Teguh Chandra: Exit the persecuted puppets

Lutfi Retno Wahyudyanti
The Jakarta Post, Fri, 03/20/2009

In the middle of busy Semawis Market in Semarang, dozens of people stood staring, apparently transfixed by a red box, from which issued the sounds of traditional Chinese music.

Before long, a golden puppet appeared, decorated with the picture of a dragon – the king. The Potehi puppet show had begun.

Inside the box, 75-year-old Teguh Chandra and his assistant performed their show, accompanied by three musicians playing a range of traditional instruments.

Potehi puppet shows, which originated in the Chinese mainland during the Shang Tiaw Dynasty about 3,000 years ago, are becoming increasingly rare here, with few people interested in maintaining the tradition. Puppeteers in Solo and Surabaya are ethnic Javanese, leaving only one puppeteer of Chinese descent, who lives in Semarang.

Thio Tiong Gie, better known as Teguh Chandra, was born in January 1933 in Demak, where he taught himself his Potehi puppeteering skills.

“A long time ago my father had a fabric shop in Demak,” he says. “We went bankrupt because the shop was robbed in 1942. My father even went to prison.”

After that, the family – Teguh is one of five children – moved to Kaligawe.

“At that time we earned an income from selling snacks. My father bought newspapers to wrap the snacks.” In one newspaper was a pakem [a traditional puppet story] about the Potehi puppets.”

Teguh liked the story and memorized it. Some years later, he met a friend of his father who was recruiting puppeteers who could perform with the Potehi puppets. Because Teguh wanted a job he claimed that he had the necessary skills. He was the right person for the job, he said, because he liked history and was a good performer.

He had a week to learn how to run a Potehi puppet show, before he was asked to go on stage in Cianjur.

“This stage event was a big success,” Teguh recalls. “The audiences liked me and I was asked to perform again.”

Teguh then started to seriously learn how to become a Potehi puppeteer. He had success in various places, especially along the north coast of Java, although he had only one play. Those who came to watch his Potehi puppet shows were from both the ethnic Chinese community and the indigenous Indonesian community.

Eventually, word of his success reached the ears of a famous Potehi puppeteer called Tan Ang Ang.

“I got a letter from him. He asked me to go to Blitar. There I was given 10 books of pakem for Potehi puppets. After that I started to perform various pakem.”

The word potehi comes from the words poo (kain/cloth), tay (kantung/pocket), and hie (wayang/puppet). The puppets, about 30 centimeters tall, have a similar shape to the unyil (children’s cartoon) puppets made from cloth. Each doll has an individual face.

There are darkly colored dolls with angry faces and brightly colored dolls with happy faces, which wear colorful dresses decorated with beautiful embroidery.

The puppeteer manipulates the dolls from below using both his hands, yet can play two characters at the same time. He may have an assistant for more characters.

During this time, Teguh Chandra, a Confucian, also became a teacher of religion, being active as an itinerant preacher. He also ran services for those wanting a prayer ceremony or help with prayers for funerals.

If the Potehi puppets are now nearing extinction, it is mainly because of a 1967 presidential instruction, which forced ethnic Chinese to integrate, costing them their Chinese identity. Under this law, Chinese New Year celebrations and various Chinese arts were prohibited.

And so Thio Tiong Gie (as he then was) could no longer stage his Potehi puppet plays. He kept his dolls, some of which are hundreds of years old, in a big case, cleaning them occasionally to keep them in good condition.

He also had to change his name to something more Indonesian and, following the Internal Affairs Minister’s Decree in 1978 allowing only five official religions, was forced to register himself as a Buddhist.

Forced out of his job, the man now known as Teguh headed to Tegal, recalling from his stage shows that there were many welders working there. He tried to make doors and window bars and started a welding workshop.

He got the chance to return to the stage after former president Abdurrahman Wahid revoked the presidential instruction.

Teguh’s first shows were performed in 1999 in the Ismail Marzuki Park at the invitation of Gadjah Mada University and the Kencana Solo University.

The stage shows, although legal again, have lost their prestige and popularity and, as each show runs for three or more days, are finding it difficult to compete with television programs and modern entertainment.

Furthermore, the long prohibition means interest in becoming a puppeteer has disappeared, and Teguh has never had a student.

“Well before the performances were prohibited, who wanted to learn how to be a puppeteer?” asks Teguh, now the only person of Chinese descent running Chinese Potehi puppets shows. “Even now, among those who are on the stage, only a few want to continue because it is difficult to rely on this as a source of income.”

Komentar (2) »

Caleg (bukan) pilihanku

Beberapa waktu lalu seorang kenalan (panggil saja Lita) memperlihatkan kepada saya sticker sahabatnya yang menjadi caleg. Saya sempat kaget, setahu saya Bunga (ini bukan nama sebenarnya) sama sekali tidak pernah memiliki pengalaman di dunia politik. Kok bisa tiba-tiba namanya ada di daftar calon legislatif?

Saya mengamati lagi sticker tersebut. Di bagian bawahnya terpampang tulisan: ”Muda Berprestasi”. Wah, saya meragukan hal tersebut. Soal muda, dengan umur 22 tahun, saya yakin dia jauh lebih muda daripada caleg lainnya. Tapi berprestasi? Saya tidak terlalu yakin.

Seingat saya, Bunga hanya seorang mahasiswi biasa yang sama sekali tidak pernah memiliki kegiatan ekstrakulikuler apapun. Yang saya tahu, kegiatan diluar kuliahnya adalah dugem dan bermain bilyar. Seingat saya juga, ia belum pernah mendapat gelar “Miss Dugem” ataupun memenangkan sebuah pertandingan bilyar. Dan menurut cerita Lita, IPK Bunga dulu dibawah 3. Jadi ia juga bukan mahasiswi yang berprestasi secara akademis.

Yang saya dengar dari Lita, Bunga bisa ada di daftar caleg karena ayahnya bendahara partai tersebut. Dan katanya juga, Bunga sama sekali tidak tertarik untuk menjadi caleg. Sampai sekarang pun ia tidak menyiapkan rencana apabila nanti terpilih. Jika Bunga menang nanti, kursi anggota DPRD-nya akan ia jual ke calon lain.

Sampai saat ini Bunga dan keluarganya yakin mereka akan memenangkan pertaruhan ini. Mereka telah mengeluarkan entah berapa puluh juta untuk membuat banner, sticker, payung, dan berbagai jenis barang untuk dibagi-bagikan. Karena mereka mengharap bisa menjual kursi DPRD tersebut dengan nilai jauh lebih tinggi daripada uang yang sudah mereka keluarkan.

Saya jadi semakin malas untuk menggunakan hak pilih saya pada pemilu nanti. Saya masih ragu jika nanti caleg saat ini sudah berinvestasi pada alat-alat kampanye menang mereka tidak akan mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.

Komentar (1) »

Tempat Belajar Bernama Lembaga Permasyarakatan

Suatu hari saya ngobrol dengan Ica, seorang konselor di Lembaga permasyarakatan. Ia bercerita tentang seorang anak umur 14 tahun yang sudah tiga kali masuk penjara karena mencuri.

Sebut saja anak tadi Jono, pertama kali ditangkap karena mencuri sepada. Setelah lepas dari penjara, tak lama kemudian ia mencuri sepeda lagi. Saat dipenjara lagi, ia mendapat pengurangan hukuman karena selama dipenjara ia dianggap berkelakuan baik.

Minggu lalu Jono masuk penjara lagi. Kali ini ia tertangkap saat mencuri sepeda motor. Kira-kira seperti ini percakapan mereka:

Ica : Kenapa mencuri lagi?

Jono : Saya butuh uang untuk menikah.

Ica : Dulu kamu mencuri sepeda, sekarang sepeda motor, jangan-jangan besok lama-lama kamu mencuri kereta api.

Jono : Nggak bu, nggak kuat.

Ica : Kalau pesawat?

Jono : Nggak bu, nggak bisa.

Percakapan tadi dijawab Jono dengan serius. Jono mencuri motor karena ia mampu mencurinya. Jika Jono sudah bisa mengendarai mobil, ia akan mengambil mobil. Ica bercerita jika napi-napi di LP takut saat pertama kali masuk ke LP. Saat mereka sudah tahu kondisi LP, dan bisa bertahan untuk tinggal di sana, mereka akan mengulang kembali perbuatannya.

Manusia enggan melakukan sesuatu karena rasa takut. Saat ia bisa menghadapi rasa takutnya, ia akan melakukan suatu tindakan. Sama halnya dengan para napi ini, saat mereka sudah mengetahui medan, mereka merasa lebih nyaman saat berbuat kejahatan karena mereka sudah tahu resiko yang akan mereka tempuh.

Keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah turut berperan di sini. Saat napi yang baru sekali dipenjara bertemu dengan napi lain yang lebih senior ia akan memiliki pembelaan jika hal yang ia lakukan belum seberapa. Masih bannyak yang lebih buruk. Lingkungan dengan orang-orang yang pernah berbutat kejahatan semakin membentuknya menjadi penjahat. Jono yang dulu hanya mencuri sepeda bertemu dengan senior yang lebih. Ia belajar tentang trik-trik melakukan kejahatan yang lebih tinggi. Saat ia pernah masuk penjara dan tahu bahwa hukuman itu tidak terlalu menakutkan, ia berani mengambil resiko masuk penjara saat melakukan suatu kejahatan.

Seperti ini kah fungsi penjara? Semakin membuat orang tidak jera? Malah mencetak penjahat-penjahat baru yang lebih lihai.

Komentar (3) »

Buku-buku dalam hidupku

Jika ditanya buku apa saja yang memengaruhi hidupku, aku akan berkata: “Banyak sekali…” Sejak kecil aku akrab dengan tulisan Enid Blyton, dan HC Andersen. Waktu luangku semasa SD dan SMP kuhabiskan dengan membaca komik dan buku terjemahan. Judul-judul seperti Asterix, Tin-tin, Doraemon, Lima Sekawan, Trio Dektektif, dan Pippi si Kaus Kaki Panjang selalu menghiasi rak bukuku. Petualangan-petualangan yang dialami tokoh-tokoh buku tadi membuatku ingin mendatangi banyak tempat. Buku-buku tadi juga yang tanpa sadar mempengaruhiku untuk menyukai kegiatan luar ruangan seperti rafting, mendaki gunung, dan fotografi. Buku-buku tadi juga yang menyebabkan aku ingin menularkan bahwa membaca itu menyenangkan dengan cara membuat perpustakaan dan sanggar belajar.

Jika si penanya masih tetap menginginkan aku menyebut judul buku yang paling berpengaruh dalam hidupku, mungkin aku akan menyebut beberapa buku. Ada The Alchemist tulisan Paulo Coelho, Misteri Soliter karangan Jostein Gaarder, Panggil Aku Kartini Saja buah karya Pramudya Ananta Toer, kumpulan tulisan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Mengikat Makna karya Hernowo, dan Para Priyayi milik Umar Kayam. Dan yang tidak boleh dilupakan: Al’Qur’an. Ups, masih banyak ya?

Sekarang kita bahas satu per satu kenapa aku menyebut sederet buku tadi berpengaruh dalam hidupku. Kita mulai dari Al-Qur’an. Buku ini adalah buku yang paling sering aku baca. Seharusnya, sebagai seorang muslim aku membaca (dan juga mengamalkan) buku suci ini tiap hari. Buku ini membuatku ingin menyebarkan hal-hal baik sebagai pertangungjawaban hidupku kelak.

Lalu ada The Alchemist—buku fiksi paling kusam di rak bukuku. Buku yang sering aku baca ulang ini bercerita mengenai seorang gembala di Andalusia yang bertualang ke Mesir untuk mengejar mimpinya. Sepanjang perjalanan, ia mengalami banyak hambatan. Ia hampir menyerah beberapa kali saat kehilangan seluruh hartanya dan nyaris kehilangan nyawanya. Tapi ia masih tetap bertahan untuk mencari harta karun dalam mimpinya. Buku ini aku baca saat sedang sedih atau tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Kisah Santiago membuatku meyakini jika hal buruk yang terjadi saat ini akan segera berlalu.

The Alchemist dan juga Misteri Soliter dan Para Priyayi membuatku menulis sebuah novel. Ceritanya tentang seorang mahasiswi antropologi yang melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa sendirian. Novelku bercerita tentang pencarian jati diri. Pesan moral dari novelku adalah kau akan mengerti mengenai peranmu di dunia ini saat kau memahami lingkungan disekitarmu. Dulu, aku pernah membaca kalau Umar Kayam menulis Para Priyayi karena ia tidak terima dengan cara antropolog barat menggambarkan dunia priyayi Jawa. Nah, ia membalasnya dengan menulis sebuah novel antropologi. Sama seperti aku. Awalnya, aku ingin menulis tentang kondisi masyarakat di Pulau Jawa. Tapi, karena saat ini aku bukan siapa-siapa yang cukup kompeten untuk menulis mengenai hal itu, aku memilih untuk menulis sebuah fiksi. Selain itu, buku fiksi bisa menjangkau pembaca dengan berbagai latar belakang.

Meski fiksi, aku menulis novel ini dengan mengumpulkan data dari banyak buku, melihat langsung, dan wawancara. Novel yang aku tulis sejak akhir 2005 ini sampai sekarang masih kuanggap belum selesai. Latarnya masih belum cukup kuat untuk menggambarkan kondisi sosial di Pulau Jawa. Aku ingin suatu saat nanti pembacaku akan percaya dan tahu: inilah masyarakat Jawa. Aku ingin mereka tergerak untuk melakukan sesuatu terhadap ancaman kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, pendidikan yang tidak terjangkau oleh keluarga miskin. Minimal pembacaku tahu jika ada banyak orang yang kekurangan dan berempati dengan cara hidup sederhana.

Aku menikmati perjalanan dan petualangan yang aku alami saat mengumpulkan data untuk novelku. Mulai dari berkenalan dengan orang-orang Baduy, mendaki Gunung Salak, berkeliling kelenteng-kelenteng di Semarang, berlibur ke Bromo, hingga nongkrong di cafe mahal dan melihat kehidupan malam di Jakarta. Dengan mendatangi banyak tempat dan bertemu banyak orang, aku semakin merasa beruntung bisa memilih apa yang aku kerjakan. Aku ingin pembaca novelku juga merasakan hal yang sama kelak.

Buku lain yang mempengaruhi hidupku adalah Panggil Aku Kartini Saja dan Habis Gelap Terbitlah Terang. Kedua buku ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Kartini. Ia banyak mengajukan pemikiran kritis mengenai kondisi perempuan di negerinya sebelum umurnya genap dua puluh tahun. Melalui surat-suratnya, ia menyampaikan harapannya untuk Indonesia di masa depan. Yang istimewa, Kartini hanya mengenyam sekolah hingga bangku SD. Setelah itu ia dipingit dan hanya mengetahui dunia luar dari membaca majalah.

Kisah Kartini menyebabkan aku berani mencoba hal yang biasanya diidentikkan dengan dunia laki-laki. Mulai dari menjadi satu-satunya perempuan panitia sebuah festival kesenian, berpameran bersama sekelompok pelukis padahal aku belum pernah melukis di atas kanvas, keluar-masuk hutan karena bekerja untuk sebuah jaringan LSM kehutanan, dan yang terakhir menyutradarai pembuatan film dokumenter. Aku ingin mematahkan anggapan orang-orang di sekitarku jika seorang perempuan tidak perlu terlalu pintar.

Buku terakhir yang mempengaruhi hidupku adalah Mengikat Makna dari Hernowo. Buku ini membuatku ingin menjadi penulis. Ya, aku merasa kalau aku hanya bercerita mengenai pengalamanku, suatu saat aku sendiri akan lupa. Bukankah sesuatu yang tertulis itu lebih diingat? Dan bacaan yang selama ini aku lakukan akan menguap jika aku tidak mengimbanginya dengan membuat tulisan. Buku ini juga yang membuatku mulai menulis buku harian. Aku juga mulai menulis serius supaya semakin banyak orang tahu pemikiranku.

Komentar (2) »

Topeng Lara

Neta meraih majalah remaja yang baru saja diantarkan tukang koran dengan malas-malasan. Ia kemudian duduk di kursi ruang tamu dan mulai membaca. Sampul majalah tadi memperlihatkan seorang gadis cantik seumuran dirinya sedang tersenyum di bawah poster besar sebuah film yang baru saja dibintanginya. Neta langsung membuka halaman tempat wawancara dengan model cantik bernama Kartika Larasati tadi.

“Saya sih seneng banget dapat kesempatan main film. Saya jadi punya kesempatan untuk membuktikan saya juga memiliki bakat akting. Awalnya, saya tidak menyangka kalo Om Pras (Anindito Prastomo, sutradara film—red) menawari saya. Bingung juga. Saya sempat menolak, takut kalo hasilnya mengecewakan. Tapi rasanya sayang melewatkan kesempatan. Belum tentu ada lagi yang mau menawari saya.”

Neta tersenyum membaca wawancara tadi. Ia meneruskan membaca. Isinya tentang wartawan majalah yang memuji-muji Lara sebagai seleb yang rendah hati, murah senyum, pintar, dan lain-lain. Nih orang muna banget. Neta mulai menggeleng-gelengkan kepala saat membaca aktifitas Kartika Larasati yang baru saja diangkat menjadi duta HIV/ AIDS.

Belum selesai Neta membaca majalah, terdengar suara seseorang memanggilnya. Tak lama kemudian masuk seorang gadis berambut ikal muncul. “Haiiiiii….. Jadi jalan-jalan ga?”

Neta menoleh ke arah suara tadi. “Hallo. Siapa suruh kamu masuk?”

Gadis tadi langsung nyelonong duduk di samping Neta dan menarik majalah yang sedang dibacanya.

“Sejak kapan aku butuh permisi kalau ke rumah kamu? Majalah di rumahku belum datang, kok tempatmu sudah? Eh, aku cantik ya?”

Neta menatap Lara, “Aku heran, kok bisa-bisanya cewe kaya kamu ditulis seleb yang rendah hati, dan banyak sanjungan yang engga banget.”

Lara tertawa dan membaca keras-keras artikel mengenai dirinya. “Saat ini, Kartika termasuk seleb yang mementingkan urusan sekolahnya. Ia sering menolak tawaran syuting atau pemotretan jika bertabrakan dengan jadwal sekolahnya. Cewek cantik yang satu ini jago lho di sekolahnya! Rangkingnya engga pernah lebih dari lima besar.”

Neta menggeleng-gelengkan kepalannya. “Seingatku. Aku kenal kamu lebih dari sepuluh tahun. Kita juga sekelas pas SD dan SMP. Menurutku, sekitar delapan puluh persen berita dalam surat kabar tadi boong banget. ”

“Bukan boong. Tapi jaga image. Seleb mana sih yang engga pernah nutupin aibnya.” Lara kemudian melemparkan majalah tadi ke meja. “Jadi nemenin aku belanja ga? Ntar aku traktir makan.”

***

Mereka kemudian pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Lara menarik tangan Neta ke arah restoran fastfood.

“Nggak mau ah. Aku nggak suka makanan nggak sehat,” tolak Neta.

“Tapi aku belum sarapan.”

“Ke warung di depan jalan aja yu? Aku pengen makan gado-gado.”

Lara mengikuti saran Neta. Tak lama kemudian, keduanya duduk di bangku kayu warung gado-gado yang terletak di samping tempat parkir pusat perbelanjaan tadi.

“Kenyang…” kata Lara sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia kemudian menegakkan punggung dan mengambil sebungkus rokok dari tas mungilnya.

Neta terbelalak saat melihat Lara mulai mengisap rokoknya, “Sejak kapan kau merokok?”

“Barusan,” jawab Lara enteng.

“Bukannya kamu tahu, ngerokok itu engga baik untuk kesehatan? Kau sendiri bilang Papa kamu meninggal gara-gara penyakit paru-paru.”

“Papa kan perokok berat. Aku cuma kalo lagi pengen aja,” bela Lara.

Neta menatap Lara. Banyak hal yang berubah dari dirinya sejak menjadi model. Dulu… Neta masih ingat saat pertama kali Lara pindah ke sekolahnya waktu kelas lima SD. Lara menangis karena ditinggal ibunya. Neta sebagai ketua kelas berusaha mendiamkannya. Neta juga pindah duduk di bangku sebelah Lara. Lara kecil sangat pemalu dan takut bertemu banyak orang. Ia selalu menundukkan badannya. Ia sering diejek karena terlalu tinggi. Berbeda dengan Lara yang sekarang. Ia sangat penuh percaya diri dan tidak takut lagi saat harus tampil di muka umum.

Lara anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki. Sejak kecil, Lara dimasukkan ke les modeling dan menyanyi. Kata Lara, dulu mamanya ingin jadi artis tapi tidak kesampaian. Mamanya hanya bisa jadi penyanyi di café-café dan pertunjukan-pertunjukan kecil tiap malam tahun baru atau peringatan Agustusan. Dan sekarang, ia menyuruh anaknya meraih semua mimpi yang dulu gagal ia raih.

“Kartika ya?” tanya dua orang gadis.

“Bukan. Nama saya Lara.”

Kedua gadis tadi pergi sambil berbisik-bisik. Neta mendengar sepenggal percakapan mereka. “Tu. Bukan. Cuma mirip. Mana mungkin Kartika pake baju seperti itu. Makan di warung pinggir jalan dan merokok lagi.”

Neta menatap Lara. Hari ini ia mengenakan t-shirt yang sangat kedodoran dan celana jeans belel yang usianya lebih dari empat tahun. Rambut keritingnya diikat berbentuk cepol. Rara terlihat sangat berbeda dengan penampilannya di televisi atau di majalah.

“Denger nggak tadi mereka ngomongin apa? Aneh, masa mentang-mentang aku model, aku harus pake baju rapi trus pake make-up tiap hari. Siapa juga yang mengharuskan kalo model nggak boleh makan di pinggir jalan?” Lara mengembuskan rokoknya. “Udah yuk. Jalan.”

Lara dan Neta berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka tampak sangat kontras. Lara yang tingginya 176 senti dengan baju kucelnya beriringan dengan Neta yang mungil dan memakai rok putih berenda-renda.

“Eh liat. Ada sepatu lucu banget.” Rara menarik Neta ke arah counter sepatu.

“Bagus nggak?” kata Lara sambil menunjukkan sebuah sepatu lari berwarna kuning menyala.

Neta meraih label harga. Tertulis angka 759.000 rupiah. “Kau mau beli?”

“Ya.”

“Nggak sayang tu. Warnanya sulit dipaduin sama baju-baju kamu. Trus bukannya bulan lalu kamu baru saja beli sepatu lari?”

“Ga pa-pa. Aku ada duit kok.”

“Masalahnya bukan kamu punya duit apa engga. Kamu tu nggak butuh. Akhir-akhir ini kamu sering beli barang gara-gara laper mata. Sayang. Daripada buat beli sepatu mending kau sumbangin ke mana gitu. Di Indonesia ada lebih dari empatpuluh juta keluarga yang penghasilan sebulannya kurang dari harga sepatu tadi. Mending uangnya ditabung.”

Lara mengembalikan sepatu tadi ke tempatnya sambil mendengus. “Apa gunanya sih punya duit tapi engga boleh dipake?”

Neta diam saja melihat Lara yang mulai uring-uringan. Akhir-akhir ini memang Lara mudah marah. Mungkin dia terlalu capek dengan bermacam kegiatan. Dalam seminggu ia harus menjalani belasan pemotretan dan pengambilan gambar. Masih ditambah lagi harus belajar untuk sekolah dan les.

“Kau baik-baik aja?”

“Maksudmu?”

“Tingkah kamu akhir-akhir ini aneh.”

“Aku bosan. Aku pengen berhenti jadi model. Tapi engga dibolehin sama Mama. Mama bilang, aku engga bersyukur dikasi tubuh tinggi dan wajah cantik. Trus Mama juga bilang dia engga sanggup ngebiayain aku kuliah. Jadi aku harus cari duit sendiri.”

Neta diam saja saat Lara mulai mengeluh. Mulai dari jadwalnya yang padat hingga ia jarang tidur siang. Beberapa teman SMUnya yang selalu menganggapnya seleb sombong dan tidak pernah mau ikut acara sekolah. Dan lain-lain. Pantas kamu sekarang jadi keranjingan belanja. Aslinya kamu tu bosan dan butuh pelampiasan. Sayangnya belanja itu engga nyelesaiin masalah. Kamu malah jadi semakin bermasalah karena punya penyakit baru: Ngabisin uang untuk sesuatu yang engga berguna! Hal ini bisa bikin kamu semakin terikat sama uang. Gimana kalo nanti kamu dah nggak laku lagi jadi model?

Neta menatap wajah cantik Lara yang murung. Dulu, ia sering iri. Lara memiliki kulit putih, hidung manjung, dan bulu mata yang lentik. Wajahnya unik karena ayahnya keturunan Arab. Neta juga pernah iri waktu Lara memenangan lomba kecantikan yang diadakan sebuah majalah remaja. Berkat lomba itu, Lara menjadi model ekslusif untuk sebuah produk kosmetik remaja terkenal. Dan secara berturut-turut, Lara ditawari menjadi bintang iklan sampai main sinetron. Malah, kemarin ia baru saja meluncurkan sebuah film layar lebar. Tapi ternyata, hidup Lara tidak semenyenangkan yang Neta pikirkan.

Neta juga berfikir. Jangan-jangan semua selebritis yang ia baca di majalah, koran atau dengar beritannya di televisi seperti Lara? Terlihat penuh senyum dan gembira di foto, vidio klip, atau iklan dengan wajah cantik hasil berjam-jam tersiksa di salon. Tapi sebenarnya mereka sangat bosan dengan aktifitas sehari-harinya. Sampai banyak selebritis terlibat dengan kecanduan minuman keras dan obat-obatan. Bukankah kedua barang yang merusak tubuh itu hanya dikonsumsi oleh orang-orang yang tidak bahagia? Orang-orang yang butuh pelarian dari hidupnya yang tidak menyenangkan? Neta teringat cerita Lara tentang beberapa temannya sesama model yang pemabuk atau pecandu narkoba.

Lucunya, hal-hal buruk tentang para model tadi jarang diungkap media—kecuali kalau mereka tertangkap polisi saat membawa obat. Berita-berita di media massa sering menyanjung para selebritis yang dengan mudahnya menghasilkan uang untuk membeli baju bermerk dan mobil mewah. Seolah-oleh seleb itu mahluk hebat yang layak ditiru gaya hidupnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Lara. Neta sering membantunya mengumpulkan kliping tentang Lara dari koran dan majalah. Biasannya berita-berita tadi terlalu melebih-lebihkan. Lara tidak sebaik dan sekeren yang diberitakan. Sering kali mereka berdua tertawa terbahak-bahak tiap kali membaca berita tersebut. Banyak orang tertipu dengan citra yang sengaja Lara perlihatkan di depan umum. Lara yang sebenarnya hanya seorang gadis yang kesepian karena tidak punya banyak waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Harus berpura-pura ramah dan tersenyum pada semua orang. Dan tertekan karena mamanya terlalu terobsesi memiliki anak yang terkenal.

Lara yang dulu gadis sederhana, kini menjadi Lara yang seenaknya. Kadang, Lara sendiri selalu ingin menjadi yang terbaik. Ia tidak pernah rela dikalahkan orang lain. Ia tidak pernah mau bertemu gadis lain yang lebih cantik dari dirinya. Ia selalu mencari-cari kesalahan atau kejelekan gadis cantik lainnya. Bukankah itu tanda bahwa ia sebenarnya tidak bahagia dengan hidupnya? Neta pernah ingin menasehati Lara. Tapi ia malu. Kadang dirinya sendiri juga memiliki sifat iri. Dan diantara semua gadis di dunia ini, ia paling iri dengan teman dekatnya sendiri—Lara.

Komentar bertahan »

Mimpi-mimpi Arietta

Sudah setengah jam Arietta duduk di depan laptop mungilnya. Ia bingung. Guru Bahasa Indonesianya memberikan tugas mengarang dengan tema “Siapa aku? Dan apa yang akan aku lakukan di masa yang akan datang.” Hanya ada satu paragraf pendek terketik di monitor.

Namaku Arietta Tambunan. Bulan Januari nanti, aku berusia 17 tahun. Setelah lulus SMA nanti, aku ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada. Aku ingin mengambil jurusan kedokteran supaya nanti bisa menjadi dokter. Kenapa? Karena ayahku seorang dokter dan direktur sebuah rumah sakit. Ayah ingin aku dan kakakku meneruskan profesinya. Saat ini kakak bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI dan sedang menyelesaikan skripsinya.

Cuma segini? Pendek dan jelek banget. Protes Arietta dalam hati. Bu Indri pasti mikir lamaa…. banget untuk ngasih nilai ke karangan ini. Kayaknya, nilai lima saja sangat, sangat, sangat, belum layak. Aduhhh… kenapa sih harus ada tugas mengarang.

Arietta kemudian memasukkan lagu-lagu baru ke play list Musicmatch-nya. Dalam hati ia bertanya: Apa benar aku ingin menjadi dokter? Sepertinya itu keinginan orangtuaku.

Arietta melamun. Ia ingat Ayahnya yang dokter dan direktur sebuah rumah sakit bersalin. Ayah sangat ingin semua anaknya meneruskan pekerjaannya. Oh iya, aku bisa menambah cerita tentang awal keinginanku menjadi dokter.

Ayahku seorang dokter. Ia juga direktur rumah sakit di daerah Tebet. Waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku pergi ke rumah sakitnya. Di sana aku menemani Ayah membaca-baca berkas pasiennya. Aku juga sering berkeliling. Melihat-lihat banyak hal. Mulai dari ibu-ibu hamil yang diantar suaminya sampai ibu-ibu yang didorong dengan tempat tidur beroda ke ruang operasi.

Arietta membaca ulang rangkaian kata yang ia hasilkan. Paragraf ini kelihatan aneh! Kayaknya nggak terlalu nyambung. Bagian mana ya yang harus diubah? Aduuhhh… Arietta mengeluh dalam hati. Ia jarang sekali menulis, nyaris tidak pernah malah. Sekarang ia kebingungan saat harus menulis.

Arietta kemudian teringat kata-kata Bu Indri. Ibu ini selain mengajar Bahasa Indonesia juga menulis. Tulisannya bermacam-macam dan tersebar di banyak koran, majalah, dan jurnal. Kebanyakan tentang kebudayaan, pendidikan, hingga cerpen. Bu Indri selalu berkata, jika ingin menulis, tulis apa saja yang ada dikepalamu. Jangan berfikir tulisan itu jelek. Tulis saja. Curahkan semuannya. Nanti setelah selesai, baru baca ulang tulisan tadi dan perbaiki. Kepandaian mengarang itu tidak sekali jadi. Orang harus banyak berlatih untuk menjadi ahli.

Arietta kembali ke karangannya. Ia membuat karangan baru.

Namaku Arietta Tambunan. Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama orangtua dan kakak laki-lakiku di sebuah perumahan mewah di Permata Hijau. Aku dan kakakku sangat beruntung karena memiliki seorang Ayah yang bekerja sebagai dokter sekaligus direktur sebuah rumah sakit bersalin.

Rumah sakit bersalin milik Ayah sangat ramai dikunjungi orang sehingga Ayah mendapat banyak uang. Ayah ingin suatu hari nanti, kakak dan aku menggantikannya. Saat ini, kakaku bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI. Ayah juga ingin dua tahun lagi aku memilih jurusan Kedokteran Umum.

Awalnya, aku tidak keberatan. Sepertinya menjadi dokter pekerjaan yang sangat bergengsi di mata masyarakat. Dan aku rasa, aku cukup mampu untuk masuk di jurusan Kedokteran. Aku masuk di kelas aksel dan nilaiku selalu masuk lima besar.

Tapi, kadang aku sering ragu. Apa benar aku ingin menjadi dokter? Waktu aku kecil, aku sering diajak Ayah ke kantornya. Aku selalu kagum melihat Ayah. Ia terlihat lebih keren dengan jubah putihnya. Perawat, asisten dokter, dan semua orang di rumah sakit selalu tampak hormat dan segan jika ayah lewat.

Arietta membaca karangannya, tiba-tiba tangannya ingin mengganti beberapa kalimat yang kelihatan janggal. Bahasanya juga aneh. Tapi ia teringat nasihat Bu Indri. “Tulis apa saja yang ada di otakmu. Mengedit itu bagian terakhir jika tulisan sudah jadi. Jika sebentar-sebentar kamu menganti kalimat karena rasanya ada yang aneh, akan memakan waktu. Kamu bisa lupa apa yang ada di benakmu.”

Tapi kadang aku ingin menjadi seorang arkeolog. Ya. Aku ingin menjadi peneliti yang menggali-gali peninggalan masa lampau. Keinginan ini akibat aku menonton film Indiana Jones. Awalnya, waktu SMP, aku membaca komik Yu Asagiri. Ceritanya tentang petualangan seorang anak perempuan Jepang di pelosok Amerika Latin. Ia memiliki medali bergambar naga yang konon merupakan kunci dari harta karun Suku Indian Maya. Aku sangat terpesona dengan komik itu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi tokoh utama dalam komik tadi. Di belakang komiknya, Yu Asagiri berkata kalau ia terinspirasi dari film Indiana Jones.

Aku kemudian menyewa semua VCD Indiana Jones. Keren Sekali. Ceritanya tentang Indiana Jones, seorang dosen arkeologi tampan yang berkeliling banyak tempat. Mulai dari Mesir, pedalaman India, hingga Benua Asia untuk mengumpulkan benda-benda dari masa lampau. Aku ingin sekali seperti Indy. Bertualang ke banyak tempat terpencil yang indah.

Selama bertahun-tahun, keinginan itu terpendam. Hingga akhirnya aku sadar. Pekerjaan menjadi arkeolog tidak seperti komik dan film yang aku baca atau tonton. Kebanyakan arkeolog menghabiskan waktunya dengan penelitian di perpustakaan. Dan, aku akan sangat tidak menyukainya. Aku benci membaca.

Arietta membaca kembali tulisannya. Tangannya gatal ingin mengganti beberapa kata. Terutama pada bagian peralihan antara keinginannya untuk menjadi dokter berpindah pada arkeolog. Tapi niat itu diurungkannya. Ingat. Tulis. Tulis. Tulis. Karangan ini lebih bagus daripada karangan pertama.

Aku kemudian kembali lagi ke dunia nyata. Aku akan menjadi dokter.

Tapi, akhir-akhir ini aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku benar-benar ingin menjadi dokter? Sepertinya aku takut dan akan pingsan saat melihat darah. Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri. Apa alasanku ingin menjadi dokter? Karena pekerjaan itu bergengsi? Entahlah. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong orang banyak. Menjadi dokter mungkin membantu banyak orang. Tapi jika aku menjadi dokter, aku pasti bekerja di rumah sakit Ayah. Itu berarti, orang harus membayar mahal untuk aku tolong.

Tiba-tiba saja aku berfikir ingin menjadi penulis. Aku ingin seperti Seno Gumira Aji Dharma yang bercerita tentang orang-orang yang tertindas. Atau seperti Pram yang berkisah tentang mimpi dan harapan Kartini yang membuatku ingin menjadi seseorang yang bisa berguna bagi banyak orang. Aku ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Aku ingin suatu saat nanti, saat membaca tulisanku, orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang baik.

Aku ingin menjadi pengarang gara-gara terpesona setelah membaca “The Alchemist-nya Paulo Coelho. Buku itu bercerita tentang seorang anak gembala yang mengejar mimpinya untuk mendapatkan harta karun di dekat Piramid. Untuk mengejar mimpinya, Santiago—nama gembala tadi—harus melewati gurun, bertemu perampok. Santiago juga berkali-kali nyaris patah semangat. Tapi ia selalu teringat mimpinya dan berusaha mengejar kembali mimpinya. Ada satu kalimat yang sangat berkesan untukku, kalimat yang diucapkan seorang Raja Tua kepada Santiago, “Jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya.”

Arietta tersenyum. Ia mulai mendapatkan ide untuk tulisannya. Saat ini ia merasa sangat bersemangat dan ingin mengetik secepat mungkin. Ia tidak peduli dengan terlalu banyak kata yang ia ulang. Pokoknya menulis.

Sebelum membaca buku ini, aku sangat tidak suka membaca. Aku hanya mau membaca komik atau cerpen yang ada di majalah remaja langganan. Aku membaca The Alchemist karena terpaksa. Bu Indri—guru Bahasa Indonesiaku—memberi tugas meresensi novel. Kupilih novel tadi secara acak dari rak di toko buku. Aku benar-benar tidak tahu novel apa yang layak diresensi. The Alchemist kuambil karena melihat tulisan “Best Seller, Diterjemahkan dalam 23 bahasa,” dan ada banyak pujian tentang buku tersebut. Biasanya, buku-buku best seller itu menyenangkan untuk dibaca.

Kubaca buku itu berkali-kali. Aku juga mulai membaca novel-novel lain. Pengarang favoritku: Sidney Seldon. Aku selalu berharap bisa berkeliling ke kota-kota besar di dunia seperti tokoh utama dalam novel-novel tersebut. Bertemu dengan orang-orang pandai dan licik dan mengalami petualangan menegangkan bersama musuh terselubung. Aku suka cara Sidney bertutur. Cara ia menggambarkan pekerjaan tokoh utama dan suasana tempat membuatku merasa cerita itu nyata.

Aku juga menyukai novel-novel Jostein Gaarder. Terutama yang berjudul Mistery Soliter. Ada banyak novel yang menurutku bagus. Seperti: Animal Farm-nya George Orwel, Les Mirables dan Maximum City-nya Victor Hugo, Gadis Pantai karangan Pram, Ca Bau Kan milik Remy Silado, sampai Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kadang, aku sampai menangis terbawa oleh cerita para pengarang tadi. Aku begitu terpesona dengan cara pengarang tadi bercerita.

Aku ingin seperti mereka—pengarang-pengarang tadi. Bukunya dibaca banyak orang di seluruh dunia dan bisa membuat pembacanya terinspirasi. Sayang, aku belum berani untuk mulai menulis. Aku terlalu takut salah dan tulisanku jelek. Padahal, segala sesuatu pasti dimulai tidak langsung sempurna. Sama seperti waktu kita belajar berjalan. Kita pasti jatuh berkali-kali sebelum bisa berjalan. Aku akan menulis dan menulis. Mulai hari ini aku akan mencoba memulainya. Setelah menyelaesaikan tugas ini, aku akan berlatih menulis. Mulai dari menulis hal-hal yang aku alami tiap hari. Hingga suatu saat nanti, aku cukup berani untuk mengirimkan tulisanku ke majalah.

Arietta tersenyum. Ia membaca sejenak tulisannya. Belum bagus. Tapi tidak apa-apa. Arietta kemudian teringat kalau ia memiliki buku Quantum Writing. Ia bertekad untuk membaca buku itu untuk medapat ide mengedit tulisan ini. Ia juga bertekad untuk belajar EYD. Sepertinya, ada banyak salah pemakaian tanda baca ditulisannya. Ya. Aku ingin menjadi pengarang. Untuk itu aku harus mulai menulis.

Komentar (2) »

Sekeping uang ratusan

Bulan Ramadhan lalu, ada seorang pengemis datang ke toko. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Teman saya memberi sekeping uang seratus rupiah. Pengemis tadi tidak langsung pergi. Ia menunjuk sebotol minuman ringan dan sebatang rokok. Ia kemudian mengeluarkan recehan-recehan lain untuk membayar belanjaannya.

Pengemis tadi berlalu sambil menyedot minumannya. Saya langsung teringat sebuat cerita bahwa kefakiran dekat dengan kekufuran. Bapak tadi masih kuat untuk bekerja dan juga berpuasa, tetapi ia tidak melakukan keduannya. Bisa jadi, ia tidak berpuasa karena ia bukan seorang muslim. Tapi, ia tidak bekerja karena ia tidak bersyukur diberi tubuh yang sehat. Ia lebih memilih untuk menukar harga dirinya dengan recehan.

Ini bukan sepenuhnya salah si pengemis. Pare pemberi recehan juga ikut menyuburkan jumlah peminta-minta ini. Coba hitung, apabila seorang pengemis bisa mendapatkan dua ratus rumah yang memberinya sekeping uang ratusan, ditambah seratus orang di bis umum, dan seratus orang lagi di pinggir jalan atau di perempatan jalan. Jumlah uang yang ia dapat sama dengan lima ratus dikali seratus atau lima puluh ribu rupiah dalam sehari. Yang berarti, satu juta lima ratus ribu rupiah dalam sebulan.

Mungkin tidak setiap hari penghasilannya sebesar itu. tapi pendapatan seorang pengemis bisa mencapai satu juta rupiah setiap bulannya. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah ‘pekerjaan’ tanpa modal. Bukankah si pengemis ini tidak perlu bersekolah untuk mendapatkan ijazah yang dipakai untuk mencari kerja? Ia juga tidak perlu uang untuk membuka usaha. Sedangkan penghasilan yang ia dapat dalam sebulan melebihi pekerjaan tanpa keahlian lain jika dibandingkan dengan pembantu rumah tangga, buruh bangunan, atau kuli-kuli di pasar. Jadi jangan heran, kalau kita sering mendengar berita tentang anak-anak yang diculik untuk dijadikan pengemis.

Saya paling malas memberi uang recehan pada seorang pengemis, apalagi jika ia masih terlihat sehat. Saya lebih suka memberikan uang ke kotak amal yang dikelola badan yang jelas atau panti asuhan yang memang benar-benar ada. Teman saya sering protes. Katanya, ia memberi karena memeng niat bersedekah dan kebetulan ada uang. Jika si peminta-minta tadi tidak layak menerima, itu bukan salah pemberi. Saya balik protes, menurut saya memberi uang recehan langsung sangat tidak mendidik. Seorang pengemis akan merasa mendapat uang dengan mudah sehingga ia juga dengan mudah menghabiskannya. Pengemis tadi akan menggunakan uang pemberian kita untuk berfoya-foya.

Saya jadi teringat seorang anak jalanan yang pernah saya kenal. Ia dan kawan-kawannya tidak pernah berfikir untuk menabung. Apabila mendapat uang, sering uang itu akan habis pada hari yang sama. Tidak jarang uang tadi dipakai untuk membeli cat rambut, paku untuk menghiasi bajunya, rokok, dan lem atau minuman keras untuk mabuk. Saya sering berfikir, apakah mereka tidak ingin menabung untuk membuka suatu usaha?

Teman saya yang mendukung pemberian uang receh pada pengemis, berkata bahwa sedekah bisa dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu-nunggu. Jadi, kalau ada sisa uang di kantong, berikan saja pada pengemis di pinggir jalan. Jika ditunda-tunda kita akan sering ingin menyumbang tapi selalu merasa uang tidak cukup. Saya jadi kaget. Saya teringat kalau selama ini jarang bersedekah. Saya sering menunggu memiliki uang cukup untuk disumbangkan. Sayangnya, saya kadang lupa untuk bersedekah. Atau kadang teringat, tetapi saya lebih memilih untuk menundannya. Kadang saya masih berfikir bahwa pendapatan saya yang tidak tentu apakah cukup untuk menutup pengeluaran saya selama sebulan?

Saya ingin bersedekah. Sedekah yang tidak memberatkan saya, tapi juga tidak membuat malas penerimanya. Kemudian, saya membuat celengan sedekah. Apabila saya berbelanja, dan ada kotak infak, atau sholat di masjid, saya berusaha untuk mengisinya. Meskipun dengan sekeping uang ratusan. Saya juga mengumpulkan recehan-recehan sisa belanja di rumah untuk nantinya disumbangkan. Kebiasaan ini ada bagusnya juga untuk diri saya. Saya jadi lebih berhati-hati dalam membeli barang. Saya akan mengurangi membeli barang karena merknya dan barang yang masuk dalam kategori ingin bukan butuh. Sisa belanja tadi bisa saya sedekahkan.

Saya harap, saya tidak sendirian. Muslim yang lain juga menyisihkan sedikit rejekinya dan mengisi kotak-kotak amal, bukan memberikannya langsung kepada pengemis. Bukankah sedikit dikali banyak orang akan menjadi banyak pula? Semoga, badan-badan amal mampu mengelola uang tadi dan menyalurkannya kepada yang berhak. Si penerima uang tidak sekedar menerima tetapi juga diberi kesadaran untuk mengelola uangnya sehingga ia mandiri. Tidak selamannya mengantungkan diri dari pemberian orang.

Komentar bertahan »

Kisah Para Penghuni Lempuyangan

Cerita Budi

Namanya Budi Sulistiono. Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan anak jalanan ini saat hunting foto di stasiun Lempuyangan. Waktu itu, Budi sudah lima tahun hidup di jalanan. Ia kabur dari rumah karena ingin bebas. Tidak diatur-atur, punya banyak teman dan bisa pergi ke mana saja tanpa pamit. Budi yang lebih sering dipanggil Budi N’dut atau N’dut cilik ini mengaku berumur sekitar 12 atau 13 tahun. Jika ditanya tentang kapan tepatnya ia lahir, ia mengaku tidak tahu. Bagi Budi dan juga anak jalanan lain, tanggal lahir bukanlah hal yang terlalu penting untuk diingat.

Budi dan puluhan atau bahkan ratusan anak jalanan yang sering berkeliaran di Lempuyangan tidak pernah memiliki tempat tinggal tetap. Mereka tinggal berpindah-pindah tanpa tujuan pasti. Anak-anak jalanan ini bisa saja tidur di tempat-tempat umum seperti emperan toko, gardu ronda, musolla, atau di antara palang kereta api. Tidurnya pun cukup dengan alas selembar plastik, kardus, atau apa saja yang mereka temukan saat lelah. Di Yogja, stasiun Lempuyangan merupakan salah satu ‘rumah’ untuk anak jalanan. Di sini selalu ada gerbong yang diparkir atau gedung-gedung tua yang sudah tidak terpakai untuk tinggal sementara waktu.

Anak jalanan Lempuyangan kebanyakan berasal dari Jakarta atau Surabaya. Mereka datang ke Yogya dengan menumpang kereta kelas ekonomi. Kata Budi, Yogja lebih nyaman untuk ‘tinggal’ karena tidak ada kamtib. Berbeda dengan Surabaya yang sering mengadakan pembersihan anak jalanan dan gelandangan. Apabila ada anak jalanan tertangkap, mereka akan ditanyai alamat rumah. Setelah itu mereka diberi makan dan uang kemudian diantar pulang ke rumah. Sebelumnya, mereka diancam apabila tertangkap lagi akan dibawa ke panti asuhan.

Budi masih mempunyai orangtua yang tinggal di Surabaya. Bapaknya, seorang tukang batu bernama Kuritno. Ibunya, Sulastri, bekerja sebagai penjahit musiman. Budi menjadi pengamen sejak kelas satu SD. Awalnya, ia hanya mengamen sebelum dan sesudah sekolah. Uang kerjanya dipakai untuk membayar sekolah, jajan dan sisanya diberikan kepada ibunya untuk menambah biaya hidup sehari-hari. Dulu, Budi sempat bersekolah sampai kelas empat SD. Ia seharusnya bersekolah sampai kelas enam, tapi ia sempat tidak naik kelas dua kali saat duduk di bangku kelas tiga.

Waktu kelas empat, Budi memutuskan untuk kabur dari rumah. Alasannya, ia ingin bebas seperti teman-teman mengamennya yang lain. Ia kemudian ikut kereta api ke Yogja. Sesampainya di Yogya, Budi keluyuran sendirian di jalan Malioboro selama dua tahun. Akhirnya, Budi bertemu dengan mami Vinolia—seorang waria yang direkrut oleh PKBI untuk mengurus anak jalanan dan waria di Lempuyangan—yang kemudian mengajaknya untuk pindah di Lempuyangan.

Tidak ada angka pasti mengenai berapa orang anak jalanan yang tinggal di Lempuyangan. Kadang hanya ada beberapa, namun bisa juga mencapai ratusan pada malam-malam tertentu seperti hari libur. Anak jalanan ini tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka bisa ditemui pada pagi dan sore hari sedang tertidur atau berkeliaran di gerbong yang sedang diparkir, musholla An-Nur, atau di antara palang-palang kereta api. Siang hari, mereka jarang ada di sana karena sibuk mengamen di tempat lain. Tempat yang umum dipakai mangkal anak jalanan pada siang hari adalah perempatan-perempatan atau di dalam kereta api ekonomi seperti Pasundan dan Bengawan. Sore hari setelah jam tiga, biasanya anak jalanan ini berkeliaran di sekitar Lempuyangan. Mereka sekadar jalan-jalan sendirian, mengejar layangan putus, atau naik kereta yang sedang langsir.

Kata Budi, seorang pengamen jalanan itu tidak pernah mendapatkan pendapatan pasti. Biasanya sekitar 10.000 sampai 20.000 rupiah tiap harinya. Ia memakai uangnya untuk makan, membeli rokok, dan lem! Menu hariannya nasi kucing di angkringan yang harga per bungkusnya sekitar 500 sampai 1000 rupiah. Budi juga menyisihkan uangnya untuk bekal kelak jika pulang ke rumah. Terakhir kali saya bertemu dengannya, jumlah uang tabungan itu sekitar 85.000 rupiah.

Kadang Budi bercerita kalau ia masih ingin pulang ke rumah. Ia ingin berkumpul kembali dengan keluarganya dan menjalani hidup yang nyaman seperti layaknya anak-anak lain. Menurutnya, hidup sebagai anak jalanan sering tidak aman. Banyak anak jalanan yang lebih besar atau gelandangan yang merebut uang anak jalanan yang lebih kecil. Tak jarang anak-anak jalanan yang lebih kecil mengalami penganiayaan dari senior-seniornya. Tapi ia mengaku sudah lupa di mana rumahnya dan kadang ia takut bertemu kembali dengan ayahnya.

Cerita Lempuyangan dan penghuni lainnya

Stasiun Lempuyangan pertama kali dioperasikan pada tanggal 2 Maret 1872 oleh N.I.S (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij). Awalnya, stasiun ini dibuka untuk melayani pengangkutan terutama terutama komoditi pertanian pada jalur Yogya-Semarang. Dulu, setelah undang-undang agraria tahun 1870 terbit, banyak perusahaan swasta asing yang mengangkut hasil bumi dari Jawa ke luar negeri. Dari Yogya sebelumnya hasil pertanian ini diangkut ke pelabuhan dengan kereta.

Lima belas tahun kemudian, stasiun Tugu dibuka dengan tambahan jalur ke Jawa Barat dan Batavia. Popularitas Lempuyangan pun turun dengan adanya saingan yang letaknya lebih strategis. Dekat dengan pusat kota dan sejalur dengan jalan Malioboro yang menjadi jalan utama di Yogya. Sampai sekarang stasiun Tugu lebih populer sebagai ikon kota Yogyakarta.

Sejak tahun 2000 stasiun Tugu adalah tempat berhenti kereta kelas eksekutif. Stasiun ini lebih bersih dan memiliki ruang tunggu yang lebih nyaman. Tempat parkirnya pun lebih luas dan bisa menampung lebih banyak mobil. Berbeda dengan stasiun Lempuyangan yang kumuh, dan menjadi tempat berhenti kereta ekonomi serta gerbong barang.

Tapi stasiun Lempuyangan memiliki banyak cerita tentang orang-orang yang tinggal atau sekadar singgah di sana. Sejak pagi sampai malam ratusan orang datang ke sana untuk berbagai keperluan yang berbeda. Mulai dari penumpang kereta, penjual makanan, waria, anak jalanan, petugas kereta, sampai anak-anak kecil yang ditemani orangtuanya untuk sekadar melihat kereta.

Setiap pagi dan sore hari, ada beberapa titik di Lempuyangan yang dipakai mangkal waria dan gelandangan. Salah satu waria yang sering mengamen di kereta bernama Vera. Ia juga sering mengamen di lampu merah dekat Mirota Kampus atau perempatan SGM dengan rekan sesama warianya yang bernama Yanti. Dulu, saya pernah ngobrol dengan dia di toilet umum. Waktu itu saya heran melihat dia yang masuk ke toilet perempuan. Menurutnya, ia bisa memakai toilet mana saja karena dia setengah laki-laki dan setengah perempuan.

Vera, menurut penghuni Lempuyangan yang lain, adalah waria paling terkenal di Yogya. Ia pernah beberapa kali dijadikan model untuk pemotretan, main film, dan diteliti mahasiswa psikologi UGM. Waktu ngobrol dengannya, kesan centil langsung terlihat. Vera dengan bangganya bercerita tentang dirinya dan kepopulerannya. Ternyata dia lucu, tidak mengerikan seperti kata teman-teman saya. Banyak teman yang bercerita kalau waria ini galak dan suka mengancam kalau tidak diberi uang. Bahkan ada seorang teman laki-laki saya yang kapok membeli makan di daerah mirota pada malam hari karena ia pernah digoda Vera disana.

Selain Vera, masih banyak waria lain. Salah satunya adalah Marissa. Umurnya sekitar 35 tahun. Tiga tahun yang lalu, ia datang dari Sumatra Utara. Sejak kecil, dia sedah menampakkan sifat mirip perempuan. Teman-teman sekolah dan gurunya selalu mengejeknya banci. Lama-kelamaan, ia mulai nyaman memakai baju-baju perempuan. Setelah tamat SMU, ia mulai melacurkan diri dengan konsumen laki-laki.

Tidak tahan dengan kata-kata keluarga dan tetangga, Marissa kemudian pergi dari rumah. Ia kemudian merantau di daerah Sumatra dan kemudian pindah ke Yogya tiga tahun yang lalu. Awalnya, Marissa mengontrak rumah di daerah Kleringan bersama waria-waria lain. Marissa sempat memiliki ‘suami’, pria pengangguran ini tinggal bersamanya. Tiap hari, Marissa yang memberinya makan dan juga mencukupi kebutuhan sandangnya. Laki-laki ini ikut menikmati jerih payah Marissa berjualan diri selama dua tahun. Belum lama ini, suami Marissa pergi dengan seorang waria yang lebih muda.

Marissa kemudian tinggal berpindah-pindah. Ia tinggal di mana saja tempat ia bisa bertemu dengn teman lelaki. Salah satunya di stasiun Lempuyangan. Ia juga tetap berjualan diri. Tiap kali berhubungan seks dengan pelanggannya, Marissa jarang memakai kondom. Banyak konsumennya yang menolak memakai kondom karena membutuhkan waktu lama dan tidak nyaman. Meskipun demikian, Marissa tidak pernah khawatir tertular penyakit kelamin karena ia beranggapan bahwa darahnya sudah kebal dari macam-macam penyakit.

Ia kemudian bercerita tentang mimpi-mimpinya. Marissa ingin memiliki seorang suami yang cukup kaya untuk bisa membiayai hidupnya. Ia ingin tinggal di rumah, mencuci, masak, atau bersih-bersih rumah. Kalau hal ini tidak tercapai, ia ingin punya banyak uang yang nanti dipakai untuk operasi plastik. Ia beranggapan apabila ia cantik, ia tidak perlu berebut dengan waria lain untuk mendapat pelanggan.

Komentar (1) »

Ketika Orang Baduy Bertamu ke Jakarta

Om saya kaget saat tiba-tiba ada tiga orang laki-laki memakai jas dan sarung pendek hitam-hitam datang ke rumahnya di kawasan Arteri Pondok Indah, Jakarta. Busana mereka dilengkapi dengan ikat kepala putih dan buntalan kain untuk membawa barang. Sebilah golok terselip di ikat pinggang ketiganya.

Sabtu (10/11 2007) lalu ada tiga orang Baduy Dalam datang berkunjung ke rumah Om saya, Wardjito. Jali (35), Juli (19), dan Aldi (30) datang untuk membalas kunjungan kami. Bulan Juli lalu saya, Anggi—sepupu saya, dan tiga orang rekan menginap di rumah Bang Jali di Kampung Cibeo’, Baduy Dalam. Waktu itu kami meninggalkan alamat Anggi pada keluarga Bang Jali. Kami tidak menyangka jika ada orang Baduy yang akan membalas kunjungan kami.

Menyusuri rel

Jali dan kedua rekannya pergi ke Jakarta dengan berjalan kaki selama tiga hari. Ini sudah keempat kalinya untuk Bang Jali pergi ke Jakarta. Mereka berjalan tanpa alas kaki sejauh kurang lebih 160 km! Bagi orang Baduy Dalam, memakai alas kaki dan naik kendaraan merupakan buyut—terlarang. Mereka selalu pergi dalam rombongan. Di antara rombongan harus ada orang yang sudah pernah berkunjung ke Jakarta sebelumnya.

Saat itu saya yang berada di Yogya hanya mendengar cerita dari Anggi jika tetangga-tetangganya kaget saat tiga orang berbaju hitam-hitam menanyakan alamat. Ketiga teman dari Baduy ini mencari rumah Anggi dengan cara bertanya beberapa kali ke tetangga sekitar rumahnya. Mereka bertiga kemudian menginap semalam di rumah Anggi.

Sebelumnya, Bang Jali dan kawan dari Cibeo’ ini sudah berada seminggu di Jakarta. Saya yang penasaran dengan cerita Anggi kemudian menelepon dan meninta disambungkan dengan Bang Jali. Melalui telepon Anggi, Bang Jali bercerita kalau sebelumnya menginap di daerah Darmawangsa, Cendana, dan Cijantung.

Lalu bagaimana mereka bisa sampai ke Jakarta? Bukankah orang-orang Baduy ini tidak bisa membaca penunjuk jalan? Ternyata, mereka berjalan kaki menyusuri jalan yang dilalui Elf—mobil angkutan umum—yang menuju Rangkasbitung. Setelah itu, Bang Jali dan kawan-kawan menyusuri rel kereta api menuju Jakarta.

Kata Bang Jali mereka pergi ke Jakarta untuk main. Mereka mengunjungi kenalan yang dulu pernah menginap di rumahnya. Saat mencari alamat mereka harus bertanya berkali-kali ke orang-orang yang mereka temui sepanjang perjalanan. Sebelumnya, orang-orang Baduy ini meminta orang lain untuk membacakan alamat orang-orang yang akan mereka datangi. Setelah itu mereka menghapalkannya dan bertanya berkali-kali pada orang-orang yang mereka temui di jalan. Mereka tidak bisa membaca petunjuk jalan dan tidak memiliki peta.

Bang Jali menanyakan letak rumah saya supaya lain kali mereka bisa berkunjung. “Rumah Lutfi di mana? Boleh kali lain kami berkunjung?” tanya Bang Jali. Saya tertawa dan tidak bisa membayangkan berapa lama perjalanan dari Baduy ke Yogya dengan jalan kaki. Saya kemudian meminta Anggi untuk menunjukkan letak Jakarta, Banten, dan Yogya di peta Pulau Jawa. Supaya Bang Jali bisa membandingkan betapa jauh perjalanan ke rumah saya jika ditempuh dengan jalan kaki.

Lain Jakarta Lain Baduy

Dulu waktu pergi ke Cibeo’, saya dan teman-teman harus berjalan kaki sejauh lima belas kilometer. Naik turun gunung melalui jalan setapak yang melelahkan. Waktu itu Bang Jali berkata untuknya jalan tadi jauh lebih nyaman daripada aspal Jakarta. Setiap kali pulang dari Jakarta, ia harus beristirahat di rumah selama seminggu. Kakinya melepuh karena tidak kuat terlalu lama berjalan di aspal yang panas saat terkena terik matahari.

Bulan Juli lalu, saya sempat ngobrol dengan beberapa laki-laki dewasa Baduy. Saya heran kenapa mereka mau capai-capai berjalan kaki ke Jakarta? Umumnya, mereka menjawab jika mereka ingin tahu seperti apa kota besar tempat tamu-tamunya datang. Kota yang menurut cerita orang-orang yang pernah berkunjung di sana sangat ramai dan penuh dengan orang-orang yang memakai baju berwarna-warni. Tidak seperti orang-orang Baduy yang hanya memakai baju warna hitam, putih, atau biru. Kadang, sebelum pulang, orang-orang Baduy mampir di Blok M untuk membeli manik-manik atau cincin sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Oh ya? Untuk kami, justru orang-orang Baduy dengan kesederhanaannya yang membuat kami tertarik ingin melihat lebih dekat. Bahkan, ada yang menjual keunikan orang-orang Baduy ini sebagai paket wisata. Saya beberapa kali menemukan iklan tentang wisata ke Baduy dalam beberapa mailing list.

Saya kemudian membayangkan seperti apa jika orang-orang Baduy menyeberang jalan-jalan besar di Jakarta yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan. Bukankah di tempat asalnya jalan-jalan begitu sepi? Kata Bang Jali, mereka harus mencari orang yang sama-sama menyeberang jalan.

Apa komentar Anggi saat saat saya menanyakan kesannya didatangi tamu-tamu unik ini? “Kaget. Nggak ada kabar tahu-tahu datang ke rumah. Lucu aja punya tamu yang nggak biasa. Aku masih nggak percaya kalo mereka bisa sampai rumah. Mereka tu makan banyak sekali. Ditawari apa saja pasti habis.”

Saya jadi ingat waktu menginap di Baduy. Kami beberapa kali disuguhi mie instant. Ternyata mie instant sudah menjadi makanan harian orang Baduy. Mereka membelinya dari orang-orang Banten yang tiap minggu datang membawa pikulan ke baduy. Ironisnya, orang Baduy yang dulunya petani (sekarang pun masih), membeli sebagian beras untuk konsumsi sehari-harinya dari pedagang ini.

Sebelum menutup pembicaraan di telepon, Bang Jali berkata, “Bulan Kalima, Juli menikah. Kalau ada waktu silakan datang.” Semoga saat itu kami bisa kembali berkunjung. Untuk melihat lagi Baduy. Mungkin pada waktu pernikahan Juli? Katanya istri Juli berusia 14 tahun. Oh, saya jadi seperti turis lainnya. Ingin melihat manusia-manusia unik ini.

Komentar bertahan »

Agnes Monika, Manusia Indonesia, dan Negro Amerika

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita di sebuah surat kabar online tentang rencana kepergian Agnes Monika ke Amerika. Di bawah berita tersebut muncul berbagai tanggapan. Kebanyakan isinya menghujat tentang perilaku Agnes yang selalu membangga-banggakan Amerika.

Agnes bukan satu-satunya pemuja Barat, banyak selebriti dan kaum kaya di Indonesia yang dengan bangga bercerita kalau mereka liburan di luar negeri atau memakai produk buatan luar negri. Lucunya, “bule” minded ini juga dialami oleh orang-orang terdidik Indonesia. Sering sekali kita dengar atau baca seorang profesor atau ahli apa mengagung-agungkan teori dari luar (padahal belum tentu teori itu cocok diterapkan di Indonesia).

Mungkinkah karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh bangsa kulit putih sehingga kita beranggapan semua produk dari Bule-bule ini lebih hebat?

Saya jadi teringat biografi Malcom X yang pernah saya baca. Pada tahun 40 an, orang-orang kulit hitam dianggap lebih rendah dari orang kulit putih. Orang-orang kulit putih terbiasa memperlakukan orang kulit hitam seperti budak. Negro Amerika pun merasa mereka lebih hina dari kulit putih dan berusaha untuk meniru orang kulit putih. Mereka terobsesi bahwa dengan kulit yang lebih terang bisa mengangkat status mereka. Para negro kemudian melakukan berbagai cara supaya mirip kulit putih. Seperti meluruskan dan mengubah warna rambut mereka. Malcom X berpendapat hal itu sangat konyol, apapun yang mereka lakukan, seorang negro tetaplah negro. Berusaha meniru kulit putih hanya menghilangkan identitas mereka.

Bukankah hal yang sama terjadi di Indonesia? Terutama di kalangan menengah ke atas. Banyak orang Indonesia yang membeli barang buatan luar negri hanya untuk gengsi. Bayangkan, di negara yang 27,1% penduduknya miskin masih banyak orang berlomba-lomba untuk membeli barang yang menurut mereka mahal demi status. Kapan kita bisa maju?

Untuk Anda yang merasa sebagai orang Indonesia. Saya minta banggalah pada negara Anda. Ya, mungkin banyak hal di Indonesia yang masih minus, tapi anda tetap orang Indonesia kan? Daripada anda menghujat negeri sendiri dan memuja negri orang lain, lebih baik, lakukan sesuatu untuk merubah Indonesia. Hal ini bisa dimulai dari cara sederhana seperti memakai barang buatan Indonesia.

Salam dan semoga hari ini indah,

Komentar (1) »