Yang Ketu7uh

Saya langsung mencatat di agenda saat mendengar Yang Ketu7uh mulai tayang 25 September lalu. Jarang ada film dokumenter bisa diputar di bioskop. Film ini bercerita mengenai masyarakat kelas bawah di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden ke-7. Ada ibu Nita, janda berusia 60 tahun yang menjadi buruh cuci. Sutara, tukang ojek yang tinggal di Jakarta sejak tahun 88. Suparno, pekerja bangunan yang tinggal di gang sempit. Juga Amri Jalalen, seorang petani di daerah Indramayu. Yang Ketu7uh

Cerita ke empat orang ini berselang-seling dengan rekam jejak dua kandidat calon presiden. Mulai dari Jokowi yang tahun 2006 lalu masih menjadi walikota Solo. Ia ikut kerja bakti saat memerintahkan anak buahnya membersihkan kota. Di lain pihak, Prabowo yang berkali-kali mengikuti pemilihan presiden. Tahun demi tahun berlalu hingga tahun 2014, Indonesia kembali merayakan pesta demokrasi. Cuplikan-cuplikan gambar menampilkan para politisi partai melakukan berbagai cara yang kadang norak supaya rakyat memilih mereka. Hingga akhirnya dua kandidat presiden berhadapan. Di debat presiden, Jokowi mempromosikan kartu-kartunya sedangkan Prabowo menyebut-nyebut kebocoran negara.
Dan, setelah Jokowi, sang Presiden Ketu7uh terpilih, lima orang ini sama halnya seperti orang-orang lain di Indonesia. Kembali ke kesibukan sehari-hari. Mencari nafkah. Dan mungkin, mereka terlupakan oleh para politisi yang hanya membutuhkan suara mereka saat pemilu tiba.
Saat menonton film ini, saya miris melihat Suparno yang tinggal di bedeng bersama ratusan kepala keluarga lain. Mereka menempati ruangan berukuran 1,75x 3,8 m. Di ruangan tadi, ia harus berbagi dengan istri dan anak-anaknya untuk melakukan berbagai aktivitas. Mereka terpaksa mandi dan buang air kecil di depan “rumah”. Tanpa menghiraukan orang lalu-lalang karena tidak ada ruangan lagi. Saya jadi bertanya, pernahkah dua capres (dan partai politikdibelakangnya) memikirkan mereka setelah menjabat? Memang kalau mereka memilih, apakah hal tersebut akan merubah nasib mereka?
Di Indramayu sana ada tokoh lain. Amri Jalalen dan tetangga-tetangganya merupakan petani tanpa tanah yang menggarap hutan negara. Mereka berpendapat seharusnya pemerintah memperhatikan kepentingan rakyat. Tanah milik pemerintah itu bukannya disewakan ke perusahaan, tapi digarap oleh penduduk yang butuh pekerjaan.
Saat film usai, saya pribadi melihat ada yang kurang. Film ini tidak terlalu tampak menggambarkan bagaimana rakyat kecil tadi menaruh harapan ke salah satu calon.

 

Di sekitar saya (dan sepertinya di seluruh Indonesia) orang-orang sibuk menjagokan kandidat pilihannya. Tak jarang, perbedaan ini menimbulkan perdebatan. Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya kerap melihat saling menghina karena berbeda pilihan presiden.
Yang saya tidak habis pikir, ada ulama-ulama lokal yang mengharamkan memilih salah satu capres. Mereka menyebarkan kebencian lewat pengajian-pengajian. Ia menakut-nakuti penduduk bahwa salah satu capres akan mempersulit pemeluk agama Islam. Di lingkungan saya, banyak yang memercayai kebohongan ini karena sudah menyimpan sentimen agama. Juga bagaimana seluruh penjuru kota penuh sampah visual akibat baliho caleg dan capres.

Lepas dari kekurangannya, Yang Ketu7uh layak untuk ditontong lima, sepuluh, atau kelak saat ada pemilu lagi. Ia menyimpan pesan bahwa siapapun presidennya, keinginan tokoh-tokoh film ini (dan kita juga) sederhana kok. Kami ingin supaya harga barang terjangkau, biaya pendidikan bisa diakses semua, dan masyarakat miskin pun bisa mendapat sarana kesehatan yang layak.

Sekolah itu (seharusnya) Mengajar Berpikir Kritis

Andi, kenalan yang tinggal di Jambi, bercerita kalau ia sedang mengumpulkan bahan tentang sekolah alam. Ia membuka sekolah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Ia merasa bahwa lingkungan tempat Suku Anak Dalam tinggal kaya sumber daya alam. Sayang mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hal tersebut. Ia tertarik untuk membuat sekolah yang mengajak muridnya memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah formal.

Mendongeng untuk anak
Saya jadi teringat tiap kali berkunjung ke luar Jawa atau daerah yang jauh dari kota. Saya miris melihat buku pelajaran yang dibuat Pulau Jawa digunakan oleh sekolah-sekolah dari Aceh sampai Papua. Bisa jadi, si pembuat tidak tahu latar belakang calon pengguna bukunya yang beraneka ragam. Bayangkan seorang anak di pedalaman Maluku diajar cara menabung di bank. Padahal, orangtua dan tetangganya hidup dari berburu dan meramu. Orang-orang disekelilingnya tidak akrab dengan konsep uang. Bisa jadi mereka malah belum pernah melihat wujud bank karena lokasi terdekatnya ratusan kilo. Padahal mereka tidak pernah keluar dari kampung. Atau seorang anak di pelosok Papua yang harus menghafal fungsi internet. Padahal belum tentu ada komputer di wilayahnya. Dan, masih banyak lagi cerita seputar sekolah yang memisahkan muridnya dengan lingkungan.
Menurut saya, seharusnya sekolah bukan tempat menyeragamkan seorang murid. Sekolah yang baik mengajak muridnya berpikir kritis. Membuat anak-anak didiknya beranggapan jika belajar itu menyenangkan. Sehingga mereka rajin mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking. Yang entah apa gunanya untuk hidup. Kelak, saat tumbuh dewasa, murid-murid yang terbiasa berpikir kritis akan menjadi orang yang gemar bertanya. Mereka juga cenderung akan melakukan sesuatu jika merasa ada yang salah dengan lingkungannya. Tentunya, sekolah seperti ini butuh guru yang memang cinta mengajar dan ingin berbagi. Bukan sekadar guru yang memilih pekerjaan tadi semata untuk mencari nafkah. Berhubung guru ini harus cerdas, sekolah wajib menyuplai mereka dengan berbagai macam buku.

foto by Valens Riyadi

foto by Valens Riyadi

Sekolah yang keren idealnya lengkap dengan perpustakaan. Ada berbagai macam buku di sana. Mulai dari buku-buku cerita dengan gambar menarik hingga ensiklopedi yang berisi ilmu pengetahuan. Guru mengajak murid-muridnya menyukai buku dan banyak membaca. Tidak harus dimulai dengan buku-buku yang berat. Membiasakan membaca bisa dimulai dengan bacaan-bacaan ringan atau komik. Lama-lama, seseorang yang terbiasa membaca buku akan mengembangkan jenis bacaannya. Kelak, ia akan membaca berbagai jenis buku.
Sayangnya, di Indonesia, sekolah semacam itu belum bisa berkembang. Sekolah-sekolah formal masih harus mengikuti kurikulum yang telah ditentukan dari pusat. Yang belum memberikan ruang untuk keanekaragaman. Saya lebih setuju dengan pendapat jika sekolah dan guru pertama seorang anak itu keluarganya. Sekolah formal bukan tempat menitipkan anak untuk dididik. Untuk menciptakan keluarga-keluarga yang bisa menjadi guru, kita perlu membiasakan diri untuk terus belajar. Banyak membaca buku, rajin datang ke diskusi, pergi ke museum, dan menonton film-film bagus. Mari, berusaha lebih pintar supaya kita bisa menjadi sekolah untuk (calon) anak kita. Lebih baik lagi kalau kita bisa membagi kepandaian itu dengan lingkungan.

Give Away Sekolah Impian

http://”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM”

Icip-icip Yummy di Cupuwatu Resto

Gara-gara melihat iklan tentang manuk londo di sepanjang Jalan Solo, saya penasaran dengan rasanya. Menu andalan Resto Cupuwatu tadi masuk ke daftar kuliner Jogja yang ingin saya icipi. Dan, hari ini saya berkesempatan menikmati kuliner khas Yogyakarta bersama blogger-blogger lain.

Kata malon dipakai untuk menyebut burung yang berasal dari Perancis. Di sana, unggas ini lebih dikenal dengan nama franch quail. Malon kemudian diternakkan di Jogja. Menurut flyer yang saya baca, burung ini proteinnya lebih tinggi dari bebek. Tapi penikmatnya tidak perlu khawatir karena kolesterolnya lebih rendah jika dibandingkan dengan bebek. Kuliner Jogja

Kami mulai datang untuk mencicipi kuliner khas Yogyakarta ini mulai pukul 11 siang. Saya memesan Malon Bumbu Kuning dan Es Campur. Berhubung saya mendapat meja nomer satu. Pesanan saya yang pertama datang. Hore.. saya bisa makan sebelum blogger lain.
Waktu pelayan mengantarkan piring ke meja, saya langsung membaui kunyit dan rempah-rempahnya. Hangat dan manis. Langsung saja cepat-cepat saya makan. Saya memilih untuk menikmatinya langsung dengan tangan. Lebih enak untuk menguliti daging tanpa garpu dan sendok. Malon bumbu kuning ini rempah-rempahnya terasa sampai ke tulang-tulang. Kata public relation Cupuwatu, Malon butuh lebih lama dimasak. Ia diungkep lebih lama daripada unggas lain supaya empuk. Si mbak benar, saya bisa mengunyah tulang leher dan kepala malon. Rasanya gurih.

Selain menu yang dimakan para blogger, Cupuwatu Resto mendisplay ke delapan menu Malon di sekeliling ruangan. Berbagai menu malon-malon ini ditata di piring-piring dengan latar patung loro blonyo dan punokawan. Selain 8 menu malon, ada dua menu tambahan yang disajikan di tampah. Jadi pengen nyoba yang lain.

Kuliner khas Jogja

Saya langsung berbaik hati menawarkan malon yang saya pesan ke mbak Ika yang duduk di samping saya. Modus, padahal sebenarnya saya ingin gantian mencoba Malon Pekingnya :P Dan, rasa rempah masakan tadi kuat sekali. Bau kayu manisnya langsung tercium. Makanan tadi juga dilengkapi dengan saos rempah-rempah manis.

Berhubung saya masih penasaran dengan menu yang lain, saya sengaja menyapa blogger-blogger yang ada di meja lain. Selain untuk bertukar kabar, tentu saja untuk mencicipi menu yang berbeda. Saya sempat mencoba Malon BBQ yang menjadi menu terfavorit di restoran ingin menjadi tujuan baru kuliner khas Yogyakarta. Rasanya seperti ayam bakar. Cuma lebih manis dan ada rasa madunya. Ke delapan menu Malon tadi dibrandol dengan harga mulai 23.500 rupiah. Rata-rata menu berharga 27.500 rupiah. Harga yang cukup terjangkau jika dibanding dengan rasanya. Hanya Gudeg Kendil Malon yang harganya jauh berbeda. Satu kendil harganya 110.000 rupiah. Gudeg ini bisa dijadikan oleh-oleh karena tahan hingga 48 jam.

Sebenarnya saya masih ingin mencoba nasi kebuli dan sego wiwit. Kedua menu tadi disajikan dalam menu besar dalam sebuah tampah. Sepertinya enak. Pengen nyobain pas ada acara . Bisa delivery order ga ya?

BxPKhzECEAA2_Vc

Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku :)

Suatu Hari di Museum UGM

Yang merusak keadaan Indonesia adalah manusia-manusia ber-ego kera: banyak bicara, pandai menganjurkan, tapi maunya mengambil terus. Serakah. Dengan orang-orang semacam itu, cita-cita masyarakat adil makmur, masyarakat sosial Indonesia, tidak mungkin akan dapat dicapai.

Orang harus mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, tetapi janganlah melekatkan diri pada buah hasil karya-karyanya itu. Karena hidup ini, sebetulnya adalah jalan kembali menuju kepada Yang Maha Besar.

Saya terdiam waktu membaca kalimat Prof. Dr. Sardjito tadi. Kutipan itu sekarang terpasang di salah satu ruangan dalam Museum UGM. Kamar tersebut juga berisi meja dan radio tua yang dahulu mengisi ruang kerja dokter yang menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada.

Saya beruntung berkeliling Museum dipandu oleh Widodo Usman, teman yang saya kenal di pembekalan Duta Museum DIY. Ia seperti ensiklopedi berjalan mengenai orang-orang yang pernah membesarkan UGM. Dari cerita Pak Wid, saya baru tahu kalau Prof. Sardjito hingga akhir hayatnya tidak memiliki rumah pribadi. Sarjana Indonesia yang meraih gelar doktor di Amerika tersebut memilih untuk menyumbangkan uangnya bagi dunia pendidikan.

Kutipan Sejarah
Pak Wid mengantar kami berkeliling bangunan yang beralamat di Bulaksumur blok D6 dan D7 tersebut. Museum UGM menceritakan perjalanan sejarah universitas terbesar di Indonesia. Di rumah pertama ada banner bertuliskan tanggal-tanggal penting bagi UGM. Di sini juga terdapat dokumentasi mengenai makna filosofis dari lambang dan bangunan yang ada di lingkungan universitas yang berdiri sejak 19 Desember 59.  Selain itu, rumah ini juga berisi peninggalan sejumlah tokoh nasional. Beberapa ruangan museum didedikasikan untuk Prof Natonagoro, Prof. Dr. Herman Johanes, Sri Sultan HB IX, dan beberapa nama lain yang pernah berjasa bagi UGM.
Bangunan kedua berisi sejumlah penemuan atau sumbangan UGM bagi Indonesia. Salah satunya dokumentasi mengenai Fakultas Kehutanan UGM yang menghutankan bukit gersang Wanagama di Gunungkidul. Tempat ini juga menyimpan benda-beda seperti Penciptaan alat seperti roket, varietas padi yang bisa ditanam di tempat kurang air, berbagai alat ukur, hingga cara pembuatan sutra.

Pencipta roket pertama Indonesia
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah kedua. Bangunan ini pernah disinggahi tokoh-tokoh terkenal. Salah satunya Presiden Amerika, Barack Obama. Paman tiri pria keturunan Kenya tersebut seorang dosen di UGM. Sewaktu liburan panjang, Barack kecil beserta keluarganya beberapa kali menghabiskan waktu di Yogyakarta. Selain kisah Barack, dinding rumah tersebut bertuliskan tertimoni mengenai ibunya, Stanley Ann Dunham. Sepertinya, orang-orang mengenal Ann sebagai perempuan cerdas yang baik hati.

Saat membaca tulisan tadi, saya langsung berkomentar ke beberapa teman pria. “Besok kalau memilih istri, carilah perempuan cerdas. Karena 70% kepandaian seorang anakmu menurun dari ibunya.” Ya, saya percaya dia seorang perempuan hebat karena bisa mendidik seorang anak dari keluarga broken home bisa menjadi seorang presiden.

Sebenarnya, masih banyak cerita mengenai benda-benda yang pernah dihasilkan oleh akademisi UGM. Sayang, waktu kami terbatas. Sepertinya masih banyak cerita tentang UGM yang belum kami dengar.

Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Belajar itu Menyenangkan di Sekolah Alam Anak Sholeh

Kadang saya berpikir jika sekolah itu tempat anak-anak dihukum. Mereka dipaksa berjam-jam duduk manis dan dijejali berbagai macam hal yang entah apa gunanya. Tapi, bayangan tersebut tidak saya temui di Sekolah Alam Anak Sholeh di Tarumajaya, Bekasi. Hal pertama yang membuat saya tertarik, murid-murid di sekolah ini tidak memakai seragam. Anak-anak bebas menggunakan baju yang mereka sukai. Saya bahkan melihat sebagian murid mengenakan sandal ke sekolah. Sesuatu yang mungkin tidak sopan bagi sekolah lain.

Sekolah alam 1

Sekolah yang sudah 8 tahun berdiri ini terletak di bantaran sungai Alam, Bekasi. Sekarang, ada 120 murid yang belajar di sana. Rata-rata orang tua murid berlatar belakang sama: pekerja serabutan. Mereka mencari nafkah sebagai pemulung, kuli bangunan, dan buruh cuci. Saya sempat ngobrol dengan Ngapilah, seorang ibu beranak delapan. Tiga orang anaknya pernah dan sedang bersekolah di sini. Ia ingin anaknya pintar dan kelak punya hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Karena Sekolah Alam tidak memungut biaya, Ngapilah bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Sampai saat ini, Sekolah Alam hanya memiliki dua ruang kelas untuk 8 kelas SD dan TK. Mereka menyekat ruangan kelas. Sebagian murid bahkan belajar di teras. Hal tersebut menjadi salah satu sebab ijin operasional sekolah alam belum turun. Mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah. Untuk itu, tiap kali ujian, sekolah tadi masih menginduk di MI At Takwa.

Awalnya, sekolah alam mirip sanggar belajar. Lokasinya berpindah-pindah sesuai pinjaman ruang yang mereka dapat.  Mereka baru menetap setelah mendapat bantuan gedung dari program PNPM. Untuk biaya operasional termasuk membayar 9 orang guru, sekolah mendapat bantuan dari para donatur.

sekolah alam 2Pertengahan Agustus lalu, saya datang ke sekolah tadi untuk mendongeng sembari mengajak murid SDnya membaca buku. Di tengah-tengah kegiatan tadi, saya ngobrol dengan beberapa murid. Kata mereka, sekolah itu menyenangkan. Mereka merasa sayang jika membolos karena guru-guru dan teman-temannya baik.

Bisa jadi hal tersebut didukung oleh sistem pembelajaran yang tidak terlalu berat. Kata Pak Agustian, seorang pengelola sekolah, berkata mereka tidak memaksa muridnya menghapal banyak hal. Sekolah Alam mengajak murid-muridnya belajar matematika, fisika, kimia, dan seni dengan menyenangkan. Pelajaran-pelajaran tersebut lebih banyak menggunakan praktek dalam penyampaiannya. Salah satunya, belajar tentang pencahayaan dan jarak melalui kamera lubang jarum.

Sekolah ini tidak mengejar Ujian Nasional sebagai standar pintar atau tidaknya murid. Tapi, mereka masih mengajarkan hal-hal di sekolah umum karena masih menggunakan UN sebagai syarat kelulusan. Seorang relawan bernama Erza dengan bangga bercerita kalau ujian kelulusan kemarin, nilai rata-rata anak lebih tinggi dari sekolah induk.

Sepertinya, ada banyak hal yang ingin saya ketahui tentang cara belajar dan pengelolaan sekolah ini. Mungkin, akan lebih bermanfaat jika saya kembali ke sana sambil membawa lebih banyak buku-buku lain. Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan dan murid-muridnya antusias dengan buku. Ada yang mau membantu saya mendapatkan buku lagi?

Foto: dok Sekolah Alam