Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku :)

Suatu Hari di Museum UGM

Yang merusak keadaan Indonesia adalah manusia-manusia ber-ego kera: banyak bicara, pandai menganjurkan, tapi maunya mengambil terus. Serakah. Dengan orang-orang semacam itu, cita-cita masyarakat adil makmur, masyarakat sosial Indonesia, tidak mungkin akan dapat dicapai.

Orang harus mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, tetapi janganlah melekatkan diri pada buah hasil karya-karyanya itu. Karena hidup ini, sebetulnya adalah jalan kembali menuju kepada Yang Maha Besar.

Saya terdiam waktu membaca kalimat Prof. Dr. Sardjito tadi. Kutipan itu sekarang terpasang di salah satu ruangan dalam Museum UGM. Kamar tersebut juga berisi meja dan radio tua yang dahulu mengisi ruang kerja dokter yang menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada.

Saya beruntung berkeliling Museum dipandu oleh Widodo Usman, teman yang saya kenal di pembekalan Duta Museum DIY. Ia seperti ensiklopedi berjalan mengenai orang-orang yang pernah membesarkan UGM. Dari cerita Pak Wid, saya baru tahu kalau Prof. Sardjito hingga akhir hayatnya tidak memiliki rumah pribadi. Sarjana Indonesia yang meraih gelar doktor di Amerika tersebut memilih untuk menyumbangkan uangnya bagi dunia pendidikan.

Kutipan Sejarah
Pak Wid mengantar kami berkeliling bangunan yang beralamat di Bulaksumur blok D6 dan D7 tersebut. Museum UGM menceritakan perjalanan sejarah universitas terbesar di Indonesia. Di rumah pertama ada banner bertuliskan tanggal-tanggal penting bagi UGM. Di sini juga terdapat dokumentasi mengenai makna filosofis dari lambang dan bangunan yang ada di lingkungan universitas yang berdiri sejak 19 Desember 59.  Selain itu, rumah ini juga berisi peninggalan sejumlah tokoh nasional. Beberapa ruangan museum didedikasikan untuk Prof Natonagoro, Prof. Dr. Herman Johanes, Sri Sultan HB IX, dan beberapa nama lain yang pernah berjasa bagi UGM.
Bangunan kedua berisi sejumlah penemuan atau sumbangan UGM bagi Indonesia. Salah satunya dokumentasi mengenai Fakultas Kehutanan UGM yang menghutankan bukit gersang Wanagama di Gunungkidul. Tempat ini juga menyimpan benda-beda seperti Penciptaan alat seperti roket, varietas padi yang bisa ditanam di tempat kurang air, berbagai alat ukur, hingga cara pembuatan sutra.

Pencipta roket pertama Indonesia
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah kedua. Bangunan ini pernah disinggahi tokoh-tokoh terkenal. Salah satunya Presiden Amerika, Barack Obama. Paman tiri pria keturunan Kenya tersebut seorang dosen di UGM. Sewaktu liburan panjang, Barack kecil beserta keluarganya beberapa kali menghabiskan waktu di Yogyakarta. Selain kisah Barack, dinding rumah tersebut bertuliskan tertimoni mengenai ibunya, Stanley Ann Dunham. Sepertinya, orang-orang mengenal Ann sebagai perempuan cerdas yang baik hati.

Saat membaca tulisan tadi, saya langsung berkomentar ke beberapa teman pria. “Besok kalau memilih istri, carilah perempuan cerdas. Karena 70% kepandaian seorang anakmu menurun dari ibunya.” Ya, saya percaya dia seorang perempuan hebat karena bisa mendidik seorang anak dari keluarga broken home bisa menjadi seorang presiden.

Sebenarnya, masih banyak cerita mengenai benda-benda yang pernah dihasilkan oleh akademisi UGM. Sayang, waktu kami terbatas. Sepertinya masih banyak cerita tentang UGM yang belum kami dengar.

Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Belajar itu Menyenangkan di Sekolah Alam Anak Sholeh

Kadang saya berpikir jika sekolah itu tempat anak-anak dihukum. Mereka dipaksa berjam-jam duduk manis dan dijejali berbagai macam hal yang entah apa gunanya. Tapi, bayangan tersebut tidak saya temui di Sekolah Alam Anak Sholeh di Tarumajaya, Bekasi. Hal pertama yang membuat saya tertarik, murid-murid di sekolah ini tidak memakai seragam. Anak-anak bebas menggunakan baju yang mereka sukai. Saya bahkan melihat sebagian murid mengenakan sandal ke sekolah. Sesuatu yang mungkin tidak sopan bagi sekolah lain.

Sekolah alam 1

Sekolah yang sudah 8 tahun berdiri ini terletak di bantaran sungai Alam, Bekasi. Sekarang, ada 120 murid yang belajar di sana. Rata-rata orang tua murid berlatar belakang sama: pekerja serabutan. Mereka mencari nafkah sebagai pemulung, kuli bangunan, dan buruh cuci. Saya sempat ngobrol dengan Ngapilah, seorang ibu beranak delapan. Tiga orang anaknya pernah dan sedang bersekolah di sini. Ia ingin anaknya pintar dan kelak punya hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Karena Sekolah Alam tidak memungut biaya, Ngapilah bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Sampai saat ini, Sekolah Alam hanya memiliki dua ruang kelas untuk 8 kelas SD dan TK. Mereka menyekat ruangan kelas. Sebagian murid bahkan belajar di teras. Hal tersebut menjadi salah satu sebab ijin operasional sekolah alam belum turun. Mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah. Untuk itu, tiap kali ujian, sekolah tadi masih menginduk di MI At Takwa.

Awalnya, sekolah alam mirip sanggar belajar. Lokasinya berpindah-pindah sesuai pinjaman ruang yang mereka dapat.  Mereka baru menetap setelah mendapat bantuan gedung dari program PNPM. Untuk biaya operasional termasuk membayar 9 orang guru, sekolah mendapat bantuan dari para donatur.

sekolah alam 2Pertengahan Agustus lalu, saya datang ke sekolah tadi untuk mendongeng sembari mengajak murid SDnya membaca buku. Di tengah-tengah kegiatan tadi, saya ngobrol dengan beberapa murid. Kata mereka, sekolah itu menyenangkan. Mereka merasa sayang jika membolos karena guru-guru dan teman-temannya baik.

Bisa jadi hal tersebut didukung oleh sistem pembelajaran yang tidak terlalu berat. Kata Pak Agustian, seorang pengelola sekolah, berkata mereka tidak memaksa muridnya menghapal banyak hal. Sekolah Alam mengajak murid-muridnya belajar matematika, fisika, kimia, dan seni dengan menyenangkan. Pelajaran-pelajaran tersebut lebih banyak menggunakan praktek dalam penyampaiannya. Salah satunya, belajar tentang pencahayaan dan jarak melalui kamera lubang jarum.

Sekolah ini tidak mengejar Ujian Nasional sebagai standar pintar atau tidaknya murid. Tapi, mereka masih mengajarkan hal-hal di sekolah umum karena masih menggunakan UN sebagai syarat kelulusan. Seorang relawan bernama Erza dengan bangga bercerita kalau ujian kelulusan kemarin, nilai rata-rata anak lebih tinggi dari sekolah induk.

Sepertinya, ada banyak hal yang ingin saya ketahui tentang cara belajar dan pengelolaan sekolah ini. Mungkin, akan lebih bermanfaat jika saya kembali ke sana sambil membawa lebih banyak buku-buku lain. Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan dan murid-muridnya antusias dengan buku. Ada yang mau membantu saya mendapatkan buku lagi?

Foto: dok Sekolah Alam

Ibadah di Pusat Perbelanjaan

Tiap bulan puasa, ada hal yang pasti: harga sembako naik. Artinya, bulan ini orang lebih banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari. Orang-orang di sekitar saya tiap bulan puasa cenderung lebih banyak memasak.  Ada tambahan makanan seperti es buah atau makanan manis saat berbuka. Selain itu mereka juga mengonsumsi lebih banyak daging. Aneh, bukankah katanya puasa itu meminta untuk menahan hawa nafsu? Iya, selama siang (sebagian besar umat Islam) menahan lapar dan kadang marah. Tapi setelah berbuka kemudian menjadi kesempatan untuk berpesta. Kenapa? Apa karena bulan puasa hanya satu bulan dalam setahun?

Belanja bajuDi bulan ini juga, pusat perbelanjaan lebih banyak dikunjungi orang. Perhatikan saja penuhnya tempat parkir dan antrian memanjang di kasir. Apalagi mendekati lebaran. Berbagai pusat perbelanjaan meminta masyarakat untuk membuang uangnya. Mereka menawarkan berbagai diskon. Yang diserbu masyarakat dengan pikiran kapan lagi bisa punya barang bagus. Padahal, mana ada toko yang mau rugi? Tetap saja mereka masih untung.

Justru pembelanja yang rugi karena membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Entah kenapa, ada semacam keharusan untuk membeli baju baru saat lebaran. Untung saya beberapa tahun terakhir ini tidak latah berbelanja. Saya sedang berusaha untuk membedakan antara butuh dan ingin.Tapi tetap saja saya tidak bisa menghindar dari menyuguhkan terlalu banyak makanan saat hari raya. Beberapa kerabat membelikan makanan ringan yang selalu tidak pernah habis hingga beberapa bulan setelah lebaran.

Hari raya merupakan saat bertemu keluarga dan kerabat jauh. Ironisnya, saat itu menjadi ajang menunjukkan harta milik. Pernahkah anda memperhatikan, saat bulan puasa, toko emas lebih ramai? Ada yang memakai perhiasan saat lebaran dan menjualnya kembali setelah usai. Apakah ini kemenangan? Bahkan ada pula yang membeli mobil baru untuk lebaran.

Yuk mulai kurangi hal yang tidak perlu. Bumi tidak bertambah luas. Barang-barang yang tidak terpakai dan sisa tadi akan menjadi sampah. Kita berbuat baik pada bumi saat hanya mengambil secukupnya saja.

Indonesia dalam buku “Ring of Fire”

Membaca Ring of Fire yang ditulis Lawrance dan Lorne Blair lagi-lagi membuat saya iri. Sepertinya, buku-buku bagus tentang Indonesia yang saya temui kebanyakan disusun oleh orang asing. Salah satunya, buku ini. Jurnal tersebut merupakan rangkuman dari 9 perjalanan di Indonesia yang mereka lakukan selama sepuluh tahun. Awalnya, Blair bersaudara memulai perjalanan untuk memfilmkan burung cendrawasih kuning besar.
Tahun 1971 Indonesia merupakan kepulauan yang tidak begitu terdengar di Barat. Keduanya ingin memfilmkan suku-suku yang jarang melakukan kontak dengan orang luar. Dulu, para pembuat peta jarang menampilkan kepulauan ini secara utuh.

Snorkling di Maluku
Kedua bersaudara tersebut memulai perjalanannya di Sulawesi Selatan. Saat menunggu kapal pinisi yang berlayar ke Aru, mereka singgah di Toraja. Blair bersaudara mengikuti pemakaman mahal seorang raja. Mereka sempat memfilmkan emas dan harta karun yang ikut dikubur di tau-tau bersama raja-raja terdahulu.
Blair bersaudara butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan pinisi ke Aru. Jarang ada yang pergi ke sana sembari membawa banyak muatan. Keduanya akhirnya menemukan seorang saudagar Tionghoa yang setuju mengirim barang dagangan ke Aru. Akhirnya, mereka berlayar selama 9 bulan bersama 16 pelaut Bugis yang sebagian besar belum pernah ke Aru. Di tengah perjalanan dengan jaraknya 4000 kilometer, mereka hampir dirampok oleh awak kapalnya sendiri.
Sebelum melakukan perjalan tersebut, Blair bersaudara membaca perjalanan Alfred Russel Wallace di kepulauan rempah-rempah. Sepertinya mereka kagum pada Wallace hingga berkali-kali mengutip bukunya. Salah satu hal yang mendorong keduanya nekad berlayar dengan pinisi karena mereka penasaran dengan kehebatan para pelaut bugis. Pelaut bugis di masa lampau terkenal karena membuat perahu-perahu besar hanya dengan senjata parang.
Cerita kemudian beralih ke ekpedisi Lorne Blair di Asmat. Ia penasaran tentang nasib Michael Rockefeller yang hilang di pada tahun 1961. Putra mantan wakil presiden Amerika tersebut sampai kini tidak jelas jenasahnya di mana. Michael pergi ke Papua dalam rangka mengumpulkan tiang-tiang ukir yang dipakai suku Asmat. Ia kemudian menghilang di sungai. Lorne menemukan beberapa cerita kalau Michael dibunuh. Ia menjadi pengganti nyawa penduduk lokal yang terbunuh oleh orang kulit putih.
Selama proses pembuatan film dokumenternya, Lorne berkali-kali berpikir akan dibunuh tuan rumahnya. Tapi ia juga menikmati hidup di dunia yang berbeda dengan tempat asalnya. Ia bahkan telanjang bulat untuk berbaur dengan penduduk asli. Tiap hari Lorne makan sagu, ikan, kerang, biawak, babi hutan, ulat, dan marsupialia pohon yang langka. Ia bahkan mengikuti upacara aneh karena diangkat anak oleh seorang penduduk lokal.
Ekspedisi selanjutnya berpindah ke Pulau Komodo. Lawrence beberapa kali mengunjungi pulau tempat kadal raksasa tersebut bersama Kapal Lindblad Explorer. Ekspedisi tersebut merupakan kapal mewah dengan laboratorium dan perpustakaan. Didalamnya penuh makanan dan anggur terbaik. Berbagai ahli dipekerjakan untuk memenuhi keingintahuan para bangsawan atau pengusaha kaya yang menjadi penumpangnya. Semenjak banyak turis ingin melihat komodo di habitat asalnya, hewan tersebut berubah. Komodo yang tadinya mahluk pemburu soliter menjadi mahluk pemalas. Mereka kemudian hidup bergerombol sembari menunggu makanan yang akan diantarkan oleh para penonton.
Petualangan kemudian berlanjut di Pulau Sumba. Di sana Blair bersaudara mengejar tarian perang dan penguburan raja. Perjalanan kemudian berpindah saat keduanya menjelajahi Kalimantan untuk menemukan Suku Punan yang masih hidup mengembara. Mereka ditemani oleh Suku Punan yang sudah menetap dan mencari nafkah dari berdagang cula badak. Saat itu Kalimantan merupakan pulau yang blum terjelajahi bagian tengahnya. Banyak yang tidak tahu ada apa di sana.
Saya menyukai buku tersebut meski keduanya beranggapan Indonesia adalah negeri dunia ketiga yang liar. Blair bersaudara memiliki romantisme jika di pedalaman Indonesia waktu berhenti berputar. Tanpa sadar mereka berkali-kali menyatakan jika Indonesia adalah negeri penuh dukun dan penyihir. Suku-suku pengayau dengan ritual berdarah-darah masih ada di sini. Saya masih belum melihat tentang keseharian orang-orang biasa yang mereka temui.
Satu hal yang saya setujui dari mereka: Indonesia sangat minim dalam dokumentasi terutama film. Sampai saat ini. Bisa bantu saya untuk mulai mendokumentasikan Indonesia? Klik like di link ini supaya saya bisa keliling Sumba. Rencananya, saya ingin membuat video diary tentang perjalanan tersebut dan orang-orang biasa yang saya temui. Nanti, tulisan perjalanannya juga bisa dilihat blog perjalanan saya kotak permen.
Hingga selesai membaca buku tadi, saya masih iri dengan mereka yang bisa menjelajahi negeri tempat saya lahir dan besar ini. Beberapa tempat yang didatangi kedua bersaudara tadi juga pernah saya datangi. Sayang, saya hanya memiliki waktu dan dana yang terbatas untuk setiap kunjungan. Setidaknya semakin banyak saya mengunjungi pelosok Indonesia, ada banyak hal yang saya pelajari. Saya semakin tahu kalau negeri ini kaya alam dan budayanya. Sayang banyak manusianya yang tidak mau bersusah payah untuk mengelola kekayaan tadi. Lebih menyedihkan lagi, ada banyak orang pintar yang saya temui memilih untuk memperkaya dirinya sendiri. Juga banyak perusahaan yang mengeruk kekayaan tanpa memikirkan masyarakat dan lingkungan.

Hal Sepele Bernama Menyampah

Saat lewat jalan raya ke arah Gunungkidul, saya dan teman melihat seorang pemulung sedang memungut sampah yang sebagian besar plastik bertebaran di pinggir jalan. Teman saya lalu memaki-maki pembuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak berpikir kalau menambah pekerjaan petugas kebersihan? Saya melihat ke luar jendela, sepertinya semakin banyak tumpukan sampah di pinggir Hutan Bunder. Seingat saya, sebelum tahun 2005, tumpukan sampah tidak sepanjang itu. Volume sampah sebanding dengan kenaikan kunjungan wisatawan ke Gunungkidul.

Sampah di Muncar, BanyuwangiSaya teringat saat mendaki gunung beberapa tahun lalu. Kami tidak yakin dengan jalur yang kami ambil. Saat melihat sisa bungkus makanan di jalan setapak, teman saya bilang kami ada di jalur yang benar. Sampah artinya jalur ini sering dilalui. Aneh bukan? Katanya pendaki gunung itu pecinta alam? Kok (banyak yang) menyampah seenaknya? Bukankah sampah membuat pemandangan tidak enak dilihat?

Apa susahnya membuang sampah di tempat sampah? Alasan yang paling banyak saya dengar adalah: tidak ada tempat sampah. Apakah menyimpan sebentar lalu membuangnya jika menemukan tempat sampah itu susah?
Mungkin membuang sampah pada tempatnya kedengarannya sepele. Tapi hal kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang bisa merugikan. Saya pernah beberapa kali melihat orang dengan entengnya membuang sampah di sungai. Bayangkan jika puluhan orang melakukan hal yang sama tiap hari? Bukankah sungai akan tersumbat dan membuat banjir? Di rumah-rumah panggung saat ke Kalimantan Selatan dan Muncar, saya melihat penduduk tiap hari membuang sampah di bawah rumahnya. Apa penghuni rumah tidak terganggu dengan bau sampah yang membusuk? Apa mereka tidak berpikir kotoran tadi menimbulkan penyakit?

Membuang sampah sembarangan bukan monopoli orang yang tidak berpendidikan. Seorang kenalan bercerita tentang seorang pengajar yang membuang plastik bungkus makanan di jalan. Padahal ibu tadi dosen universitas terkenal yang S3nya di luar negeri. Apa dia tidak berpikir kalau selain mengotori, sampah plastik juga butuh ratusan tahun diurai tanah?

Jangankan sembarangan, dibuang di tempat sampah saja plastik yang menumpuk menimbulkan masih masalah. Plastik butuh ratusan tahun untuk diurai. Selama ini, masih banyak orang yang belanja di supermarket dan boros kantong plastik. Rata-rata, kantong plastik tadi langsung dibuang begitu sampai di rumah. Seringkali, kantong plastik hanya dipakai untuk membungkus satu barang kecil. Bisakah teman-teman mulai mengurangi sampah dari membawa kantong sendiri? Kalau pun terpaksa menggunakan kantong plastik, simpan dan gunakan berkali-kali. Dan kembali lagi ke membuang sampah pada tempatnya. Sepertinya itu kebiasaan yang perlu ditanamkan sejak kecil.