidur :D Sambil menunggu yang lain datang, kami makan coklat yang dibawa oleh Ibutio dari Bandung. Enak lo pudingnya. Apalagi gratisan.

Rombongan kemudian berangkat ke kelenteng Tay Kak Sie dengan dua mobil dan satu bus. Waktu kami sampai di Gang Lombok, Pecinan, Mas Pra mulai cerita tentang sejarah kelenteng tadi. Sepertinya kami cuma mendengarkan kalau bangunan tadi dibangun tahun 1746. Setelahnya kami terlalu sibuk menyebar untuk foto-foto.

Kelenteng Tay Kak Sie SemarangIya, warna merah menyala yang mendominasi kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik untuk difoto atau sebagai latar foto narsis :P Di kawasan pecinan sebenarnya ada puluhan kelenteng. Tapi kelenteng Tay Kak Sie yang paling banyak didatangi orang karena letaknya strategis dan punya paling banyak dewa. Kelenteng yang awalnya didirikan untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih ini memiliki 33 dewa.
Beberapa teman tidak tega saat melihat puluhan burung kecil dalam kurungan di depan pintu kelenteng. Kami melepas beberapa ekor karena kasihan. Cukup dengan membayar 1.500 rupian per ekor. Penganut Kong Hu chu percaya kalau melepaskan burung yang dikurung itu akan mendatangkan karma baik. Beberapa bahkan bilang kalau hal tersebut bisa dilakukan sambil mengucapkan permohonan.

Meskipun katanya acara jalan-jalan, kami naik bus lagi ke tujuan kedua. Lokasinya di Gg Cilik yang masih kawasan pecinan juga. Kiri kanan jalan yang kami lalui masih banyak rumah dua lantai yang dibangun sekitar tahun 1700 an. Dulu, orang-orang Tionghoa di Semarang dipindahkan ke daerah ini setelah ada pembrontakan Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Kami pergi ke tempat pembuat rumah arwah. Itu rumah-rumahan yang terbuat dari kertas. Yang nanti dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya almarhum memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Waktu kami ke sana, ada beberapa pekerja sedang memasang kertas di kerangka bambu. Di salah satu rumah yang sudah jadi ada pembantu. Waktu saya iseng mengintip dapurnya, ada panci dan alat penggorengan kecil dari plastik di dalamnya. Pembuat rumah arwah bilang harga satu setnya sekitar satu juta.

rumah arwahRencananya, teman-teman Semarang mau mengajak kami ke pabrik nisan dan kecap yang ada di dekat Gg cilik. Sayang, kami tidak bisa masuk ke sana. Akhirnya kami pergi ke Rumah Kopi. Dahulu tempat ini disebut kebon karang karang karang karena halamannya penuh dengan karang. Kita ditemani oleh Ibu Inge yang dulu lahir dan besar di rumah ini. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini miliki Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang.

Ibu Inge bercerita kalau opanya Tan Tiong Ie pendiri perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi meski tidak sebanyak dahulu.
Kami masuk ke dalam rumah dan terpesona melihat furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Saya naksir sama Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar.

Rumah Kopi SemarangRombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Sri Gunting yang ada di samping Gereja Blenduk. Setelah makan siang bersama, ada kuis berhadiah buku. Berhubung buku dari sponsor lebih banyak daripada jumlah peserta, semua kebagian. Tetap saja berebut menebak karena ingin lebih dahulu memilih buku. Lalu ada hadiah buku-buku tambahan dari sumbangan perorangan. Kejamnya, pertanyaannya seputar kapan kopdar Goodread di Jakarta. Lah, kita yang di daerah atau baru gabung kan ahistoris. Tapi lumayan pulang bisa bawa buku-buku gratisan termasuk Semarang citybooks yang ada di goodybag.